Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Penjarahan Artefak Nusantara: Maling yang Terlalu Pintar atau Kita yang Konsisten Abai?

Christianto Dedy Setyawan oleh Christianto Dedy Setyawan
28 Juni 2021
A A
penjarahan artefak indonesia mojok

penjarahan artefak indonesia mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Selama ini barangkali kesan sejarah dan arkeologi dianggap kurang seksi di mata anak remaja. Kedua jurusan tersebut jarang menjadi jurusan favorit yang banjir pendaftar di banyak kampus. Museum pun sebatas dianggap sebagai tempat membosankan yang memajang barang lawas. Memori seru pergi ke museum mungkin banyak didominasi pengalaman semasa sekolah saat beramai-ramai datang ke sana atas nama study tour sekolah. Sebuah pengalaman hidup yang sering menjadi kurang bermakna karena para guru gemar menugaskan siswanya untuk mencatat hal-hal yang terdapat di museum, alih-alih menikmatinya dengan berjalan santai menelusuri lorong ruangan.

Di balik itu semua, sadarkah kita jika bangsa ini memiliki kekayaan luar biasa dalam bidang arkeologi? Indikator utama berupa keberadaan candi, situs di berbagai wilayah, dan temuan aneka fosil di Sangiran menunjukkan dengan jelas banyaknya temuan arkeologi di Indonesia. Di luar itu diyakini masih banyak peninggalan masa silam yang belum ditemukan, entah masih terkubur di dalam tanah atau terbenam di dasar lautan. Kepemilikan artefak negeri ini akan kian bertambah banyak jika kita menghitung benda peninggalan sejarah Indonesia yang kini ada di tangan negara lain. Sama halnya dengan sumber daya alam kita yang menggiurkan minat negara asing, koleksi artefak kita pun juga terbilang menarik untuk dimaling.

Majalah Tempo terbitan Mei 2015 pernah menulis bahwa banyak koleksi prasasti kerajaan di Nusantara tersebar ke berbagai museum seperti Tropenmuseum, Maritiem Museum, Rijksmuseum Voor Volkenkunde, dan RMV (Belanda), British Library dan Lord Minto House (Inggris), Museum Fur Asiatische Kunst dan Museum Fur Volkerkunde (Jerman), Indian Museum (India), serta The Royal Libarary (Denmark). Mengapa benda peninggalan sejarah kita bisa sampai ke sana? Yang pasti sih bukan karna pertukaran koleksi.

Negara asing banyak memiliki artefak Indonesia setidaknya dengan dua cara yakni menggondolnya saat masa penjajahan dan mendapatkannya lewat “jalur belakang”, yang entah setelah melalui tangan ke sekian dapat sampai ke museum mancanegara sekian artefaknya. Riwayat pencurian artefak di Indonesia kalau dituliskan dengan detail akan sangat panjang daftarnya. Nggegirisi, miris, prihatin, marah, dan kecewa niscaya menjadi kesan rasa yang pertama timbul. Nggak percaya? Mari kita simak penjelasan singkat berikut dengan baik.

Thomas Stamford Raffles, tokoh kolonialis dari Inggris yang kadang dipuja karena peninggalannya seperti Kebun Raya Bogor, bunga Rafflesia Arnoldi, dan buku History of Java, dapat dimasukkan sebagai salah satu tokoh pencurian artefak yang levelnya keterlaluan. Raffles yang berkuasa di Nusantara selama lima tahun ini sukses nyolong ribuan benda bersejarah koleksi Keraton Yogyakarta. Peter Carey dalam buku Kuasa Ramalan bilang kalau penjarahan harta Keraton berjalan selama lebih dari empat hari penuh dengan diangkut menggunakan via pedati dan mempekerjakan tenaga kuli panggul. Para pangeran dan abdi dalem pun tak luput dipaksa menjadi tenaga pengangkut. Koleksi senjata, wayang, gamelan, arsip, dan naskah kuno amblas dicuri pasukan Inggris.

Buku berjudul Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa karya Tim Hannigan juga menegaskan hal yang sama. Aksi perampokan yang juga dikomandoi Robert Rollo Gillespie dan John Crawfurd ini dapat disebut sebagai pencurian akademis besar-besaran. Gimana nggak, lha wong andai benda-benda itu kini masih di Jogja, kan dapat digunakan untuk kepentingan pembelajaran sejarah dan memperkaya wawasan via kunjungan ke Keraton. Parahnya lagi, saat itu prajurit Inggris juga mengeruk parit, memeriksa bangunan sumur, hingga membongkar lantai demi memastikan tidak ada harta karun yang lolos dari penjarahan. Jan ngawur tenan.

Tidak berhenti sampai di Keraton saja, Raffles juga menjamah artefak di wilayah lain. Prasasti Sangguran yang notabene adalah peninggalan era Mataram Kuno, ia bawa ke Inggris. Kondisinya kini teronggok di halaman rumah keturunan ke sekian dari Lord Minto, bosnya Raffles. Ia juga menjarah Prasasti Pucangan era Airlangga yang dibawa ke India. Kini kondisinya kabarnya disimpan dalam gudang museum di Kalkuta dengan keadaan kurang terawat.

Apakah penjarahan hanya melibatkan tangan negara luar saja? Sayangnya masyarakat kita pun juga terindikasi terlibat hal serupa. Bukti termudahnya adalah pencurian koleksi Museum Radya Pustaka dan Museum Sonobudoyo yang hingga kini tidak jelas titik terangnya. Sungguh eman-eman mengingat artefak yang dicuri terbilang luar biasa. Kedua kasus yang tenar di zamannya tersebut telah lama berlalu namun belum mendapati garis akhir penyelesaian. Lambang Babar Purnomo selaku arkeolog sekaligus figur kunci dalam menguak kasus di Radya Pustaka tewas mengenaskan di Ring Road Utara Jogja awal 2008. Hal yang menimbulkan dugaan publik bahwa dia meninggal akibat pekerjaan yang dijalani. Kedua kasus tersebut dapat dikategorikan kasus misterius dan mencurigakan.

Baca Juga:

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

Pulang dari Jepang Bikin Sadar Betapa Bobrok Daerah Asal Saya

Contoh lain dapat kita temukan dalam raibnya sekitar 500 koleksi artefak di Museum Sulawesi Tenggara bulan Februari kemarin. Beberapa pekan sebelumnya artefak yang terdapat di situs makam Pangeran Gagak Baning juga dikabarkan hilang.

Penjagaan, perawatan, dan pelestarian memang menjadi PR besar negara ini dalam menjaga koleksi purbakalanya. Di beberapa kesempatan saya pernah menjumpai batuan artefak yang teronggok di jalan, kebun, atau halaman rumah dengan keadaan tidak terawat. Melaporkannya ke pihak terkait menjadi langkah utama walau praktiknya oleh instansi tidak selalu dapat segera dilakukan proses tindakan cepat. Seperti halnya gedung-gedung dan infrastruktur yang banyak dibangun dari masa presiden A hingga presiden Z, bangsa ini memang jago kalau untuk urusan membangun. Namun, kalau untuk perkara menjaga dan merawat, sepertinya kita perlu remedial, berkaca, dan belajar lebih giat lagi.

BACA JUGA Betapa Gobloknya Orang-orang yang Memuji dan Minta Maaf ke Daendels dan tulisan Christianto Dedy Setyawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2021 oleh

Tags: arkeologiartefakbarang bersejarahIndonesiapendidikan terminalpenjarahan
Christianto Dedy Setyawan

Christianto Dedy Setyawan

Pencinta literatur yang hobi blusukan sejarah

ArtikelTerkait

3 Dosa Serial Upin Ipin kepada Penoton Indonesia Mojok.co

3 Dosa Serial Upin Ipin kepada Penonton Indonesia

15 November 2024
Orang Sunda Punya Aksen Paling Indah di Indonesia, Terdengar Lembut dan Merdu di Telinga Arek Suraboyo seperti Saya Mojok.co

Orang Sunda Punya Aksen Paling Indah di Indonesia, Terdengar Lembut dan Merdu di Telinga Arek Suroboyo seperti Saya

16 Juni 2024
Perbandingan Pasar Tradisional di Indonesia, Jepang, dan Korea Terminal Mojok

Perbandingan Pasar Tradisional di Indonesia, Jepang, dan Korea

10 April 2022
liga 2 judi bola shin tae-yong konstitusi indonesia Sepakbola: The Indonesian Way of Life amerika serikat Budaya Sepak Bola di Kampung Bajo: Bajo Club dan Sejarahnya yang Manis terminal mojok.co

Benahi Dulu Liga, Baru Kita Berharap pada Timnas

21 Desember 2020
musik wakatobi

Terstruktur Sistematis Dan Masif : Ketika Musik Wakatobi Berjaya di Negerinya Sendiri

28 Juni 2019
Menerawang Prasangka Dosen Ketika Melihat Mahasiswanya Off Camera Saat Kuliah terminal mojok

Menerawang Prasangka Dosen ketika Melihat Mahasiswanya Off Camera Saat Kuliah

17 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya Mojok.co

Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya

20 Maret 2026
Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Kritik untuk Kampus: Menulis Jurnal Itu Harusnya Pilihan, Bukan Paksaan!

19 Maret 2026
Gresik Ternyata Bisa Bikin Arek Surabaya Kaget (Wikimedia Commons)

Nasib Orang Surabaya di Gresik: Bertahan Hidup di Tengah Matinya PDAM dan Ganasnya Sistem Inden SD

19 Maret 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
Jangan Tanya Rekomendasi Tempat Wisata ke Orang Bandung karena Orang Bandung Asli Biasanya Nggak Tahu

Derita Menikah dengan Orang Bandung: Tidak Pernah Merasakan Drama Mudik hingga Selalu Diejek

21 Maret 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.