Onani Statistik Fans AC Milan Ketika Menolak Dybala Sebagai MVP Bulan Juli

Featured

Avatar

Ketika belajar menulis press release, pada titik tertentu, kamu pasti akan menemukan sebuah saran yang “nganu” banget. bunyinya begini: sebaiknya, ketika menulis press release, perbanyak penggunaan angka, statistik. Hmm…jangan-jangan, fans AC Milan ini adalah fans yang terlalu patuh sama saran menulis press release.

Kenapa harus diperbanyak penggunaan angka di dalam press release? Karena media menyukai angka. Bahkan, saya rasa, terlalu suka sampai jadi obsesi. Dan, tentu saja, media-media sepak bola sangat terobsesi sama penggunaan angka. Coba kamu tengok judul-judul berita terkait pemain besar.

Terutama ketika bicara soal rekor dan pencapaian. Bahkan ketika menggunakan kata ganti pun, angka yang dipakai. Misalnya, untuk mengganti kata “Lionel Messi” dipakai “pemain yang sudah memenangi 100 juta piala Ballon d’Or itu” atau “pemain asal Argentina yang pernah mencetak 100 gol di satu kalender olahraga.”

Angka, menjadi obsesi tersendiri. Angka yang besar seperti menjadi jawaban tunggal akan suatu penilaian. Pemain terbaik? Tetap saja dari siapa yang lebih banyak bikin gol. Bagi saya, penilaian seperti itu tidak adil, dear fans AC Milan tersayang.

Sepak bola sudah sangat berkembang. Aspek-aspek yang digunakan untuk menentukan si terbaik sudah sepatutnya juga ikut berkembang. Bukan lagi sebatas menggunakan berapa jumlah gol yang dicetak. Lagipula menentukan yang terbaik kok dari jumlah gol saja. Apa kabar pemain seperti Papu Gomez? Bagi saya, Papu Gomez adalah pemain terbak di Serie A musim ini. Maaf, fans AC Milan, no debat.

Intinya, angka tanpa konteks, adalah angka mati. Saya tidak bilang kalau angka-angka statistik itu tidak penting, ya. Angka statistik jelas penting. Namun, saran saya, selalu sertakan konteks ketika ingin membawa perihal angka ke delam perdebatan. Biar nggak kelihatan kalau fans AC Milan cuma onani angka saja. Duh, onani. Sudah 2020, masih “swadaya”? hehehe….

Baca Juga:  Wawancara dengan Presiden Lazio Indonesia: Tentang Loyalitas Laziale dan Optimis Dominasi Juventus Bakal Runtuh

Menurut saya, kriteria penilaian pemain terbaik yang dipakai Serie A sudah sangat benar. Otoritas liga tidak lagi mendasarkan si terbaik dari angka saja. Kalau Whoscored memilih Ibrahimovic sebagai pemain terbaik berkat kontribusi gol untuk AC Milan, ya tidak masalah. Namanya web statistik, lumrah pakai pakai kriteria seperti itu.

Nah, kriteria yang dipakai Serie A justru lebih fair. Kalau fans AC Milan bisa pakai google translate, saya sarankan baca penjelasan Serie A pelan-pelan. Setidaknya ada 5 kriteria yang bisa dikonsumsi publik. Apa saja?

Pertama, efisiensi penggunaan aspek teknis dan fisik. Kedua, seberapa sukses kontribusi pemain dalam alur permainan yang menyulitkan Juventus. Ketiga, kontribusi pemain di fase-fase menyerang, misalnya performa Dybala dalam situasi 1v1 yang punya nilai dalam fase mneyerang (bukan gol saja). Keempat, efisiensi pergerakan (manuver) di sepertiga akhir lapangan di mana Dybala mencapai efektivitas 97 persen. Kelima, kontribusi pemain di fase bertahan termasuk pergerakan tanpa bola dan aktivitas pressing di mana Dybala mencapai efektivitas 95 persen dibanding penyerang lainnya.

Kriteria yang jumlahnya ada 5 itu bukan dicatat dengan imajinasi saja. Serie A bekerja sama dengan Stat Perform Statistical Surveys. Sebuah aplikasi yang dipatenkan oleh K-Sport pada 2010. Aplikasi tersebut dikombinasikan dengan alat pendeteksi pergerakan yang dikembangkan oleh Netco Sport.

Lho, kalau begini, bukankah otoritas Serie A sudah sangat transparan terkait pemilihan pemain terbaik di setiap bulannya, dear fans AC Milan tercinta?

Ibra memang bermain sangat baik. Kontribusinya sangat besar terutama setelah kompetisi dimulai lagi. Salah satunya menjadi fragmen penting dari performa AC Milan, yang tidak terkalahkan. Namun, kriteria yang digunakan Serie A dan Whoscored itu berbeda. Nah, masalahnya, kan, sebetulnya ada di sana saja.

Baca Juga:  Enaknya Jadi Mahasiswa UNEJ di Tengah Pandemi

Biar adil buat fans AC Milan dan Juventus, begini saja: Ibra adalah pemain terbaik bulan Juli versi Whoscored. Sementara itu, Dybala adalah pemain terbaik bulan Juli versi semua orang selain fans AC Milan, ahh maaf, versi Serie A.

Masih sulit memahami kebijakan ini? Mungkin sepak bola bukan tontonan yang sehat buat fans AC Milan. Maaf, no offense ya.

BACA JUGA 8 Menit 46 Detik George Floyd Meregang Nyawa Adalah Sebuah Pengkhianatan dan tulisan Yamadipati Seno lainnya. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

 

---
7


Komentar

Comments are closed.