Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Lik Sughiroh, Penjual Bandros Kendal Coba Bertahan di Tengah Terpaan Takjil Modern di Bulan Ramadan

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
3 April 2024
A A
Lik Sughiroh, Penjual Bandros Kendal Coba Bertahan di Tengah Terpaan Takjil Modern di Bulan Ramadan

Lik Sughiroh, Penjual Bandros Kendal Coba Bertahan di Tengah Terpaan Takjil Modern di Bulan Ramadan (DW Fisher-Freberg via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Lik Sughiroh adalah satu dari sekian banyak penjual bandros di Kendal. Beliau mencoba bertahan di tengah gempuran takjil kekinian.

Bulan Ramadan selalu dimaknai sebagai bulan penuh berkah bagi umat muslim. Semua tentu sepakat dengan hal itu, terlepas dari perbedaan interpretasi “keberkahan” yang dirasakan oleh setiap muslim yang pastinya berbeda-beda. Bahkan dalam skala yang lebih luas, keberkahan Ramadan juga dirasakan (secara tidak langsung) bagi kalangan non-muslim.

Dari sisi spiritual, Ramadan jadi ladang berkah untuk mereka yang ingin membersihkan diri, mendekatkan diri, dan merefleksikan diri di hadapan sang kuasa. Sementara dari kacamata sosial, Ramadan adalah sarana untuk berbagi, menolong satu sama lain, dan saling belajar bertoleransi. Dan dari perspektif ekonomi, Ramadan adalah momen penting lahirnya transaksi jual beli yang masif di tengah masyarakat sehingga menggerakkan roda perekonomian. Oleh karena itu, bulan Ramadan disambut gembira dan haru oleh umat muslim.

Tapi di sisi lain, dalam ingar bingar keberkahan bulan Ramadan yang disambut banyak orang, ada sosok-sosok pejuang rupiah yang masih terus berjuang, bahkan mungkin lebih berat perjuangannya. Bukan bermaksud mengkerdilkan bulan Ramadan, tapi memang kondisi dan situasi pekerjaan mereka memang terasa lebih berat cobaannya saat bulan Ramadan. Salah satu dari sedikit orang yang justru harus berjuang lebih keras adalah Lik Sughiroh. Lelaki paruh baya berusia sekitar 60-an tahun penjual bandros di kampung ibu saya di Kabupaten Kendal.

Lik Sughiroh adalah penjual bandros yang sangat veteran. Beliau mulai berjualan setidaknya sejak tahun 1985. Bahkan pada tahun segitu ibu saya masih sangat kecil.

Bandros adalah jajanan jadul berbentuk seperti pukis yang berbahan dasar tepung beras, santan, parutan kelapa, serta hanya diberi tambahan garam sebagai perasa. Belakangan, oleh beberapa pedagang lain, bandros ditaburi dengan gula untuk memperkaya rasanya.

Lik Sughiroh, penjual bandros yang keliling Kendal dengan sepeda tua menjajakan jualannya

Dengan sepeda tuanya, Lik Sughiroh berjualan mulai dari pagi hari, melewati depan rumah saya, mengitari beberapa desa hingga tetangga kecamatan di Kabupaten Kendal. Saya masih ingat betul, sepeda itu adalah sepeda yang sama setidaknya dalam 15 tahun terakhir ketika kali pertama saya berinteraksi dengannya pada tahun 2009.

Pada hari-hari biasa, bandros Lik Sughiroh adalah langganan nenek saya sebagai santapan pagi. Tak jarang, ketika puasa di hari Senin atau Kamis, bandros itu dibeli dalam jumlah banyak kemudian nantinya disimpan untuk berbuka puasa. Yah, meski ketika dicicipi rasanya tentu tidak senikmat ketika di pagi hari karena sudah dingin. Bandros Lik Sughiroh juga murah. Cuma 5 ribu rupiah pembeli bisa mendapat setidaknya 10-15 potong bandros.

Baca Juga:

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

Membayangkan Kendal Maju dan Punya Mall Itu Sulit, sebab Mie Gacoan Aja Baru Ada Setahun

Ketika hari biasa, Lik Sughiroh berjualan hingga sore hari tergantung penjualan bandros pada hari itu. Kalau sedang mujur, saat memasuki waktu asar dan bandros sudah habis terjual, penjual bandros satu ini bisa pulang ke rumah. Tapi, kondisi itu jarang sekali terjadi. Lik Sughiroh lebih sering pulang dengan membawa sisa-sisa adonan bandros yang tak laku terjual.

Memasuki bulan puasa, usaha Lik Sughiroh terasa lebih berat

“Puasa itu tantangannya makin berat bagi saya karena saya harus menjajakan bandros yang kalah saing dengan takjil lainnya, Mas,” tutur Lik Sughiroh dalam bahasa Jawa.

Bahasa kasarnya, bandros iku orak kelase.

Harus diakui, makin ke sini, bandros memang jadi jajanan jadul yang makin kalah pamor dengan jajanan lain. Mungkin pembeli yang masih setia dengan bandros adalah para generasi boomers atau paling mentok generasi milenial. Kebanyakan pembelinya pun datang dari kelas menengah ke bawah. Remaja zaman sekarang tentu jarang ada yang mengenal bandros. Mereka lebih memilih makanan lain yang lebih manis, gurih, pedas, dan bercita rasa kuat ketimbang jajanan yang “alakadarnya” seperti bandros.

Seiring dengan perkembangan zaman, makanan dan jajanan makin bervariasi bentuk dan rasanya. Terlebih ketika bulan Ramadan tiba, makanan dengan berbagai jenis dijajakan. Takjil seperti aneka bubur, es-esan dengan warna nyalanya, gorengan panas, atau martabak adalah sedikit contoh dari makanan yang jadi pilihan utama untuk berbuka. Sementara bandros yang rasanya sederhana, yang mana hanya menawarkan rasa gurih dengan sedikit manis, tentu menjadi pilihan kesekian untuk disantap.

Kalau hari biasa penjual bandros seperti Lik Sughiroh mulai berjualan di pagi hari, pada bulan Ramadan, beliau akan berjualan menjelang waktu zuhur atau bakda zuhur. Kondisi orang berpuasa tentu membuat bandrosnya tidak ada yang beli jika dijual mulai pagi hari.

“Karena jualannya mulai siang, cobaannya berat sekali karena saat itu juga matahari sedang terik-teriknya, sementara saya tetap berpuasa”, ungkapnya sambil memperbaiki posisi bandros yang ada di dalam cetakan.

Bersama sepeda ontelnya, beliau mengayuh pelan mengitari rumah-rumah yang jadi pelanggannya, berharap ada yang mau membeli bandrosnya untuk berbuka puasa. Apabila sudah berkeliling hingga dua tetangga kecamatan dan bandrosnya masih laku sedikit atau bahkan belum laku sama sekali, Lik Sughiroh harus siap untuk mengayuh sepedanya lebih jauh lagi dan pulang hingga larut malam. Setidaknya hingga selesai waktu salat tarawih.

Berusaha tetap bersyukur

Meski begitu, Lik Sughiroh berusaha untuk tetap bersyukur. Baginya, asalkan bandros yang dia jual ada yang laku, setidaknya dia bisa membawa uang 40-50 ribu sehari, sudah membuatnya sedikit tenang. Artinya, ada uang yang bisa digunakan istrinya untuk berbelanja dan diputar kembali dalam bentuk modal untuk berjualan.

Ada cerita unik soal Lik Sughiroh yang dulu terdengar hingga di telinga saya yang masih kecil. Konon katanya, pada suatu malam, dagangan Lik Sughiroh diborong oleh makhluk gaib. Uang yang diberikan si pembeli ternyata berubah menjadi daun jati. Cerita itu membuat kami menganggap sosok Lik Sughiroh sebagai orang yang bejo. Untung bandrosnya yang dibeli, bukan nyawanya.

Saya mencoba mengonfirmasi langsung cerita tersebut ke Lik Sughiroh.

“Ah Mas, saya kok lupa cerita itu, ya. Kalau benar begitu, mungkin kejadiannya sudah lama, Mas”, ungkap Lik Sughiroh dengan raut wajah yang agak bingung.

Terlepas cerita itu benar atau tidak, Lik Sughiroh adalah contoh kecil sosok-sosok yang harus tetap bertahan lebih kuat ketika bulan Ramadan tiba. Dan tentu saja dalam kacamata spiritual, beratnya ikhtiar yang dijalani penjual bandros di Kendal seperti Lik Sughiroh pasti membuahkan balasan keberkahan tak kasat mata dari Tuhan. Meski begitu seyogianya mereka tetap pantas menerima pertolongan kita. Tak perlu memberi, cukup membeli apa yang mereka jual.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Harga Gula Naik, Penjual Kue Pancong di Tegal Merana. Ingin Beralih Jadi Tukang Kredit Panci di Bulan Puasa.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 April 2024 oleh

Tags: bandrosBulan Puasabulan ramadanKabupaten Kendalkendalpenjual bandros
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

25 Februari 2026
3 Alasan Orang Kendal Terpaksa Mengaku Asli Semarang di Perantauan

3 Alasan Orang Kendal Terpaksa Mengaku Asli Semarang di Perantauan

25 Januari 2022
Saya Kapok Ikut Bukber! Cuma Kenyang Dipameri Lanyard Kantor dan Kesuksesan Teman-teman Mojok.co

Saya Kapok Ikut Bukber! Cuma Kenyang Dipameri Lanyard Kantor dan Kesuksesan Teman-teman

7 April 2024
Jangan Buka Warteg di Kendal, Dijamin Nggak Laris! Mojok.co

Jangan Buka Warteg di Kendal, Dijamin Nggak Laris!

2 Februari 2024
Kalkulasi Kenikmatan: Konsep Puasa ala Penganut Aliran Filsafat Epicurianis warung makan yang buka siang hari di bulan puasa mau beli curiga tutup tirai mojok

Puasa Tetap Buka tapi Curigaan sama Pembeli, Warung Makan Begini Sebaiknya Tutup Saja

26 April 2020
Nggak Harus Lewat Cara Biasa, Mengejar Tanda Tangan Penceramah Justru Ada Jalan Keluarnya. #TakjilanTerminal48

3 Tips Mengejar Tanda Tangan Penceramah Lewat Jalan Nggak Biasa. #TakjilanTerminal48

12 Mei 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alun-Alun Klaten, Potret Ruang Publik yang Tak Sekadar Estetik, tapi Juga Menjawab Kebutuhan Warlok Mojok.co

Alun-Alun Klaten, Potret Ruang Publik yang Tak Sekadar Estetik, tapi Juga Menjawab Kebutuhan Warlok

27 Mei 2026
Jalan Dr Sutomo, Jalan Satu Arah yang Mencoreng Nama Baik Muntilan Magelang

Jalan Dr Sutomo, Jalan Satu Arah yang Mencoreng Nama Baik Muntilan Magelang

2 Juni 2026
PMII Bangkalan Aneh, Paling Getol Mengkritik Pemkab, tapi Prokernya Selalu Bermanis-manis sama Pejabat

PMII Bangkalan Aneh, Paling Getol Mengkritik Pemkab, tapi Prokernya Selalu Bermanis-manis sama Pejabat

28 Mei 2026
Soto, Kuliner Solo Bukan Makanan, tapi Jimat Bertahan Hidup (unsplash)

Soto, Warisan Budaya di Khazanah Kuliner Solo yang Tidak Lagi Dianggap Makanan, tapi Cara Bertahan Hidup

31 Mei 2026
Mimpi Buruk Tol Solo Jogja Bagi Warga Gamping, Sleman (Unsplash)

Salah satu Dampak Buruk Tol Solo Jogja Dirasakan Warga Gamping: Hilangnya Ruang Hidup ketika Warga Lokal Tidak Sanggup Membeli Tanah Kelahiran Sendiri

30 Mei 2026
Pengalaman Saya Menemani Anak 3 Tahun untuk Sunat (Unsplash)

Pengalaman Saya Sebagai Bapak Milenial Mengalahkan Rasa Takut untuk Menemani Anak Sunat di Usia 3 Tahun

29 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.