Pengalaman Tidak Menyenangkan ketika Iseng Berselancar di Dark Web

Artikel

Avatar

Saat awal masuk SMK jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, saya sempat kepikiran untuk bisa masuk deep web, yang katanya sarang kejahatan. Hal itu saya lakukan karena kepo, saya dapat banyak video yang diklaim berasal dari deep web. Jadinya saya mencari tahu sendiri, dong. Dan juga dorongan biar terlihat keren. Masa anak yang ada embel-embel teknologi nggak tahu yang beginian.

Dahulu, bayangan saya mengenai deep web itu adalah suatu kumpulan situs yang isinya negatif, misalnya jual-beli narkoba, senjata, dan konten yang menjijikkan. Selain itu, saya terhasut bahwa web gelap ini merupakan surga informasi data yang tidak dimiliki oleh Google. Layaknya fenomena gunung es, Google hanya menyimpan 4 persen dari seluruh data yang ada di internet, sisanya ada di deep web.

Yang kalau saya ingat sekarang, bikin ketawa. Lha, gimana nggak ketawa, wong deep web yang saya maksud saja salah.

Jadi begini, ada tiga tipe website. Surface web, deep web dan dark web. Surface adalah situs yang ada di permukaan, terindeks Google. Deep web adalah situs yang tidak terindeks, yang menyimpan data-data kita. Memang tidak boleh terindeks, karena itu berisi data-data yang pernah kita inputkan di internet. Kan bahaya kalau data kita bisa dilihat melalui Google. Misalnya, email atau kartu kredit.

Yang saya maksud deep web disini adalah dark web. Nah, di dark web ini yang perlu sedikit effort untuk masuk ke sana. Tidak dapat diakses sembarangan browser, harus menggunakan The Onion Router (TOR) browser.

Setelah saya berhasil mengunduh browser tersebut, saya mencoba untuk menyelami situs-situs yang ada di dark web. Apakah memang semengerikan yang dibilang orang-orang?

Secara fitur, TOR sama seperti browser lainnya. Yang membedakan adalah, setiap kita ingin masuk ke suatu website, akan otomatis terenkripsi dan berubah menjadi dot onion. Misalnya, kita mengetik alamat mojok.co, otomatis akan berubah menjadi alamat acak seperti hwy8ed2gjy2deilwd.onion.

Setelah hampir seharian menyelami dark web yang saya kira deep web menggunakan TOR browser. Saya memutuskan untuk menghapus browser tersebut. Bukan, bukan karena saya takut dengan konten yang tersedia di sana. Tapi karena beberapa alasan ini.

Tidak ada apa-apa

Beneran, saat pertama kali membuka tab. Saya bingung harus masuk ke situs yang mana, karena memang tidak ada guide atau saran referensi situs. Jadinya, saya kesasar. Yailah siapa juga yang mau ngasih guide di sarang kejahatan.

Akhirnya saya mencari list situs dark web yang ada di Google dan nemu wikipedia-nya. Bedanya adalah kalau wikipedia biasa berisik kumpulan artikel atau bacaan, sedangkan wikipedia-nya dark web berisi kumpulan link situs.

Tapi memang wikipedia-nya nggak update, jadi banyak link yang tidak dapat diakses. Entah diblokir atau memang rusak. Di momen ini saya sempat nggrundel, katanya gudang informasi di internet. Lha kok nggak ada yang bisa saya akses.

Desain situs kuno

Setelah berhasil mendapatkan link yang aktif, saya dibikin terkejut. Saya kira desain situsnya itu futuristik, ternyata malah alakadarnya. Seperti orang yang masih belajar HTML dan CSS.

Don’t judge book by it’s cover. Saya mencoba untuk tetap mengulik situs tersebut, siapa tahu walaupun terlihat jadul tapi memiliki sesuatu yang dirahasiakan. Tapi ternyata setelah beberapa kali saya cek, ternyata memang banyak situs serupa yang desainnya juadul buanget.

Hampir kena tipu

Pengalaman hampir kena tipu ini saat saya masuk ke situs yang menawarkan investasi. Ya, walaupun terkesan situs itu jadul, tapi entah kenapa tawaran yang ada di dalam situs itu membuat saya menjadi tergoda.

Jadi, mata uang yang digunakan adalah Bitcoin. Dapat digunakan sebagai alat pembayaran, entah untuk membeli obat-obatan terlarang, senjata, dll.

Karena saya memiliki sejumlah pecahan mata uang Bitcoin, saya tertarik dengan konsep investasi yang ditawarkan. Jadi saya memberikan sejumlah Bitcoin yang akan diputarkan untuk jual beli di forum dark web, dan Bitcoin saya dapat diambil beserta keuntungan dalam beberapa hari.

Tapi sebelum menyelesaikan transaksi, saya tersadar. Karena tempat ini merupakan sarang kejahatan, bisa saja saya ditipu oleh pemilik situs ini, apalagi tidak mengetahui siapa orang yang saya pinjamkan Bitcoin.

Setelah itu saya buang jauh-jauh situs itu dalam list di browser saya.

Lambatnya bikin kesel

Hal yang paling mengesalkan saat berselancar di dark web adalah lambatnya minta ampun. Untuk satu kali refresh saja membutuhkan waktu setidaknya lima menit.

Awalnya saya kira karena koneksi internet. Tapi setelah membandingkan dengan browser lainnya, memang TOR lebih lambat. Mungkin karena ada enkripsi tambahan yang menyebabkan proses berjalan lebih lambat, tapi apa pun itu berhasil membuat saya misuh-misuh.

Tidak ada kata toleransi kalau lambatnya Nauzubillah. Bodo amat dengan legenda legenda yang ada di deep web, eh dark web.

BACA JUGA Demi Kebaikan, Sebaiknya Pedagang Jangan Menerapkan Tarif Seikhlasnya atau tulisan-tulisan Achmad Bayu Setyawan lainnya di Terminal Mojok.

Baca Juga:  Waspada! Kalimat-Kalimat Ini Menandakan Rencana Bakal Jadi Wacana

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
20


Komentar

Comments are closed.