Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Musik

Pemersatu Bangsa Sebenarnya adalah Cendol Dawet

Nadya Rizqi Aditya oleh Nadya Rizqi Aditya
26 September 2019
A A
cendol dawet

cendol dawet

Share on FacebookShare on Twitter

“Cendol dawet, cendol dawet seger, lima ratusan gak pake ketan. Ji, ro, lu, pat, limo, enem, pitu, wolu. Tak kintang-kintang, tak kintang-kintang, tak kintang-kintang, lololo, ngono lho!”

Ya, inilah bukti nyata pertama bahwa cendol dawet merupakan pemersatu bangsa. Pasti ada beberapa dari kalian yang membaca kalimat diatas dengan teriakan ambyar baik diucapkan, maupun dipendam dalam hati.

Hypenya jiwa ambyar kini menyerang hampir semua kalangan masyarakat di Indonesia. Mungkin bisa dikatakan hampir sama dengan saat dulu hype-hypenya senja, hujan, kopi dan playlist band indie. Namun, menurut saya, hype cendol dawet ini lebih merakyat karena sempat ada video viral sekumpulan murid SD yang menyahut ‘cendol dawet’ dengan sangat fasih melebihi kefasihan menyebutkan Pancasila. Tapi, menariknya, sobat ambyar kini kebanyakan adalah kalangan pemuda Indonesia yang kondisi hatinya sedang hancur alias ambyar, dan pikirannya meledak alias modyar.

Nggak bisa dipungkiri juga, kalau memang dari masa ke masa, pastilah jiwa muda yang hatinya rentan terluka ini punya sesi ‘galau’ dengan sebuah lagu, sambil memegang foto mantan, atau sekedar divisualisasikan lewat pikiran, lalu kadang-kadang sekalian nangis kalau memang lagi kondusif. Saya dulu juga gitu. hehe

Dari era lagu Fall For You, lalu beranjak ke era hacep tapi liriknya dalem banget seperti Stay The Night misalnya atau Don’t Let Me Down, lalu datang angkatan per-indie-an duniawi dengan lagu galau Sampai Jadi Debu, dan saat ini hadirlah era per-ambyar-an pemuda seantero raya dengan lagu galau mulai dari Cidro sampai Kartonyono Medhot Janji.

Jika kamu bertanya-tanya atau mungkin belum terasa, sepowerful apa cendol dawet itu, mungkin kamu harus merasakan cedera cinta sesaat, lalu merenung di kamar dan memindahkan Spotify-mu dari yang awalnya playlist classy kamu, menjadi playlist lagu-lagu galau ambyar. Nikmatnya? MasyaAllah, surgawi firdausyi. Rasanya galau, tapi ya pengen joget. Tapi galau. Tapi. Ah, susah didefinisikan.

Minggu lalu, untuk pertama kalinya saya menghadiri sebuah event bertakjub Sobat Ambyar yang diadakan di Tebing Breksi Yogyakarta. Berbekal nol lagu Didi Kempot yang saya hafal, saya pede-pede saja datang ke konser tersebut dengan kondisi sedikit flu dan pening. Rasanya cukup salah alamat juga karena lagu ambyar yang saya hafal sejauh ini cuman Kartonyono Medhot Janji, itupun cuman bagian reff-nya saja.

Saya kira, konsernya begitu sepi. Saya masuk sambil santai, mengira konsernya belum mulai. Berjalan agak lama, ternyata saya yang kucluk, nggak tahu kalo stagenya di bawah. Sungguhhh ramaaai! betul-betul seperti kerumunan demo di depan Gedung DPR. Tanpa disangka-sangka, saya yang bekal lagu Didi Kempotnya nol, ternyata bisa menikmati konsernya juga. Saya joget sejoget-jogetnya, dan klimaksnya adalah pada saat semua berteriak “cendol dawet!” Byuhh, semuanya benar-benar berteriak kompak, tanpa ada latihan atau briefing sebelumnya. Kerumunan itu serasa punya harmoni tersendiri yang tersalur lewat intuisi. Widih!

Baca Juga:

Dilema “Jawa Murtad” di Gunungkidul: Ketika Lidah Sumatra Menjadi Petaka

9 Jenis Kucing Terbaik yang akan Mendatangkan Rezeki Menurut Serat Katuranggan Kucing

Lalu, saya pun mengetahui mengapa disebut ambyar adalah memang benar-benar ambyar dalam konser tersebut. Ada mereka-mereka yang datang dengan kisah cinta yang rumit, sehingga yhaaa, joget sih joget, tapi setelah itu mereka benar-benar ambyar, keluar dari kerumunan, sambil mau pingsan, mabuk, dan muntah. Pikir saya, oh ini to, kenapa kok namanya sobat ambyar. Ya memang literally ambyar banget wicis saya gak expect ini bakal happen.

Tetapi, tahu tidak? Di era sobat ambyar ini, dan seusai menghadiri event tersebut, saya mendapatkan beberapa poin penting yang ternyata sangat berpengaruh dan menjadi alasan mengapa saya menulis artikel ini. Kita tahu Indonesia sekarang lagi chaos-chaosnya, apalagi terkait masalah tidak melestarikan budaya, duh. Para pemuda nggak jarang dibilang sudah terpengaruh dengan budaya asing. Sudah menjadi lagu lama kalau banyak pemuda yang lebih suka karya-karya mereka yang dari luar negeri ketimbang yang dari dalam negeri, bukan? Tapi, stigma ini ternyata sepertinya bisa dipatahkan oleh adanya cendol dawet ini.

Bagaimana tidak, lha wong gara-gara cendol dawet, hampir seluruh umat, semua kaum saja bisa bersatu setelah mengatakan cendol dawet sambil berjoget ria, dengan penuh kebahagiaan yang tiada dua. Bayangkan saja, dengan hal itu kita bisa bersatu banget dalam hal apapun. Bhinneka Tunggal Ika bakal lebih berlaku lagi dengan senjata cendol dawet.

Katakanlah, terkait RUU KUHP yang banyak masyarakat kontra dengan hal tersebut, berdemo di depan Gedung  DPR, sambil memutarkan lagu Pamer Bojo, lalu tiba-tiba, anggota DPR keluar, sambil membawa RUU KUHP yang hampir disahkan sambil menyahuti lagu tersebut dan berteriak, “cendol dawet?” Lalu, semua rakyat yang berdemo menyahut, “cendol dawet seger!” Kemudian disahut lagi, “piro?” Dilanjut dengan, “lima ratusan!” dan akhirnya berakhir dengan persatuan Indonesia sesuai sila ke-3.

RUU KUHP kemudian dibatalkan, dan kita semua berdamai dengan tagline persatuan cendol dawet. hehe, seru kali ya? Atau mungkin, terkait masalah agama yang menjadi sangat sensitif beberapa tahun silam ini, juga bisa dipecahkan begitu saja dengan tagline kebangsaan ini.

Tagline ini tanpa disadari juga ternyata mampu mengembalikan identitas bangsa ‘Indonesia’. Bagaimana tidak, dulunya termasuk saya pun juga, amat melihat dangdut sebelah mata. Genre dangdut seolah menjadi genre yang sangat amat rendah. Eh, tidak juga. Di mikrolet juga terkadang memutarkan lagu DJ, alias hacep, tapi yhaaa sebenarnya juga disertai dengan bumbu-bumbu dangdut yang membuat leher supir ke kanan dan ke kiri … ke kiri, ke kiri, ke kiri maniseeee~

Tapi, coba lihat sekarang? Kemajuan sekali ternyata. Playlist pemuda-pemudi Indonesia juga rata-rata disertai dengan lagu dangdut. Walaupun tidak didengarkan secara intens, setidaknya, pemuda-pemudi Indonesia tidak begitu menutup diri atas adanya genre ini sebagai salah satu ciri khas Indonesia. Baik diakui atau tidak, mereka pasti tahu atau bahkan punya satu lagu favorit dari sekian banyak lagu dangdut populer. Tidak lagi menganggap jijik genre tersebut, atau benar-benar, “Ih! Lo rendahan banget sih, dengerinnya dangdut!” Bahkan sekarang, genre dangdut, dan tagline cendol dawet tidak menentukan tingkat intelek seseorang. Iya tidak? Lagipula, negara mana lagi sih, yang punya genre dangdut kalau tidak Indonesia?

Yhaaa, begitu sih. Yang bisa diharapkan untuk selanjutnya adalah semoga semakin banyak hal-hal kecil yang akan kembali menumbuhkan jati diri bangsa Indonesia. Semoga pemuda-pemudi Indonesia yang menjadi harapan generasi emas 2045 semakin be yourself dengan kultur yang sebenarnya paten milik bangsa kita tercinta. Semoga Indonesia bisa semakin bersatu lewat media apapun, budaya apapun, cara apapun asal positif dan segar seperti cendol dawet! (*)

BACA JUGA Generasi K (Keminter dan Karatan) Harusnya Berkaca Dulu Sebelum Nyinyiri Aksi Mahasiswa atau tulisan Nadya Rizqi Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Februari 2022 oleh

Tags: budaya jawacampursaricendol dawetcidroIndiesobat ambyarspotify
Nadya Rizqi Aditya

Nadya Rizqi Aditya

ArtikelTerkait

Menjadi Music Snob Itu Nggak Ada Keren-kerennya!

Menjadi Music Snob Itu Nggak Ada Keren-kerennya!

27 Februari 2020
Hargai Orang yang Belajar Bahasa Jawa, dong. Jangan Sedikit-sedikit Dibilang Nggak Pantas terminal mojok.co

Orang Jogja-Solo Memang Suka Mempelesetkan Umpatan Jadi Misuh Versi Lite

25 Oktober 2020
Fitur YouTube Music yang Sia-sia dan Sebaiknya Dihapus Saja

Fitur YouTube Music yang Sia-sia dan Sebaiknya Dihapus Saja

17 Desember 2023
radio mabuk kendaraan mojok.co

Kenapa sih Kita Nggak Pernah Bosen Denger Lagu di Radio Meski Ada Spotify dan YouTube?

16 Juni 2020
Apa Beli Akun Spotify Premium dan Netflix Lewat Olshop itu Pembajakan?

Apa Beli Akun Spotify Premium dan Netflix Lewat Olshop itu Pembajakan?

4 Maret 2020
5 Lagu Sunda yang Maknanya Nggak Kalah sama 'Cidro' dan 'Sewu Kutho' terminal mojok.co didi kempot campursari sunda keroncong sunda

Mendengarkan Didi Kempot, Mengulang Masa Lalu

5 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung” yang Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman Mojok.co

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung”: Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman

12 Mei 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa Itu Candu, dan Jabatan di Kampus Itu Jebakan yang Pelan-pelan Mematikan

18 Mei 2026
4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu Mojok.co

4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu

12 Mei 2026
Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau Mojok.co

Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau

16 Mei 2026
Wahai BKN dan Panitia CPNS, Percuma Ada Masa Sanggah CPNS kalau Tidak Transparan! soal TWK daftar cpns pppk pns cat asn

Terima Kasih untuk Siapa pun yang Mencetuskan dan Melaksanakan Ide CAT CPNS, Tes yang Tak Pandang Bulu, Tak Pandang Siapa Dirimu

13 Mei 2026
Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit Mojok.co

Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit

18 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.