Sederhana tapi terasa nikmat
Kalau diingat-ingat, memang saya tidak pernah melihat keluarga yang ditinggalkan, masak asal-asalan. Waktu mas ipar saya meninggal dunia, orang tuanya menyajikan bahan masakan berlimpah agar mendapatkan makanan yang lezat. Atau waktu tahlilan mbah saya dari ayah, keluarga juga menyediakan bahan masakan berlimpah.
Makanya tidak mengherankan, meski nasi tahlilan lauknya sederhana, tapi rasanya tetap terasa maknyus. Soalnya semewah apa pun lauknya kalau bumbunya ala kadarnya, masakannya akan terasa biasa saja.
Baca juga: Nasi Berkat Bungkus Daun Jati Terbaik, tapi Mulai Langka Tergerus Zaman.
Atau kalau mau dicari alasan yang lebih rasional, kenapa nasi berkat tahlilan rasanya nikmat? Soalnya dibungkus dalam waktu lama. Dari pengalaman saya, nasi berkat tahlilan dibungkus H-1 jam sebelum acara dimulai.
Ketika nasi dan lauk dibungkus dalam waktu yang lama, maka akan terjadi proses penyatuan antara nasi, lauk, dan bumbu. Proses itu terjadi secara alamiah karena uap nasi yang panas menjadi tertahan. Sehingga kelembaban yang terjadi di dalamnya membuat bumbu menyebar dan meresap. Alhasil, nasinya lebih beraroma karena tercampur dengan bumbu dan ikannya tambah gurih karena bumbunya makin meresap.
Persis seperti nasi Padang yang dibungkus. Kata Deddy Corbuzier, nasi padang yang dibungkus dan dibiarkan dulu, rasanya lebih nagih. Saya pernah mencobanya, membiarkan nasi Padang yang dibungkus beberapa jam. Alhasil, rasanya lebih nendang karena bumbunya sudah tercampur ke nasi dan meresap ke ikannya.
Ternyata segala yang nikmat, tidak selalu lahir dari hal-hal yang mahal dan istimewa. Ketulusan dan membiarkan yang lahir dari alam bekerja dengan alamiah, menjadikan yang sederhana akan terasa nikmat.
Penulis: Akbar Mawlana
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA 5 Lauk yang Secara Misterius Selalu Ada di Berkat Tahlilan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















