Musik Metal Bukan Hanya Soal Vokalis yang Berteriak – Terminal Mojok

Musik Metal Bukan Hanya Soal Vokalis yang Berteriak

Artikel

Memangnya musik metal itu hanya melulu distorsi gitar dan vokal serak? Banyak band-band di luar sana yang tidak hanya menyuguhkan riff-riff yang gahar, mereka juga menyempurnakan kreasi mereka menjadi sesuatu yang indah.

Sebagai seorang penggemar musik metal, sah-sah saja kalau saya di sini ingin bercerita lebih jauh mengenai genre musik yang selalu dianggap sebagai “musik setan” atau “musik bar-bar”. Bahkan, jika ketemu satu orang saja yang langsung nyeletuk, “Wah, berarti elu pemuja setan, dong!” Akan langsung saya ceramahi mengenai musisi cadas yang selain gahar, juga ada yang taat beragama.

Jangan lupa, presiden kita juga seorang metalhead. Ya. bahkan sampai sekarang pun musik ini masih menjadi sasaran komentar nyinyir dari masyarakat awam. Komentar yang paling sering keluar adalah soal teknik vokal serak yang seperti “berteriak”. Teknik vokal seperti ini memang salah satu aspek yang paling sering ditemui dalam struktur lagu-lagu dari genre musik metal. Meskipun, tidak harus seperti itu juga.

Sejak saya mulai terekspos dengan musik rock ketika masih SMA, jujur saja saya lebih menggemari sisi melodis dari genre ini. Band seperti Evanescence dan My Chemical Romance sudah menjadi band favorit sejak lama. Lalu, saat masuk bangku kuliah, pengetahuan musik saya bertambah dengan khazanah band-band metal simfonik yang kebanyakan berasal dari dataran Eropa, seperti Epica dari Belanda maupun Nightwish dari Finlandia.

Baca Juga:  5 Lagu Sunda yang Maknanya Nggak Kalah sama 'Cidro' dan 'Sewu Kutho'

Saat pertama kali menemukan band-band di atas, hal yang pertama kali terlintas adalah “ini mah nggak biasa”. Sebelum ini, saya bahkan tidak tahu ada grup metal yang berani memadukan elemen musik yang keras ini dengan musik klasik. Namun, setelah mendengarkan satu lagu dari Epica yang berjudul Sensorium yang diambil dari album debut mereka yang bertajuk The Phantom Agony, saya seakan mendapat pencerahan: Musik metal juga bisa menjadi sesuatu yang indah.

Semenjak itu, saya semakin tertarik untuk menjelajahi sisi “indah” dari genre ini, tanpa mengesampingkan sisi brutalnya juga. Grup seperti Within Temptation dari Belanda, Rhapsody of Fire dari Italia, bahkan band Power Metal seperti Blind Guardian juga tidak luput dari eksplorasi saya sebagai seorang metalhead.

Sekarang, salah satu band favorit saya sepanjang masa adalah Nightwish. Band yang berasal dari Finlandia ini bukanlah band sembarangan. Mereka konsisten mengeluarkan album yang selain brutal dan gahar, juga sangat indah. Tidaklah heran jika mereka dilabeli sebagai salah satu pionir Symphonic Metal yang bisa bersaing dengan band-band lain dari seluruh dunia.

Salah satu faktor ‘keberingasan’ mereka adalah vokalis utama mereka berkebangsaan Belanda, Floor Jansen. Ada salah satu pepatah yang umum di kalangan keturunan Belanda-Amerika yang berbunyi If it ain’t Dutch, It ain’t much” (Jika bukan dari Belanda, itu tidaklah cukup) yang tampaknya sangat cocok untuk mendeskripsikan vokalis serba bisa ini.

Baca Juga:  Era Kaset: Era Dengan Pengalaman Terbaik Musisi dan Pendengarnya

Menyebut Floor Jansen sebagai vokalis serba bisa juga bukanlah sebuah pernyataan tanpa dasar. Saat masih menjadi vokalis di band seperti After Forever dan ReVamp sampai sekarang di Nightwish, ibu satu anak ini terkenal dengan jangkauan vokal soprano. Ia juga bisa bernyanyi classical, hingga screaming dan growling. Soal komposisi lagu-lagunya, Nightwish memiliki seorang Tuomas Holopainen, yang piawai dalam aransemen lagu dan juga seorang multi-instrumentalist.

Selain Nightwish, band yang juga menjadi favorit saya pribadi adalah Blind Guardian yang berasal dari Jerman. Band ini terkenal dengan aransemen musiknya yang terbilang ‘megah’. Mereka mengedepankan aransemen orkestra dan pengaruh musik folk dengan lirik lagu yang kebanyakan bersumber dari cerita-cerita fantasi. Bukan hanya itu saja, satu hal yang membuat saya menjadi penggemar band ini adalah vokalis mereka, Hansi Kursch. Alasan utamanya adalah teknik bernyanyinya yang tidak biasa.

Kursch memiliki kebiasaan unik, yaitu meng-overdub suaranya sendiri hingga ke titik di mana suaranya saja bisa menjadi satu lagu choir yang sempurna. Ini menyiratkan bahwa salah satu pengaruh bermusiknya yang paling besar adalah band rock legendaris asal Inggris, Queen. Ia juga terkenal suka ‘meminjamkan’ suaranya dalam beberapa proyek musisi yang lain, seperti saat ia mengisi vokal untuk album band Avantasia besutan kompatriot se-negaranya, Tobias Sammett, yang diberi judul Moonglow. Total ada dua lagu di mana suara Kursch bisa didengar, yaitu Book of Shallows dan The Raven Child, yang semuanya merupakan lagu yang memiliki atmosfir megah tapi ‘kejam’.

Baca Juga:  4 Alasan Laki-Laki Sunda Nggak Mau Dipanggil 'Kang'

Musik metal memang merupakan musik yang identik dengan sikap memberontak, semau gue, dan tidak mau kompromi. Namun bukan berarti musik ini tidak bisa menjadi sesuatu yang indah. Meski diiringi dengan cabikan gitar berdistorsi tinggi dan ketukan drum yang cepat dan agresif, genre ini juga bisa menjadi sesuatu yang indah dan menggugah seluruh indra pendengar kita.

BACA JUGA Susahnya Menjelaskan Musik Metal ke Orang Tua dan tulisan Anugerah Barzanzi Rahman Ginano lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pengin gabung grup WhatsApp Terminal Mojok? Kamu bisa klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.