Para Pengutuk Gabi Braun di 'Attack on Titan' Ada karena 3 Hal Ini Sering Diajarkan Sinetron Kita – Terminal Mojok

Para Pengutuk Gabi Braun di ‘Attack on Titan’ Ada karena 3 Hal Ini Sering Diajarkan Sinetron Kita

Artikel

Gabi Braun jadi trending di Twitter dan netizen beramai-ramai mengutukinya.

Serial anime Attack on Titan musim terakhir episode delapan sudah rilis pada dini hari pertama Februari ini. Seperti biasa, sesaat setelah rilis, serial ini pun menjadi banyak perbincangan kawula muda. Bahkan, episode berjudul “Peluru Kematian” ini, menjadikan Sasha (salah satu tokoh yang jadi sorotan di dalamnya) trending di Twitter Indonesia (01/02/2021).

Sebagai penikmat serial ini, kita tahu, Sasha merupakan sosok pencair ketegangan di dalam cerita yang jarang sekali ada guyonannya ini. Kehadirannya sering mengundang gelak tawa melalui tingkahnya yang lugu, konyol, sekaligus rakus di Pasukan Pengintai. Maka, tidak heran kematiannya membuat namanya bertengger di trending Twitter. Dengan mengekliknya di kolom trending itu, kita bisa melihat ungkapan kesedihan dari para penonton.

Akan tetapi, yang membuat saya heran adalah nama “Gabi” yang juga ikut bertengger di trending sana. Yang setelah saya selidiki, ternyata berisi umpatan, kutukan, dan macam-macam kekesalan yang ditujukan padanya karena membunuh Sasha. Bagaimana nggak heran, lah wong Gabi Braun juga menderita sama seperti Sasha dan pasukannya kok, ya apa sih malah digituin.

Oleh sebab itu, saya menduga bahwa semua itu muncul karena kebiasaan mereka yang mendapat pelajaran dari sinetron, yang antara lain sebagai berikut:

#1 Memandang hitam putih suatu persoalan

Tahu sendiri kan, bagaimana tokoh antagonis dan protagonis sangat kontras perihal mewakili kebaikan dan keburukan di sinetron dalam negeri yang ada. Ya, sama sekali hitam putih. Tokoh baik selalu baik, dan sebaliknya.

Dari hal tersebut, mereka pun tidak terbiasa melihat persoalan secara utuh sehingga yang muncul ya kelakuan tolol itu. Mereka lupa atau bahkan tidak bisa melihat latar belakang permasalahan yang ada.

Begini, kan jelas sekali apa yang melatarbelakangi tindakan Gabi Braun yang berani itu. Dengan memanfaatkan 3D Manuver untuk naik ke pesawat yang dinaiki Sasha Blouse, itu adalah bentuk balas dendamnya. Lah wong lagi dalam keadaan layaknya pesta meriah, ijig-ijig ia dan kaumnya diserang, siapa yang nggak dongkol coba? Ditambah, kedua sahabatnya mati tertimpa reruntuhan dan terinjak kepanikan. Tragis.

Lah masa sudah menderita sebegitunya, ia tak boleh melakukan balas dendam? Ini bukan simpati pada tindak pembunuhan, tapi mencoba adil melihat persoalan, Cuk!

#2 Meniadakan konteks

Ya, sering sinetron kita menyuguhkan konflik yang tiba-tiba gini dan gitu. Atau, tanpa tedeng aling-aling, sehingga mereka tak mampu melihat konteks yang ada dàlam serial ini: peperangan.

Dengan kata lain, di tengah acara saling balas dendam berdasarkan kepercayaan masing-masing itu, mereka tak tahu bahwa tak ada istilah kubu yang baik dan buruk.

Ditambah lagi, terlihat juga kalau mereka yang mengutuki Gabi Braun tidak melihat episode ini sebagai rangkaian panjang serial yang memang begitu kompleks. Melainkan hanya menilai dari satu peristiwa saat peluru senapan dari Gabi Braun menembus tubuh Sasha Blouse.

Padahal, tepat sebelum Gabi Braun naik ke pesawat itu saja, ia sudah dengan sangat jelas menunjukkan kepada Falco bahwa betapa kesal dan menderitanya sehingga muncul keberanian padanya untuk menyerang sendirian. Dengan menilik kejadian ini saja, seharusnya mereka bisa memberikan simpati pada Gabi Braun alih-alih mengutukinya.

Mereka tidak bisa menerima bahwa semua kejadian ini tidak bisa dilepaskan dari konteks yang ada, yaitu, sekali lagi, peperangan. Di mana semua pihak mempertahankan kebenarannya sendiri sehingga apa pun yang dilakukan bukan lagi menjadi soal.

Masak sih memahami hal ini saja nggak bisa? Oh, iya, sinetron kita kan nggak pernah mengajarkannya, ya. Lupa.

Belum lagi kalau mereka mau (bukan bisa) mengingat sejarah panjang dari dendam pasukan Marley terhadap “Raja Tembok” dan penduduknya di season sebelumnya. Tentu umpatan-umpatan itu tak akan pernah keluar dari jarinya.

#3 Mencari tumbal untuk disalahkan

Dari poin pertama, satu hal lagi yang bisa muncul dan berbahaya adalah kebiasaan untuk menyalahkan. Penonton disuruh menyalahkan satu pihak, tak pernah bisa untuk berhenti di titik bersimpati pada pihak yang lainnya.

Dalam hal ini, saya bisa maklum pada mereka yang sedih atas kematian Sasha Blouse. Dan, seharusnya memang berhenti sampai laku bersedih saja, bukan malah lanjut mengutuki Gabi Braun. Sadarlah bahwa memang begitulah peperangan, Bund, berjalan seperti bajingan.

Yok bisa yok, agar kalian tak butuh satu orang pun untuk disalahkan untuk menambah simpati terhadap Sasha. Blas nggak nyambung soalnya!

Akan tetapi, kalau nggak bisa berhenti menyalahkan, menurut saya, satu-satunya orang yang harus kita kutuki dan beri umpatan itu ya si Hajime Isayama sendiri. Kenapa sih bikin cerita sedramatis dan sekompleks ini? Kenapa nggak jadiin Marley jahat seutuhnya dan pasukan Levi dkk. sebagai pihak yang murni baik? Kenapa sih harus njlimet?

Nah, akan tetapi, beliau paling cuma bakalan jawab, “Selain untuk memancing kerja otak kalian supaya maksimal, di kehidupan ini nggak ada yang seratus persen baik dan jahat. Dan, kisah seperti itulah yang ingin saya buat.”

Atau, kalau nggak gitu ya begini, “Saya orang Jepang dan tak mau membuat kisah seperti yang sinetron Indonesia lakukan, yang telah membuat kalian jadi norak-minta-ampun begini.”

BACA JUGA Studio MAPPA Bungkam Bacot Netizen dengan Eksekusi Ciamik Episode 7 AoT atau tulisan Fadlir Nyarmi Rahman lainnya.

Baca Juga:  Saya Bukan Vegan, dan Saya Bukan Pembunuh
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.