Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pemilik Patah Hati yang Sebenarnya Adalah yang Mengambil Keputusan dan Pergi

Kartika Sari Situmeang oleh Kartika Sari Situmeang
15 Februari 2020
A A
putus pacaran Pemilik Patah Hati yang Sebenarnya Adalah yang Mengambil Keputusan dan Pergi

putus pacaran Pemilik Patah Hati yang Sebenarnya Adalah yang Mengambil Keputusan dan Pergi

Share on FacebookShare on Twitter

Siapa bilang patah hati hanya milik seorang yang ditinggal kekasihnya dengan alasan kamu terlalu baik? Atau hanya milik seorang kamu yang di-ghosting mas atau mbak crush tanpa ada alasan?

Kenyataannya adalah bahwa patah hati bukan melulu soal ditinggal kekasih hati. Tidak. Patah hati itu ketika kamu mengambil keputusan secara sadar, meski berat, dan memutuskan untuk pergi. Ini dapat berlaku di bidang apa saja.

Di kampus, saat bimbingan skripsi, dosbing menyarankan (lebih tepatnya menyuruh) agar kamu mengganti topik sekalian. Hati ini berteriak ingin protes, tapi mungkin jauh di lubuk hati kamu sadar juga sih kalau pilihan topikmu nggak research-minded aka kurang bermutu. Meski tumpukan bahan dan referensi sudah kamu kumpulkan berminggu-minggu sebelumnya, dengan berat hati kamu putuskan mengikuti saran (suruhan) dosbingmu. Daripada ganti dosbing, ye, kan. Patah hati nggak? Ngaku aja lah, minimal keluar sumpah serapah tertuju ke dosbingmu.

Mungkin ada masa ketika kamu harus menyerah pada impianmu. Bukan menyerah dengan mudah tanpa mencoba ya, tapi lebih ke kesadaran bahwa ini mungkin bukan buat saya. Segala hal sudah dicoba, dikerjakan, dikejar, ditolak berulang kali, masih juga diperjuangkan lagi. Berulang kali menelan penolakan, masih ngeyel coba dan coba lagi.

Sampai di satu titik, titik kulminasi dari semua perjuangan kamu mengevaluasi lagi. Kamu bertanya pada dirimu sendiri, apa yang sebenarnya saya cari selama ini? Apakah semua ini worth it? Bagaimana dengan semua usaha selama ini, apakah ini semua akan jadi sia-sia jika saya berhenti? Dan ketika kamu memutuskan untuk berhenti, melupakan impianmu, meski berat, di situlah sakitnya patah hati. Betul tidak?

Atau ketika kamu sudah tertib antre saat beli cilok. Lalu dengan cara halus seorang emak berusaha menyerobot antrian dan bilang, “Aku duluan ya Mas, anakku sudah nangis ini.” Untuk mengonfirmasi keberadaan anaknya kamu pun menoleh, lalu dengan sigap si emak masuk di antrean depanmu. Mau protes, tapi nggak berani. Kamu memutuskan mengalah dengan sadar, lalu mundur memberi tempat pada emak tersebut. Patah hati nggak?

Dan tentu aja, patah hati terberat sepanjang sejarah disebabkan oleh cinta. No questions asked. Tapi sesungguhnya pemilik patah hati bukanlah pihak yang ditinggal.

Tidak lain tidak bukan, justru pihak yang meninggalkanlah yang sesungguhnya menderita patah hati. Mengambil keputusan, berpotensi menyakiti orang lain, doa-doa orang terzalimi mungkin akan dikabulkan terhadapnya, belum lagi stigma penjahat kelamin hati yang menempel di dadanya. Berat, sungguh berat.

Baca Juga:

Membayangkan Film “Ada Apa dengan Cinta” Tidak Pernah Ada

3 Ruas Jalan Jogja yang Sebaiknya Dihindari Warga yang Dilanda Patah Hati

Makanya banyak orang lebih suka di posisi yang ditinggalkan. Ya mau diapain lagi, wong sudah ditinggal dan doi sama orang lain. Mau nuntut? Nggak terima? Lah dalah, wis beno ae. Kayak nggak ada orang lain aja di dunia ini. Tapi, cuma sama dia saya nyaman~ Wis, wis, fokus mbahas patah hati ae, bukan malah cerita buat Curhat Mojok.

Membuat keputusan dan pergi itu banyak risikonya, Bro. Dari jauh-jauh hari sudah dipikirkan, apakah langkah ini benar? Kalau salah lalu menyesal, bagaimana? Bagaimana cara ngomongnya? Lewat pesan di WhatsApp (dasar pengecut!) atau ketemu langsung (dasar tega!)?

Bagaimana kalau doi nangis? Marah dan nggak terima? Atau malah meluncurkan modus toxic-nya dengan membuat perasaan ini semakin bersalah? Duh kah, repot. In the end, bikin gara-gara aja lah biar diputusin. Selingkuh kek, bohong kek, apa aja asal bisa diputusin. Karena sekali lagi, mengambil keputusan dan pergi itu menyakitkan. Lebih menyakitkan daripada ditinggal.

Kadang setelah kejadian pun masih dihinggapi perasaan andai. Andai saya lebih bersabar, mungkin kami masih bersama. Andai dia mau mengalah, mungkin saya mau bersabar. Andai kami masih bersama, mungkin dia mau mengalah. Apa saya yang lebai dan tidak santuy? Galau di antara lautan perasaan bersalah padanya dan takut melakukan kesalahan.

Ditinggal itu menyakitkan. Tapi kamu bisa memilih menerima keputusan itu atau mau memperjuangkan perasaan dan kisah yang masih ada. Patah hati belumlah dimulai, Kakak.

Patah hati itu ketika kamu memutuskan untuk menerima keputusan, tidak akan berjuang mempertahankan hubungan yang berat sebelah ini. Kamu memilih pergi, dan berharap dia keselek boba~

BACA JUGA Pentingnya Patah Hati dalam Hidup Ini atau tulisan Kartika Sari Situmeang lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Februari 2020 oleh

Tags: CintaditinggalPatah Hati
Kartika Sari Situmeang

Kartika Sari Situmeang

Akuntan yang bercita-cita menjadi penulis.

ArtikelTerkait

Menyulap Benci Jadi Cinta Lewat Benjamin Franklin Effect

Menyulap Benci Jadi Cinta Lewat Benjamin Franklin Effect

11 Januari 2020
sendu

Globalisasi dan Millenials Penyebab Kebangkitan Kedua Bait-Bait Sendu Didi Kempot

22 Agustus 2019
Alya, Pemegang Kunci Cerita AADC yang Katanya “Lebih Baik” daripada Cinta anak sd jatuh cinta anak kecil pacaran suka lawan jenis cara menyikapi orang dewasa orang tua panduan mojok.co

Alya, Pemegang Kunci Cerita AADC yang Katanya “Lebih Baik” daripada Cinta

30 April 2020
posesif

Tidak Bisa Jauh Dari Handphone Karena Pacar yang Posesif

10 Oktober 2019
Rekomendasi Lagu Sedih yang Bikin Nangis biar Patah Hati Kamu Makin Khusyu terminal mojok.co

Rekomendasi Lagu Sedih yang Bikin Nangis biar Patah Hati Kamu Makin Khusyu

14 Maret 2020
rumus hukum fisika yang berhubungan dengan cinta dan kehidupan mojok.co

6 Hukum Fisika yang Bisa Jadi Solusi Masalah Hidup Sehari-hari

25 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Malang, sebab Selalu Dilatih dengan Menghindari Jalanan Berlubang!

Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Malang, sebab Selalu Dilatih dengan Menghindari Jalanan Berlubang!

11 Januari 2026
Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

12 Januari 2026
Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas Mojok.co

Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas

14 Januari 2026
Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

16 Januari 2026
KA Sri Tanjung, Penyelamat Mahasiswa Jogja Asal Banyuwangi (Wikimedia)

Pengalaman Naik Kereta Sri Tanjung Surabaya-Jogja: Kursi Tegaknya Menyiksa Fisik, Penumpangnya Menyiksa Psikis

13 Januari 2026
Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

15 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • 2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup
  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.