Panduan Memahami Privilese Anti Gagal dari Iklan Meikarta buat Jerome Polin – Terminal Mojok

Panduan Memahami Privilese Anti Gagal dari Iklan Meikarta buat Jerome Polin

Featured

Saya sebagai orang beragama merasa hidup ini tidak adil. Justru karena tidak adil itu saya percaya dengan kehidupan setelah mati dan pengadilan Tuhan. Bagaimana saya mau bilang adil, kalau saya di rumah tidur ongkang-ongkang kaki sambil ngotak-ngatik remote AC, sementara di tempat lain teman saya tidur di gudang kain. Orang-orang seperti saya ini yang namanya punya privilese, hak istimewa sejak lahir.

Masalahnya orang-orang berprivilese suka mendadak gagap kalau ada yang menyinggung soal privelesenya, dan berusaha mengaburkan pemahaman soal mana yang privilese, mana yang kerja keras.

Begini saja, saya mau ngajak sedikit bernostalgia dengan iklan Meikarta yang dulu hampir saban hari disetel di tv. Dan bagi saya, semua iklan properti ditujukan untuk mereka yang punya privilese. Kalau kamu lihat iklan properti, penawaran apartemen, dan merasa tertarik atau sempat terpikir mampu bayarin walau dengan angsuran, hampir pasti kamu orang berprivilese itu.

Mungkin keterangan ini belum jelas, lalu mari kembali ke iklan Meikarta. Kira-kira gambaran iklannya begini (untuk bagian pertama, tolong dibaca dengan alunan piano sedih nan dramatis dalam hati):

Kamera menyorot dari atas gambar jalan raya yang macet, penuh mobil berjejalan dua arah. Suasana hujan dan suram. Kamera close-up ke satu mobil, lalu beralih ke bagian dalamnya. Seorang anak perempuan menopang dagu, melirik ke luar jendela, lalu dikagetkan dengan benturan telapak tangan seorang pengendara motor yang menerobos kemacetan, kamera menyorot motor itu dan tuannya yang kehujanan.

Suara klakson tiba-tiba saling bersahut, anak perempuan dalam mobil menatap heran dan sendu ke arah luar jendela, hujan masih deras, lalu kamera berganti menyorot sungai kotor dengan pemukiman kumuh di pinggirnya. Orang-orang berpayung hilir mudik, di antara mereka ada seorang lelaki mengorek tong sampah. Ada lagi copet yang merebut tas tenteng ibu yang sedang menggandeng anaknya.

Baca Juga:  Tantangan Penulis Pemula Melawan Penulis Berprivilese Ketenaran

Kamera kembali fokus ke anak perempuan tadi. Mobilnya masuk ke terowongan dengan lampu temaram. Lalu terdengar voice-over anak perempuan membatin, “Bawa aku pergi dari sini.” Mobil keluar dari terowongan, di balik terowongan terlihat sekilas jalan raya yang lengang dan pemandangan gedung-gedung bertingkat (mulai dari sini alunan piano makin cepat dan bernuansa optimis).

Sayup-sayup terdengar narator bicara, “Kita lupa ada cara lain untuk hidup, cara mudah untuk menggapai cita.” Kondisi kota setelah mobil keluar terowongan berbeda jauh dengan kondisi kota di belakang. Tone warnanya cerah, orang-orang tampak bersenang-senang, hidup mereka nyaman dan bahagia. Si anak perempuan tak lagi berwajah sendu, ia menatap pemandangan di bawahnya dari lantai tingkat tinggi dengan senyum terkembang.

Begitulah iklan Meikarta berakhir. Biar saya perjelas di sini, anak perempuan dalam mobil tadi adalah orang berpivilese. Kalau kamu dalam posisi sepertinya, berarti kamu termasuk berprivilese. Sedangkan pengendara motor yang menerobos kemacetan di tengah hujan, dia hampir pasti tidak punya privilese. Coba perhatikan perbedaannya, anak perempuan dalam mobil duduk nyaman, kering, dan walau terjebak macet bisa saja ia tinggal tidur. Sementara pengendara motor? Basah dan harus terus terjaga sepanjang perjalanan.

Beralih ke pemukiman kumuh di pinggiran sungai, sudah pasti penghuninya orang-orang tanpa privilese. Kalau hujan terus melebat di kota itu, hampir pasti orang-orang di bantaran sungai digilas banjir. Orang-orang berpayung yang lewat di frame bisa jadi punya privilese, bisa jadi tidak. Namun pria yang merogoh-rogoh tong sampah itu, tentunya tidak punya privilese. Mana ada orang berprivilese mengharapkan sesuatu yang berharga dari sampah? Kan tinggal beli yang baru.

Baca Juga:  Panjat Sosial: Niat Mau Terkenal, Eh Malah Kena Sial

Posisi ibu yang tasnya dicopet dan anaknya masih susah diterawang, tapi pencopet yang langsung kabur itu pastinya bukan orang berprivilese. Mereka yang punya privilese tidak mengambil sesuatu dari orang lain segamblang, sekasar, dan seputus asa itu. Mereka mengambil secara halus, dalam jumlah besar, dan yang terpenting memastikan diri tidak jadi penjahat.

Sementara kota setelah mobil keluar dari terowongan adalah kehidupan orang-orang berprivilese. Privilese itu ada dan nyata. Tapi, mungkin kamu akan mulai mendebat ide itu sambil mulai menyebut-nyebut soal etos kera, kerja keras, dan sebagainya. Saya rasa yang berpikiran begitu sedang berada dalam imaji utopis, atau mungkin nafsu pribadinya saja. Seperti Jerome Polin yang dengan entengnya bilang seorang pramusaji dengan terus kerja keras, mungkin di kemudian hari dipercaya jadi bos, dapat promosi, pasangan yang baik, dll.

Katakanlah ada dua orang, satu berasal dari keluarga berprivilese, yang lain tidak. Kedua-duanya bekerja keras dalam hidupnya, hanya saja yang satu punya segala akses untuk mendapatkan apa yang diinginkan, sedangkan yang lain serba kekurangan. Apakah kamu masih mikir dengan sama-sama bekerja keras dua-duanya dapat memperoleh hasil yang sama? Naif sekali.

Saya jadi teringat saat mewawancara Bu Lily Wahid, adik dari Gus Dur, untuk penulisan buku biografi kakaknya yang lain, Gus Solah. Perempuan yang usianya sudah punjul 70 tahun itu bilang, “Apakah itu Gus Dur jadi presiden, apakah itu Gus Solah diundang ke sana-kemari, kalau sebelumnya gak ada Hasyim Asyari gak mungkin Mas, itu fakta yang riil. Gus Dur dengan Nurcholis Majid, isi otaknya ya unda-undi-lah kalau kata orang Jawa, hampir sama. Tetapi sampai kapanpun, sampai bungkuk, Nurcholis Majid gak mungkin jadi presiden, karena gak punya background ini tadi.”

Baca Juga:  Saya Bakul Angkringan dan Ini 6 Menu yang Paling Laris Tanpa Harus Diromantisasi

Tentu tidak salah juga lahir dari keluarga mapan, lahir sebagai orang berprivilese. Sama dengan orang miskin tidak bisa memilih lahir dari rahim siapa, orang kaya juga begitu. Mau memanfaatkan segala privilese yang dimiliki untuk menambah nilai pribadi juga sah-sah saja. Namun jangan sekonyong-konyong bilang itu hasil jerih payah sendiri, buah kerja keras, dan tetek bengeknya. Privilese itu ada dan nyata, akui saja, gak usah tapi-tapi.

Sumber Gambar: YouTube

BACA JUGA Putri Marino dan Buku PoemPM Adalah Wujud Menulis dengan Privilese atau tulisan Agus G. Ahmad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.