Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

Lebaran Kedua Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati Mojok.co

Lebaran Kedua Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati (unsplash.com)

Lebaran tahun lalu saya habiskan di Turki, begitu pula dengan Lebaran Idulfitri 1447 H kali ini. Karena tengah menempuh studi S2 di Turki, saya tidak bisa bermaaf-maafan secara langsung dengan keluarga di Indonesia. Jangan ditanya bagaimana rasanya, tentu homesick dan sedih. 

Akan tetapi, perasaan kalut selama puasa dan Lebaran sedikit terobati oleh kehadiran orang-orang baik. Teman hingga warga lokal Turki yang hangat membuat bulan Ramadan kali ini terasa lebih mudah dibanding dengan tahun sebelumnya. 

Iftar dan orang-orang baik

Ramadan kali ini saya habiskan dengan berbagai rencana, pengalaman, dan orang-orang baru. Bisa dibilang Ramadan tahun ini jauh lebih dinamis dan berbeda bagi saya. Dimulai dari membiasakan diri sahur dengan menu Turki (tahun lalu saya tetap sahur dengan nasi atau mi, tapi tahun ini saya mulai sahur dengan roti atau oat sebagai sumber karbohidrat) hingga sering menghadiri iftar di luar.

Berbuka puasa dengan banyak orang, yang tentunya didominasi oleh warga lokal, membuat saya merasakan beragam pengalaman baru. Memang budaya iftar di sini sangat berbeda dengan Indonesia. Setelah berbuka dengan menu utama dilanjut dengan salat Maghrib, kami akan lanjut ngeteh sambil mengobrol.

Dari berbagai iftar yang saya hadiri, saya selalu dikelilingi oleh orang-orang baik. Izinkan saya bercerita tentang salah dua pengalaman tak terlupakan dengan orang-orang baik ini.

Pertama, saya diundang oleh dosen saya untuk berbuka puasa di rumahnya sebanyak dua kali. Pada iftar pertama, dia sengaja membuatkan karnıyarık, makanan khas Turki yang terbuat dari terong yang di atasnya terdapat cincangan daging. Blio tahu saya suka karniyarik dan kebetulan di kantin asrama sudah nggak ada menu itu lagi. Jadi beliau membuatkan menu tersebut khusus untuk saya. 

Di iftar kedua, dosen saya ini sengaja membeli nanas supaya saya teringat pada rumah. Dia tahu bahwa nanas itu buah tropis yang umum di Indonesia. Dapat pengalaman seperti ini gimana saya nggak menangis coba? 

Selama Ramadan kali ini saya nggak bisa makan makanan khas Indonesia, padahal saya kangen masakan yang dibuat oleh ibu saya. Saya tidak bisa membuatnya di asrama karena aturan melarang keberadaan alat masak. Untuk mengobati kerinduan, paling saya cuma bisa mencampur nasi dengan bumbu nasi uduk atau nasi kuning instan dari Indonesia. Berkat orang-orang baik, salah satunya dosen saya, saya tetap bisa makan enak walau bukan makanan Indonesia. 

Lebaran dapat THR karena saya mahasiswa internasional

Di Indonesia, saya mungkin sudah nggak bisa dapat THR atau uang saku sebanyak ketika saya masih kecil. Katanya sih karena saya sudah besar.

Akan tetapi, di Turki, selama Ramadan ini saya malah dapat THR dari warga lokal. Mereka nggak melihat saya sudah besar atau uangnya mending dikasihkan ke anak kecil. Tapi, mereka melihat status saya.

Bagi warga lokal di kota tempat saya tinggal, Elazığ, mahasiswa internasional seperti saya itu mereka anggap sebagai tamu. Warga sini memang sangat memuliakan tamu. Kalau kita berkunjung ke rumahnya, minimal kita nggak dibiarkan kelaparan. Mereka pun tahu struggle-nya menjadi mahasiswa internasional yang harus berhadapan dengan masalah ekonomi hingga budaya.

Selain itu, status saya yang mahasiswa juga mendorong mereka untuk memberikan uang saku. Bagi mereka, mahasiswa atau pelajar itu termasuk golongan fisabilillah, atau yang berjuang di jalan Allah.

Setelah memberikan uang saku kepada saya, mereka nggak menuntut apapun yang bersifat materi sebagai balasannya. Mereka cuma minta didoakan. Lagi-lagi yang kayak gini nih yang bikin saya terharu dan pengin nangis.

Budaya puasa dan Lebaran di Turki yang bikin kaget

Dua tahun memang bukan waktu yang singkat, tapi kalau ditanya apakah saya sudah terbiasa dengan budaya puasa dan Lebaran di Turki, saya akan jawab belum. Setiap hari saya selalu beradaptasi dengan hal-hal baru. Tak terkecuali pula hal-hal yang mengejutkan.

Menjelang Lebaran, biasanya masjid-masjid di Indonesia akan penuh oleh jamaah yang melakukan i’tikaf. Mereka menyemarakkan 10 hari terakhir Ramadan dengan mendirikan salat, berdoa, membaca Al-Quran, dan melakukan ibadah-ibadah lainnya. Namun, di Turki, di 10 hari terakhir ini, masjid penuh sesak hanya pada malam ke-27. Orang-orang di sini meyakini Lailatul Qadr turun pada malam itu.

Kemudian, Lebaran di Turki pun sama mengejutkannya. Saya sudah terbiasa dengan takbiran keliling kampung jelang lebaran dan menghadiri salat id di lapangan saat Idulfitri. Berbeda dengan Indonesia, di Turki nggak ada takbiran keliling kampung. Takbir hanya dikumandangkan di dalam masjid, itu pun tanpa pengeras suara.

Perempuan tidak salat id

Soal salat id tidak kalah mengejutkan. Di Turki, salat id dilakukan di masjid. Dan, tahukah kamu apa yang paling mengejutkan bagi saya? Hanya laki-laki yang salat id!

Saya bercerita kepada salah satu teman Turki saya bahwa kemungkinan besar saya dan salah satu teman dari Indonesia akan pergi ke masjid besar di kota saya untuk menghadiri salat id. Dia mengatakan bahwa seumur-umur ia baru melihat seorang perempuan pengin salat id. Katanya, saat Idulfitri, perempuan akan tinggal di rumah dan mempersiapkan makanan untuk menjamu tamu.

Pantas saja tahun lalu ketika saya ke masjid besar untuk salat id, hanya ada belasan perempuan yang ikut mendirikan salat id. Itu pun kami harus menghindari tatapan jamaah laki-laki yang melihat kami dengan aneh. Selain itu, kebanyakan masjid di kawasan pemukiman penduduk nggak memberi izin bagi jamaah perempuan yang pengin salat id. Ini berdasarkan pengalaman teman sekamar saya yang berencana salat di masjid dekat asrama kami.

Sudah dua kali saya menghabiskan bulan puasa dan Lebaran di Turki, tapi saya tidak kunjung terbiasa dengan suasananya. Kadang, itu bikin homesick dan kangen keluarga di Indonesia. Untung saja semua terobati dengan kehadiran orang-orang baik dan hangat. Di mana pun kita menjalani puasa dan merayakan hari raya, semoga rahmat dan berkah dari Allah tetap tercurah untuk kita semua. 

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Lebaran Membosankan Nggak Ada Hubungannya Sama Menjadi Dewasa, Itu Artinya Kamu Lagi Mati Rasa Saja.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version