#2 Singkong keju D-9 matang berpeluang kehilangan harga diri saat dihadapkan durasi panjang
Singkong Salatiga itu beda dari buatan kota lain, apalagi kalau disandingkan dengan buatan pabrik. Singkongnya empuk dan bumbunya meresap sempurna. Namun, kalau dipaksakan menempuh perjalanan lebih dari lima jam, sebaiknya niat membawa pulang jajanan ini diurungkan.
Sebab, teksturnya bakal berubah jadi lembek. Belum lagi, minyaknya akan keluar dan keju parutnya ikut layu. Kalau sudah berubah seperti ini, selera makan bisa pergi. Cara mengakalinya, bisa dengan membeli varian frozen. Asal, jangan lupa penyimpanan juga kudu tepat dan disisipkan ice gel di dalamnya.
Baca juga 4 Oleh-Oleh Khas Malioboro Jogja yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Membeli.
#3 Kerupuk godril adalah musuh utama ruang bagasi
Kerupuk ini memang teman ideal buat pendamping makanan utama apapun. Dilihat dari segi nilai tukarnya, membeli oleh-oleh renyah tersebut sangat menguntungkan karena punya peran serba guna. Namun, percayalah, mengangkut kerupuk godril adalah cara instan memicu konflik di dalam mobil.
Masalahnya, bentuknya yang mengembang dan bungkus plastiknya yang menggembung bakal menjajah ruang bagasi yang seharusnya muat diisi koper. Nekat memboyongnya pulang, artinya wisatawan kudu memilih antara dua opsi sulit. Mau menikmati gurih kerupuk godril di rumah atau ingin duduk nyaman sepanjang perjalanan tanpa resah.
#4 Pahitnya kopi biji salak sanggup mengalahkan kenangan pahit bersama mantan
Biarpun visualnya mirip kopi kemasan pada umumnya, oleh-oleh Salatiga ini bukan terbuat dari biji kopi. Sebagaimana namanya, oleh-oleh tersebut berasal dari biji salak yang diproses sehingga bisa diseduh dan dikonsumsi. Sedihnya, walaupun inovasi ini terbilang jempolan, tapi profil rasanya bukan untuk semua orang.
Kalau terbiasa menyesap manis kekinian ala kafe, mending pendam saja hasrat buat menjajal kopi biji salak ini. Sebab, alih-alih mendapatkan sensasi kopi yang creamy, lidah justru akan dihantam rasa pahit kuat. Bahkan, lebih pahir daripada kopi americano yang biasa dijual di kafe-kafe. Membeli kopi biji salak untuk penikmat kopi basic dan kasual jelas bukan keputusan bijak.
#5 Keripik paru, oleh-oleh Salatiga yang butuh perjuangan
Sejatinya, keripik paru adalah salah satu kasta tertinggi oleh-oleh Salatiga. Bentuknya yang tipis dan digoreng kering menghasilkan rasa gurih yang lezat luar biasa. Namun, teksturnya yang kada kelewat kokoh, menuntut perjuangan ekstra dari rahang dan gigi supaya bisa dikonsumsi.
Alangkah melelahkan kalau dalam satu kemasan, hampir seluruh keripik paru di dalamnya seakan mengajak perang sebelum berhasil ditelan. Belum lagi, harganya terhitung lumayan. Satu bungkus keripik paru kecil berukuran 50 gram saja, bisa dipatok nyaris Rp20.000.m
Daftar di atas bukan dimaksudkan untuk menyebar teror, melainkan pengingat agar wisatawan nggak sembrono saat berbelanja oleh-oleh. Toh, esensi dari buah tangan adalah kegembiraan saat dinikmati bersama, bukan tumpukan tragedi yang berakhir di pojok dapur karena teksturnya sudah lebur.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 4 Oleh-Oleh Khas Bantul yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Dijadikan Buah Tangan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















