Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Parasite Eve, Cara BMTH Menyentil Mas-mas Penganut Teori Konspirasi

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
29 Juli 2020
A A
parasite eve bring me the horizon mojok

parasite eve bring me the horizon mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Bring Me The Horizon menambah daftar panjang musisi yang mengambil tema mengenai pandemi yang menyebalkan ini. Mereka merilis single dengan judul menawan, “Parasite Eve”. Sebagian orang, tentu mengira band asal Sheffield‎ sedang mengisi soundtrack gim garapan SquareSoft. Hal ini terjadi lantaran “Parasite Eve” pernah harum bagi penikmat gim konsol PlayStation. Gim yang diangkat dari novel karya Hideaki Sena adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa diganggu gugat bagi penggemar gim RPG kala itu.

Prasangka ini tentu muncul lantaran Bring Me The Horizon pernah mengisi soundtrack untuk gim Death Stranding dalam tajuk Ludens. Bahkan, sempat tersebar rumor bahwa gim Parasite Eve ini akan di-remake. Dari sekian banyak praduga tersebut, hal yang paling masuk di akal adalah Bring Me The Horizon ingin mengingatkan para pendengarnya mengenai pandemi.

ADVERTISEMENT

Namun, faktanya, penulisan lagu ini dibuat hampir bersamaan dengan terjadi pandemi. Melalui wawancara bersama NME, Oli mengatakan;

“We’d heard about the pandemic in China, but then the similarities between what we were writing about started to become closer to reality. Every time there was a news story about it, we’d turn to each other and say ‘Parasite Eve’, not realising the magnitude of it all.”

Masalah visual yang sudah ditonton sebanyak 8 juta kali di kanal YouTube mereka, Oli mengungkapkan bahwa ia terinspirasi dari manga favoritnya. Salah satunya adalah Tokyo Ghoul. Bersama dengan Venom dan film The Inferno Unseen karya Henri-Georges Clouzot, visual mereka seakan tidak bermaksud memberi ketakutan, namun rasa berani melawan pandemi.

Terma “berani” di sini bukan berarti melawan dengan mengabaikannya. Seperti menganggap bahwa pandemi ini merupakan sebuah konspirasi atau hal yang menyesatkan lainnya. Dalam tajuk ‘Post Human’, mereka mengajak bahwa jalan terbaik adalah bertahan.

“I’ve got a fever, don’t breathe on me/ I’m a believer of nobody/ Won’t let me leave ‘cause I’ve seen something/ Hope I don’t sneeze, I don’t…*sneeze.”

Baca Juga:

Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Hantavirus: Pertama, Please, Jangan Panik

Pengalaman Saya Menjalani KKN Gaib, Sendirian Ngerjain Proker, Tau-tau Selesai

“Berani” dan mengutuk semua ada dalang di baliknya, dari lirik ini, menurut saya, adalah hal yang menggelikan. Semua bisa terinfeksi, sekali pun dirimu berani, sekali pun dirimu bisa sembuh.

Yang menarik adalah bagian reff yang ditekankan oleh Bring Me The Horizon. “When we forget the infection/ Will we remember the lesson?”. Pertanyaan ini mirip seperti keadaan di negara kita saat ini. Kala yang atas yang berkelumit dengan istilah-istilah, yang bawah disuruh ‘hidup berdampingan’. Apakah kita bisa mengambil pelajaran dari pandemi ini?

Buktinya, pandemi belum usai, kita sudah melupakan pandemi ini. Ya, serba sulit memang. Kala ekonomi harus diputar, kesehatan harus dimiliki oleh semua manusia. ‘Makan atau terinfeksi’ adalah pilihan yang tidak manusiawi. Pertanyaannya, kita harus bergantung kepada siapa?

Ketika pemerintah kalang kabut mengurus keadaan seperti ini, justru yang muncul adalah manusia-manusia dengan segenap retorika memikat yang mengatakan bahwa pandemi ini adalah rekayasa. Mereka menganggap ‘masyarakat yang cerdas’, menganggap pihak farmasi adalah biang keladi. Namun mereka tak melihat bahwa ribuan nyawa melayang kala mereka berbicara mengawang-awang.

Bring Me The Horizon bukan sedang meramal keadaan kita. Namun, dalam brakdown Parasite Eve, mereka mengatakan seperti ini:

“Please, remain calm, the end has arrived/ We cannot save you, enjoy the ride.”

Rasanya seperti sedang dibisiki.“Semua tetap tenang, jalani kehidupan dalam keadaan normal yang baru, berdampingan dengan pandem”. Namun, setelah itu, dibanting dengan makna tersirat yang mengatakan ”tapi kami tidak bisa menyelamatkanmu. Selamat menikmati perjalanmu!”

Berkat adanya orang-orang yang lantang meneriakan konspirasi, beberapa orang sebagai pengikut Anda telah berulah ‘di bawah’. Dan hal ini, bukan sebuah kotoran yang bisa dibersihkan dengan disinfektan. “You can board up your windows, you can lock up your doors/ But you can’t keep washing your hands of this shit anymore.” Shit di sini merujuk kepada si penyebar hal bodoh ini.

Para pengikutnya percaya bahwa pandemi ini hanya lah dalih dan sebagaimana macamnya. Mereka mulai kendel turun ke jalan. Mereka menghirup udara bersama hiruk pikuk di tengahnya. Sedangkan si penyebar konspirasi-konspirasi tolol ini duduk manis, menikmati segenap atensi yang ia terima.

Mereka tak sadar bertapa berharganya suara mereka. Dengan dalih kebebasan berpendapat, ribuan orang mengatakan “saya jadi terbuka bahwa pandemi ini hanya…” atau “saya jadi open-minded”. Sedangkan dirinya sedang berlindung di balik tempat yang nyaman sembari membaca buku-buku Henry Makow.

Mengkontrol kekuasaan dengan ketakutan adalah hal yang sedang terjadi saat ini, katanya. Ada benarnya dengan apa yang diungkapkan Bring Me The Horizon, “When life is a prison and death is the door/ This ain’t a warning, this is a war.”

Ini adalah perang. Masalahnya, bukan hanya perang melawan pandemi, lebih dalam dari itu, ini merupakan perang melawan kebodohan.

Sumber gambar: Twitter Bring Me The Horizon.

BACA JUGA Surat Terbuka untuk Mas Pur yang Ditinggal Nikah Mbak Novita dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Juli 2020 oleh

Tags: bring me the horizonpandemi
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Sweet Tooth: Refleksi Menakutkan dalam Upaya Manusia Hadapi Pandemi terminal mojok.co

Sweet Tooth: Refleksi Menakutkan dalam Upaya Manusia Hadapi Pandemi

3 Agustus 2021
kenapa UMP Jogja rendah titik kemacetan di jogja lockdown rekomendasi cilok di Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR dawuh dalem sabda pandita ratu tugu jogja monarki mojok

Jogja, Destinasi Wisata ‘Terbaik’ di Masa Pandemi

23 Desember 2020
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois

17 Mei 2020
Resistensi Antibiotik, Pemicu Pandemi Mematikan di Masa Depan

Resistensi Antibiotik, Pemicu Pandemi Mematikan di Masa Depan

4 November 2023
penimbun tabung oksigen mojok

Mencari Hukuman yang Paling Pas untuk Penimbun Tabung Oksigen

14 Juli 2021
Pandemi Adalah Saat Paling Tepat untuk Daftar Universitas Terbuka terminal mojok.co

Pandemi Adalah Saat Paling Tepat untuk Daftar Universitas Terbuka

27 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kutukan Cristiano Ronaldo: Kenapa Kita Harus Tahu Diri, sekalipun Menyakitkan

Kutukan Cristiano Ronaldo: Kenapa Kita Harus Tahu Diri, sekalipun Menyakitkan

28 Juni 2026
Alasan Saya Senang Nonton Film di Bioskop Sendirian, Lebih Fokus dan Bebas Pilih Film Sesuai Selera Mojok.co

Alasan Saya Senang Nonton Film di Bioskop Sendirian, Lebih Fokus dan Bebas Pilih Film Sesuai Selera

28 Juni 2026
Jawa Selatan Harus Diakui Agak Susah untuk Punya UMR Tinggi: Mulai dari Perbedaan Topografi Hingga Minimnya Kawasan Industri  

Jawa Selatan Harus Diakui Agak Susah untuk Punya UMR Tinggi: Mulai dari Perbedaan Topografi hingga Minimnya Kawasan Industri  

29 Juni 2026
Como 1907 Memang Tempat yang Pas untuk Nico Paz  

Como 1907 Memang Tempat yang Pas untuk Nico Paz  

27 Juni 2026
Menelusuri Dosa-Dosa Orde Baru pada Alam Indonesia Lewat Buku “32 Tahun Menjarah Alam” Mojok.co

Menelusuri Dosa-Dosa Orde Baru pada Alam Indonesia Lewat Buku 32 Tahun Menjarah Alam

25 Juni 2026
Pejaten Park: Mall yang Kurang Dilirik Anak Jaksel, padahal Paling Nyaman

Pejaten Park: Mall yang Kurang Dilirik Anak Jaksel, padahal Paling Nyaman

30 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.