Parasite Eve, Cara BMTH Menyentil Mas-mas Penganut Teori Konspirasi – Terminal Mojok

Parasite Eve, Cara BMTH Menyentil Mas-mas Penganut Teori Konspirasi

Artikel

Gusti Aditya

Bring Me The Horizon menambah daftar panjang musisi yang mengambil tema mengenai pandemi yang menyebalkan ini. Mereka merilis single dengan judul menawan, “Parasite Eve”. Sebagian orang, tentu mengira band asal Sheffield‎ sedang mengisi soundtrack gim garapan SquareSoft. Hal ini terjadi lantaran “Parasite Eve” pernah harum bagi penikmat gim konsol PlayStation. Gim yang diangkat dari novel karya Hideaki Sena adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa diganggu gugat bagi penggemar gim RPG kala itu.

Prasangka ini tentu muncul lantaran Bring Me The Horizon pernah mengisi soundtrack untuk gim Death Stranding dalam tajuk Ludens. Bahkan, sempat tersebar rumor bahwa gim Parasite Eve ini akan di-remake. Dari sekian banyak praduga tersebut, hal yang paling masuk di akal adalah Bring Me The Horizon ingin mengingatkan para pendengarnya mengenai pandemi.

Namun, faktanya, penulisan lagu ini dibuat hampir bersamaan dengan terjadi pandemi. Melalui wawancara bersama NME, Oli mengatakan;

“We’d heard about the pandemic in China, but then the similarities between what we were writing about started to become closer to reality. Every time there was a news story about it, we’d turn to each other and say ‘Parasite Eve’, not realising the magnitude of it all.”

Masalah visual yang sudah ditonton sebanyak 8 juta kali di kanal YouTube mereka, Oli mengungkapkan bahwa ia terinspirasi dari manga favoritnya. Salah satunya adalah Tokyo Ghoul. Bersama dengan Venom dan film The Inferno Unseen karya Henri-Georges Clouzot, visual mereka seakan tidak bermaksud memberi ketakutan, namun rasa berani melawan pandemi.

Terma “berani” di sini bukan berarti melawan dengan mengabaikannya. Seperti menganggap bahwa pandemi ini merupakan sebuah konspirasi atau hal yang menyesatkan lainnya. Dalam tajuk ‘Post Human’, mereka mengajak bahwa jalan terbaik adalah bertahan.

Baca Juga:  Belajar Solehisme: Seni untuk Bersikap Bodo Amat ala Soleh Solihun

“I’ve got a fever, don’t breathe on me/ I’m a believer of nobody/ Won’t let me leave ‘cause I’ve seen something/ Hope I don’t sneeze, I don’t…*sneeze.”

“Berani” dan mengutuk semua ada dalang di baliknya, dari lirik ini, menurut saya, adalah hal yang menggelikan. Semua bisa terinfeksi, sekali pun dirimu berani, sekali pun dirimu bisa sembuh.

Yang menarik adalah bagian reff yang ditekankan oleh Bring Me The Horizon. “When we forget the infection/ Will we remember the lesson?”. Pertanyaan ini mirip seperti keadaan di negara kita saat ini. Kala yang atas yang berkelumit dengan istilah-istilah, yang bawah disuruh ‘hidup berdampingan’. Apakah kita bisa mengambil pelajaran dari pandemi ini?

Buktinya, pandemi belum usai, kita sudah melupakan pandemi ini. Ya, serba sulit memang. Kala ekonomi harus diputar, kesehatan harus dimiliki oleh semua manusia. ‘Makan atau terinfeksi’ adalah pilihan yang tidak manusiawi. Pertanyaannya, kita harus bergantung kepada siapa?

Ketika pemerintah kalang kabut mengurus keadaan seperti ini, justru yang muncul adalah manusia-manusia dengan segenap retorika memikat yang mengatakan bahwa pandemi ini adalah rekayasa. Mereka menganggap ‘masyarakat yang cerdas’, menganggap pihak farmasi adalah biang keladi. Namun mereka tak melihat bahwa ribuan nyawa melayang kala mereka berbicara mengawang-awang.

Bring Me The Horizon bukan sedang meramal keadaan kita. Namun, dalam brakdown Parasite Eve, mereka mengatakan seperti ini:

“Please, remain calm, the end has arrived/ We cannot save you, enjoy the ride.”

Rasanya seperti sedang dibisiki.“Semua tetap tenang, jalani kehidupan dalam keadaan normal yang baru, berdampingan dengan pandem”. Namun, setelah itu, dibanting dengan makna tersirat yang mengatakan ”tapi kami tidak bisa menyelamatkanmu. Selamat menikmati perjalanmu!”

Berkat adanya orang-orang yang lantang meneriakan konspirasi, beberapa orang sebagai pengikut Anda telah berulah ‘di bawah’. Dan hal ini, bukan sebuah kotoran yang bisa dibersihkan dengan disinfektan. “You can board up your windows, you can lock up your doors/ But you can’t keep washing your hands of this shit anymore.” Shit di sini merujuk kepada si penyebar hal bodoh ini.

Baca Juga:  Mengenal Cabin Fever, Penyebab Depresi di Kala Pandemi

Para pengikutnya percaya bahwa pandemi ini hanya lah dalih dan sebagaimana macamnya. Mereka mulai kendel turun ke jalan. Mereka menghirup udara bersama hiruk pikuk di tengahnya. Sedangkan si penyebar konspirasi-konspirasi tolol ini duduk manis, menikmati segenap atensi yang ia terima.

Mereka tak sadar bertapa berharganya suara mereka. Dengan dalih kebebasan berpendapat, ribuan orang mengatakan “saya jadi terbuka bahwa pandemi ini hanya…” atau “saya jadi open-minded”. Sedangkan dirinya sedang berlindung di balik tempat yang nyaman sembari membaca buku-buku Henry Makow.

Mengkontrol kekuasaan dengan ketakutan adalah hal yang sedang terjadi saat ini, katanya. Ada benarnya dengan apa yang diungkapkan Bring Me The Horizon, “When life is a prison and death is the door/ This ain’t a warning, this is a war.”

Ini adalah perang. Masalahnya, bukan hanya perang melawan pandemi, lebih dalam dari itu, ini merupakan perang melawan kebodohan.

Sumber gambar: Twitter Bring Me The Horizon.

BACA JUGA Surat Terbuka untuk Mas Pur yang Ditinggal Nikah Mbak Novita dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
14


Komentar

Comments are closed.