Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Para Buzzer Pemerintah yang Terlahir di Luar Istana

Kevin Ng oleh Kevin Ng
7 Januari 2020
A A
Para Buzzer Pemerintah yang Terlahir di Luar Istana
Share on FacebookShare on Twitter

Suara-suara bising ketika kita berkomentar atau mengutarakan pendapat kita di media sosial telah mewabah. Kita sepakat bahwa mereka dikatakan sebagai buzzer. Di mana saat kamu mulai menyampaikan suatu argumen yang dirasa berlawanan bagi kelompok lain, para buzzer akan menyerang dengan cercaan bahkan sampai dalam tahap makian. Ini merupakan jenis intimidasi paling sederhana yang dilakukan oleh penguasa untuk membungkam suara perlawanan.

Menurut analisis saya ada dua tipe buzzer. Yang pertama adalah buzzer elit yang bermuka polos bak intelektual di berbagai media. Tipe yang kedua adalah buzzer bot yang sebetulnya bukan manusia. Mereka hanya digerakkan melalui sistem teknologi yang melakukan intimidasi secara siber. Keduanya merupakan alat penindas yang lumayan destruktif untuk mengintimidasi perlawanan.

Namun terlepas dari dua tipe tersebut, yang mengkhawatirkan adalah ia yang rela menjadi buzzer. Mereka sebenarnya manusia biasa, hanya saja sangat aktif di media sosial. Orang-orang seperti malah bisa dikatakan lebih lantang suaranya daripada buzzer itu sendiri. Maka bisa dikatakan mereka termasuk ke dalam lingkup buzzer.

Kita bisa saja menemui buzzer yang berasal dari luar istana di manapun. Ia bisa jadi anggota keluargamu, sahabatmu, atau justru kamu. Secara tidak sadar kita sering membagikan hasil penggiringan opini dari para buzzer elit. Berkat emosional yang meninggi dan meningkatnya fanatisme politik, kita ikut andil dalam menindas suara perlawanan.

Kelahiran dan Kematian

Buzzer-buzzer istana, yang sudah kita kenal namanya, terlalu sering memperkeruh suasana. Dengan sudut pandang penguasa mereka sangatlah menghancurkan jati diri seorang manusia, kemudian berpura-pura menjadi korban dari segala penindasan. Yang perlu diketahui juga bahwa mereka ini cukup terpelajar dalam membuat suatu penggiringan opini.

Saya pernah menulis sebuah kritikan kepada PSI. Apa yang saya terima adalah makian sampai hujatan, tapi argumennya tidak jelas. Namun, apa yang saya bingungkan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang nyata. Mereka dengan secara serampangan mengatakan saya ini sebagai penulis bayaran dan manusia iri hati.

Ini merupakan kondisi yang benar-benar berbahaya. Ketika penguasa nyaman dengan kursi kekuasaanya, warganya malah saling hajar dan memaki. Kita telah melupakan siapa musuh sebenarnya di Indonesia. Polarisasi dalam masyarakat terlalu ganas. Secara gampang kita mengkotak-kotakan individu karena pandangan politiknya.

Yang tragis adalah ia yang rela menjadi buzzer dengan ketidaksadaran mereka sebagai buzzer. Mereka tidak dibayar dan tidak dapat apa-apa. Atas nama keagungan pandangan serta tokoh politiknya mereka rela melupakan kewarasannya. Barangkali bagi mereka hidup itu hanyalah hitam dan putih. Bila dia mengkritik penguasa maka dia dianggap “kadal gurun”, dan bila dia mendukung pemerintah maka dia dianggap sebagai pahlawan.

Baca Juga:

Derita Lulusan Cumlaude S1 Informatika, Berharap Lulus Bisa Jadi Top Hacker Malah Nyasar Bekerja Menjadi Buzzer

Pemerintah Bangkalan Madura Nggak Paham Prioritas, Memilih Sibuk Bikin Ikon Pendidikan daripada Perbaiki Kualitas Pendidikan

Menggunakan kata seperti “cebong”, “kampret”, dan “kadal gurun” merupakan upaya untuk melakukan pengotak-ngotakan. Dari sana mudah sekali mengecap seseorang menjadi oposisi penguasa atau bukan. Masalahnya adalah kita malah terlena dalam terminologi tersebut.

Terminologi yang diciptakan oleh penguasa untuk menandai suara perlawanan tidak boleh diberi kehidupan. Simbolisme itu harus mati kalau kita mau bergerak bersama untuk mematahkan narasi-narasi buzzer. Ini adalah cara paling mudah dan cukup efektif. Kalau terminologi itu masih saja dipakai, maka kita telah membantu buzzer dalam melanggengkan narasi mereka.

Di zaman orde baru, penguasa menggunakan pelabelan terhadap aktivis pro-demokrasi sebagai “radikal” dan “subversif”. Hal ini agar membuat gusar masyarakat yang kurang memiliki pemahaman akan situasi masa itu. Bahkan para aktivis dikatakan sebagai teroris. Upaya-upaya seperti ini juga dilakukan sekarang dengan penggunakan label “anarkis”.

Yang berbeda dari orde baru dan sekarang adalah kini kita sama-sama membantu penguasa untuk membungkam warganya secara tidak langsung. Dahulu kita diam, sekarang kita ikut berkicau. Debat demi debat agar mempertahankan argumen dilakukan. Persoalannya terletak pada siapa yang dilindungi. Dan kebanyakan orang melindungi penguasa.

Warga sekarang lupa bahwa mereka itu dirantai oleh penguasa agar patuh. Seketika kita semua menjadi pelayan paling teladan. Teman-teman saya yang dulu tidak tahu politik menjadi orang yang seolah tahu betul soal politik. Ketika beragumen mereka menggunakan sumber berita dari para buzzer. Sudah sangat jelas berpikir tidaklah mudah, dan mengutip lebih mudah.

Lama-kelamaan saya melihat situasi ini akan lebih berbahaya apabila tidak ada yang mematahkan narasi buzzer. Di media sosial dan aplikasi telekomunikasi pesan-pesan propaganda penguasa tersebar dengan sangat mudah. Apabila tidak paham maka kita akan mengikuti arus tersebut, menjadi buzzer yang terlahir di luar istana. Sekarang sudah saatnya kita berpikir dua kali atau sama sekali menjadi apolitis daripada menjadi pelayan nomor satu penguasa.

BACA JUGA Melihat Bagaimana Industri Buzzer Politik Bekerja atau tulisan Kevin Ng lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2020 oleh

Tags: buzzeristanapemerintah
Kevin Ng

Kevin Ng

Indonesian student at University of Western Australia and sometimes becomes a citizen of the world.

ArtikelTerkait

4 Hal yang Harus Disiapkan Pemerintah kalau PNS Diganti Robot terminal mojok

4 Hal yang Harus Disiapkan Pemerintah kalau PNS Diganti Robot

3 Desember 2021
kebebasan berpendapat

Kebebasan Berpendapat di Media Sosial Bagian 2: Bodo Amat adalah Cara Bermedia Sosial Paling Benar

22 Oktober 2019
kartu pra-kerja

Yang Mashook dan Ramashook dari Penjelasan Denny Siregar Soal Kartu Pra-Kerja

24 April 2020
Lomba Desa: Kegiatan Nggak Penting yang Bikin Repot Warga

Lomba Desa: Kegiatan Nggak Penting yang Bikin Repot Warga

18 Oktober 2022
pancasilais pdi p pancasila PDIP mojok

Meramalkan Nasib PDIP setelah Kenaikan Harga BBM

7 September 2022
Dear Pemerintah, Sudah Saatnya Minimarket Kembali Buka 24 Jam!

Dear Pemerintah, Sudah Saatnya Minimarket Kembali Buka 24 Jam!

1 Agustus 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stasiun Indro Bikin Gresik Jadi Daerah Industri yang Terlihat Menyedihkan Mojok.co

Stasiun Indro yang Menyedihkan Membuat Kota Industri Gresik Jadi Terlihat Payah

27 Februari 2026
Trio Senator AS Roma: Mancini, Pellegrini, Cristante

Trio Senator AS Roma

23 Februari 2026
Pulang ke Lembata NTT Setelah Lama Merantau di Jawa, Kaget karena Kampung Halaman Banyak Berubah Mojok.co

Momen Pulang ke Lembata NTT Setelah Sekian Lama Merantau di Jawa Diliputi Rasa Kaget, Kampung Halaman Banyak Berubah

25 Februari 2026
Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah (Wikimedia Commons)

Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah

24 Februari 2026
Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

26 Februari 2026
Vespa Matic, Motor Paling Tidak Layak untuk Dibeli (Unsplash)

Vespa Matic Adalah Motor yang Paling Tidak Layak untuk Dibeli karena Overpriced, Boros, dan Paling Dibenci Tukang Servis Motor

1 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.