Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pak RT, Admin Grup WhatsApp Kampung, Mengajarkan Caranya Menghadapi Jokes Wagu Bapak-bapak

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
5 Agustus 2020
A A
Pak RT, Admin Grup WhatsApp Kampung, Mengajarkan Caranya Menghadapi Guyonan Wagu Bapak-bapak MOJOK.CO

Pak RT, Admin Grup WhatsApp Kampung, Mengajarkan Caranya Menghadapi Guyonan Wagu Bapak-bapak MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Sejak masuk ke jadwal ronda kampung, jabatan saya naik dari yang semula muda-mudi bau kencur, menjadi “bapak-bapak”. Padahal, nikah saja belum, apalagi punya anak, tapi ya bagaimana lagi, di kampung saya, ketika sudah menginjak usia 21, semua wajib masuk ke grup WhatsApp bapak-bapak kampung.

Dampaknya, ketika Idul Adha, jabatan yang sebelumnya motongin daging bersama ibu-ibu PKK, kini saya ikut mbeteti sapinya. Di satu sisi saya senang sudah dianggap dewasa, di sisi lain saya curiga. Apakah ini termaksuk sebuah cara mendoktrin agar humor saya anjlok seketika?

Saya akui, grup WhatsApp bapak-bapak kampung saya ini unik-unik ngeselin. Ketika bahas kerja bakti misalnya, kok ya kepikiran ada yang membalas: “Jangan kerja bakti!”

Lantas disahuti oleh bapak-bapak yang lainnya, “Lha kerja apa terusan, Pak?”

Dijawab (saya yakin ngetiknya sambil cengegesan disertai gejolak kumis tebal setebal kumisnya Mas Adam suaminya Mbak Inul), “Kerja masti saja.”

Sumpah, saya nggak ngerti sama sekali itu lucunya di mana. Bahkan, plis tolong saya. Saya nggak tahu kalau itu guyonan. Suram. Aneh.

Seaneh-anehnya guyonan tersebut, saya makin merasa aneh sama bapak-bapak lain yang menyahuti. Bahkan ada yang membenarkan guyonannya biar terlihat Srimulat sekali. Saya yakin, mereka yang punya darah tinggi udah stres betul kalau gabung di grup WhatsApp kampung saya ini.

Namun, seaneh-anehnya grup WhatsApp ini, untung saja, Pak RT yang menjadi admin kuat jiwa raga sampai sekarang. Sungguh, saya salut sama Pak RT, yang mau-maunya jadi admin di “sebuah perkumpulan” yang menyeramkan ini.

Baca Juga:

Bukan Sensi atau Mengabaikan, Ini Alasan Dosen Lama Balas Chat walau WhatsApp-nya Online

Pernah Benci Dosen yang Slow Respon Balas WhatsApp, Kini Saya Mengerti

Pak RT, dengan segala kebijaksanannya, bisa menjadi penengah yang sabar. Lha bagaimana nggak sabar, serius-serius ngadain rapat daring buat menentukan jadwal kerja bakti, ujung-ujungnya malah haha hehe menggemaskan.

Jadi silent reader di grup WhatsApp ini pun rasanya pekewuh. Pasti ada bapak-bapak yang nyeletuk begini, “Kok yang komen itu itu aja.”

Ealah, Bapak, bukan niatnya mau diam saja. Ya maaf, saya lagi kesulitan memproses jokes bapak-bapak yang kalian lemparkan tiap hari. Ketika saya sedang pusing menyelidiki letak lucunya di mana, bapak-bapak lain sudah nimpalin dengan jokes yang nggak kalah suramnya. Membalas guyonan mereka itu lebih susah ketimbang belajar hermeneutika.

Dan dengan bijaknya, Pak RT menjawab, “Yang enom, kan, sedang sibuk.” Bener, Pak, sibuk. Sibuk pingsan setelah menyelidiki pola guyonan kalian lucunya di mana.

Namun ada suatu masa, ndilalah, saya kemekelen dengan jokes bapak-bapak kompleks di grup WhatsApp. Tidak lain tidak bukan, cara mereka merespons sebuah video. Videonya biasa saja, ada seekor babi yang dinaiki anak kecil. Namun caption yang bapak ini berikan di grup yang super kemlinthi minta tak jiwit mesra. Tulisannya begini: “Bokong e haram, lurrrr,” Bagaimana nggak ngekek.

Pak RT, sebagai moderator, nampaknya tidak bisa macak serius dalam kasus seperti ini. Beliau, yang kebetulan berprofesi sebagai pedagang angkringan, nimpali begini: “Kalau bokong e haram terus duduk di kursi angkringanku, angkringanku jadi haram opo ora?” Ngelus dada.

Saya sudah menyiapkan diri dengan gempuran jokes template dan copas. Namun, dengan guyonan kondisional dan konvesional macam itu, jujur saya belum mampu belajar sampai tahap itu. Hampir satu menit saya ngakak nggak habis-habis, rasanya ingin membalas begini, “Kalau bokongnya haram, ngentutnya bukan mengeluarkan gas, tapi panggilan ormas.”

Padahal, di-chat sebelumnya, Pak RT sedang woro-woro mengenai lomba ternak lele yang sedang digaungkan oleh Dasawisma setempat. Kok ya bisa gitu lho ujung-ujungnya membahas bokong. Saya curiga, Pak RT kampung saya ini benar-benar tabah atau memang bawaan pabrik nggak bisa serius, ya?

Tapi rasa ragu saya luruh ketika Pak RT, admin grup WhatsApp yang super sabar, dengan bijaknya menyuruh warga untuk menyediakan pembersih tangan di depan rumah mereka. Ketika para menteri masih guyon dengan pandemi corona, Pak RT sudah woro-woro untuk jangan bepergian jika tidak ada artinya. Bepergian boleh saja, kalau ada perlunya.

Juga ketika negara masih sibuk dengan kelumit kenormalan baru, Pak RT sibuk membuat alur lock-down terbaik agar arus keluar-masuk desa satu arah, ekonomi warga tetap terjaga. Ia memperhitungkan jarak akses dengan sawah dan perkebunan. Ketika mode serius begini, beliau lebih memilih mengadakan rapat tatap muka ketimbang lewat grup WhatsApp. Kalau liwat grup, bukannya jawaban serius, yang didapat malah emot monyet tutup muka satu renteng banyaknya.

Memang, Pak RT saya ini punya banyak telanta. Dagang oke, jadi admin dan moderator bisa, ikutan slengekan juga bisa. Di satu sisi beliau memiliki pemikiran yang matang, sisi lainnya ia juga harus melebur dengan jokes super wagu para anggotanya. Tidak hanya sampai sana, beliau ini juga harus membela golongan muda yang malu-malu (atau udah kadung males) untuk bersuara.

Angkat topi untuk Pak RT admin grup WhatsApp kampung saya. Dari beliau saya belajar hadapin jokes wagu bapak-bapak kampung. Sederhanaya saja caranya: tidak perlu digetunin, tapi berdamai saja. Kalau nekat, jokes bapak-bapak itu terlalu tangguh untuk dilawan. Kamu akan disiksa dan dipaksa menyimaknya tiap pukul 8 malam.

BACA JUGA Menjadi Pemimpin Bedebah Ala Game Simulasi Pemerintahan Tropico 5 dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Agustus 2020 oleh

Tags: admin grupgrup whatsappjokes bapak-bapakjokes waguWhatsapp
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Bukan Sensi atau Mengabaikan, Ini Alasan Dosen Lama Balas Chat walau WhatsApp-nya Online Mojok.co

Bukan Sensi atau Mengabaikan, Ini Alasan Dosen Lama Balas Chat walau WhatsApp-nya Online

9 Juni 2026
5 Hal yang Bikin Seseorang Gercep Lihat Story tapi Lemot Balas Chat WhatsApp terminal mojok

5 Hal yang Bikin Seseorang Gercep Lihat Story tapi Lemot Balas Chat WhatsApp

17 Juni 2021

Menerka Obrolan Grup WhatsApp para Princess Disney

17 April 2020
Anak Hogwarts kalau Bikin Story WhatsApp Kaya Gimana_ Ya Kaya Gini lah! terminal mojok

Anak Hogwarts kalau Bikin Story WhatsApp ya Kaya Gini lah!

26 November 2020
centang biru whatsapp

Penelitian Saya Tentang Alasan Kenapa Orang Mematikan Centang Biru WhatsApp Mereka

27 Oktober 2019
Menjawab Pertanyaan Kenapa Cewek Sering Mengecek Viewers Status WA dan IG Story Terminal Mojok

Menjawab Pertanyaan Kenapa Cewek Sering Mengecek Viewers Status WA dan IG Story?

24 November 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan Mojok.co

5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan 

4 Juni 2026
Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Para Pengendara Motor di Jogja Itu Terkenal dengan Santainya, kecuali Orang Bantul Selatan

9 Juni 2026
Andai Suzuki Burgman Street 125 Ganti Logo Jadi Honda, Pasti Laris di Indonesia

Saya Kira Orang Bilang Suzuki Burgman Jelek Itu Cuma Lebay, ternyata Memang Sejelek Itu

9 Juni 2026
5 Barang Unik yang Saya Temukan di Facebook Marketplace, Surga yang Underrated

Facebook Marketplace, Titik Kumpul Barang Unik dan Berguna, sekaligus Surganya para Penipu

4 Juni 2026
Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak Mojok.co magetan

Magetan dan Magelang: Dua Kota Beda Provinsi yang Sering Bikin Lidah Terpeleset dan Dompet Tersesat

9 Juni 2026
Andai Suzuki Burgman Street 125 Ganti Logo Jadi Honda, Pasti Laris di Indonesia

Suzuki Burgman 150 Terbaru yang Rilis di Kolombia Jadi Bukti Bahwa Suzuki Makin Persetan dengan Penjualan dan Tampilan. Desainnya Jelek Banget!

5 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.