Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Pak Luhut, Beternak dan Berkebun itu Tidak Semudah Omongan Bapak

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
2 September 2022
A A
Pak Luhut, Beternak dan Berkebun itu Tidak Semudah Omongan Bapak

Pak Luhut, Beternak dan Berkebun itu Tidak Semudah Omongan Bapak (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Beternak dan berkebun itu nggak mudah lho, Pak Luhut. Tenan iki.

Ketika masih kecil, saya kebayang hidup seperti dalam Harvest Moon. Tinggal gosok-gosok dan memberi pakan sapi, bisa dapat susu. Tinggal mengibaskan sabit sekali, sepetak rumput liar terpotong. Tinggal mengacungkan bulu warna biru, bisa nikah. Apalagi bisa memakai gameshark dan langsung kaya raya.

Sayang sekali, hidup lebih bajingan dari sebuah gim. Beternak dan berkebun tidak pernah mudah.

Maka saya langsung senewen dengan imbauan Luhut Binsar Panjaitan. Perdana Menteri Menko Marves ini mengajak masyarakat untuk mulai berkebun dan beternak. Menurut blio, cabai merah, bawang merah, cabai rawit, telur ayam, daging ras, dan tomat bisa dikembangkan di rumah masing-masing.

Ajakan ini sebenarnya baik. Krisis pangan bisa diatasi dengan kemandirian tiap rumah tangga. Saya juga sepakat bahwa kemampuan berkebun dan bertani harus dimiliki tiap orang. Ini bisa menjadi solusi ketika tiba-tiba Perang Dunia III meletus. Pangan tidak akan langka ketika setiap orang bisa menghasilkan sendiri.

Teorinya sih begitu. Tapi, sekali lagi, hidup lebih bajingan dari sebuah teori.

Jika berkebun dan beternak itu mudah, saya pikir setiap rumah akan melakukannya. Tapi untuk melakukan itu semua, ada yang harus dibayar. Waktu, tenaga, dan uang harus kita sisihkan untuk berkebun dan beternak. Ada ilmu yang harus dimiliki. Ada trial and error yang harus dilakukan.

Bicara beternak dulu saja saya sudah merinding. Ternak itu harus dipantau 24/7. Sekali lengah, ternak bisa mati dan tidak produktif. Jangankan mengurus ternak untuk pangan, mengurus seekor kucing peliharaan saja tidak mudah lho Pak Luhut. Coba tanya ke Pak Prabowo.

Baca Juga:

Enaknya Beternak Sapi, Minum Susu Murni Tiap Hari Sampai Biogas Pengganti Elpiji

4 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Beternak Ayam Bangkok

Untuk mencukupi kebutuhan pangan paling dasar, kita tidak bisa memelihara satu-dua ekor ternak saja. Ketika kita memelihara banyak ternak, nanti pencemaran jadi masalah baru. Pak Luhut pasti tahu alasan kenapa peternakan ayam selalu ada di tengah sawah atau pinggir pantai. Agar tidak mengganggu masyarakat, Pak.

Berkebun juga butuh effort tersendiri. Apalagi untuk tanaman produktif. Mereka butuh perawatan dan pengawasan ekstra daripada sekadar anggrek atau janda bolong. Salah rawat sedikit, pohon tomat tidak akan berbuah. Belum lagi ada ilmu sendiri yang harus dipelajari dan diterapkan.

Dan terlepas dari effort, di mana kami harus berkebun dan beternak? Mungkin masih mungkin bagi masyarakat rural. Dan ini sudah dijalankan sebagai tradisi. Lha untuk warga urban, di mana kami melakukan? Tanah sepetak saja kadang belum punya.

Mungkin Pak Luhut dan Anda semua akan menyebut hidroponik. Benar, ini bisa jadi solusi warga perkotaan. Tapi bagaimana pengadaan unit hidroponik ini? Tetap ada biaya dan waktu yang harus dikeluarkan. Tidak semua orang punya itu, Pak. Dan hidroponik juga terbatas untuk tanaman ramah air.

Perkara waktu, ini juga kemewahan yang tidak dimiliki setiap orang. Bayangkan seorang pekerja yang bekerja selama 5 hari, dari pukul 9 pagi sampai 6 sore. Pulang-pulang, mereka tentu sudah cukup lelah dan butuh hiburan. Ketika tiba-tiba melihat kebun mereka sudah diperkosa ulat hijau. Yo emosi, Pak.

Terakhir adalah biaya. Alasan mengapa peternakan dan pertanian dilakukan dalam skala besar agar biaya bisa dimaksimalkan. Lha kalau ternak kecil-kecilan, setiap hari harus beli pakan. Nanti 40 hari baru bisa disembelih. Selama 40 hari, uang pakan selalu keluar lho. Kecuali gaji mencukupi dan ada anggaran khusus, biaya tetap jadi masalah besar.

Saya ngomong seperti ini bukan tanpa mencoba ya, Pak Luhut. Kebun depan rumah saya juga ditanami tanaman produktif. Meskipun saya WFH, tetap saja keteteran merawat kebun. Dan yang diproduksikan juga tidak benar-benar berdampak di anggaran belanja.

Saya juga pernah beternak kecil-kecilan. Beternak ayam, bebek, angsa, dan itik. Bahkan dengan ilmu yang saya peroleh selama kuliah di Fakultas Peternakan, ini tetap tidak mudah, Pak Luhut. Setiap malam saya harus mengawasi garangan. Paginya bersih-bersih kandang dan memberi pakan sebelum kerja. Sorenya misuh-misuh ketika ada tikus membobol kandang saya.

Tidak semua orang punya privilese untuk membuat kebun dan kandang mini di rumah. Orang itu harus punya lahan yang cukup. Mereka juga punya waktu luang dan kegiatan yang tidak terlalu menguras waktu serta tenaga. Sisanya, mereka punya anggaran khusus untuk beli pakan, pupuk, obat, dan kebutuhan lain.

Dan terakhir, tidak semua orang punya akses untuk pengetahuan tentang peternakan dan pertanian. Bahkan masyarakat rural yang menggantungkan hidup dari ini saja belum tentu punya akses. Tanpa pengetahuan yang cukup, kebun dan ternak di rumah akan menjadi sumber masalah dan pemicu stress baru

Tapi, bukan berarti saya meremehkan ajakan Pak Luhut. Ajakan ini baik, dan patut dihargai. Tapi untuk dijalankan, saya pikir berat juga. Jangan sampai ajakan ini untuk menjawab krisis harga pangan yang sebentar lagi terjadi. Kalau ajakan ini memang solusi yang ditawarkan pemerintah, wah yo remook!

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Luhut Binsar Panjaitan adalah Mimpi Tertinggi Seorang Batak di Indonesia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 2 September 2022 oleh

Tags: berkebunbeternakkrisis panganluhut binsar panjaitan
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Memberi Pakan Ayam Petelur Itu Challenging Walau Terkesan Boring Terminal mojok

Memberi Pakan Ayam Petelur Itu Challenging Walau Terkesan Boring

3 Februari 2021
Cerita Jual Kambing: Dari Cempe Hamil Sampai Ngarit Pakai Cutter terminal mojok.co

Cerita Jual Kambing: Dari Cempe Hamil Sampai Ngarit Pakai Cutter

9 Januari 2021
Gaduh Peluang Bisnis Jadul Mendidik Anak Jadi Pengusaha Terminal mojok

Gaduh: Peluang Bisnis Jadul Mendidik Anak Jadi Pengusaha

3 Februari 2021
5 Kemungkinan yang Bikin Pak Jokowi Nggak Turun Langsung Pimpin Penanganan Covid-19 terminal mojok.co

5 Kemungkinan yang Bikin Pak Jokowi Nggak Turun Langsung Pimpin Penanganan Covid-19

17 Juli 2021
4 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Beternak Ayam Bangkok Terminal Mojok

4 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Beternak Ayam Bangkok

19 Januari 2022
Tak Perlu Bela atau Benci Faye Simanjuntak: Ia Memang Sukses karena Privilese terminal mojok.co

Tak Perlu Bela atau Benci Faye Simanjuntak: Ia Memang Sukses karena Privilese

31 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib Mojok.co

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

1 Februari 2026
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.