Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Pandemi, Kuda Poni, dan Negara yang Hobi Mengurusi Moral

Suwatno oleh Suwatno
21 September 2021
A A
Influencer Bukanlah Dewa, dan Kalian Nggak Perlu Membela Mereka

Influencer Bukanlah Dewa, dan Kalian Nggak Perlu Membela Mereka

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh karena langit masih menyisakan rintik-rintik gerimis, meski sudah lelah bermain karambol sejak sore tadi, forum di warung Yu Marmi urung bubar. Di ujung amben galar, Pardi dan Kanapi cekikikan setelah bergantian menatap layar hape Solikin.

“Cantik juga, ya. Kenapa ndak jadi pramugari aja, biar lebih terhormat gitu.” Seloroh Pardi.

“Kalau dari tinggi badannya sih menurutku lebih cocok jadi foto model ini, Di.” Kanapi menimpali.

Mendengar itu Solikin dengan cepat merebut kembali gawainya, “Sampean berdua ini lho, Mas, kok malah mengomentari fisik orangnya lho. Mbok ya lebih empatik gitu. Mbak ini tuh korban keadaan, persis seperti kita-kita ini.” protes Solikin dengan mulut mecucu.

“Ooo aku ya ndak terima kalau mbak itu dibilang korban. Sama-sama terdesak mungkin iya, Kin, tapi menurutku dia tetap pelaku. Bukan korban!” Tandas Pardi.

“Apa seh? Siapa yang kalian perdebatkan itu?” Dengan membawa serenteng kacang asin dari dalam warung Cak Narto menyela keriuhan.

Solikin mengulurkan gawainya kepada Cak Narto, memperlihatkan sebuah berita tentang penangkapan dan penetapan tersangka seorang selebgram berinisial RR alias Kuda Poni oleh Polresta Denpasar dalam kasus pornografi dan UU ITE. Mbak selebgram itu terancam pidana penjara paling lama 12 tahun karena diduga menyiarkan konten seks secara langsung (live) di aplikasi streaming Mango dan BIGO.

“Weleeeh… lama-lama penjara tambah sesak, Ndes, kalau gini ceritanya.” Cak Narto menggeleng.

Baca Juga:

Nusron Wahid Keliru, Tanah Milik Tuhan dan Diberikan pada Rakyat, Bukan Negara Indonesia!

Joki Tugas: Penjokinya Tak Bermoral, yang Dijoki Sudah Bodoh, Tak Bermoral Pula

“Hayo, Cak, mbak itu korban apa pelaku, menurut Sampean?” Goda Kanapi.

“Perdebatannya mbok yang mutu gitu, Ndes. Mau dilihat sebagai pelaku atau korban, kalau menurutku yang perlu diperdebatkan, ya pemenjaraan untuk kasus-kasus semacam ini. Sebab, menurutku dari apa yang dilakukan mbak itu, tidak ada pihak yang dirugikan. Apa tadi, Kin, pasal pornografi ya?” Cak Narto meminta konfirmasi. Solikin mengangguk.

“Lho lho lho… kalau ndak ada yang dirugikan lantas kenapa ada undang-undang yang mengatur itu, Cak. Kalau ditanya siapa yang rugi, jelas remaja dan anak-anak, Cak. Mereka lah korban yang nyata dari perbuatan mbak itu menyiarkan langsung prosesi begituannya.” Ujar Pardi mantap dengan menjepitkan jempolnya di antara telunjuk dan jari tengah.

“Belum lagi para suami yang diam-diam ikut nonton begituan, Cak. Perbuatan mbak itu, sedikit banyak, jelas mengkhawatirkan bagi kaum istri, dong!” Imbuhnya.

“Iya lho, Cak, bener itu kata Mas Pardi…” timpal Solikin, “…dalam konsideran Undang-Undang Pornografi memang disebutkan bahwa pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi, seperti yang sudah dilakukan mbak Kuda Poni itu, dapat mengancam kehidupan dan tatanan sosial masyarakat Indonesia, Cak.”

“Terus, apalagi bunyi konsiderannya, Kin?” Ujar Cak Narto diiringi gemelatak bunyi kacang asin yang beradu dengan gerahamnya. Buru-buru Solikin sekrol-sekrol hapenya, mencari lembar undang-undang itu.

“…bahwa negara Indonesia adalah negara hukum yang berdasarkan Pancasila dengan menjunjung tinggi nilai-nilai moral, etika, akhlak mulia, dan kepribadian luhur bangsa, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Eee…”

“Setop sampek situ saja, Kin, ndak usah macam orang deklamasi gitu. Ujung-ujungnya hal-hal normatif sok iye, kan?” Mulut Solikin langsung terkatup disela oleh Cak Narto.

“Sekarang gini, Di.” Cak Narto menghadap ke arah Pardi dan mulai beretorika, “Kalau yang dianggap rugi adalah remaja dan anak-anak, karena dikhawatirkan terpapar segala negativisme konten si Mbak itu, bukankah harusnya kendali asupan informasi bagi mereka ini, remaja dan anak-anak itu, ada pada orang tua mereka? Jangan bisanya cuma nuding pihak lain dong, sedangkan sebenarnya itu tanggung jawab mereka kok, para orang tua itu.”

“Kalau yang dikhawatirkan para istri adalah suami-suami yang menikmati konten semacam itu, aku pikir juga tidak ada yang dirugikan di sana. Para suami itu kan manusia dewasa yang punya kemerdekaan untuk menentukan apa yang mereka tonton. Lantas kenapa mbak itu diancam hukuman penjara?” Dua alis Cak Narto naik turun mengakhiri kalimat.

“Ya karena undang-undangnya melarang perbuatan itu, Cak, sebab ya itu tadi, dianggap bisa mengancam moralitas bangsa. Juga menabrak nilai-nilai akhlak mulia dan kepribadian luruh bangsa. Gimana sih Sampean ini?” gerutu Kanapi.

“Biyuuuh, moralitas kok diurusi negara, apalagi dengan ancaman pidana dan hukuman penjara. Ora mashok buat aku.” Cak Narto merobek sebungkus lagi kacang asin di depannya dan dengan cepat melemparkan beberapa butir ke mulutnya, “Lha memangnya orang-orang di atas sono tuh, bapak ibu yang terhormat para pejabat dan anggota dewan itu, moralitasnya seluhur apa seh…”

“Wong duit bansos aja dikorupsi. Terus begitu disidangkan, vonisnya setara dengan ancaman bagi mbak Kuda Poni itu, 12 tahun kurungan. Kalau keabsurdan semacam itu dipertontonkan, menurut kalian, mana yang lebih mengancam moralitas bangsa? Siapa yang lebih bermoral, koruptor dana bansos atau mbak itu?” Cak Narto terkekeh.

“Dua-duanya nggak bermoral lah, Cak…” timpal Solikin, “…dan membandingkan dua hal negatif tidak lantas menjadikan salah satunya menjadi positif, Cak.”

“Iya aku tahu, Kin. Tapi gini, maksudku, kalau disandingkan, dua kasus itu secara luas dampaknya jauh berbeda, dong. Korupsi bansos korona itu jelas berefek langsung ke kehidupan masyarakat, to? Lha kalau dampak negatif perbuatan mbak itu kan masih meraba-raba dan memantik perdebatan. Karena moralitas itu ranah yang susah dikalkulasi, Kin, tergantung tempat, zaman dan konsensus komunal.”

“Lagian, Kin…” belum selesai rupanya kalimat Cak Narto, “…apa yang dilakukan oleh Mbak itu kan gambaran nyata perjuangan rakyat saat ini, di tengah cengkeraman pandemi yang kita semua nggak tahu kapan berakhir ini.”

“Maksudnya, Cak?”

“Lha kalau kamu enak, Pi, masih ada bengkel untuk menjual jasamu, meski sepi di masa pandemi, tapi kan masih bisa untuk menyambung nyawa. Pardi juga haha-hihi, soalnya semakin banyak pesanan baliho dari politisi, dapurnya tetap ngebul. Lha si Mbak Kuda Poni, yang badannya merupakan aset dalam profesinya sebagai gadis pemandu karaoke sebelum pandemi, bisa apa dia? Sudah bagus dia ndak ngerusak rumah tangga orang. Hehehe.” Cak Narto kembali tergelak. Serpihan kacang asin bermuncratan dari mulutnya.

“Itu mah dia yang nggak kreatif, Cak. Kan masih banyak kesempatan lain bagi orang-orang yang ubet dan ulet. Ya nggak Ndes?” Ujar Kanapi tidak terima.

“Justru dengan streaming itu bentuk ejawantah kreatifitas yang sesungguhnya, Pi.” Semua yang ada di sana tergelak. Hening tiba-tiba menyela. Cak Narto melamun memandangi langit malam yang mulai cerah.

“Terus menurut Sampean apa yang bisa dilakukan Mbak Kuda Poni itu, Cak?” Solikin membuyarkan lamunan. Cak Narto berdiri, membebatkan sarungnya melilit pinggang.

“Harusnya, Kin, mbak itu protes saja pakai poster waktu ada kunjungan presiden. Nanti kan ditangkap sama aparat tuh. Lha siapa tahu habis itu diangkat jadi duta antipornografi…” Tiba-tiba ia sudah meringkasi rokok, korek, dan beberapa bungkus kacang asin yang tersisa, “…atau biar saja dihujat netijen, nanti kan dia bisa mengajukan pledoi dan siapa tahu hujatan itu bisa dijadikan alasan yang meringankan vonisnya. Hahaha.”

Cak Narto menghilang dari pandangan mereka. Dari dalam warung terdengar gerutu, “Oalaahhh…ancen penak sing maido. Dari kemaren ban-bon terus. Ngoreksi pemerintah macam betul, giliran mbayar suka diutang. Mas Pi, kopi, gorengan, rokok sama kacang Cak Narto ikut siapa ini?” teriak Yu Marmi mengacungkan robekan kertas pembungkus rokok yang ia gunakan sebagai catatan bon para pelanggan.

***

Setelah Pardi mengulurkan sejumlah uang, forum itu membubarkan diri. Langit desa cerah, gemintang mengintip, sapi-sapi dan hewan ternak bertasbih lirih. Dari radio di sudut warung, bait-bait serak Iwan Fals menyeruak.

“…Masalah moral, masalah akhlak

Biar kami cari sendiri

Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu

Peraturan yang sehat yang kami mau

Tegakkan hukum setegak-tegaknya

Adil dan tegas tak pandang bulu

Pasti kuangkat engkau

Menjadi manusia setengah dewa…”

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 September 2021 oleh

Tags: kuda ponimoralnegarapornografiRRSelebgram
Suwatno

Suwatno

Penulis adalah bapak (muda) dengan tiga orang anak. Tinggal di Palangka Raya.

ArtikelTerkait

ritual cekrek upload

Makan Terasa Hambar Tanpa Ritual Cekrek-Upload

20 September 2019
Hal yang Menguntungkan Ketika Menggunakan Fitur Instagram Private terminal mojok.co

Selebgram dan Pengusaha Sebaiknya Saling Memahami

9 Oktober 2020
Berita Perselingkuhan Bukan Ladang Penghakiman, Tidak Perlu Merasa Paling Tahu terminal mojok.co

Berita Perselingkuhan Bukan Ladang Penghakiman, Tidak Perlu Merasa Paling Tahu

8 Februari 2021
Ngomongin Anya Geraldine yang Ngakunya Seorang Fakgirl

Ngomongin Anya Geraldine yang Ngakunya Seorang Fakgirl

16 Januari 2020
Auto Base

Auto Base dan Kecenderungan Bersembunyi di Balik Akun Anonim

24 Oktober 2019
Negara Nggak Usah Sok Asyik Ngurusin Urusan Ranjang dengan Main Grebek, deh!

Negara Nggak Usah Sok Asyik Ngurusin Urusan Ranjang dengan Main Grebek, deh!

19 Februari 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja Dekat Monas Jakarta Nggak Selalu Enak, Akses Mudah tapi Sering Ada Demo yang Bikin Lalu Lintas Kacau

Kerja di Jakarta Memang Kejam, tapi Masih Banyak Hal yang Bisa Disyukuri dari Kota yang Mengerikan Itu

29 Maret 2026
3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan (Wikimedia Commons)

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan

30 Maret 2026
Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen Mojok.co

Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen

31 Maret 2026
8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh Mojok.co

8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh

31 Maret 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026
Bersyukur Gagal Naik PO Haryanto Magelang-Demak, Kehabisan Tiket Berujung Pengalaman Mudik yang Lebih Berkesan dan Hangat Mojok.co

Bersyukur Gagal Naik PO Haryanto Magelang-Demak, Kehabisan Tiket Berujung Pengalaman Mudik yang Lebih Berkesan dan Hangat

30 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.