Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Media Sosial

Nasib Punya Pacar Buzzer Pemerintah Sedangkan Saya Adalah Fans Sandiaga Uno

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
1 Februari 2021
A A
Nasib Punya Pacar Buzzer Pemerintah Sedangkan Saya Adalah Fans Sandiaga Uno terminal mojok.co

Nasib Punya Pacar Buzzer Pemerintah Sedangkan Saya Adalah Fans Sandiaga Uno terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sungguh saya tak pernah menyangka bakal punya pacar seorang buzzer pemerintah.

Siapa yang nggak pengin punya hubungan bak Agus Mulyadi dan Kalis Mardiasih? Ya banyak, sih. Saya adalah kubu yang pengin seperti mereka. Entah itu sekadar ngguya-ngguyu, maupun apa saja yang mereka kerjakan untuk kehidupan. Ya memang, hidup itu sifatnya sementara, canda tawa adalah keabadian.

Selain penuh gelak tawa, mereka adalah contoh baik untuk kawula muda yang baru pacaran. Yah jika boleh berlebihan, hubungan mereka adalah sebaik-baiknya hubungan. Apalagi saya telah tuntas membaca Sebuah Seni untuk Memahami Kekasih yang merupakan kumpulan esai Gusmul untuk Kalis.

Purna sudah kisah mereka di mata saya, walau penuh dengan pisuhan kolektif yang bikin saya merenung: apakah puncak kasih sayang itu bukan kejutan, melainkan sebuah miniatur Srimulat dalam rumah tangga? Ah, saya nggak tahu dan nggak mau jadi sok tahu.

Terpenting hubungan mereka itu adalah kiblat bagi saya dengan pokok pikiran begini, carilah pasangan yang membuatmu jadi dirimu sendiri. Itu.

Saya punya pacar lucu sekali dan senang berlari-lari, walau namanya bukan Heli. Nggak mungkin ia seperti Kalis Mardiasih, pun saya nggak mungkin jadi Agus Mulyadi dalam kehidupannya.

Kami bertemu di Terminal Mojok. Bersama dia, saya jadi diri sendiri, tapi nggak tahu bagaimana dengan dia. Semoga saja iya. Kalau belum pun nggak masalah, masih ada hari berikutnya untuk berusaha.

Hubungan kami penuh canda tawa. Lha wong pas saya boncengin, dengan ndlogoknya pacar saya meluk dari belakang dan cekelan wudel saya. Saya geli, dia nggak sadar. Setelah saya ingatkan bahwa yang ia pegang itu wudel, kami tertawa luar biasa di perempatan Taman Siswa.

Baca Juga:

Derita Lulusan Cumlaude S1 Informatika, Berharap Lulus Bisa Jadi Top Hacker Malah Nyasar Bekerja Menjadi Buzzer

Isu Ijazah Jokowi Palsu Adalah Isu Goblok, Amat Tidak Penting, dan Menghina Kecerdasan, Lebih Baik Nggak Usah Digubris!

Ngguya-ngguyu memang selalu terjadi, tapi nggak dengan pemikiran kami. Blaaas pikiran kami berbeda. Bayangan utopi tentang Gusmul dan Kalis yang selalu satu frekuensi, sirna sudah. Kalau perihal pandangan hidup, ya itu nggak masalah. Barangkali wajar. Yang berbeda dari kami itu bersifat amat otonom, yakni pandangan politik. Wah, pancen ciloko mencit.

“Mas, dulu aku pernah jadi bagian suksesnya Jokowi jadi presiden lagi,” begitu katanya suatu hari di atas motor. Sebagai manusia yang selalu beroposisi dengan kaffah, saya kaget setengah mati lantaran pacar saya ini jebul orang yang selama ini saya hindari. Iya, dia jadi bagian buzzer pemerintah.

“Lha kok bisa kamu jadi buzzer? Kan kamu nggak digaji sama istana? Lha wong belanja aja masih pake Shopee PayLater,” tanya saya. Tak tebak ia sedang mrengas-mrenges di balik maskernya. Dia menjawab, katanya blio dipilih jadi pembaca deklarasi dukungan kepada Jokowi – Ma’ruf kala berkampanye di Yogyakarta.

Di kosnya, ia memperlihatkan video bagaimana moncernya memuluskan langkah Jokowi mengeruk massa di Yogyakarta. Ia menggunakan baju 01, berdiri di dekat Jokowi. Wah, cilaka dua belas, jebul dia nggak lagi bercanda!

Di video itu langkahnya ia tegap-tegapkan. Pembacaan deklarasi dimulai, dengan suara lantang dan saya yakin ia buat-buat. Kemudian pacar saya ini membaca poin demi poin dengan nada yang mengancam. Jika di oposisi ada Neno Warisman, di tubuh petahana ada bribikan saya. Alias mereka sama-sama medeni.

“Lha wong cuma bacain deklarasi janji pendukung Jokowi, kok. Nggak ikut orasi atau apa,” katanya dengan merendah tapi ada tendensi menyombongkan diri.

Dengan sedikit kesal, saya nimpali, “Membaca deklarasi itu kamu dalam kondisi sadar nggak?” Bukannya dijawab, ia malah tertawa. Lantas saya melanjutkan, “Kamu emang sudah tahu isi dan maksud tujuan dari deklarasi itu? Betapa beratnya menanggung semua beban aspirasi masyarakat Jogja?”

Ia hanya tertawa. Sebagai manusia yang selalu beroposisi, saya muntab juga. Bajingan i, begitu batin saya. Dengan nada kesal, saya bertanya lagi, “Kamu dikasih apa setelah baca deklarasi?”

“Nasi bungkus!” Jawabnya dengan cepat dan tawa merambat lamat-lamat.

Video itu justru mengangkat perihal luka lama saya yang belum bisa disembuhkan. Ini lho, saya punya hati dan perasaan, sebagai oposisi yang melakukan usaha dengan total, Prabowo merusak perasaan saya yang paling tulus untuknya.

Ingat betul kala Prabowo menyilangkan langkah dan masuk ke kubu istana. Duh biyung, rasanya lebih sakit ketimbang ditolak perempuan. Hati saya mencelus hebat, saya mengurung diri di kamar, nggak mau keluar. Lha gimana mau keluar, jika muaranya bakal jadi bahan bully-an kawan-kawan di cakruk.

Desa saya ini kandang banteng jhe. Politik desa itu lebih pelik lantaran ini urusan person to person, bukan kubu to kubu. Jadi, semisal satu person mengalami kesalahan, ya targetnya person itu, bukan pemikiran, pun bukan orientasi politik.

Saya masih menyimpan luka itu rapat-rapat. Nggak pernah saya ceritakan. Ha edan po saya ceritakan bahwa dulu saya selalu berdebat dengan petahana, jadi buzzer Twitter secara gratis, ikut kampanye tiap jadwal Gerindra muterin Jogja. Eh, lah dalah jebul Prabowo yang saya dukung masuk ke tubuh istana.

Sudah. Selesai. Saya pulang dari kosnya dengan perasaan paling berkelindan sepanjang hajat hidup saya. Gusmul dan Kalis hanya jadi bayang-bayang dan angan-angan. Love hate relationship antara saya dan pacar tumbuh bak eceng gondok di musim penghujan.

Suatu hari yang paling gaduh di jagat perpolitikan nasional, perasaan saya jadi nggak enak. Sandiaga Uno, ikut membantu Gibran Rakabuming di daerah kontestasinya. Pun dengan Bobby Nasution, tandem dengan Djarot Saiful Hidayat sebagai timses. Jyaaaan jembut! Saya nggak siap jika kehilangan Bro Sandi dari kubu oposisi.

Benar saja, di hari Rabu dalam penanggalan Pon paling kelam, Jokowi me-reshuffle jajaran menterinya. Sandiaga Uno naik jadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggantikan Wishnutama. Potek hati ini.

Pacar saya lantas telepon, bilang sesuatu yang mengganggu pertahanan politik saya yang paling prinsip, “Gimana? Giliran kamu nyebrang ke istana kapan, nih?” Gembus! Wes to, saya serba salah, bales ngejek sebenarnya bisa, tapi ibarat ratu catur yang sudah di himpit oleh bidak lawan, yakni skak mat!

Gusmul dan Kalis pun berputar di kepala saya. Semakin kami mencari hal ideal, semakin pula kami menjauhinya. Mungkin dengan adanya isu-isu nasional, ke-ndlogokan pemerintah, dan betapa prematurnya oposisi, membuat hubungan kami makin penuh dengan suka cita—dan juga pisuhan tentunya.

Geger gedhen! Lebih gede dari geger-nya Dokter Tirta di depan Sardjito. Sudah Prabowo, Uno, sekarang pacar saya sendiri. Kombo!

BACA JUGA Pengalaman Jadi Buzzer Produk Sukses di Twitter dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2022 oleh

Tags: buzzerJokowisandiaga uno
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

jokowi marahin menteri pandemi corona

Jokowi Marah Bersama Rakyat Indonesia: Sebuah Kolaborasi Mantap, Meskipun Terlambat

30 Juni 2020
jokowi benci produk luar negeri mojok

Pak Jokowi Ajak Benci Produk Luar Negeri dan Rakyat Menunggu Giveaway Gucci

5 Maret 2021
Combo Nggak Tahu Diri dan Nggak Tahu Malu Gubernur Lampung (Unsplash)

Yang Nggak Tahu Diri Gubernur Lampung, tapi Kenapa Saya yang Malah Malu, ya?

7 Mei 2023
kabut asap

Kalap Berkat Kabut Asap

19 September 2019
dokter tirta jokowi kerumunan protokol mojok

Dokter Tirta Benar, Presiden Jokowi Memang Nggak Mungkin Salah, apalagi Kena Sanksi

27 Februari 2021
Pengalaman Jadi Buzzer Produk di Twitter dan Memahami Polanya terminal mojok.co

Pengalaman Jadi Buzzer Produk Sukses di Twitter

4 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya Mojok.co

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya

16 Maret 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Tinggal di Wonogiri Menyadarkan Kenapa Saya dan para Perantau yang Lain Memilih Mengadu Nasib di Kota Lain

19 Maret 2026
KA Sri Tanjung, Juru Selamat yang Bikin Menderita para Pekerja (Wikimedia Commons)

KA Sri Tanjung Adalah Juru Selamat Bagi Kaum Pekerja: Tiketnya Murah dan Nyaman tapi Bikin Menderita karena Sangat Lambat

18 Maret 2026
Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

16 Maret 2026
Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.