Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Luar Negeri

Nama Orang Jepang: Cukup Dua Kata, Tanpa Gelar

Primasari N Dewi oleh Primasari N Dewi
26 Mei 2022
A A
Nama Orang Jepang Cukup Dua Kata, Tanpa Gelar Terminal Mojok

Nama Orang Jepang Cukup Dua Kata, Tanpa Gelar (John Chica/Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Di Indonesia, berita soal penerbitan Permendagri Nomor 73 Tahun 2022 tentang Pencatatan Nama Pada Dokumen Kependudukan cukup menghebohkan. Dalam peraturan tersebut, disebutkan bahwa nama orang Indonesia sekarang tidak boleh bermakna negatif dan multitafsir, jumlah huruf paling banyak 60 karakter dan paling sedikit dua kata. Itu kan peraturan soal pemberian nama di Indonesia. Gimana kalau peraturan soal pemberian nama di Jepang? Apakah orang Jepang juga memiliki aturan dalam hal pemberian nama ini?

Seperti yang kita ketahui selama ini, nama orang Jepang terlihat lebih simpel. Sebut saja Uzumaki Naruto, Nohara Shinosuke, atau Nobi Nobita. Semua cukup dua kata. Sangat sederhana. Selain itu, pencantuman gelar di dokumen kependudukan seperti kartu asuransi, dll. di Jepang tidak berlaku. Jadi, tidak ada tuh Profesor di Jepang yang mencantumkan gelarnya di kartu identitas mereka. Akan tetapi, bagi perempuan Jepang, perihal nama ini memang agak ribet. Lantaran terkadang perempuan Jepang harus berganti nama mengikuti nama suaminya. Lantas, bagaimana nama orang Jepang dan perubahannya ketika sudah menikah?

Nama keluarga (myouji)

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, nama orang Jepang umumnya terdiri dari dua kata saja, yakni nama keluarga dan nama diri. Sebenarnya, ada aturan dalam pemberian nama orang di Jepang ini seperti yang tercatat dalam Undang-undang Daftar Keluarga. Dalam aturan tersebut, disebutkan bahwa nama anak di Jepang harus menggunakan karakter biasa. Karakter yang dimaksud adalah huruf kanji. Seperti yang kita ketahui, nama orang Jepang bisa ditulis dalam huruf kanji (atau huruf hiragana).

Sementara untuk nama keluarga, umumnya terdiri dari dua kanji sederhana, misalnya nama keluarga Tanaka (田中) yang terdiri dari kanji Ta (田) dan Naka (中). Namun, ada juga nama keluarga yang hanya memakai 1 huruf kanji, misalnya 一 (dibaca Ninomae), 九 (dibaca Ichijiku), dan 皇 (dibaca Sumeragi). Selain itu, ada juga yang memakai 3 huruf kanji (misalnya 神来社 dibaca Karaito, 御手洗 dibaca Mitarai), 4 huruf kanji (misalnya 勅使河原 dibaca Teshigawara, 大豆生田 dibaca Oomameuda), dan yang paling banyak 5 huruf kanji (misalnya 左衛門三郎 dibaca Saemonzaburou, 勘解由小路 dibaca Kadenokouji). FYI, orang Jepang yang memakai nama keluarga seperti Saemonzaburou dengan 5 karakter huruf Kanji hanya sedikit jumlahnya, totalnya 10 orang saja di seluruh Jepang.

Ilustrasi keluarga Jepang (Shutterstock.com)

Meski jumlah huruf kanji ada sekitar 2.000 buah, tidak semua bisa dipakai menjadi nama keluarga. Biasanya huruf yang dipakai berhubungan dengan alam, tapi tak menutup kemungkinan kanji jenis lain juga digunakan. Di beberapa daerah tertentu, ada nama keluarga tertentu yang sangat populer. Hal ini biasanya berkaitan dengan sejarah. Beberapa nama keluarga yang sangat populer dan masuk ranking 10 besar di seluruh Jepang antara lain Satou, Suzuki, Takahashi, Tanaka, Watanabe, Itou, Yamamoto, Nakamoto, dan Katou. Setidaknya ada sekitar 300 nama keluarga yang sering dipakai oleh orang Jepang dari setidaknya 300.000 nama keluarga sejak zaman dulu sampai sekarang. Mereka juga memiliki data nama keluarga yang terbanyak di masing-masing prefektur, lho.

Tak hanya orang Indonesia yang punya nama nyeleneh, di Jepang juga ada nama keluarga yang unik. Nama unik ini misalnya saja berhubungan dengan nama sayuran dan makanan seperti Yaoya (toko sayur), Su (acar), Shouyu (kecap asin), Izakaya (tempat minum sake), Shoumen (sejenis mi tipis), dll. Ada juga orang Jepang yang menggunakan nama kota seperti Tokyo dan Pekin sebagai nama keluarga mereka. Unik, ya?

Nama diri (namae)

Setelah nama keluarga, ada nama diri sendiri. Nama keluarga merupakan nama turunan dari pihak laki-laki (ayah), sementara nama diri sendiri biasa merupakan nama yang diberikan oleh orang tua.

Beberapa nama diri sendiri yang cukup populer di Jepang sekarang ini antara lain Ren, Haruto, Aoi (untuk anak laki-laki), Himari, Tsumugi, Rin (untuk anak perempuan), dsb. Nama-nama ini sebenarnya telah mengalami perubahan dari nama orang Jepang pada tahun 1950-an. Dulu, nama anak laki-laki di Jepang biasanya berakhiran ~rou (misalnya Ichirou, Jirou, Saburou, dll.) dan nama anak perempuan biasanya berakhiran ~ko (misalnya Tomoko, Akiko, Masako, dll.)

Baca Juga:

Muak 30 Tahun Menyandang Nama Acep Saepulloh karena Sering Diejek “Abdi Kasep Sumpah Demi Allah”

Akibat Menyandang Nama Aneh, Seumur Hidup Nama Saya Dikira Typo: Sekali Lagi, Saya Dinas, Bukan Dimas!

Nama anak-anak di Jepang sekarang lebih bervariasi (Shutterstock.com)

Sementara di era modern, orang Jepang sepertinya tidak ingin menunjukkan perbedaan gender dari namanya. Bahkan nama Aoi juga cukup populer untuk anak perempuan. Jadi, ketika ada nama Watanabe Aoi, kita belum bisa menebak apakah si empunya nama laki-laki atau perempuan. Beda dengan zaman dulu di mana seseorang bernama Watanabe Tomoko ya sudah pasti seorang perempuan, sedangkan Watanabe Ichirou ya sudah pasti seorang laki-laki.

Nama setelah menikah

Agak berbeda dengan Korea Selatan, nama keluarga suami atau istri di Jepang harus diubah mengikuti nama keluarga pasangannya. Kalau di Korea Selatan, nama istri tetap dan nama anak akan mengikuti nama ayahnya. Di Jepang, anak harus mengikuti nama keluarga yang sudah ditentukan. Hampir 96% istri mengikuti nama keluarga suaminya setelah menikah, dan sisanya 4% suami mengikuti nama keluarga istrinya.

Kebayang kan kalau dalam suatu keluarga Jepang anaknya perempuan semua, berarti berakhir dong nama keturunannya? Nah, oleh karena itulah ada juga suami yang ikut nama istrinya dengan alasan ini. Alasan lainnya biasanya ada bisnis keluarga yang harus diteruskan. Dilematis sekali ya perihal sistem nama orang Jepang ini. Dari sini terlihat sekali sistem patriarki yang masih sangat kental di Jepang.

Ikut nama keluarga pasangan (Cowardlion/Shutterstock.com)

Setelah menikah, seseorang harus segera mendaftarkan diri ke kantor urusan kependudukan (mungkin sama seperti disdukcapil kalau di Indonesia) untuk mengurus penggantian nama, alamat, kartu asuransi, kartu keluarga, pindah rumah, paspor, dll. Agak ribet sih, tapi memang harus segera dilakukan agar urusan ke depannya lebih mudah.

FYI, yang paling unik dan mengesalkan dari kisah perubahan nama orang di Jepang ini adalah ketika sepasang suami istri bercerai. Si perempuan yang sudah mengganti namanya ke nama suami “terpaksa” harus kembali ke nama keluarganya. Saya pernah punya teman di Jepang yang nama keluarganya berbeda dengan nama keluarga anak-anaknya. Ternyata, dia sudah berpisah dengan suaminya dan kembali menggunakan nama keluarga awalnya.

Di Jepang sendiri tidak ada perubahan akte kelahiran dan dokumen lainnya karena perubahan nama setelah menikah ini, ya. Orang Jepang punya semacam sertifikat yang dinamakan Certificate of All Records (Certificate of Family Register) yang mencantumkan semua perubahan kependudukan mereka, termasuk saat menikah dan bercerai.

Begitulah kira-kira perihal nama orang Jepang. Memang terlihat simpel, tapi ternyata ada ribetnya juga. Tapi, masih lebih ribet nama orang Indonesia nggak, sih?

Penulis: Primasari N Dewi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Panduan Memberi Nama Anak yang Baik dan Benar. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 26 Mei 2022 oleh

Tags: namaorang jepang
Primasari N Dewi

Primasari N Dewi

Saat ini bekerja di Jepang, menjalani hari demi hari sebagai bagian dari proses belajar, bertahan, dan berkembang.

ArtikelTerkait

6 Hal yang Sebaiknya Nggak Ditanyakan ke Orang Jepang Saat Pertama Kali Kenalan Terminal Mojok

6 Hal yang Sebaiknya Nggak Ditanyakan ke Orang Jepang Saat Pertama Kali Kenalan

19 Februari 2022
Panduan Memberi Nama Bayi Biar Nggak Nyusahin Banyak Pihak Terminal Mojok

Panduan Memberi Nama Bayi Biar Nggak Nyusahin Banyak Pihak

17 Desember 2020

Nama yang Tak Identik dengan Suku, Bikin Bingung Masuk Komunitas Daerah Asal

24 Mei 2021
Hanya karena Nama Terkesan Feminim, Saya Sering Disangka Perempuan

Hanya karena Nama Terkesan Feminin, Saya Sering Disangka Perempuan

13 Maret 2020
Orang Jepang dan Kegemarannya Baca Buku Terminal Mojok

Orang Jepang dan Kegemarannya Baca Buku

16 Januari 2022
Panduan Ngomong Bahasa Jepang Bagi Pemula yang Pengin Kenalan Terminal Mojok

Panduan Ngomong Bahasa Jepang bagi Pemula yang Pengin Kenalan

12 Januari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perjalanan ke Pati Lewat Pantura Bikin Heran: Kudus Sudah Mulus, Demak Masih Penuh Lubang

Perjalanan ke Pati Lewat Pantura Bikin Heran: Kudus Sudah Mulus, Demak Masih Penuh Lubang

26 Februari 2026
Dosa Penjual Oseng Mercon, Makanan Khas Jogja Paling Seksi (Wikimedia Commons)

Dosa Penjual Oseng Mercon Menghilangkan Statusnya Sebagai Kuliner Unik, padahal Ia Adalah Makanan Khas Jogja Paling Seksi

23 Februari 2026
Wuling Confero 2019: Mobil Keluarga Terjangkau, Enak, tapi Harga Bekasnya Jatuh Bebas

Wuling Confero 2019: Mobil Keluarga Terjangkau, Enak, tapi Harga Bekasnya Jatuh Bebas

1 Maret 2026
Rujak Cingur, Makanan Aneh Surabaya yang Paling Nggak Disarankan untuk Pendatang Mojok.co

Rujak Cingur, Makanan Aneh Surabaya yang Paling Nggak Disarankan untuk Pendatang

26 Februari 2026
Mari Mengenal Salah Satu ‘Keajaiban’ dalam Hidup: Compounding

Mari Mengenal Salah Satu ‘Keajaiban’ dalam Hidup: Compounding

25 Februari 2026
Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

25 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.