Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Ngobrol sama Mikrofon Podcast: Artis Pekok Nggak Usah Sok Bikin Podcast!

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
30 Mei 2020
A A
Ngobrol sama Mikrofon Podcast: Artis Pekok Nggak Usah Sok Bikin Podcast!
Share on FacebookShare on Twitter

Sebut saja Mas Penthol (29), seonggok mikrofon saksi biksu kebodohan-kebodohan artis yang menjawab pertanyaan yang tak kalah bodohnya pula. Di balik hinggar bingar invasi artis yang masuk dunia YouTube dan bikin podcast, Mas Pentol seakan menjadi kru yang sangat dibutuhkan. Ia bertugas mengeraskan, menjernihkan, dan mempertegas suara. Itu sama saja artinya tugas Mas Penthol adalah mengeraskan, menjernihkan, dan mempertegas argumen pekok beberapa artis dan influencer.

“Saya ini telah menekuni hal per-mikrofonan-an sepanjang hayat kehidupan saya (iyolah, bentukanmu wae mikrofon, mosok yo buat mandi hadeh, red),” katanya sambil mengelus tombol on-off yang membuat wajahnya semakin gahar.

Saya datang mewawancarai Mas Pentol berkat kegundahan hatinya lantaran artis yang hijrah ke YouTube apa-apa podcast, semua dijadikan podcast. Dilansir dari keterangannya, titik resahnya itu bukan pembatasan seseorang untuk berkarya, semua bebas untuk bikin podcast, tapi mbok ya o sesuai kapasitasnya.

Pembicaraan ini tentu juntrugnya adalah argumen-argumen sensasional dari para pesohor negeri yang makin hari makin bikin geleng-geleng kepala. Seperti Younglex, rapper kenamaan yang bisa menjadikan benda apa saja sebagai bait lirik perlawanan, malah ditanya mengenai pandemi corona. Pun, yang kini sukses dengan klarifikasinya, Indira Kalista, yang sempat mengeluarkan pernyataan nendank-nya.

Mas Penthol pun memiliki pendapat lain mengenai fenomena ini. Menurutnya, keheranan justru dituju pada pewawancara, mengapa hal tersebut ditanyai kepada orang yang sudah kelihatan pekok. “Jika narasumbernya misal seorang yang ahli dalam kesehatan, kemudian jawab ngawur mengenai kesehatan, nah itu kesalahan seutuhnya terletak pada si narasumber,” katanya dengan emosi.

Kemudian Mas Penthol melanjutkan, “Lha ini lho si Indira Indira siapa itu. Nggak tahu dari mana datangnya, gara-gara punya followers banyak, eh ditanya macem-macem. Nih, ya, asal kalian tahu, punya banyak followers itu bukan berarti bisa menjawab seluruh persoalan di dunia ini. Musahabah diri Anda, heyyy.”

Indira Kalista sendiri merupakan seorang beauty vlogger yang memiliki jumlah masa pengikut yang lumayan banyak. Dirinya juga seorang istri dari seorang influencer yang… begitulah. Ucapannya menjadi perbincangan kala ia mengatakan kalau corona itu B aja dalam podcast-nya Gritte Agatha.

“Ndasmuuu,” kata Mas Penthol ketika saya bilang hal ini seutuhnya kesalahan Indira Kalista. “Yang nanya juga salah. Ini siapa kok ditanya seputar corona? Dokter bukan, orang ahli dalam bidangnya bukan, artis juga belum, kan?”

Baca Juga:

Ketika Prabowo Bikin Rakyat Bertepuk Sebelah Tangan di Hari Valentine

Iklan Podcast Horor Sukses Bikin Saya Langganan Spotify Premium

“Tapi, Mbak Gritte pertanyaannya tidak merujuk langsung ke pendapatnya mengenai pandemi. Hanya seputar bagaimana kehidupan Mbak Indira menghadapi pandemi,” kata saya.

Raut wajah Mas Penthol yang tadinya masam, kini menjadi kusam. Ia seperti lagu Peradaban yang geramnya sampai ke bass. Dengan mengehentakkan tangan di meja, ia menjawab, “Sebelum video naik, ada tiga tahap untuk mikir. Pertama, sesi wawancara. Kedua, sesi editing video. Ketiga, otak bergerak untuk memikirkan bagaimana dampaknya ketika video ini di-upload.”

“Jadi yang salah tim Mbak Grittie?”

“Begini, Mas. Saya nggak paham, ya, bagaimana kerja tim dan komunikasi dengan Indira setelah selesai sesi ngobrol itu. Tapi, kalau wawancara profesional itu ya harus ngobrol lagi, bagian mana yang lulus sensor pribadi, mana bagian yang nggak boleh dinaikan. Semudah itu.”

Saya hanya menganggukan kepala. Mas Penthol malah mengeluarkan udud dan sebal-sebul. “Mas, maaf sebelumnya, nggak Puasa Syawal, po?” tanya saya dengan sopan.

“Astagfirullah!” ia langsung mentelengi rokoknya. “Eh, saya kan ikut komunitas Agnotis di Facebook, lupa saya, Mas, hehehe,” katanya melanjutkan sebal-sebul. Welah, baru sekarang saya lihat Agnotis nyebut dan lupa sama konsep batinnya.

“Lanjut nggih, Mas. Menurut Mas Penthol, bagaimana caranya menghentikan orang-orang pekok yang makin lama makin banyak yang keluar dari permukaan selama pandemi ini?” kata saya sambil ngelinting.

“Gampang,” kata Mas Penthol sambil melihat saya dengan yakin. “Nggak usah ada lagi artis-artis ndakik yang bikin podcast. Bukannya apa-apa, terkadang mereka ini nanya sesuatu yang nggak ia kuasai. Kalau blunder, yang kena malah narasumber yang sebelumnya hanya beauty vlogger atau rapper.”

“Tapi banyak podcast yang aman-aman saja seperti Raditya Dika membahas gang perdemitan. Kan Mas Radit bukan cenayang dan ahli perdemitan, tapi selama ini aman-aman saja. Itu bagaimana komentar Mas Penthol?”

“Saya sempat ngobrol sama Mas Sarithol (mikrofon podcast Raditya Dika, red). Sederhana saja, dia punya satu tim, yakni editor yang bisa mikir atau setidaknya bisa cut video yang nggak layak tayang. Bayangkan saja, Mas, semisal narasumber habis minum ciu bekonang, ngomongnya nguawur babar blas, lalu di-upload semua tanpa cut, kan buajilaaak!”

Mas Penthol pun ngikik kecil, kemudian melanjutkan argumennya, “Imbasnya apa, ya penonton mereka yang baru saja tumbuh jembut ini. Mereka akan menelan mentah-mentah (pendapat narasumber podcast ngawur, red), Mas.”

Mas Penthol yang masih menggebu pun melanjutkan kata-katanya tanpa memberi saya kesempatan, “Mungkin setelah dapat panggung lantaran kasus itu (kasus Indira Kalista, red), bisa saja orang ini diangkat jadi duta lidah keseleo. Kan ini negara komedi. Apa pun bisa selagi disikapi dengan ngawur.”

“Hmmm,” kata saya berdeham, agar diberi kesempatan nimpali. “Beberapa pekan lalu (17/05/2020, red), yang bersangkutan sudah menyatakan permohonan maafnya di podcast Dedy Corbuzier,” kata saya memancing supaya Mas Penthol makin muntab.

“HAH? HAHAHAHA~” ia tertawa begitu syahdu karena ada efek auto-tune di amandelnya. “Alurnya sama. Orang-orang pekok selalu diberi panggung.”

“Lho, niatnya kan minta maaf atas kesalahannya, Mas? Bahkan orang pekok pun berhak untuk minta maaf.”

“Heh kembang tebu! Setelah mengeluarkan statement pekok, namanya naik dan ribuan orang mencari tahu siapa sih dia ini. Termasuk saya! Lalu mampir di kanal-kanal media sosialnya. Mereka nonton kontennya. Ya, hitung-hitung menaikan traffic YouTube orang yang selalu kalian hujat. Satu sisi kalian hujat, sisi lain orang yang kalian hujat ini mendapatkan uang. Setelah klarifikasi? Berlipat ganda pula kebodohan kita menonton orang mbebeki minta maaf.”

Suara Mas Penthol semakin geram seperti Baskara Putra. Ia melanjutkan, “Dari jaman Atta Halilintar bikin prank ndakik pura-pura jadi miskin, lalu klarifikasi dengan memberikan adsense di mana-mana, apa yang diharapkan dari sebuah klarifikasi? Tunggu waktunya saja Ferdian Paleka keluar penjara dan jadi incaran artis-artis podcast untuk masuk ke acaranya.”

“Woh, meragukan seorang Master Deddy Corbuzier, nih? Tak andakke, ah.”

“Lho kok wadulan? Bukan begitu, Mas. Tapi alangkah baiknya artis-artis podcast seperti Master Deddy dan Mbak Gritte mengedepankan aspek hiburan saja. Ketimbang bahas pandemi, bisa disalah tangap sama otak para pendengarnya. Sering-sering mampir ke Podkesmas sama beberapa podcast tentang sepakbola di Spotify untuk menambah referensi. Membahas apa yang ia kuasai.”

“Kan pendengarnya Master Deddy itu Smart People? Mana mungkin terjadi miss dalam penyampaiannya kepada pendengarnya? Mas Penthol nggak mau kan di-grudug dan dijadikan konten?” kata saya nggodani Mas Penthol yang emosinya jadi ketakutan.

“Memukul rata para pendengarnya itu smart atau pekok sekalipun itu adalah kesalahan prinsipil yang harus dihindari para influencer dan artis terkenal. Karena ponsel kini siapapun bisa menyentuhnya, kuota internet sudah banyak yang menjual dengan murah. Toh, masuk video tersebut tidak pernah ada yang nanyai ‘kamu smart atau nggak? Dulu rank berapa? IPK berapa?’ Nggak, Mas, nggak ada! Semua bebas akses!” kata Mas Penthol sambil nunjuk-nunjuk saya.

“Sabar, Mas, sabar. Puasa,” kata saya menenangkan.

“Ya Allah, kenapa hamba begitu emosian begini,” Mas Penthol pun menepuk jidatnya dan menimbulkan suara ‘duk duk duk’ seperti bapak-bapak kompleks ngecek sound. Kemudian ia meminum kopi yang telah ia hidangkan untuk saya (pitikih?, red).

“Kok nyebut lagi toh, Mas? Katanya Mas Penthol ini Agnostik seperti Coki Pardede?”

“Ya Allah, lupa lagi saya, Mas.”

BACA JUGA Deddy Corbuzier, Vans, Ventela: Tentang ATM dan Mimikri demi Konten atau tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 31 Mei 2020 oleh

Tags: Deddy CorbuzierMikrofonpodcastprank
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Dear Baim Wong, KDRT Bukan Lelucon apalagi Dikomersilkan Terminal Mojok

Baim Wong Bikin Konten Prank Soal KDRT, Nggak Etis!

3 Oktober 2022
Deddy Corbuzier masuk islam

Deddy Corbuzier dan Lahirnya Tiga Golongan yang Membuat Kita Geleng Kepala

22 Juni 2019
Dear Konten Kreator, Tolong Jangan Buat Prank Amoral Lagi

Dear Konten Kreator, Tolong Jangan Buat Prank Amoral Lagi!

28 November 2019
Kurawa Berkicau, Najwa Shihab Berlalu: Membandingkan Najwa dengan Deddy Adalah Kesia-siaan

Kurawa Berkicau, Najwa Shihab Berlalu: Membandingkan Najwa dengan Deddy Adalah Kesia-siaan

25 September 2022
4 Alasan Deddy Corbuzier Harus Rombak Dekorasi Studio Podcast-nya terminal mojok.co

Deddy Corbuzier Harus Segera Rombak Dekorasi Studio Podcast-nya

17 September 2020
Deddy Corbuzier, Vans, Ventela: Tentang ATM dan Mimikri demi Konten terminal mojok.co

Deddy Corbuzier, Vans, Ventela: Tentang ATM dan Mimikri demi Konten

29 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Piyungan Isinya CEO Pakai Sandal Jepit Bawa Karung Rongsokan (Unsplash)

Saya Belajar Tentang Kebahagiaan di Piyungan, Tempat Para CEO Pakai Sandal Jepit dan Pegang Karung Rongsokan

7 Februari 2026
4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026
3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura Mojok.co

3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.