Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Pengalaman Saya Dipalak dan Ditipu Calo di Terminal Bungurasih Surabaya, Bikin Kapok untuk ke Sana Lagi

Adi Purnomo Suharno oleh Adi Purnomo Suharno
20 Agustus 2024
A A
Terminal Bungurasih Momok bagi Pengguna Jalan Raya Waru Sidoarjo, Macet Ora Umum! Mojok terminal bungurasih surabaya

Terminal Bungurasih Momok bagi Pengguna Jalan Raya Waru Sidoarjo, Macet Ora Umum! (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kepercayaan, di tempat macam Terminal Bungurasih Surabaya, hanya bikin kalian terkena petaka. Ya, mau percaya apa di tempat penuh calo?

Pernah nggak sih kalian merasa menjadi korban, tetapi nggak bisa berbuat apa-apa selain pasrah?

Pengalaman ini saya alami di Terminal Bungurasih Surabaya, saat pertama kali hendak berangkat ke Bandung. Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan sebuah pengalaman pahit yang sampai sekarang masih membekas di ingatan. Rasanya ingin saya buang jauh-jauh, tapi sayangnya, kejadian ini terus terngiang dan bikin saya makin waspada.

Malam itu, tanggal 6 Agustus 2024, sekitar pukul 22:00, saya berada di Terminal Bungurasih Surabaya, bersiap menuju Bandung. Sesuai instruksi dari senior saya, saya harus tiba di Bandung sebelum pukul 11:00 pagi untuk urusan penting. Dengan percaya diri, saya mengikuti jadwal keberangkatan ini, karena seorang petugas terminal dengan tenangnya bilang.

“Perjalanan bisa ditempuh dalam 11 jam. Perkiraan sampai di Bandung pukul 10:00 pagi, Mas.”

Sudah bayar tiketnya mahal, masih kena calo 50 ribu

Dengan perasaan tenang dan penuh keyakinan, akhirnya saya membeli tiket bus, meskipun harganya terasa sangat mahal, yaitu Rp470.000. Padahal biasanya hanya sekitar Rp350.000. Tapi tak apa, yang penting saya bisa tiba di Bandung sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Proses pembelian tiket berjalan mulus, sampai tiba saatnya saya siap naik bus. Tiba-tiba, seorang “petugas” memanggil saya—orang yang sama, yang sebelumnya saya bayarkan untuk beli tiket.

“Mas, tadi sampean kok ngasih uangnya kurang Rp50.000. Coba dicek lagi deh!” katanya dengan nada yang nggak bisa dibilang ramah. Bahkan lebih mirip nada menodong.

Baca Juga:

Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya-Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya

Tidak Semua Lidah Orang Surabaya Doyan Makan Rawon, Beberapa Ada yang Trauma dengan Alasan yang Masuk Akal

Deg! Otak saya langsung muter cepat, menghitung ulang uang yang sudah saya serahkan. Saya yakin betul jumlahnya pas, nggak mungkin salah, karena sebelumnya sudah saya hitung dengan teliti. Tapi di hadapan orang ini, segala argumen terasa sia-sia. Di tengah keramaian Terminal Bungurasih yang mencekam di malam hari seperti itu, rasanya lebih baik mengalah daripada bikin keributan. Dengan hati yang mendidih, saya keluarkan lagi Rp50.000 dari dompet.

Saat itu, saya merasa seperti orang paling bodoh. Bukan hanya karena uang tambahan yang terpaksa saya keluarkan, tapi juga karena saya baru sadar bahwa terminal ini seolah punya “aturan main” sendiri. Aturan di mana tukang palak atau calo seperti sudah menjadi bagian dari sistem yang sulit dihindari.

Maraknya calo di Terminal Bungurasih sebab minimnya pengawasan dan sanksi

Saya pikir, maraknya calo di Terminal Bungurasih itu karena, menurut saya, minimnya pengawasan dan sanksi. Tanpa memperkuat dua hal tersebut, saya pikir, percuma juga ada inovasi macam pembelian tiket online.

Begini. Mayoritas penumpang, termasuk saya, masih bergantung pada cara konvensional. Kadang kami memilih cara ini karena biar lebih mudah saja. Toh, cara begini masih banyak memakai. Tapi, masalahnya, cara ini ternyata sangat rawan untuk kena calo.

Menurut saya, keberadaan “petugas” atau “pemandu” di terminal ini sepertinya sudah menjadi bagian dari skema besar yang saling bersekongkol. Mereka beroperasi dengan sangat rapi—dari pakaian resmi hingga cara mereka mengarahkan penumpang. Mungkin inilah yang membuat para penumpang, terutama yang baru pertama kali seperti saya, mudah terperangkap dalam lingkaran setan ini. Mereka bergerak dengan cekatan, nyaris tanpa celah, membuat penumpang nggak punya pilihan selain mengalah.

Tapi masalah ini bukan cuma soal uang yang hilang. Pengalaman saya di Terminal Bungurasih malam itu membuka mata akan banyak hal yang selama ini mungkin luput dari perhatian kita. Kepercayaan saya pada sistem transportasi publik, terutama di terminal besar seperti Bungurasih, seketika runtuh.

Bagaimana bisa terminal yang menjadi gerbang utama bagi ribuan penumpang setiap hari, tidak memiliki pengawasan yang ketat? Bagaimana bisa pemerintah dan aparat seolah menutup mata terhadap praktik-praktik yang jelas-jelas merugikan ini?

Namanya calo, pasti tak bisa dipegang omongannya

Ketika akhirnya bus yang saya tumpangi berangkat dari Terminal Bungurasih Surabaya, rasa lega yang seharusnya saya rasakan justru berubah menjadi kekhawatiran. Apakah ini akan jadi akhir dari pengalaman buruk saya, atau malah awal dari rentetan masalah lain di perjalanan.

Benar saja, omongan “pengarah” bus yang sebelumnya saya percaya sepenuh hati ternyata hanya omong kosong. Bukannya sampai di Bandung pada pukul 10:00 pagi, ternyata bus baru tiba menjelang magrib, hampir pukul 17:30! Bayangkan, dari yang seharusnya 11 jam, perjalanan malah memakan waktu hampir dua kali lipat!

Rasanya saya seperti dipermainkan dari awal hingga akhir. Dari tiket yang katanya kurang bayar, sampai waktu perjalanan yang jauh meleset dari prediksi. Malam itu, saya belajar satu hal penting: kepercayaan di tempat seperti Terminal Bungurasih hanya akan membuatmu jadi korban.

Pengalaman ini membuat saya bertanya-tanya, bagaimana nasib penumpang lain yang mungkin mengalami hal serupa setiap hari? Kenapa nggak ada tindakan tegas dari pemerintah atau aparat untuk membersihkan terminal dari para pemalak atau calo yang hanya mencari untung? Apakah kita harus terus-menerus menjadi korban tanpa ada solusi?

Terminal Bungurasih Surabaya harusnya jadi tempat yang nyaman dan aman

Menurut saya, sudah waktunya pemerintah dan pihak berwenang mengambil tindakan nyata. Pengawasan di Terminal Bungurasih harus diperketat, dan sanksi tegas harus diberikan kepada siapa pun yang berani melanggar aturan.

Selain itu, sistem pembelian tiket online yang sudah ada harus dioptimalkan. Jangan sampai penumpang yang sudah memilih jalur resmi tetap harus menghadapi risiko dipalak oleh orang-orang yang seharusnya menjaga mereka.

Terminal Bungurasih seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi penumpang, bukan arena bagi para pemalak untuk mencari keuntungan. Kalau kondisi ini dibiarkan terus berlanjut, maka bukan hanya saya yang jadi korban, tapi juga ribuan penumpang lain yang setiap hari bergantung pada transportasi publik. Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi pelajaran, baik bagi penumpang lain maupun pihak yang berwenang, untuk segera melakukan perubahan.

Penulis: Adi Purnomo Suharno
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Bukan Calo, Tukang Gendam Adalah Ancaman Paling Mengerikan di Terminal Bungurasih Surabaya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Agustus 2024 oleh

Tags: caloSurabayaterminal bungurasih
Adi Purnomo Suharno

Adi Purnomo Suharno

Pemuda Probolinggo. Peduli akan isu sosial-ekonomi rakyat pedesaan. Gemar baca buku, mendaki dan ngopi.

ArtikelTerkait

Surabaya Bukan Venesia, Nggak Butuh Taksi Air, Benahi Saja Transportasi Daratnya!

Surabaya Bukan Venesia, Nggak Butuh Taksi Air, Benahi Saja Transportasi Daratnya!

27 September 2024
UNESA Bisa Dibilang Kampus Terbaik di Surabaya, tapi Setelah UNAIR. Lihat Saja Perbedaannya, Bumi Langit, Bos!

UNESA Bisa Dibilang Kampus Terbaik di Surabaya, tapi Setelah UNAIR. Lihat Saja Perbedaannya, Bumi Langit, Bos!

22 Oktober 2023
KA Dhoho-Penataran Surabaya-Malang, Kereta yang Menyiksa Penumpang tapi Tetap Dibutuhkan

KA Dhoho-Penataran Surabaya-Malang, Kereta yang Menyiksa Penumpang tapi Tetap Dibutuhkan

1 Januari 2026
Derita Tinggal di Bungurasih, Daerah Perbatasan Sidoarjo dan Surabaya yang Penuh Masalah

Derita Tinggal di Bungurasih, Daerah Perbatasan Sidoarjo dan Surabaya yang Penuh Masalah

11 Maret 2024
SMA Komplek Surabaya, Kumpulan SMA Prestisius di Surabaya yang Isinya Siswa dengan Otak Setara Jimmy Neutron

SMA Komplek Surabaya, Kumpulan SMA Prestisius di Surabaya yang Isinya Siswa dengan Otak Setara Jimmy Neutron

24 Februari 2024
Sidoarjo Nggak Menarik buat Anak Muda Surabaya (Unsplash)

Sidoarjo Nggak Menarik buat Anak Muda Surabaya

16 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Panduan Mengenali Bakso Malang yang Asli dari Kera Ngalam, biar Kalian Nggak Kena Tipu

Susahnya Jadi Arek Malang di Jakarta: Berniat Mengobati Homesick Lewat Bakso Malang, eh yang Jual Malah Orang Tasik

4 Juni 2026
Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya Mojok.co

Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya-Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya

4 Juni 2026
Profesi Quality Control: Salah Sedikit Dimaki, Benar Terus Dianggap Nggak Kerja

Profesi Quality Control: Salah Sedikit Dimaki, Benar Terus Dianggap Nggak Kerja

3 Juni 2026
Kesamaan Prinsip From Doubter to Believer Liverpool & Tekkadan (Unsplash)

Liverpool dan Tekkadan Punya Kesamaan, Sama-sama Memegang Prinsip: From Doubter to Believer

3 Juni 2026
Derita Di Balik Keindahan Brown Canyon Semarang: Kisah Warga yang Harus Berdamai dengan Truk Tronton dan Debu Tambang Mojok.co

Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Brown Canyon Semarang, Warga (Terpaksa) Berdamai dengan Truk Tronton dan Debu Tambang

4 Juni 2026
Pengalaman Orang Semarang Kaget Menemukan Sisi Lain Solo (Unsplash)

Pengalaman Orang Semarang yang Kaget Menemukan Sisi Lain Kota Solo

6 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.