Para Perokok di Dalam Ruangan Tertutup dan Ber-AC, Motivasinya Apa sih?

Bukan tanpa alasan saya jengkel, saya dan si perokok ini ada di sebuah ruangan tertutup dan ber-AC. Dan kami bukan berada di smoking area.

Artikel

Avatar

Pada suatu hari yang sangat menyibukkan, saya sedang khusyuk mengerjakan tugas UAS di sebuah kafe yang bisa dibilang lumayan hits di kawasan Jatinangor. Saya duduk di bangku working space, yang mana mejanya panjang sekali dengan banyak kursi dan stop kontak ada di depan masing-masing kursi. Saya mengambil tempat duduk paling pinggir. Mulai dari pukul tiga sore sampai keasyikan, saya baru sadar jam menunjukan pukul enam sore ketika saya terganggu dengan suatu hal.

Tepat di depan saya duduk, ada satu lelaki yang seolah-olah tanpa dosa menyulut rokok dan menghembuskannya dengan keras ke depan muka saya. Ya, tidak tepat banget depan muka sih, hanya saja asapnya itu sepertinya masuk semua ke paru-paru saya. Bukan tanpa alasan saya jengkel, karena saya dan dirinya ada di sebuah ruangan tertutup. Kami bukan berada di smoking area yang ruangannya terbuka atau memang isinya perokok semua. Sontak saya merasa terganggu dan marah, karena saya lebih suka kedamaian. Saya langsung pindah tempat duduk agak jauhan agar asapnya tidak terlalu mengganggu saya. Walaupun tetap saja, saya masih terbatuk-batuk karenanya.

Beberapa hari kemudian, saya berkunjung ke kafe lain yang masih berada di wilayah Jatinangor. Lantaran tugas UAS saya sangat menumpuk dan butuh tempat nugas yang bisa bikin fokus, saya selalu mencari kesempatan untuk nugas di kafe-kafe. Saat itu saya pergi ke kafe yang biasanya tidak terlalu ramai dan bisa dibilang kecil dibanding kafe sebelumnya. Karena saya pergi dari pagi-pagi juga, sekitar pukul 11 pagi, saya harap kafe tersebut tidak punya banyak hal yang mendistraksi saya. Saya pun mulai nugas dengan khusyuk dan khidmat. Tidak sampai satu jam kemudian, tiba-tiba datanglah sesuatu hal yang bikin saya jengkel setengah mati.

Baca Juga:  Apa Salahnya Punya Cita-Cita Sebagai Peternak Ikan?

Beberapa meja dari tempat saya nugas, ada gerombolan muda-mudi duduk bercengkrama dengan asyiknya. Saya tidak mempermasalahkan jika mereka agak berisik, karena toh saya juga mendengarkan musik dari earphone saya. Namun, seperti kejadian beberapa hari lalu, dua di antaranya merokok dengan santainya seolah-olah mereka sedang di alam terbuka. Masalah menjadi dua kali lipat lebih besar karena ruangan kafe tersebut kecil dan tertutup, serta ada AC yang aktif membuat ruangan dingin! Sumpah, apakah mereka tidak sadar mereka ada di ruangan tertutup, banyak orang di dalamnya yang tidak merokok, dan ber AC pula?

Sebenarnya apa gunanya AC jika tidak membuat orang-orang aware untuk tidak merokok di sana? Bahkan di ruangan tersebut ada dua AC yang menyala. Bayangkan betapa anehnya jika ada ruang publik yang nyaman tapi dirusak oleh asap-asap rokok yang seharusnya tidak ada. Kalaupun memang mereka tidak kuat menahan nafsu untuk merokok di dalam ruangan, kenapa mereka setidaknya berusaha untuk membuka jendela atau ventilasi apa pun yang ada di sana? Sehingga asapnya tidak lari ke paru-paru saya semua.

Lebih baik sih tidak merokok sama sekali di sana ya, apa susahnya untuk menahan tidak merokok barang satu atau dua jam ketika mereka makan di sana. Sudah gitu, ada tambahan lain, masing-masing dari mereka menyulut dua batang rokok. Jadi setelah satu batang habis, mereka menyalakan satu batang lagi seakan tidak peduli saya sudah terbatuk-batuk dan mengibas-ngibas tangan sedari tadi.

Kesabaran saya sudah habis gara-gara dua kejadian tersebut. Sebagai seseorang yang intoleran dengan asap rokok, saya merasa harus dihargai ketika di ruang publik. Kultur di Indonesia menurut saya masih menganggap bahwa perokok pasif itu yang harus menghargai perokok aktif, karena katanya kebebasan individu lah, apa lah, menurut saya hanya semacam excuse saja yang menjustifikasi kebebalan mereka. Saya juga berhak untuk mendapatkan ruangan bebas asap rokok dan hal tersebut merupakan sesuatu yang mutlak adanya apalagi jika ruangan tersebut bukan merupakan smoking area, dengan ruangan tertutup atau indoor dan ber-AC. Saya saja merasa sesak jika menghirup asap rokok, apalagi para pengidap asma? Apakah mereka tidak kasian kepada orang lain di sekitarnya?

Baca Juga:  Mari Memulai Budaya Beberes Setelah Makan!

Saya menganggap, baik perokok pasif maupun aktif harus sama-sama menghargai satu sama lain. Saya juga yakin, bukan saya saja yang merasa semakin terganggu dengan para perokok aktif yang tidak tahu tempat dan sopan satun di ruang publik. Setidaknya, tahu tempat dan etika saja sudah cukup untuk menghargai kami, para perokok pasif yang selalu menjadi korban asap-asap tidak bertanggung jawab. Kami pun juga akan menghargai kalian jika kami berada di tempat terbuka atau yang memang ruangan smoking area. Kami juga sadar untuk tidak complain ketika bukan pada tempatnya. Hanya saja, dua kejadian kemarin membuat saya harus segera angkat bicara. Jika tidak, orang-orang yang tidak punya kepedulian itu tidak akan sadar akan tabiat buruk mereka. Semoga ke depannya para perokok aktif yang nggak ngerti etika itu, jadi sadar dan lebih peduli akan sekitarnya.

BACA JUGA Seandainya Saya Menjadi Seorang Perokok atau tulisan Fariza Rizky Ananda lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
3


Komentar

Comments are closed.