Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Open House Pejabat Harus Dilestarikan demi Kemajuan Bangsa

Bayu Kharisma Putra oleh Bayu Kharisma Putra
26 April 2023
A A
Open House Pejabat Harus Dilestarikan demi Kemajuan Bangsa

Open House Pejabat Harus Dilestarikan demi Kemajuan Bangsa (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Open house pejabat justru kudu tetap lestari, demi negeri yang lebih baik

Lebaran Idul Fitri punya banyak makna bagi masyarakat Indonesia. Selain sebagai waktu yang tepat untuk mudik dan bertemu sanak keluarga, ia juga memberikan hari libur yang sangat dinanti-nantikan. Banyak kaum yang bahagia tiada terkira, meski tak sedikit juga yang tak menyukai suasana macam lebaran. Namun, bagi sebagian kaum unik lain, lebaran tak ubahnya lahan pertanian yang sangat basah dan subur. Apalagi lebaran yang mendekati masa kemeriahan pemilu. Suasana lebaran yang semacam itu, kerap dianggap sebagai masa yang tepat untuk menarik hati masyarakat Indonesia.

Entah dengan memasang ratusan baliho, mendirikan panggung-panggung hiburan, hingga mengadakan bermacam acara yang bisa didatangi banyak orang. Selain halalbihalal, open house adalah salah satu kegiatan yang marak dilakukan oleh pejabat negara ini pada umumnya. Sayang, kegiatan baik ini kerap disalahpahami oleh banyak orang. Apalagi open house menjelang masa pemilihan umum, sudah pasti banyak yang salah sangka.

Kegiatan ini justru harus dilestarikan, jika perlu tak mesti menunggu hari besar tiba. Kalau bisa, kegiatan ini bisa dilakukan setiap hari. Meski saya juga tahu itu tak mungkin adanya. Jangan berani-berani menuduh mereka, para pejabat yang mengadakan open house, sebagai orang yang sedang caper. Saya kira tuduhan macam itu sangat amat salah. Bertatap muka dengan rakyat jelata justru menunjukkan jika sang pejabat adalah manusia biasa. Ia tak berjarak, dan sudah pasti tak tinggal di menara gading seperti yang banyak pihak tuduhkan.

Open house, kesempatan emas untuk rakyat

Open house adalah kesempatan emas bagi rakyat untuk berkeluh kesah pada pemimpinnya. Ia juga memberikan kesempatan bagi pemimpin untuk mendengarkan rakyat secara langsung. Jika selama ini rakyat ragu apakah mereka didengarkan, kini mereka bisa langsung berbisik pun berteriak ke kuping pemimpin mereka secara langsung. Jika ada yang dengan kejam menuduh telinga mereka tak digunakan, kini biar mereka bisa membuktikan sendiri.

Meski kita semua juga tahu, orang yang mendengarkan dan mengetahui tak selamanya mau mengeksekusi sebuah masalah, meski itu adalah tanggung jawabnya. Harap maklum, namanya juga manusia, banyak yang begitu. Kecuali pejabat negara kita, yang sudah pasti menggunakan falsafah sopan, merakyat, dan kerja, kerja, kerja.

Dengan lestarinya open house ini, para pejabat sebaiknya tak dituduh sedang pencitraan dan sekedar menggaet hati rakyatnya. Pikiran picik macam itu harus dihilangkan. Pandangan miring pada mereka harus diluruskan. Budaya ini justru beririsan langsung dengan semangat demokrasi. Di mana rakyat dan pemerintah menjadi satu, tumplek bleg, saling berinteraksi, dan mendengar satu sama lain. Mereka bisa saling belajar dan memahami satu sama lain.

Harus rutin, harus konsisten

Apalagi saat ada pejabat yang pamer foto sedang memeluk warga yang menangis dan mencium tangannya, masih saja ada komentar miring penuh prasangka buruk. Padahal itu semua adalah wujud nyata dari kerja, kerja, kerja. Ia tak ubahnya masuk ke sawah, berjalan di bawah hujan, main ke pasar, dan keluar masuk gorong-gorong. Itu semua sangat penting bagi kemajuan negara ini. Dengan adanya kegiatan macam itu, seorang pejabat boleh dianggap merakyat, atau setidaknya mengaku sebagai bagian pun membela wong cilik. Meski mengaku dan memang membela adalah dua hal yang memang tak harus saling beririsan.

Baca Juga:

Gagal Paham dengan Outfit Mewah Pejabat, Harga Jutaan Tetap Terlihat Norak karena Nggak Bisa Kerja

Mobil Dinas Pejabat Itu Memang Harus Mahal, kalau Bisa, Pilih yang Paling Mahal Sekalian

Nah, yang kita butuhkan adalah kegiatan yang rutin. Jika open house setiap hari memang tak memungkinkan, seminggu dua kali pun sudah bagus. Bayangkan, jika kegiatan ini diadakan rutin, tak perlu lagi ada kritik lewat demo yang membuang banyak energi dan sumber daya. Saya juga yakin, kita tak perlu bikin komentar di unggahan pejabat hanya untuk diperhatikan. Semuanya bisa langsung disampaikan tanpa tedeng aling-aling.

Soal apakah cara ini akan berhasil, saya juga tidak tahu. Karena berbicara dan mengajukan kritik tak harus diterima dengan tangan terbuka. Tentu beda ceritanya jika yang dibicarakan dan diajukan adalah nama-nama ikan.

Penulis: Bayu Kharisma Putra
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Open House dan Hal-Hal yang Nggak Kelar-Kelar

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya

Terakhir diperbarui pada 26 April 2023 oleh

Tags: Demokrasiopen housePejabat
Bayu Kharisma Putra

Bayu Kharisma Putra

Hanya salah satu dari jutaan manusia yang kebetulan ditakdirkan lahir dan tumbuh di bentangan khatulistiwa ini. Masih setia memegang identitas sebagai Warga Negara Indonesia, menjalani hari-hari dengan segala dinamika.

ArtikelTerkait

Untuk Admin Medsos Pejabat dan Polisi, Ini Cara Bikin Konten Viral yang Nggak Bakal Dihujat Netizen

Untuk Admin Medsos Pejabat dan Polisi, Ini Cara Bikin Konten Viral yang Nggak Bakal Dihujat Netizen

7 Oktober 2022
5 Hal Nggak Enaknya Jadi Pejabat Eselon 1 yang Nggak Diketahui Banyak Orang Terminal Mojok

5 Hal Nggak Enaknya Jadi Pejabat Eselon 1 yang Nggak Diketahui Banyak Orang

27 September 2022
Kelam Dunia Caddy Golf: Menjadi Simpanan Orang Kaya hingga Gaji ala Kadarnya

Kelam Dunia Caddy Golf: Menjadi Simpanan Orang Kaya hingga Gaji ala Kadarnya

29 November 2022
aturan duduk pejabat

Aturan Duduk Pejabat di Acara Resmi Pemerintah yang Amat Ribet

28 November 2021
Alasan Logis Mengapa Para Pejabat di Indonesia Memerlukan Akun Alter di Medsosnya terminal mojok

Alasan Logis Mengapa Para Pejabat di Indonesia Memerlukan Akun Alter di Medsos

31 Juli 2021
Ngapain Foto Bareng Pejabat? Ribet dan Nggak Ada Untungnya!

Ngapain Foto Bareng Pejabat? Ribet dan Nggak Ada Untungnya!

21 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

11 Juli 2026
Kebodohan konsumen Indomaret yang merusak kenyamanan belanja (Unsplash)

Akulah pelanggan Indomaret yang resah itu gara-gara konsumen nggak ada akhlak yang merusak kenyamanan belanja

17 Juli 2026
Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng Mojok.co

Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng

16 Juli 2026
Setelah Membelah Sleman-Bantul dan Melawan Kemacetan Jogja, Saya Nyatakan Yamaha Aerox Alpha Motor Terbaik di Masa Kini

Setelah Membelah Sleman-Bantul dan Melawan Kemacetan Jogja, Saya Nyatakan Yamaha Aerox Alpha Motor Terbaik di Masa Kini

17 Juli 2026
4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi ruang publik yang lebih hidup  Mojok.co

4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi jadi daerah lebih hidup 

17 Juli 2026
Alasan buku fisik tidak akan lenyap hanya karena buku digital merajalela Mojok.co

Alasan buku fisik tidak akan lenyap hanya karena buku digital merajalela

15 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.