Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Nasib Pengangguran: Cari Kerja Susah, Dagang Nggak Bisa, di Rumah Aja Nyusahin Orang Tua

M. Novian Arifin oleh M. Novian Arifin
12 April 2020
A A
mahasiswa selesai kompre, pengangguran

Nasib Pengangguran: Cari Kerja Susah, Dagang Nggak Bisa, di Rumah Aja Nyusahin Orang Tua

Share on FacebookShare on Twitter

Di saat pandemi, pengangguran kayak saya jadi serba salah. Nyari kerja makin susah, dagang sepi, di rumah aja jadi beban orang tua.

Sebenarnya sebelum ada virus ini, saya masih bekerja di luar kota. Saya memutuskan untuk pulang dari resign dari pekerjaan setelah ditugaskan di wilayah lain tapi tidak ada tunjangan transportnya. Selain itu saya juga mikir pengin fokus buat nyoba tes CPNS.

Jika dihitung, sudah lewat 3 bulan saya jadi pengangguran di rumah dan masih berusaha mencari cari kerja. Sudah segala cara saya coba. Muladi dari sebar lamaran dengan amplop coklat, ngirim email tiap hari, sambil cari-cari info lowongan lain dari teman dan kerabat.

Dulu saya sering dengar kalau mencari pekerjaan itu mudah. Yang bikin susah adalah ketika kita tidak merasa cocok dengan pekerjaannya lalu menolaknya. Saya rasa kata-kata itu salah. Mencari kerja itu susah. Apalagi untuk orang yang umurnya 24-30 tahun. Karena bekerja itu bukan lagi soal cari kegiatan, asal tidak nganggur di rumah, dan merasa puas dengan pendapatan berapa pun—yang sebenarnya untuk makan dan transport saja habis. Ada banyak hal yang jadi pertimbangan sehingga menjadi selektif terhadap pekerjaan juga dibutuhkan.

Saya bisa saja misal, menerima tawaran teman, sahabat, atau kerabat untuk mengajar di sebuah sekolah dasar dengan gaji Rp300 ribu, tapi ya apa itu bakal cukup untuk membayar kebutuhan saya? Kan tidak.

Di saat pandemi seperti ini, mau jadi pedagang juga susah. Warung-warung sekarang sepi soalnya orang-orang tidak berpergian ke mana-mana. Di saat yang bersamaan, banyak berita soal karyawan yang diPHK, artinya, yang mencari pekerjaan akan semakin banyak juga.

Saya sempat bertanya pada teman yang dulu jadi rekan kerja pas jadi HRD di sebuah perusahaan soal apa perusahan akan melakukan rekruitmen pegawai kalau situasi kayak gini? Teman saya menjawab “masih, proses rekruitmen dari perusahaan tetap jalan”.

Iya sih, memang tetap jalan, info-info loker juga masih bertebaran di group facebook, group WA, Instagram dan kadang juga dapat dari kiriman teman. Kalau kita melamar tapi tidak diterima, mungkin itu artinya bukan kita yang dibutuhkan HRD di sana.

Baca Juga:

Derita Jadi Lulusan PPG: Statusnya Saja Guru Profesional, tapi Cari Kerja Tetap Susah

Enaknya Jadi Fresh Graduate di Jogja: Nggak Takut Dicap Pengangguran karena Sibuk Ikut Forum Diskusi

Teman saya sampai bilang gini, “aku wes pasrah gaes, sering diundang interview, tapi bar iku gak enek kabar”. Di bela-belani kudanan, motoran dewe, ikut tes berjam-jam, ujung-ujunge gak di tompo”(di bela-belain kehujanan, motoran sendirian, ujung-ujungnya tidak diterima).

“Ehh ngertio, aku wingi bar interview online (eh perlu kamu tau, aku kemarin barusan interview online). Jadi, wawancara lewat video call dan itu pun harus berpakaian rapi. Tapi, wes seminggu iki, kok gak enek kabar neh yo. (tapi, sudah seminggu ini, kom tidak ada kabar ya).”

Mendengarnya nyesek juga sih dan seakan menjadi suara hati selama ini. Yang jadi pertanyaan saya, apakah kami para pengangguran masih punya kesempatan? Atau sebaiknya kami diam saja sampai pandeminya mereda?

Apa pun jawabannya, kayaknya tetap bakal jadi dilema. Akhirnya saya cuma bisa merenungi perkataan ibu yang bilang:

“Piye maneh le, situasine koyo ngene. Sing wes kerja iku ya bingung, mergo penghasilane menurun. Sing gung kerjo iku yo bingung mergo gaoleh nengdi–nengdi samar kenek virus corona. Ya, sing sabar sek ae. Mugo–mugo situasine ndang normal maneh” (Bagaimana lagi nak, situasinya memang sepertu ini. Bagi yang sudah kerja itu bingung, karena penghasilannya menurun. Bagi yang belum kerja juga bingung, karena tidak boleh kemana-mana khawatir kena virus corona. Ya, yang sabar duku saja. Semoga saja situasinya segera normal lagi).

Melihat jalanan yang sepi, warung-warung dan toko pada tutup, seakan memberi gambaran bahwa kesempatan kerja untuk saat ini masih tertutup pula. Sedikit bersyukur aku tinggal di desa, tidak di kota-kota besar seperti Surabaya maupun Jakarta. Meski kemudian kembali khawatir karena daerahku menjadi zona merah setelah ada 2 pasien yang meninggal karena virus corona ini.

Situasi ini memang kali pertama terjadi, kali pertama orang-orang di rumah saja, kali pertama pula saya jadi pengangguran lebih dari tiga bulan. Semoga ini jadi pertanda baik, karena sesuatu yang indah juga akan melalui rasa sakit dan kecewa.

BACA JUGA Kapitalisme Membuat Kita Tidak Bisa Menjadi Manusia dan Pengangguran di Saat Bersamaan atau tulisan M. Novian Arifin lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 November 2021 oleh

Tags: pandemi coronaPengangguranvirus corona
M. Novian Arifin

M. Novian Arifin

Seorang yang bilang tua, meski sering merasa jadi pemula.

ArtikelTerkait

laporcovid-19 vaksinasi covid-19 vaksin nusantara indonesia lepas pandemi ppkm vaksin covid-19 corona obat vaksin covid-19 rapid test swab test covid-19 pandemi corona MOJOK.CO

Vaksin Covid-19 Butuh Waktu Lama untuk Dibuat: Penjelasan Sederhana

21 Juli 2020
Batas Usia Lowongan Kerja Wajib Dihapuskan, Nggak Ada Manfaatnya dan Bikin Susah Pencari Kerja!

Batas Usia Lowongan Kerja Wajib Dihapuskan, Nggak Ada Manfaatnya dan Bikin Susah Pencari Kerja!

15 Januari 2024
Setelah Banyak Kekecewaan, Melihat Politisi Baik Rasanya Aneh terminal mojok.co

Epidemi Virus Corona dan Ketimpangan di Sekitarnya

17 Maret 2020
Pengalaman Menyenangkan Selama Lockdown di Desa Konoha

Pengalaman Menyenangkan Selama Lockdown di Desa Konoha

26 Maret 2020
naik krl

Berjibaku Naik KRL di Bawah Bayang-Bayang Virus Corona

13 Maret 2020
Cerita Prihatin yang Mungkin Dipahami Pedagang Pinggir Jalan Ketika Hujan terminal mojok.co

Kebiasaan ‘Noleh Tonggo’ Masyarakat Desa Saat Dapat Bantuan Pemerintah

21 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
4 Hal yang Harus Penumpang Ketahui tentang Stasiun Duri, Si Paling Sibuk dan Melelahkan se-Jakarta Barat

Stasiun Duri Lebih Bikin Stres dari Manggarai: Peron Sempit, Tangga Minim, Kereta Lama Datang

9 April 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026
Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga Mojok.co

Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga

9 April 2026
Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.