Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mentakwil Pertarungan Politik di Tahun 2020

Imam Fawaid oleh Imam Fawaid
10 Februari 2020
A A
Mentakwil Pertarungan Politik di Tahun 2020
Share on FacebookShare on Twitter

Pemilu merupakan sebuah pesta masyarakat dengan sistem demokrasi sebagai bentuk peradabannya. Di samping itu pesta masyarakat sebenarnya awal dari pendidikan politik yang revolusioner dan bertujuan agar setiap individu mampu memberikan partisipasi politik yang pro-aktif sebagai bagian dari kumpulan elemen masyarakat. Namun ada beberapa hal yang menjadikan gagalnya politik sebagai pesta masyarakat beberapa akhir-akhir ini, salah satu contohnya adalah bagaimana kekacauan yang terjadi seperti operasi tangkap tangan (OTT) komisioner KPU. Ini adalah bukti bahwa kita sebagai bangsa masih memiliki penyakit yang tak kunjung sembuh yaitu impotensi sistem.

Plato seorang filsuf memiliki teori tentang kenegaraan maka dari itu ia merekomendasikan agar kekuasaan dipegang filsuf karena philosopher memiliki cakrawala pandang komprehensif untuk meringankan beban rakyat. Pasalnya, pemimpin filsuf diyakini bisa mengamalkan nilai-nilai falsafat negaranya.

Dalam konstelasi politik yang dibangun seharusnya mampu menanamkan kekuatan argumentatif dan implimentatif sebagai subsistem bahwa bangsa Indonesia dalam keadaan sehat dan memiliki integritas. Akibat kekacauan itulah banyak sekali paham-paham yang mengancam kedaulatan Negara Republik Indonesia mulai masuk dan berkembang. Sebab, kita sebagai negara tidak memiliki pola yang seragam di dalam menjaga pancasila sebagai philosofische grondslag dan demokrasi sebagai jalan pilihan kita.

Menuju pertarungan politik sebagai sarana berjalannya demokrasi

Demokrasi pemilihan umum yang berlandaskan pancasila ini perlu ada pembahasan yang lebih ilmiah lagi atau didiskusikan secara konstitusional. Sebab, bagaimanapun demokrasi ini adalah hasil kajian dan ide-ide dari berbagai pihak sejak runtuhnya rezim orde baru. Pasalnya, sejak rezim orde baru nilai-nilai demokratisasi dalam perjalanannya tidak di implimentasikan secara konsisten bahkan tidak berjalan sama sekali. Maka dari itu orde reformasi memiliki agenda besar terkait demokrasi sebagai landasan pemerintah negara, sehingga sampai hari ini pemilihan-pemilihan baik di tingkat regional maupun nasional masih melibatkan masyarakat untuk ikut andil dalam menjalankan pemilu sebagai representasi dari demokrasi. Dalam kegiatan tersebut sebenarnya sejalan dengan undang-undang yang disahkan Republik Indonesia No. 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.

Yang menjadi pertanyaan besar sebenarnya adalah, apakah demokrasi hari ini sesuai dengan substansi itu sendiri sebagai jalan yang disepakati bersama? Karena sudah jelas dan nyata, beberapa oknum tertentu yang mencoba mencederai kemurnian demokrasi. Hal tersebut biasanya dilatarbelakangi oleh potensi ilegal demi sebuah kemenangan kekuasaan: Adanya money politic, adanya ketidaktegasan KPU dalam menyelenggarakan pemilu, dan adanya kurang kesadaran masyarakat elite politik di dalam menegakkan nilai-nilai demokrasi. Upaya untuk menumbuhkan kesadaran politik adalah menggunakan sistem dialog dan kegiatan konstruktif, sehingga dapat meminimalisir manipulasi-manipulasi sistem.

Di tahun 2020 ini Indonesia memasuki era pertarungan politik yakni pertarungan pemilihan kepala dan wakil daerah. Di mana masyarakatnya diwanti-wanti untuk memilih (mencoblos) pasangan calon. Tentu dengan harapan pasangan calon yang terpilih nanti bisa menjalankan amanahnya sebagai leadership atau sebagai orang yang dikasih kepercayaan untuk menentukan peta wilayah yang dikuasai ke depannya. Tentu untuk mengawal jalannya demokrasi yang berlandaskan nilai-nilai pancasila ini tidak selesai hanya ketika pemilu saja, masyarakat juga harus terlibat aktif terkait kinerja pemerintahan.

Tidak hanya itu, masyarakat pinggiran atau masyarakat yang jauh dari peradaban pemerintahan tentunya sangat menginginkan pemerintah yang mampu menggunakan ­­insting pendengaran yang kuat untuk mendengar keluhan masyarakat itu sendiri. Hal ini mulai dari kesenjangan sosial, kemunduran ekonomi karena minimnya lapangan kerja, hingga sampai pada ketidakstabilan infrastruktur yang dialaminya. Supaya masyarakat benar-benar merasakan nikmatnya keharmonisan bernegara dan berbangsa Sehingga bunyi dari sila ke-4 cukup di implimentasikan secara institusional dan konstitusional

Jika masih terjadi ketimpangan-ketimpangan di tengah-tengah masyarakat maka mereka akan menyimpulkan bahwa calon yang terpilih telah gagal dalam menjalankan tugasnya. Hingga kemudian dengan kegagalan itulah masyarakat akan membuat barisan sebagai bentuk protes baik secara lisan maupun tulisan. Pandangan buruk masyarakat terhadap ketimpangan pemerintahan akan semakin masif.

Baca Juga:

5 Istilah di Jurusan Ilmu Politik yang Kerap Disalahpahami. Sepele sih, tapi Bikin Emosi

4 Salah Kaprah tentang Jurusan Ilmu Politik yang Sudah Terlanjur Dipercaya

Maka dari itu untuk mengantisipasi hal yang demikian adalah butuhnya kesiapan yang sangat matang, karena selain kita bisa mengawal kegiatan lima tahun sekali dengan baik juga dapat terhindari dari polarisasi-polarisasi kelompok dan masyarakat tidak terpecah-pecah menjadi beberapa bagian dan banyak kubu. Kontestasi pemilu yang menjadi tawaran bagi masyarakat adalah uji gagasan dan pandangan-pandangan yang mengarah kepada kestabilan kehidupan masyarakat. Maka dari tawaran alternatif itulah masyarakat dapat menilai pasangan calon secara signifikan.

Di samping itu, masyarakat dan elite politik harus membangun sinergitas bersama-sama tentu dengan visi-misi yang telah dirumuskan. Hal ini diharapkan mampu meredam polarisai-polarisasi kelompok yang mencoba menghadirkan isu fanatisme golongan. Karena era sekarang bukan zamannya lagi perbedaan itu menjadi dasar dari munculnya sikap fanatisme.

BACA JUGA Pesta Demokrasi Berujung Maut atau tulisan Imam Fawaid lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2020 oleh

Tags: DemokrasiKPUPilkadaPolitik
Imam Fawaid

Imam Fawaid

Alumni Pondok Pesantren Aqidah Usymuni Terate Sumenep, sekarang tercatat sebagai Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Lahir di Sumenep, 20-September-1999, Tulisannya pernah dimuat di Kabar Madura, Bangka Post, Padang Ekspres dan media massa lainnya. Juara 2 Lomba Cipta Puisi Nasional ( Rumah Literasi ) “ INDONESIA BEBAS NARKOBA “ 2017, Kontributor naskah terpilih Sastra Nasional ( An-Nuqoyyah ) 2018. Beberapa karyanya juga tergabung dalam beberapa antologi: Trauma 2017, Sekuntum Mawar Untukmu 2019, Menenun Rinai Hujan ( Bersama Eyang Sapardi Djoko Darmono ) 2019. Ia aktif di Komunitas Tikar Merah Surabaya, Aktif di Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PMII ) rayon Ushuluddin dan Filsafat, aktif juga di LPM Solidaritas Kampus, dan tercatat sebagai anggota BIDIKMISI UINSA.

ArtikelTerkait

Bisakah Kita Menikmati Musik Tanpa Peduli Pilihan Politik sang Musisi? (Pixabay.com)

Bisakah Kita Menikmati Musik Tanpa Peduli Pilihan Politik sang Musisi?

1 November 2022
Menghitung Berapa Kali Habib Rizieq Shihab Bisa Umrah Selama di Arab Saudi terminal mojok.co

Menghitung Berapa Kali Habib Rizieq Shihab Bisa Umrah Selama di Arab Saudi

8 November 2020
Eyang Habibie

Surat Untuk Eyang Habibie

27 September 2019
Ketimbang Usul SMK Jurusan Medsos, Mas Gibran Mending Bikin SMK Jurusan Martabak terminal mojok.co

Ketimbang Usul SMK Jurusan Medsos, Mas Gibran Mending Bikin SMK Jurusan Martabak

27 November 2020
Sudah Waktunya Susi Pudjiastuti Diperhitungkan sebagai Capres

Sebagai Orang yang Nggak Paham Politik, Saya Bingung Mau Pilih Capres yang Mana

16 Januari 2023
Glorifikasi Pemuda dalam Politik Indonesia: Anak Muda Memang Penting, tapi Anak Muda yang Gimana Dulu?

Glorifikasi Pemuda dalam Politik Indonesia: Anak Muda Memang Penting, tapi Anak Muda yang Gimana Dulu?

13 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

28 April 2026
Banyumas yang Semakin Maju Bikin Warga Cilacap Iri

Guyonan “Banyumas Ditinggal Ngangenin, Ditunggoni Ra Sugih-sugih” Adalah Fakta Buruk yang Dipaksa Lucu

27 April 2026
Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja Mojok.co

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja

26 April 2026
Kebumen Itu Cantiknya Keterlaluan, tapi Nggak Bisa Jual Diri (Unsplash)

Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri

27 April 2026
6 Tanda Penjual Nasi Ayam Semarang yang Harus Dikunjungi Lebih dari Sekali karena Rasanya Tidak Mengecewakan Mojok.co

6 Ciri Penjual Nasi Ayam Semarang yang Harus Dikunjungi Lebih dari Sekali karena Rasanya Tidak Mengecewakan

22 April 2026
Pemkab Bangkalan Madura Hanya Omong Kosong Mau Bikin Kabupaten Ini Layak Anak, Nggak Layak Sama Sekali! sumenep, pamekasan

Menerka Alasan Bangkalan akan Terus Berada di Bawah Sumenep dan Pamekasan, padahal Kawasannya Masuk Kota Metropolitan

28 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara
  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka
  • Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau
  • Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido
  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.