Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mudahnya Kerabat Dekat Minta Gratisan Saat Kita Mulai Rintis Usaha

Reni Soengkunie oleh Reni Soengkunie
9 November 2019
A A
Mudahnya Kerabat Dekat Minta Gratisan Saat Kita Mulai Rintis Usaha
Share on FacebookShare on Twitter

“Wah, sudah launching buku baru nih! Minta bukunya gratisan, dong! Hehehe.”

“Mau dong nyobain kuenya, tapi gratis! Hehehe.”

“Dih, sekarang udah jadi fotografer, bolehlah besok pas pre-wedding bisa dipotoin secara gratis! Hehehe.”

Kalimat-kalimat basa-basi seperti ini tentu sudah lazim dan tak asing lagi kita dengar. Entah apa maksud dari orang-orang yang suka melontarkan kalimat semacam ini. Apa itu hanya sekadar candaan? Atau memang mereka serius meminta barang gratisan pada teman atau kerabat dekatnya? Siapa tahu dapat gratisan, kenapa harus beli kan, ya?

Saya tak mengerti dengan pemikiran orang-orang jenis ini yang sangat suka memanfaatkan hubungan dekatnya untuk meminta barang/jasa secara gratis. Kalaupun tidak minta gratisan, mungkin saja mereka minta diskonan, atau free ongkir. Hmmm.

Saya sendiri sering kali mendapatkan kalimat semacam itu saat saya mempromosikan buku antologi saya di media sosial. Ingat ya buku antologi bukan buku solo. Seberapa sih untungnya atau royalti dari satu buah buku antologi itu? Mungkin teman-teman saya ini suka mengira, dengan meluncurkan satu buku antologi begitu, saya bisa mendapatkan keuntungan seperti halnya royalti milik Tere Liye. Jadi, mereka dengan kalimat manisnya itu tak pernah sungkan untuk meminta buku gratis pada saya.

Bukan masalah, mau memberi atau tidak mau memberi. Namun, saya mau membicarakan tentang asas perikemanusiaannya sebagai orang dekat. Dalam kata gratis tersebut mengandung sebuah perjuangan berat dalam menentukan ide tulisan. Ada juga punggung yang pegal karena menulis. Belum lagi kalau kepala tengeng. Dan juga tentang betapa harus bersusah payahnya dalam hal promosi karya tersebut. Namun, semua yang baru dirintis penulis pemula yang belum punya nama ini seakan dipatahkan oleh teman atau kerabatnya sendiri dengan sebuah kata gratisan.

Begitu juga dengan mereka yang baru memulai kariernya dalam bidang fotografi. Mereka mengumpulkan uang untuk membeli kamera. Belajar dan terus berlatih dalam memperlajari ilmu fotografi. Ikut seminar sana sini. Baca buku ini itu. Lalu impian mereka untuk menjadi seorang fotografer professional itu juga dijegal oleh teman dan kerabatnya sendiri sebagai tukang foto gratisan. Mereka pikir untuk memotret mereka itu mereka tak butuh tenaga, biaya, dan waktu kali ya?

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Pelaku usaha dalam bidang makanan juga tak jauh beda. Mereka belajar memasak dan mencoba resep-resep baru. Mengeluarkan modal dalam setiap praktik uji cobanya. Memberanikan diri untuk terjun dan memulai usaha. Lantas semua usaha itu seolah dipupuskan oleh mereka yang sangat suka meminta test food gratisan.

Sebagai orang dekat harusnya kita tahu dengan jelas bagaimana perjuangan teman atau kerabat kita dalam merintis usahanya. Kita harusnya sadar untuk memulai semua itu bukanlah sebuah perkara yang mudah. Kadang mereka harus jatuh bangun dalam membangun karier dan usahanya. Mereka mungkin masih minder dan belum yakin akan potensinya. Tapi apa yang kita lakukan? Kita sebagai orang dekat bukannya mendukung usaha mereka dengan membeli atau melarisi usaha mereka itu, tapi justru mematahkan semangat juang mereka dengan meminta gratisan.

Kita sebagai orang dekat harusnya memberi semangat. Meyakinkan mereka bahwa usahanya itu akan berhasil. Bisa dibayangkan bagaimana terpuruknya mereka saat usahanya tidak diminati orang lain. Atau dagangan belum laku sama sekali. Tapi kita justru sudah membuat mereka mengeluarkan barang tersebut untuk dibagikan secara gratis untuk kita. Mereka pun tentu akan berpikir, “Jika orang dekat saja tak mau membeli atau menggunakan barang/jasanya, lantas bagaimana dengan orang lain?”

Mari kita menjadi manusia yang lebih beradab dalam memperlakukan orang lain. Dukung dan beri semangat pada orang-orang dekat di sekitar kita yang akan memulai sebuah usaha. Jika memang kita tak bisa membelinya, paling tidak kita bisa membantu mereka untuk mempromosikan barang atau jasa mereka di media sosial. Jika kita enggan untuk membantu promosi, yah paling tidak, tak usah meminta gratisan pada mereka.

Belilah dan bantu teman-teman di sekitar kita yang ingin merintis usaha. Mungkin kita tak butuh atau tidak memerlukan barang tersebut. Namun, tak ada salahnya melarisi dagangan teman sendiri. Lebih-lebih kalau kita punya rezeki lebih, kita bisa melebihi uang yang harusnya dibayarkan. Mungkin satu barang yang kita beli ini tak berarti apa-apa untuk kita, tapi itu sangat berarti untuk orang lain. Hal itu bisa menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat juangnya. Bijaklah sebagai teman atau kerabat dekat dalam hal meminta gratisan.

BACA JUGA Tren Para (So Called) Influencer yang Menginginkan Gratisan Bermodalkan Jumlah Followers atau tulisan Reni Soengkunie lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 November 2019 oleh

Tags: kerabat dekatminta gratisanrintis usaha
Reni Soengkunie

Reni Soengkunie

Bakul sembako yang hobi mendengar keluh kesah emak-emak di warung tentang tumbuh kembang dan pendidikan anak, kehidupan lansia setelah pensiun, serta kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kenaikan harga sembako.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

16 Maret 2026
Jalan Nasional Purworejo Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA Mojok.co

Jalan Nasional Purworejo-Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA

16 Maret 2026
Toyota Etios Valco, Mobil Incaran Orang Paham Otomotif yang Nggak Gampang Termakan Isu Produk Gagal Mojok.co

Toyota Etios Valco, Mobil Incaran Orang Paham Otomotif yang Nggak Gampang Termakan Isu Produk Gagal

14 Maret 2026
Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Mempercepat Antrean di Psikiater

Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Menambah Antrean di Psikiater

14 Maret 2026
Awalnya Bangga Beli Honda Scoopy, Lama-lama Malu karena Sering Bermasalah, Motor dan Pemiliknya Jadi Kelihatan Payah Mojok.co

Awalnya Bangga Beli Honda Scoopy, Lama-lama Malu karena Sering Bermasalah, Motor dan Pemiliknya Jadi Kelihatan Payah

12 Maret 2026
Lebaran Saatnya Masa Bodoh dengan Ocehan Tetangga (Unssplash)

Refleksi Lebaran Bagi Kepala Rumah Tangga: Tunaikan yang Wajib, Masa Bodo dengan Gengsi dan Ocehan Tetangga

14 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Memahami Bagaimana Aldi Taher dan Jualan Burgernya yang Cuan Mampus dan Berhasil Menampar Ilmu Marketing Ndakik-Ndakik
  • Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar
  • Saat Terjadi Konflik di Luar Negeri, Evakuasi WNI Tak Sesederhana Asal Pulang ke Negara Asal
  • Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup
  • Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK
  • Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.