Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Orang Surabaya Ramah terhadap Pejalan Kaki, tapi Kotanya Tidak

Arief Rahman Nur Fadhilah oleh Arief Rahman Nur Fadhilah
2 Agustus 2024
A A
Orang Surabaya Ramah terhadap Pejalan Kaki, tapi Kotanya Tidak

Orang Surabaya Ramah terhadap Pejalan Kaki, tapi Kotanya Tidak (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebenernya orang-orang di Surabaya ini ramah kepada pejalan kaki. Tapi sayang, trotoar di Kota Pahlawan nggak ramah sama sekali.

“Mas, kene karo aku wae. Wes rapopo,” begitu kata pengendara sepeda motor yang tiba-tiba berhenti di depan saya ketika berjalan kaki pulang ke rumah. Sontak saya merasa kaget sekaligus curiga. Saya pun menolak tawaran tersebut secara halus. Mendengar penolakan dari saya, bapak-bapak itu pun langsung tancap gas pergi.

ADVERTISEMENT

Sambil memperhatikan motornya menjauh, tebersit dalam pikiran kalau mungkin bapak tadi berniat menolong saya. Bagaimana tidak? Dengan tas ransel besar serta keringat di balik baju yang terlihat jelas akibat teriknya panas matahari ditambah muka yang lusuh, orang yang melihat pasti mengira saya orang susah. Ya nggak salah, sih. Kebetulan waktu itu saya nggak punya ongkos untuk naik ojek dari frontage Ahmad Yani Surabaya ke rumah yang berjarak sekitar 5 kilometer. Tapi ya sudahlah, hitung-hitung biar sehat juga. 

Tak lama berselang, kejadian serupa terulang lagi bahkan sampai dua kali. Urutan kejadiannya pun sama. Pengendara motor berhenti di depan saya dan menawarkan tumpangan. Ternyata dugaan saya benar, mereka merasa kasihan dan ingin menolong. Saya tetap menolak kedua tawaran tadi meskipun orang terakhir agak memaksa karena merasa iba.

Saya menghabiskan sisa perjalanan berjalan kaki ke rumah diliputi perasaan senang. Ternyata orang Surabaya sangat baik dan peduli terhadap sesama. Tapi sayangnya, hanya itu hal positif yang bisa diambil dari pengalaman saya menjadi pejalan kaki di kota ini.

Nggak semua trotoar di Surabaya nyaman bagi pejalan kaki

Fasilitas trotoar bagi pejalan kaki di Surabaya belum merata. Di jalan-jalan utama dan ramai kendaraan, memang trotoarnya sudah dibangun dengan cukup nyaman seperti di frontage Ahmad Yani.

Tapi beda cerita ketika sudah belok sedikit masuk ke jalan kecil seperti di Injoko. Padahal jalan ini berbatasan langsung dengan Ahmad Yani, namun hanya aspal yang terlihat. Sama sekali tidak ada trotoar. Pejalan kaki terpaksa berjalan di tanah berpasir dan berbatu. Di beberapa tempat, bahkan pejalan kaki terpaksa harus berjalan di aspal serta berdesakan dengan motor dan mobil.

Trotoar di Surabaya pun sebenarnya nggak semuanya nyaman. Satu waktu saya pernah berjalan kaki tengah malam dari Stasiun Gubeng ke arah Pucang demi mengurangi ongkos ojek sampai rumah. Otomatis saya melewati trotoar depan kantor PDAM Surya Sembada Kota Surabaya, tepatnya di Jalan Prof DR Moestopo.

Baca Juga:

Jangan ke Surabaya Utara saat siang hari, jalannya bikin emosi, panasnya nggak masuk akal!

Simpang Tuwowo Surabaya pantas dijuluki lampu merah paling semrawut, kalahkan lampu merah Pegirian 

Trotoar di sana memang agak lain dari biasanya. Sekilas, trotoar tampak bagus, tapi entah kenapa trotoar yang sempit itu malah ditanami pohon sepanjang jalan yang ukuran pohonnya sendiri memakan lebih dari setengah lebar trotoar. Hanya menyisakan sekitar 30 cm lebar trotoar. Parahnya lagi, beberapa batang pohon tumbuh melintang menutupi akses jalan.

Sungguh kondisi yang sangat nggak ramah bagi pejalan kaki. Apalagi waktu itu saya membawa tas ransel besar dan berat. Bayangkan betapa repotnya saya sampai jalan menunduk bahkan berjongkok hanya untuk melewati trotoar tersebut.

Trotoar jadi tempat parkir dadakan

Sementara itu ketidaknyamanan serupa juga saya temukan pada kedua ruas jalan depan RSUD Dr Soetomo. Trotoarnya memang lebih luas dibanding trotoar di depan kantor PDAM. Sayangnya, banyak becak dan gerobak pedagang terparkir di trotoar yang ada di seberang rumah sakit itu. Belum lagi ditambah dengan beberapa orang yang tertidur pulas di sepanjang trotoar. Sedikit menunjukan sisi lain dari kemegahan Kota Surabaya.

Merasa nggak tega melihat pemandangan tersebut, saya memutuskan menyeberang dan berjalan di trotoar yang berada tepat di depan rumah sakit. Ternyata nggak jauh berbeda kondisinya. Beberapa pohon besar ditanam tepat di tengah trotoar, membuat jalan semakin sempit untuk dilewati. Para pembesuk pasien juga terlihat banyak yang nongkrong di sana. Mereka duduk lesehan di samping penjual minuman. Walaupun ketika saya lewat mereka berinisiatif memberi jalan serta meminta maaf, saya tetap merasa sungkan dan sedikit nggak nyaman.

Intinya, berjalan kaki di Surabaya masih belum nyaman. Trotoar di Kota Pahlawan masih harus ditambah, terutama di jalan-jalan kecil, tak hanya di jalan besar. Pohon-pohon yang ditanam sebagai kanopi agar jalan menjadi sejuk di siang hari juga perlu diperhatikan posisinya. Jangan sampai pohon malah melintang dan membuat trotoar makin sempit.

Nah, saya punya pesan untuk Pemkot Surabaya. Daripada anggaran kalian habis untuk membuat terowongan bawah tanah penghubung Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ) dengan KBS yang panjangnya cuma ratusan meter, lebih baik anggarannya dipakai untuk memperbaiki dan meningkatkan kenyamanan pejalan kaki di setiap penjuru Kota Surabaya.

Penulis: Arief Rahman Nur Fadhilah
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Surabaya memang Cocok Jadi Kota Tujuan Belajar, tapi Pikir-pikir Dulu kalau Mau Kuliah di Sini!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Agustus 2024 oleh

Tags: Kota Surabayapejalan kakiSurabaya
Arief Rahman Nur Fadhilah

Arief Rahman Nur Fadhilah

Sedang menempuh S2 Psikologi Unair sembari merantau di Medan. Penikmat sunyi yang diam-diam takut ditinggal sendiri

ArtikelTerkait

5 Jalan Berbahaya di Surabaya yang Wajib Dihindari Pengendara Pemula

5 Jalan Berbahaya di Surabaya yang Wajib Dihindari Pengendara Pemula

21 Juni 2024
5 Alasan yang Membuat Saya Nggak Menyesal Kuliah di Malang  Mojok.co wisata di malang surabaya

Malang Memang “Surga” bagi Warga Surabaya, tapi Jangan Kaget dengan Lalu Lintasnya

2 Desember 2024
agribisnis menthek kafe tengah sawah KKN wabah corona pemandangan pagi sawah mojok

Tiga Tipe Alternatif KKN UINSA yang Tidak Sebatas Kuliah Kerja Maya

13 Juni 2020
Surat Terbuka untuk Pak Eri Cahyadi: Anak Muda Surabaya Butuh Perpustakaan 24 Jam, Pak!

Ironi Surabaya: (Mengaku) Kota Pendidikan tapi Perpustakaan Umum Tutup Awal

19 Mei 2025
Jalan Ketintang Surabaya, Jalan Paling Problematik yang Pantas Dibenci Mojok.co

Jalan Ketintang Surabaya, Jalan Paling Problematik yang Pantas Dibenci

5 November 2023
Surabaya Barat Katanya Basecamp para Crazy Rich, tapi Sering Kebanjiran dan Lebih Banyak Perkampungannya

Surabaya Barat Katanya Basecamp para Crazy Rich, tapi Sering Kebanjiran dan Lebih Banyak Perkampungannya

20 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang kalah sama Indomaret (Wikimedia Commons)

Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang jualan barang entar pasti kalah sama Indomaret

7 Agustus 2026
Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

6 Agustus 2026
Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

5 Agustus 2026
Keliling naik motor malam hari, hiburan murah bagi kita yang dihajar hidup dari kanan-kiri

Keliling naik motor malam hari, hiburan murah bagi kita yang dihajar hidup dari kanan-kiri

8 Agustus 2026
Sadar nggak, hampir tiap stasiun punya outlet Roti O, ternyata ini alasannya Mojok.co

Sadar nggak, hampir tiap stasiun kereta punya outlet Roti O, ternyata ini alasannya

5 Agustus 2026
Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

10 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.