Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

3 Penderitaan Mahasiswa Jurusan Psikologi yang Jarang Diungkapkan

Arief Rahman Nur Fadhilah oleh Arief Rahman Nur Fadhilah
14 Mei 2024
A A
3 Penderitaan Mahasiswa Jurusan Psikologi yang Jarang Diungkapkan

3 Penderitaan Mahasiswa Jurusan Psikologi yang Jarang Diungkapkan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebenarnya mahasiswa jurusan Psikologi juga menderita, tapi jarang diungkapkan aja.

Bagi siswa SMA, jurusan Psikologi merupakan salah satu jurusan favorit, terutama buat mereka yang memilih rumpun ilmu sosial dan humaniora. Peminatnya setiap tahun selalu membludak apalagi di PTN favorit seperti UI, UGM, dan Unair. Alasan kenapa banyak yang memilih jurusan ini kebanyakan nggak jauh-jauh dari dua hal, mau rawat jalan atau menyembuhkan luka pengasuhan.

Di sisi lain, fenomena masyarakat kita juga ikut membantu memopulerkan pamor jurusan ini. Sekarang sudah cukup banyak orang yang melek soal isu-isu kesehatan mental. Buktinya, sudah banyak yang bisa self-diagnose kena gangguan mental dan dijadikan alasan untuk kabur dari tanggung jawab. Healing, healing, hilang. Hadeh.

Bagi yang sudah telanjur nyemplung menekuni ilmu ini, otomatis ada stereotip yang menancap. Orang-orang langsung menganggap mahasiswa jurusan Psikologi sebagai dukun. Mentang-mentang belajar soal kejiwaan, dikiranya kami bisa membaca pikiran orang lain.

Ada satu kejadian yang masih saya ingat saat diterima sebagai mahasiswa jurusan Psikologi Unair lewat jalur SBMPTN (sekarang SNBT). Ketika beritanya tersebar, teman sekelas saya berkata, “Ayo Rief, wocoen pikiranku. Latihan o dhisik.” Heran, padahal kuliah saja belum, lho, baru juga diterima. Namun setelah berhasil mengkhatamkan jenjang S-1, ternyata dianggap sebagai dukun masih belum ada apa-apanya dibanding penderitaan yang lain.

#1 Mahasiswa jurusan Psikologi selalu dianggap tahu segalanya tentang manusia

Biasanya, mahasiswa Psikologi selalu dianggap paling tahu soal seluk-beluk perilaku manusia. Sering kali kami ditanyai mengenai penyebab fenomena sehari-hari. Mulai dari pertanyaan umum seperti kenapa orang bisa stres sampai pertanyaan yang ranahnya pribadi. Kalau sudah begini, nggak jarang obrolannya berubah jadi sesi konsultasi. 

Sebetulnya nggak ada yang salah. Momen-momen seperti ini bisa mempertajam pemahaman mahasiswa jurusan Psikologi di bangku kuliah karena melatih kami menjelaskan teori-teori ilmiah ke dalam bahasa sehari-hari. Pertanyaan seperti ini juga membuat ilmu kami berguna di dunia nyata. Jadi nggak cuma jadi bahan diskusi di kelas dan menguap begitu saja.

Masalahnya, sering kali pertanyaannya itu terlampau ngeselin. Biasanya kalau ada berita aneh muncul, kami selalu dihujani pertanyaan. Misalnya waktu ramai kasus Lucinta Luna. Teman-teman saya banyak yang bertanya kenapa sih kok ada orang operasi ganti kelamin terus bikin sensasi di mana-mana. Mampus. Gimana coba menjawab pertanyaan seperti itu? Apalagi kalau sudah ada imbuhan, “Gimana kalau menurut psikologi?” Makin kesal rasanya.

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

Begini ya, kalian harus paham kalau setiap orang itu unik. Buat menjelaskan sebuah perilaku saja nggak jarang harus dilakukan analisis mendalam. Mulai dari kepribadian sampai pola keseharian seseorang. Jadi memang prosesnya lama dan susah. Mana bisa sekali lihat langsung paham.

#2 Dipaksa jadi orang bijak

Mentang-mentang belajar psikologi, mahasiswa jurusan Psikologi sering dianggap sebagai orang bijak. Setiap ada permasalahan sulit, khususnya terkait konflik hubungan antar-teman, kami selalu dimintai nasihat. Tak jarang juga tugas menyelesaikan masalah tadi malah dipindahtugaskan kepada kami karena dianggap paling ahli menangani hal semacam ini. 

Akan lebih parah kalau yang sedang berkonflik mahasiswa Psikologi itu sendiri dengan orang lain. Setiap ada yang nggak senang dengan perilaku kami, mereka bisa dengan santai bilang, “Padahal kamu lebih paham ilmunya, lho, kok kamu malah kayak gitu?” Semua yang dilakukan jadi serba salah di mata orang lain.

Bukannya membenarkan perilaku buruk. Tapi, mahasiswa jurusan Psikologi juga manusia biasa yang nggak luput dari kesalahan. Jangan sedikit-sedikit minta wejangan. Memangnya kami ini ulama? Wong dokter yang belajar kesehatan juga masih bisa sakit, kok!

#3 “Kalau nggak jadi psikolog, palingan kerja sebagai HR,” begitu kata orang-orang

Stereotipe ini sebetulnya paling ngeselin sekaligus yang paling mendekati kenyataan. Buat yang belum tahu, di jurusan Psikologi ada banyak sekali peminatan atau pendalaman ilmu. Di Universitas Airlangga sendiri waktu dibagi menjadi 4 peminatan, yaitu psikologi sosial, psikologi pendidikan dan perkembangan, psikologi industri dan organisasi, dan psikologi klinis. Kalau ditekuni dengan serius, keempat peminatan ini punya output karier yang berbeda-beda.

Sialnya, orang lain taunya kami ini kalau kerja ya paling cocok sebagai HR. Banyak sekali curhatan teman-teman saya yang katanya saat ini kerja nggak sesuai passion. Kebanyakan saat melamar kerja, diterimanya ya di divisi HR meskipun nggak punya sama sekali pengalaman magang atau pendalaman ilmu di bidang industri dan organisasi. Alhasil, istilah “ujung-ujungnya HR” pun muncul dan sering jadi bahan bercandaan kami.

Terlepas dari penderitaan yang dialami mahasiswa jurusan Psikologi, nyatanya nggak membuat saya menyesal memilih jurusan ini. Ilmunya betulan terpakai di kehidupan sehari-hari dan bisa dipakai membantu banyak orang. Tak seperti beberapa jurusan kuliah lain yang baru terpakai kalau sudah kerja di posisi spesifik dengan bidangnya.

Penulis: Arief Rahman Nur Fadhilah
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Kuliah di Jurusan Psikologi Itu Enaknya Nggak Ketulungan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Mei 2024 oleh

Tags: jurusan psikologiKampusMahasiswaPsikologi
Arief Rahman Nur Fadhilah

Arief Rahman Nur Fadhilah

Sedang menempuh S2 Psikologi Unair sembari merantau di Medan. Penikmat sunyi yang diam-diam takut ditinggal sendiri

ArtikelTerkait

Bahasa Mahasiswa Plat AG yang Bikin Orang Malang Bingung Sekaligus Ketawa

Bahasa Mahasiswa Plat AG yang Bikin Orang Malang Bingung Sekaligus Ketawa

7 November 2023
Sepeda Listrik Nggak Cocok buat Mahasiswa Mendang-Mending di UI karena Mahal dan Nggak Bisa Boncengan

Sepeda Listrik Nggak Cocok buat Mahasiswa Mendang-Mending di UI karena Mahal dan Nggak Bisa Boncengan

14 Juli 2024
Selempang Cum Laude untuk Wisuda: Penting, tapi Tidak Sepenting Itu biaya wisuda, malang, kampus di malang

Biaya Wisuda Itu Harusnya Murah, Bahkan kalau Bisa Gratis, Jangan Jadikan Wisuda sebagai Ladang Cuan!

30 Juli 2024
Dear Maba, kalau Diajak Bisnis Aneh-aneh sama Kating, Jangan Mau ya!

Dear Maba, kalau Diajak Bisnis Aneh-aneh sama Kating, Jangan Mau ya!

24 Agustus 2024
3 Toko Baju Andalan Para Mahasiswi di Jogja Terminal Mojok

3 Toko Baju Andalan Para Mahasiswi di Jogja

8 Juni 2022
salah jurusan

Masuk Kuliah: Saatnya Salah Jurusan

2 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026
Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

31 Januari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026
Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

4 Februari 2026
Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

6 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.