Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Orang yang Menumpuk Notifikasi Sebaiknya Dirukyah Ningsih Tinampi

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
25 Oktober 2020
A A
Orang yang Menumpuk Notifikasi dan Melarikan Diri Perlu Dirukyah Ningsih Tinampi mojok.co

Orang yang Menumpuk Notifikasi dan Melarikan Diri Perlu Dirukyah Ningsih Tinampi mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Saya pernah menyangka bahwa saya ini seseorang yang tidak bisa lepas dari gawai. Sejak pekerjaan menuntut saya untuk selalu mantengin lini masa dan gonjang-ganjing yang lagi hangat diobrolin netizen, sejak saat itu pula, kayaknya, saya mendaku diri sebagai orang fast response. Ya gimana, lha wong pegang hape terus. Jujur saja, saya jauh dari predikat manusia yang suka menumpuk notifikasi.

Sejak fitur-fitur messenger memfasilitasi orang kepo untuk tahu “last seen” orang lain, mengetahui apakah pesannya sudah dibaca atau belum, saya setuju kalau ini memang agak annoying. Walau saya adalah aliran WhatsApp centang biru, bagaimanapun, saya paham ketika orang lain lagi sok jaga privasi biar keberadaannya secara daring nggak diketahui orang lain. Namun, lagi-lagi, saya nggak pernah dengan sengaja menumpuk notifikasi dan pura-pura slow respons hanya perkara lagi malas atau kelupaan.

ADVERTISEMENT

Secara pribadi saya mafhum betul orang-orang—kecuali penipu dan stalker obsessive compulsive—mengirimi saya pesan melalui WhatsApp, DM, bahkan email bukan tanpa alasan. Jika pesan itu isinya pertanyaan, butuh balasan, sebisa mungkin saya prioritaskan untuk dibalas. Kalau cuma ngirim emoticon atau pesan berantai ya mau berharap apa, Bwos. Saya nggak lagi ngalem diri sendiri, tapi sumpah, kalau suatu saat saya susah dihubungi dan nggak balas-balas pesan kalian ya berarti saya emang lagi sibuk main layangan atau jadi juri permainan gundu bocah-bocah kompleks.

Saya nggak pernah paham motivasi orang yang menumpuk notifikasi. Banyak dari kawan saya yang kadang membiarkan bulatan warna merah nangkring di simbol DM akun Instagram mereka. Kadang ada juga yang membiarkan titik merah nyantol begitu saja di logo WhatsApp. Katakanlah saya mungkin OCD, selalu gatel sama simbol-simbol mencolok itu. Saya pasti ngebukanya satu-satu. Kalau nggak, rasanya ngganjel banget. 

Makanya saya heran banget kok ya ada orang yang menumpuk DM Instagramnya sampai 20-an notifikasi. Woy, lah, emang beneran mereka semua yang mengirimi kalian pesan itu benar-benar nggak butuh balasan?!

Okelah kalau obrolan WhatsApp grup diabaikan, saya masih maklum, lha grup keluarga aja ada belasan. Belum grup alumni, grup kantor, grup kelas, grup berbagi video itu, sampai grup tongkrongan yang isinya cuma enam orang. Tapi, kalau japri seseorang dibiarkan itu kok kayak kebacut gitu. Semacam tidak memberi penghargaan sama orang lain yang berusaha “menyapa”.

Saya pernah ngobrol dengan teman via WhatsApp. Obrolan kami memang nggak sepenting penyebab kebakaran Kantor Kejaksaan Agung, tapi cukup perlu lah untuk dibalas. Sayangnya, si bocah ini membalas pesan saya seminggu kemudian. Hadeeeh, keburu saya glow up. Ketika membalas pun, dengan penuh rasa bersalah blio bilang, “Aduh maaf ya, chat-mu tenggelam!”

Www-wait, what?

Baca Juga:

Bukan Sensi atau Mengabaikan, Ini Alasan Dosen Lama Balas Chat walau WhatsApp-nya Online

Pernah Benci Dosen yang Slow Respon Balas WhatsApp, Kini Saya Mengerti

Untung saya nggak kehabisan napas dan langsung dilemparin ban pelampung sama penjaga pantai ya, Wak. Punten nih, saya bahkan sampai lupa sama topik yang kami bicarakan tempo hari. Saya sampai mengabaikan beberapa hal yang seharusnya saya pastikan karena saat itu saya tidak dapat balasan.

Baiklah, jangan suuzan. Mungkin teman saya ini memang kontaknya dijadikan kontak online shop juga. Orderan lagi membludak, saya dikira mau minta resi kali ah.

Pemikiran jadi orang fast response itu memalukan juga wagu. Takut dianggap sebagai orang gabut yang mantengin hape 24 jam, takut dianggap sebagai entitas paling ngebet saat PDKT dan dianggap agresif, takut “ketahuan” jam onlinenya. Ini pemikiran macam apa? Hanya orang-orang punya banyak utang yang dikejar debt collector yang takut fast response. Pak Johny G. Plate pun akan turut bersedih mengetahui fenomena ini.

Justru orang yang tidak menumpuk notifikasi, orang yang berusaha fast respons, dan yang nggak gengsi chat duluan kalau memang butuh dan kangen adalah golongan orang terpuji yang patut diapresiasi. Simpel, orang kayak gini sedang berusaha menghargai orang lain. 

Saya tahu rasanya risih banget kalau notifikasi WhatsApp menumpuk banget. Tiba-tiba ada sebelas japri yang perlu dibalas, puluhan mention yang perlu ditanggapi, iya saya tahu banget. Saya juga risih. Tapi, bedanya, saya dan golongan orang fast response lainnya akan berusaha mengurainya satu per satu. Membalasnya dengan sabar walau sambil sambat kok nggak berhenti-berhenti pesan masuknya. Sedangkan golongan yang menumpuk notifikasi alih-alih “mengurai” mereka justru seolah lari. Lempar hape sambil bergumam, “Luweh lah!”

Kalau memang lagi ruwet dan nggak ingin dikirimi pesan, mudah sekali, Yorobun. Kalian tinggal uninstall aplikasinya. Saya juga uninstall Facebook karena udah nggak kuat membalas mention dan messengernya, saya kadang juga uninstall Twitter kalau udah telanjur memancing twitwar. Kalau menumpuk notifikasi untuk melarikan diri, malas, dan enggan memberi penghargaan pada orang lain, tapi tiba-tiba update status, saya belum dan semoga saja nggak pernah. Kecuali kalau lusa saya jadi selebgram follower 800K. Beda soal.

BACA JUGA Sebelum Takut sama PD III, Takutlah Dulu sama Bencana Alam Buatan Manusia dan artikel Ajeng Rizka lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 24 Oktober 2020 oleh

Tags: HPinstagramnotifikasiWhatsapp
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Pekerja media. Tinggal di Jakarta, hati tetap di Jogja.

ArtikelTerkait

nicholas saputra ganteng bikin repot mojok

Betapa Membosankannya Isi Medsos Nicholas Saputra

24 Juni 2021
Unggah Foto di Medsos, Wajah Nggak Usah Ditutupi Pakai Stiker, dong!

Unggah Foto di Medsos, Wajah Nggak Usah Ditutupi Pakai Stiker, dong!

10 Juni 2020
Samsung GT-E1272, HP Lipat yang Berfungsi Sebagai Pelengkap Smartphone Terminal Mojok

Samsung GT-E1272, HP Lipat yang Berfungsi Sebagai Pelengkap Smartphone

9 Januari 2021
Anak Hogwarts kalau Bikin Story WhatsApp Kaya Gimana_ Ya Kaya Gini lah! terminal mojok

Anak Hogwarts kalau Bikin Story WhatsApp ya Kaya Gini lah!

26 November 2020
faceapp agechallenge

Tanpa Bantuan FaceApp, Nanti Kita Juga Bakal Tua Sendiri

18 Juli 2019
Pak RT, Admin Grup WhatsApp Kampung, Mengajarkan Caranya Menghadapi Guyonan Wagu Bapak-bapak MOJOK.CO

Pak RT, Admin Grup WhatsApp Kampung, Mengajarkan Caranya Menghadapi Jokes Wagu Bapak-bapak

5 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stadion Gajayana Malang tempat potensial yang bernasib sial Mojok.co

Stadion Gajayana Malang tempat potensial yang bernasib sial

13 Juli 2026
8 keresahan guru agama, pekerjaan tidak maksimal karena dianaktirikan Kemendikdasmen Mojok.co

8 keresahan guru agama, pekerjaan tidak maksimal karena dianaktirikan Kemendikdasmen 

11 Juli 2026
Ini Dia Alasan Orang Jakarta Timur Malas Diajak Main ke Jakarta Selatan

Jakarta Timur Layak Dimekarkan jadi Jaktim Utara dan Jaktim Selatan, Terlalu Banyak Perbedaan!

8 Juli 2026
Leuwigajah, Kelurahan Paling Mentereng Se-Kota Cimahi

Cimahi Selatan, Sebuah Anomali di “Kota Tentara”: Menjaga Kedaulatan Ekonomi dan Keberlangsungan Hidup Warga Cimahi

7 Juli 2026
Cerita beli kendaraan pertama, menabung mati-matian demi Honda Vario Techno 125 bekas. Dulu prihatin kini jadi kenangan manis Mojok.co

Cerita beli kendaraan pertama, menabung mati-matian demi Honda Vario Techno 125 bekas. Dulu prihatin kini jadi kenangan manis

8 Juli 2026
Nasib Stasiun Karawang: Terasing di Rel Sendiri, Kalah Mentereng dari Stasiun Cikarang

Nasib Stasiun Karawang: Terasing di Rel Sendiri, Kalah Mentereng dari Stasiun Cikarang

8 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.