Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Palang Kereta dan Hal-Hal Menyebalkan Darinya

Andrian Eksa oleh Andrian Eksa
22 Juni 2019
A A
palang kereta

palang kereta

Share on FacebookShare on Twitter

Belum lama ini media sosial dipenuhi dengan postingan video pelanggar palang kereta. Di dalam video tersebut, tidak jarang ditampilkan kengeyelan seorang pengendara motor. Seorang pengendara terlihat nekat menerobos palang kereta yang mulai turun. Alhasil, pengendara tersebut terjatuh. Bahkan, ada yang terjungkal mundur karena kepalanya menabrak palang.

Kejadian seperti itu memang menyebalkan. Bukan hanya bagi pengendara yang berada di sekitarnya. Bukan pula hanya bagi pengendara lain yang sempat-sempatnya mengambil video tersebut. Akan tetapi, bagi orang-orang yang menonton video itu, barangkali akan misuh seperti saya. Selain itu, mungkin akan memaki-maki seperti teman saya.

Seandainya saya menyaksikan langsung kejadian seperti itu, mbok yakin ra bakal tak tulungi! Saya akan misuh sekencang mungkin dan dengan suara kelegaan akan mengatakan padanya, “Sokor! Kapokmu kapan?” dan mengakhirinya dengan sebuah tawa yang panjang. Kalaupun dia tidak terima dan nantang gelut saya sikat dong, yhaaa~

Saya akan nyerocos panjang lebar. Akan saya katakan padanya kalau yang dilakukannya itu adalah kebodohan. Sudah tahu kalau palang kereta akan diturunkan, kok ya nekat menerobos kesetanan. Seperti punya nyawa cadangan saja. Situ manusia apa kucing, sih? Kalau kucing, meong, dong! Rrrggghhhh!!!

Secara langsung, saya belum pernah melihat pengendara senakat itu. Tapi saya sering menemui kemacetan panjang ketika palang kereta diturunkan. Kemacetan yang lebih tepat disebut desak-desakan kendaraan. Satu sama lain saling berebut tempat paling depan. Tidak jarang ada yang bisa saja lewat jalan yang sesempit mungkin, hanya untuk sampai paling depan. Seolah, posisi menentukan prestasi. Padahal, ya, prek!

Saya mengerti, semua orang ingin melintas dan semua diburu waktu. Pasti ada yang sudah janjian dan bilang otw pada temannya atau kekasihnya atau teman kekasihnya atau kekasih temannya. Pasti orang-orang seperti itu tidak ingin datang terlambat. Meskipun waktu bilang otw, sesungguhnya masih duduk manis sambil menikmati secangkir kopi dan instastory. Tapi tidak perlu berebut dan berdesakan seperti itu, kan?

Bukankah himbauan kepolisian terpampang di mana-mana? Keselamatan Anda adalah yang utama! Jangan ngebut, biaya Rumah Sakit mahal! Awas hati-hati, ingat keluarga Anda menanti! Kalau sikap orang-orang masih saja seperti itu, saya kok jadi curiga. Jangan-jangan ada maksud lain selain ingin melintas lebih dulu. Orang-orang baris depan itu ingin menjadi saksi utama kereta yang melintas di depannya.

Memang sih ada yang bilang kalau kereta itu seperti rangkaian gerbong ingatan. Kalau pas melintas, suaranya memekakkan telinga. Bisa saja berefek ke kepala, jadi pusing, misalnya. Tapi toh ingatan selalu menjadi menu utama.

Baca Juga:

4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman

Salatiga Tidak Punya Stasiun, Cukup Merepotkan bagi Orang yang Terbiasa Bepergian dengan Kereta Api

Di dalam setiap kesedihan atau kebahagiaan, ingatanlah yang menjadi penyeimbang. Kita mengingat kebahagiaan ketika sedih dan mengingat kesedihan ketika bahagia. Meskipun rasanya terkadang tidak mengenakkan, tapi hal itu terkadang begitu saja datang.

Yah, kalau urusannya sudah dengan ingatan yang berimbas ke perasaan, saya bisa apa? Mau memarahinya, saya saja terkadang seperti itu. Saya bisa bengong begitu lama meratapi kejadian di suatu masa. Kalau ingatannya membahagiakan biasanya berakhir dengan senyuman. Kalau ingatannya menyedihkan, ya sudah pasti diakhiri dengan tangisan.

Satu hal lagi yang menyebalkan tentang palang kereta. Saya sering menemui suara Mbak-Mbak yang menggemaskan ketika berhenti di palang kereta. Mbak-Mbak yang aduhai ini memberikan informasi kalau pengendara mesti berhati-hati. Pengendara diminta untuk tidak melintas seenaknya seperti kejadian yang viral belakangan.

Suara Mbak-Mbaknya memang membosankan kalau saja kita sering mendengarnya. Tidak pernah ganti dan nadanya begitu-begitu saja. Wajar sih, wong itu hasil remakan. Di stasiun saja, yang suaranya live, nadanya nggak ganti-ganti. Apalagi kalau rekaman seperti ini?

Karena membosankan, pengendara sering malas untuk mendengarnya. Kalau saya sih lebih sering memperhatikannya. Mendengarkan bagi saya, lebih menyenangkan, karena setidaknya ada yang menganggap kehadiran saya. Apalagi kalau Mbak-Mbaknya perhatian seperti ini. Pinginnya segera tak rabi.

Saya mencatat, ada yang aneh dari himbauan Mbak-Mbak palang kereta ini. Di antara rangkaian panjang perhatiannya, Mbak-Mbak ini juga mengatakan kalau di tempat lain, banyak yang belum terpasang palang kereta. Saya sering bertanya, “Mbaknya nggak bercanda, kan?” Kalau yang ada palangnya saja dilanggar, apalagi yang tidak?

Kalau sudah seperti ini, saya ingin misuh kuadrat. Mbak-Mbak yang empuk suaranya kok bodoh sekali sih. Sudah tahu kalau tidak ada, kenapa dari dulu tidak dipasang palang keretanya? Nunggu pengendara-pengendara yang menyebalkan itu membuat kebodohan lagi? Jawab, Mbak, jangan diamkan aku seperti ini. Sakit tahu! Huh!

Terakhir diperbarui pada 14 Januari 2022 oleh

Tags: kereta apiKritik Sosialmenerobos palangpalang kereta
Andrian Eksa

Andrian Eksa

Kelahiran Boyolali, 15 Desember. Saat ini menjadi seorang guru Bahasa Indonesia yang memilih tidak hanya sekadar mengajarkan kata, tapi juga merawatnya. Menyukai isu-isu terdekat di sekitarnya.

ArtikelTerkait

Argo Bromo Anggrek, Legenda Jalur Utara dan Adaptasi Fasilitasnya di Tiap Era terminal mojok

Argo Bromo Anggrek, Legenda Jalur Utara dan Adaptasi Fasilitasnya di Tiap Era

8 Desember 2021
Sudah Saatnya Jalur Kereta Benculuk-Banyuwangi Aktif Kembali Mojok.co

Sudah Saatnya Jalur Kereta Benculuk-Banyuwangi Aktif Kembali

19 November 2023
Kereta Api Logawa Kelas Bisnis: Nyamannya Mirip Eksekutif, Harganya Lebih Terjangkau Mojok.co tiket tarsus, go show

Tiket Tarsus, Tiket Kereta Api dengan Harga Super Duper Murah

11 Januari 2025
3 Palang Kereta yang Sebaiknya Dihindari di Solo Terminal Mojok

3 Palang Kereta yang Sebaiknya Dihindari di Solo

2 Januari 2022
pasal

Menghakimi Status di Instastory: Pasal Mana Pasal?

19 September 2019
fresh graduate

Tagar #LulusanUI dan Polemik Gaji Bagi Fresh Graduate

26 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026
Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Merasa Lebih Dihargai daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” selama Bertahun-tahun Mojok.co

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

9 April 2026
4 Hal yang Harus Penumpang Ketahui tentang Stasiun Duri, Si Paling Sibuk dan Melelahkan se-Jakarta Barat

Stasiun Duri Lebih Bikin Stres dari Manggarai: Peron Sempit, Tangga Minim, Kereta Lama Datang

9 April 2026
Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Gagal Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Dicap Tak Punya Masa Depan tapi Malah Hidup Tenang
  • KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”
  • Antropologi Unair Diremehkan dan Dianggap “Gampangan”, padahal Kuliahnya Nggak Main-main dan Prospek Kerjanya Luas
  • Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata
  • Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina
  • Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.