Pemujaan Anak Indonesia pada Hitler Itu Sungguh Memuakkan

Artikel

Prabu Yudianto

Mengagumi sesuatu adalah hak segala bangsa. Saya pribadi kagum pada Kropotkin, Marcos, dan Den Baguse Ngarso. Sebenarnya, saya tidak masalah pada orang yang kagum pada sosok berbeda. Mau Anda kagum pada Blackpink, SBY, sampai robot-robotan bernama Gundam itu tidak masalah, kok.

Namun, kadang saya senewen pada dua jenis fanboy dan fangirl. Pertama, mereka kagum berlebihan tanpa dasar bahkan cenderung ofensif. Yang kedua, kagum karena sesuatu yang negatif tapi diperlihatkan seolah sebagai kehebatan. Nah, kebetulan ada satu golongan fanboy dan fangirl yang masuk dalam golongan ini: fans Adolf Hitler dan NAZI.

Jujur, saya juga pernah dalam fase memuja Hitler dan NAZI dengan membabi buta. Puncaknya adalah berdebat dengan dosen pendidikan kewarganegaraan demi membela ideologi NAZI. Untung, setelah saya dewasa saya menyadari fase tersebut sebagai fase yang salah, bahkan menyebalkan.

Lantaran saya pernah menjadi NAZI fanboy, saya memahami cara pikir sesama pemuja Third Reich ini. Namun, bagi saya alasan mereka memuja pria pendek berkumis kotak ini sangat memuakkan dan menyebalkan. Bahkan saya anggap aneh. Berikut adalah alasan mereka dan sudut pandang saya yang muak pada mereka.

#1 Hitler dan NAZI membantai Yahudi

Halo, para pengagum NAZI! Kalian pasti pernah dalam fase memuja alasan ini, kan? Saya bisa memahami alasan ini. Masyarakat Yahudi memang selalu menjadi antagonis dalam berbagai teori konspirasi. Mereka dipandang sebagai sumber petaka bahkan kiamat. Salah satu “bukti” kejahatan mereka adalah The Protocols of the Elders of Zion. Panduan ini berisi rencana jahat para Zionis Yahudi, yang menjadi sumber propaganda NAZI pada masanya.

Meskipun saya paham alasan kalian, tapi saya muak dengan alasan ini. Pertama, memuja pembantaian manusia bukanlah sesuatu yang normal. Kedua, NAZI menggunakan Yahudi sebagai kambing hitam kekalahan Jerman pada Perang Dunia Pertama. Selain itu, Yahudi ditindas karena alasan politis dan bukan alasan mulia. Terakhir, buku The Protocols tadi telah dibuktikan sebagai hoaks klasik. Tolong, buka mata kalian.

#2 NAZI itu gagah dan jantan

Ini adalah alasan kedua yang sering saya terima. Dan saya tidak memungkiri ini. Anggota NAZI (dan warga Jerman NAZI) selalu mengemas diri sebagai sekumpulan ras unggul dan ideal. Figur pria berambut pirang dan bermata biru menjadi simbol manusia ideal yang pantas menguasai dunia. Uniknya, mereka dipimpin oleh sosok pendek berambut hitam dan bermata gelap. Hehehe.

Baca Juga:  Persatuan Indonesia Berazaskan Chef Renatta

Alasan ini juga memuakkan. Pertama, kalian memuja sosok yang dianggap ideal yang jelas berbeda dengan kita. Kegagahan NAZI juga merupakan kampanye politik demi terbangunnya semangat chauvinis rakyat Jerman. Semua kegagahan tadi berdampak pada pembunuhan terorganisir terhadap “ras lemah”, bahkan sesama Jerman yang cacat atau dipandang cacat seperti homoseksual.

#3 Pidato Hitler itu keren

Oke, saya angkat topi dalam urusan orasi seorang Hitler. Saya akui, dia adalah singa podium yang efektif. Penggunaan nada tinggi-rendah sampai gerakan tangan dia sangat tepat untuk kita pelajari. Terutama bagi Anda yang hidup dari kemampuan public speaking: guru, trainer, sampai pedagang sayuran kompleks.

Namun, saya tetap muak dengan alasan ini. Jika cara pidato Hitler kalian kagumi, apa perlu memuja Hitler dan NAZI secara utuh? Seperti kata pepatah: ambil cahayanya, jangan api atau abunya. Kalian bisa mengagumi dan mempelajari cara pidato Hitler. Bahkan kalian bisa membentuk karakter sendiri dari kekaguman mereka. Akan tetapi, untuk apa sampai kagum berlebihan? Bahkan sampai mendengarkan pidato Hitler sebelum tidur? Padahal kapasitas berbahasa Jerman hanya sampai Guten Tag.

#4 NAZI itu laki banget

Saya tidak kaget dengan sudut pandang ini. NAZI memang mengutamakan maskulinitas sebagai alat propaganda. Dari seni rupa sampai seni teater era NAZI erat dengan unsur kelaki-lakian. Wajar, maskulinitas adalah unsur penting dalam doktrin militer. Dan Jerman era NAZI adalah negara yang bertumpu pada ekspansi militer.

Namun, kekaguman ini juga tidak sehat. Maskulinitas NAZI membentuk budaya masyarakat patriarkis yang sudah kelewatan. Program Lebensborn adalah salah satu bentuk budaya patriarkis ala NAZI. Perempuan muda di Jerman diminta secara sukarela untuk mengandung anak dari perwira Jerman tanpa ada ikatan apa pun. Maskulinitas NAZI berimbas pada nasib perempuan sebagai pabrik bayi. Bahkan segala “kemudahan” bagi perempuan Jerman bertujuan untuk meledakkan populasi ras Arya yang entah apa benar adanya ras itu.

Baca Juga:  Menelanjangi Aktivitas Menangis dari Pakar Menangis

#5 Militer Jerman NAZI itu keren dan hebat

Ini juga alasan pertama saya saat mulai menggandrungi Hitler dan NAZI. Militer era NAZI memang sangat berkembang. Berbagai senjata mutakhir dan unik menjadi sumber kedigdayaan Third Reich. Dari senapan Gewehr, Konigstiger, sampai piring terbang Haunebu. Benar-benar membuat kagum pemuda dan minder bagi negara musuh.

Masalahnya, untuk apa memuja perangkat alat pembantai manusia? Segala kegagahan dan maskulinitas perang juga hasil dari propaganda. Jika perang dianggap biasa saja, mana ada yang mau menumpahkan darah untuk perang? Perang selalu dikemas sebagai peristiwa yang gagah serta penuh teknologi mutakhir. Tujuannya agar orang yang kagum seperti kalian mau menumpahkan darah demi profit!

#6 Ingin Indonesia seperti Jerman NAZI

Ini bukan sekadar alasan, tapi sebuah cita-cita. Banyak NAZI fanboy dan fangirl yang mengidamkan Indonesia seperti saat NAZI berkuasa di Jerman. Parade militer, upacara megah, dan pemimpin kharismatik. Biasanya, alasan ini ditambahkan dengan kekecewaan pada pemerintah Indonesia pasca reformasi.

Kak, Dik, saya beri tahu, ya. Megah yang kalian impikan itu sudah bubar 75 tahun lalu. Kemegahan Jerman NAZI tidak lebih dari sekadar puing-puing karya egoisme manusia yang haus darah. Lagi pula, untuk apa mengidamkan pemerintahan fasis? Indonesia sudah mengalami pemerintahan militer yang fasis, kok. Kalian tahu pemerintahan mana yang saya maksud, kan, Mylov?

BACA JUGA 4 Alasan Kenapa Kalian Perlu Belajar Bahasa Jerman selain biar Nggak Norak Pakai Salam Nazi dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
15


Komentar

Comments are closed.