Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pandeglang, Gambaran Nyata Daerah yang Terabaikan dan Tersisihkan

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
5 Oktober 2025
A A
Pandeglang, Gambaran Nyata Daerah yang Terabaikan dan Tersisihkan

Pandeglang, Gambaran Nyata Daerah yang Terabaikan dan Tersisihkan

Share on FacebookShare on Twitter

Ketika berada di Cilegon, saya mengontak teman saya yang berada di Pandeglang. Setidaknya dua daerah ini masih berdekatan. Niatnya saya ingini sekalian ke sana sehingga menanyakan destinasi atau hal menarik yang bisa saja kunjungi. Tapi jawabannya begitu menohok, “Nggak ada apa-apa di daerah terabaikan seperti Pandeglang.” Jawabannya mungkin dalam konteks bercanda, tapi punya makna kompleks tentang sebuah daerah yang mungkin dianggap tertinggal dari yang lainnya.

Saya kemudian melihatnya dalam sudut pandang yang bisa dikuantifikasi dan menginterpretasikannya. Cara paling fair adalah dengan melihat bagaimana data-data ekonominya. Dari sisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita, ternyata memprihatinkan, hanya 27,08 juta per tahun. Sederhananya rata-rata masyarakat Pandeglang punya pendapatannya hanya di kisaran 2 jutaan.

Gapnya lumayan jauh sama tetangganya yaitu Kota dan Kabupaten Serang yang ada di kisaran 58 dan 60 juta per tahun. Bagaimana dengan Cilegon? Wah jauh. PDRB per kapitanya 300 jutaan lebih per tahun. Berkali-kali lipat tingginya. Ini menegaskan bagaimana disparitas antara daerah di Banten.

Lebih penting lagi, ini pun membuat Pandeglang seperti anak tiri yang nggak mendapat perhatian, khususnya dari ortunya. Saudara yang lain banyak duit, dianya sendiri terseok-seok. Ironis.

Ketimpangan Pandeglang yang parah

Ini kemudian didukung dengan data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Pandeglang tahun 2024 yang menyentuh 8,09 persen. Angka itu menjadi yang tertinggi kedua di Banten. Lanjut soal kemiskinan, Pandeglang mencatatkan angka 9,18 persen dan menjadi yang tertinggi di Banten.

Tentu nggak berhenti di situ, ada kondisi fisik yang kasat mata yang bisa menjadi gambaran bagaimana Pandeglang begitu terabaikan. Jalan kabupaten rusak skala besar: dari 723 km, sekitar 200 km (≈35%) berstatus tidak mantap (data Dinas PUPR, 2022; dikonfirmasi lagi 2023). Ini menjelaskan biaya logistik tinggi & mobilitas warga terganggu.

Selain itu, akses listrik yang kurang stabil, terbatasnya jaringan air bersih dan sanitasi memicu biaya tinggi bagi masyarakat, menambah beban hidup, sekaligus menghambat mobilitas dan konektivitas ekonomi.

Ditambah dengan ketimpangan antarwilayah dalam kabupaten yang parah. Ada kecamatan dekat kawasan Tanjung Lesung yang mendapat intervensi lebih (pariwisata, investasi), sementara desa-desa terpencil jauh dari pusat dan aksesnya minim. Ini bikin Pandeglang tumbuh dengan prematur, sebab terjadi disparitas antar desa/kecamatan.

Baca Juga:

Potret Mahasiswa Kuliah Sekaligus Kerja di Banten: Tampak Keren, tapi Aslinya Menderita karena Digaji Tak Layak

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan

Defisit APBD

Dengan semua ketertinggalan tersebut, APBD Pandeglang 2025 juga mengalami defisit sebesar Rp182,9 miliar. Sudah kerjaan dan proyek publik semuanya masih kurang, eh duitnya pun defisit. Saya gak mau menyinggung soal dinasti politik, tapi yang jelas, ada yang salah dengan tata kelola dari seluruh sumber daya yang dimiliki. Lalu apa yang salah? Melihat semua itu, Pandeglang seperti rumah yang pondasinya lama tak digarap serius. Sekali lagi, terabaikan!

Bagaimana proses tata kelola kebijakan mulai dari perencanaan hingga pelaksanaannya? Apakah singkron? Contohnya proyek besar (tol dan kawasan wisata) yang jadi prioritas nyatanya tidak otomatis “meneteskan” manfaatnya ke jalan desa, air bersih, sanitasi, dan internet. Sehingga disparitas antara wilayah pun tetap lestari.

Kemudian kalau ada defisit, apakah sudah dilakukan evaluasi mengenai proporsi belanja rutinan seperti pegawai (gaji dan tunjangan) dan proyek pernik (nggak esensial)? Jangan-jangan, porsinya lebih dominan? Sebab, ketika pengeluaran seperti itu lebih besar porsinya dari pada belanja modal, maka wajar terjadi defisit dan mangkraknya fasilitas publik.

Akibatnya, muncul kecurigaan, apakah terjadi polaritas prioritas terhadap kebijakan? Misalnya di beberapa titik kawasan wisata dan investasi di sektor tertentu yang tidak terhubung secara langsung ke daerah lainnya. Sehingga desa hinterland (yang banyak dihuni rumah tangga miskin/pekerja informal) tak kebagian efek cepat.

Dikepung proyek, tapi nggak kecipratan

Secara formal, Pandeglang terlihat dikepung proyek-proyek besar. Di lapangan, warga masih membayar ‘pajak lumpur’ saban hari. Ini bukan sekadar soal anggaran, melainkan akumulasi tata kelola dan prioritas kebijakan di mana alokasinya diarahkan pada sesuatu yang tak berdampak, sehingga mengabaikan infrastruktur dasar tempat keseharian warga bergantung.

Atau, asumsi lainnya, apakah alokasi anggaran cenderung ke proyek dan daerah yang berorientasi pada pemanfaatan basis pendukung rezim? Alih-alih pada peta kebutuhan? Yah ini hanya asumsi. Bisa benar atau salah. Tapi yang jelas, Pandeglang sebagai daerah terabaikan itu nyata, bukan delusional.

Saya mengutip pernyataan kawan saya, “Pandeglang itu ibarat rumah tua yang saat musim hujan, tiang dan atapnya makin mengkhawatirkan.”

Yah mau bagaimana?  PDRB per kapita-nya nyungsep di dua terbawah Banten,, TPT-nya bandel di angka tinggi, kemiskinan seperti dinormalisasi, fasilitas yang mangkrak tinggal menabur janji. Akar masalahnya? Model tata kelola dan prioritas kebijakan yang lebih sibuk mengecat teras, lupa memperbaiki pipa air dan lantai dasar. Sehingga kalau kena badai (krisis), tinggal menunggu roboh. Pada akhirnya, harapannya kembali pada warganya kuat dan solid. Tapi, mau sampai kapan?

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Uneg-uneg Warga Pandeglang: Kenyang Jalan Berlubang yang Tak Kunjung Diperbaiki

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2025 oleh

Tags: Bantenkabupaten pandeglangpandeglangPDRB Pandeglang
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Jalan Pemda Tigaraksa Tangerang, Jalan yang Menguji Kestabilan Pengendara Motor. Cocok Dilalui sebelum Ujian SIM

Jalan Pemda Tigaraksa Tangerang, Jalan yang Menguji Kestabilan Pengendara Motor. Cocok Dilalui sebelum Ujian SIM

15 April 2024
Sedap Malam Ciputat Dibenci Sekaligus Dicintai Penghuninya (Unsplash)

Sedap Malam Ciputat: Dibenci Sekaligus Dicintai Penghuninya

20 November 2023
Wong Serang Tanpa 'Geh' Bagai Dunia Maya Tanpa Terminal Mojok, Nggak Lengkap! Bahasa Serang Terminal Mulok #09 terminal mojok

Wong Serang Banten Tanpa ‘Geh’ Bagai Dunia Maya Tanpa Terminal Mojok, Nggak Lengkap! Terminal Mulok #09 

19 Maret 2021
Tangerang Selatan (Tangsel): Kota dengan Pertumbuhan Terdahsyat di Indonesia

Tangerang Selatan (Tangsel): Kota dengan Pertumbuhan Terdahsyat di Indonesia

14 Maret 2023
Susahnya Mendapat Gaji UMR di Tangerang, Kota Penyangga Jakarta: Kerja Serius, Gajinya Bercanda

Susahnya Mendapat Gaji UMR di Tangerang, Kota Penyangga Jakarta: Kerja Serius, Gajinya Bercanda

11 Januari 2024
Apa Efek Politik Dinasti dan Korupsi? Tentu Saja Warga yang Tak Bahagia. Bukan Begitu, Banten?

Bagaimana Warga Banten Bisa Bahagia kalau Kotanya Dicengkeram Korupsi dan Politik Dinasti?

6 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Jakarta Baperan: Panggilan ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Mojok.co

Orang Jakarta Baperan: ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Panggilan dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

8 Mei 2026
Wahai BKN dan Panitia CPNS, Percuma Ada Masa Sanggah CPNS kalau Tidak Transparan! soal TWK daftar cpns pppk pns cat asn

Terima Kasih untuk Siapa pun yang Mencetuskan dan Melaksanakan Ide CAT CPNS, Tes yang Tak Pandang Bulu, Tak Pandang Siapa Dirimu

13 Mei 2026
Checklist Mahasiswa Semester Akhir: Siapkan Semua Berkas Ini Kalau Mau Lulus

5 Sifat Mahasiswa Semester Akhir yang Menjengkelkan, Segera Intropeksi Diri Jika Tidak Ingin Dijauhi Teman

12 Mei 2026
Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokal Mojok.co

Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokalnya

11 Mei 2026
5 Kelebihan Kos LV yang Jarang Disadari, Nyatanya Nggak Seburuk yang Diceritakan Orang kos campur

Pengalaman Hidup di Kos Campur: Sebenarnya Tidak Seburuk Itu, tapi Sebaiknya Memang Jangan Pernah Coba-coba Tinggal

13 Mei 2026
Gresik Ternyata Bisa Bikin Arek Surabaya Kaget (Wikimedia Commons) sidoarjo

Hunian di Gresik dan Sidoarjo Memang Murah, Tapi Sulit Wira-wiri: Jauh ke Mana-Mana, Bikin Bosan dan Stres

12 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.