Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pantai Parangkusumo: Gerbang Gaib, Saksi Bisu Berdirinya Kerajaan Agung, dan Tangis Korban Penggusuran

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
18 Juli 2023
A A
Pantai Parangkusumo: Gerbang Gaib, Saksi Bisu Berdirinya Kerajaan Agung, dan Tangis Korban Penggusuran

Pantai Parangkusumo: Gerbang Gaib, Saksi Bisu Berdirinya Kerajaan Agung, dan Tangis Korban Penggusuran (Bagus Ilham via Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Pantai Parangkusumo adalah gerbang gaib, dan saksi berdirinya sebuah kerajaan agung

Ibu itu tampak biasa saja. Lumrahnya ibu-ibu Jogja yang sederhana dalam balutan daster usang. Tapi, dari bibir yang murah senyum itu, ada suara lantang. Marah mendengar betapa amburadulnya Jogja. Ada getar duka melihat anak-anak muda ditakdirkan melarat di negeri istimewa. Ia adalah Bu Kawit, perempuan tegar warga Pantai Parangkusumo, gerbang gaib Kerajaan Laut Selatan.

Setidaknya ia tetap warga Parangkusumo, sampai benar-benar terusir. Harus tergusur demi wacana kelestarian gumuk pasir dan status Sultan Ground yang mbuh itu.

Pertemuan saya dengan Bu Kawit ini tidak hanya membakar semangat. Tapi mengingatkan saya pada Pantai Parangkusumo, pantai yang dikenal sebagai tempat nenepi dan semedi, pantai yang digadang sebagai pintu masuk menuju istana Ratu Kidul,, kerap dianggap pantai yang kalah moncer dengan Parangtritis. Dan, yang terakhir, pantai yang menyimpan noda hitam penggusuran.

Pantai Parangkusumo, pantai keramat bagi Jogja dan Suzanna

Pantai Parangtritis, selain indah, dikenal wisatawan sebagai tempat keramat. Tapi, sebenarnya, anggapan tersebut keliru. Sejatinya, Pantai Parangkusumo lah yang dikeramatkan. Tapi saya maklum, batas antara Pantai Parangtritis dan Parangkusumo tidak nyata. Dua pantai ini tersambung sebagai hamparan pasir hitam vulkanis yang panjang. Tidak ada tebing, batu karang, atau tanda alam lain yang memisahkan dua pantai ini.

Tapi Pantai Parangkusumo punya ciri khas, yaitu situs Cepuri Parangkusumo. Sebuah area terpagar berisi dua bongkah batu keramat. Batu ini konon menjadi tempat Danang Sutowijoyo bertemu dengan Ratu Kidul. Remaja itu kelak menjadi Raja Mataram bergelar Panembahan Senopati. Bisa dibilang, Pantai Parangkusumo menjadi satu dari beberapa tempat penting dalam berdirinya Kerajaan Mataram. Sebuah kerajaan besar yang kelak melahirkan Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Sejarah dan legenda inilah yang membuat Pantai Parangkusumo menjadi istimewa dan keramat. Upacara labuhan dilakukan di pantai ini secara rutin. Selain itu, banyak penghayat kepercayaan Kejawen yang nenepi serta semedi di bibir pantai ini. Mereka duduk bersila di pinggir pantai atau di dalam kompleks Cepuri. Bukan menikmati keindahan alam, tapi bersemedi dan berdoa.

Salah satunya adalah Suzanna. Ratu horor Indonesia ini disebut sering mengunjungi Parangkusumo, terutama kompleks Cepuri Parangkusumo untuk berdoa. Hari ini, banyak orang yang ingin jadi “penerus” Suzanna yang mendatangi Pantai Parangkusumo, mencoba melakukan laku spiritual yang sama seperti sang ratu.

Baca Juga:

Nama Kretek Bantul Nggak Banyak Dikenal Orang, Terhalang Nama Besar Parangtritis

7 Pantai di Jogja yang Bikin Kamu Lupa Parangtritis

Gumuk pasir cantik dan simulasi naik haji

Keunikan Pantai Parangkusumo bukan hanya kesakralannya, tapi juga fenomena alam berupa Gumuk Pasir. Bukit-bukit pasir yang terbentuk alami ini menyimpan keunikan sendiri. Bentangan padang pasir Parangkusumo menjadi cantik dan melebar jauh dari bibir pantai. Padang pasir ini sampai dijuluki Sahara van Java, sebuah julukan norak yang kental dengan budaya rendah diri.

Saya yakin, setidaknya satu dari teman Anda ada yang foto prewedding di gumuk pasir ini. Lumrah, karena hamparan pasir seluas Parangkusumo memang langka di Indonesia. Apalagi jika berfoto dengan konsep Timur Tengah. Meskipun pasir Pantai Parangkusumo berwarna abu kegelapan dan bukan kekuningan seperti di Jazirah Arab. Gapapa, toh murah meriah.

Padang pasir ini tidak hanya jadi tempat foto-foto cantik, tapi juga sering menjadi lokasi Manasik Haji. Banyak sekolah yang mendatangi pantai ini untuk simulasi naik haji. Memperkenalkan para murid tentang tata laksana ibadah haji di tempat yang mirip-mirip di lokasi asli.

Balada penggusuran di Pantai Keramat

Sayang sekali, keindahan dan kesakralan Parangkusumo menyimpan duka. Warga menolak relokasi yang dipandang sewenang-wenang. Mereka pernah memperjuangkan hak Magersari, tapi ditolak. Sedangkan lokasi relokasi ternyata tidak layak dan sering tergenang air. Belum lagi janji-janji pemerintah Jogja yang dipandang bohong belaka.

Bu Kawit jadi satu di antara korban penggusuran. Dan setelah geger penggusuran ini, Bu Kawit tidak lantas bungkam. Bahkan tidak hanya mempermasalahkan penggusuran yang dialami, tapi terbuka terhadap berbagai isu dan masalah sosial di Jogja. Memperluas cakrawala bagaikan hamparan gumuk pasir yang pernah ia cintai dan hidupi.

Pantai Parangkusumo memang tetap indah dan sakral. Namun di antara pasir-pasir berkilau, ada banyak cerita. Kisah berdirinya kerajaan yang agung. Rapalan doa para penghayat dan ratu horor Indonesia. Dan tangis serta serapah para korban penggusuran.

Sumber gambar: Bagus Ilham via Unsplash

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Cepuri Parangkusumo, Saksi Cinta Ratu Kidul dengan Panembahan Senopati 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Juli 2023 oleh

Tags: dunia gaibpantai parangkusumoparangtritispenggusuransuzanna
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Bolehkah Kami Hidup Tenang di Sultan Ground Jogja? terminal mojok.co

Bolehkah Kami Hidup Tenang di Sultan Ground Jogja?

21 Desember 2021
7 Pantai di Jogja yang Bikin Kamu Lupa Parangtritis (Unsplash)

7 Pantai di Jogja yang Bikin Kamu Lupa Parangtritis

30 Oktober 2025
4 Wisata Angker di Semarang selain Lawang Sewu, Berani Gas?

4 Wisata Angker di Semarang selain Lawang Sewu, Berani Gas?

3 Agustus 2022
Pengalaman Mengecewakan Berkunjung di Pantai Baru Bantul: Terganggu Keberadaan Kapal Nelayan dan Tatanan Pantai yang Terlalu Curam

Pengalaman Mengecewakan Berkunjung di Pantai Baru Bantul: Terganggu Keberadaan Kapal Nelayan dan Tatanan Pantai yang Terlalu Curam

28 Juli 2024
Jogja Kota yang Tega Menyingkirkan Rakyat Sendiri (Unsplash)

Klaim Warisan Budaya Pemerintah Jogja Itu Tidak Masuk Akal karena Malah Mengorbankan Ekonomi Rakyat

9 Juni 2025
Nama Kretek Bantul Nggak Banyak Dikenal Orang, Terhalang Nama Besar Parangtritis

Nama Kretek Bantul Nggak Banyak Dikenal Orang, Terhalang Nama Besar Parangtritis

25 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

11 Istilah Penyakit dalam Bahasa Jawa yang Terdengar Lucu Mojok.co

11 Istilah Penyakit dalam Bahasa Jawa yang Terdengar Lucu

29 Mei 2026
Naik Bus Rosalia Indah Kelas Super Top Double Decker Bikin Saya Betah Berlama-lama di Dalam Bus Mojok.co

Naik Bus Rosalia Indah Kelas Super Top Double Decker Bikin Saya Betah Berlama-lama di Dalam Bus

31 Mei 2026
Rasanya Hidup di Pengok Jogja: Tidur di Antara 2 Rel, Pasti Bisa Bangun Pagi karena Suara Kereta Begitu Membahana

Rasanya Hidup di Pengok Jogja: Tidur di Antara 2 Rel, Pasti Bisa Bangun Pagi karena Suara Kereta Begitu Membahana

26 Mei 2026
Saya Kelas Menengah, dan Saya Beneran Pengin Kaya

Saya Kelas Menengah, dan Saya Beneran Pengin Kaya

29 Mei 2026
4 Pasar Kalcer Jogja yang Bisa Dikunjungi Selain Pasar Ngasem Mojok.co

4 Pasar “Kalcer” yang Bisa Dikunjungi kalau Bosan ke Pasar Ngasem Jogja

29 Mei 2026
Bahaya di Gamping Sleman Ketika Anak Muda Kecanduan Judol (Unsplash)

Derita yang Saya Alami ketika Melihat Anak Muda Gamping Sleman Kecanduan Judol: Mereka Bukan Pemalas, tapi Sadar Pemasukan Situasi Ekonomi Makin Berart

1 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.