Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Beban Ganda Lulusan Sastra Indonesia Jika Ingin Jadi Sastrawan

Iqbal AR oleh Iqbal AR
10 Juli 2019
A A
sastrawan

sastrawan

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai mahasiswa Sastra Indonesia yang tidak lama lagi akan mentas dari kampus, saya mulai dihantui beberapa pertanyaan tentang, “mau jadi apa kamu setelah ini?” Saya sih sudah hampir mantap ingin jadi sastrawan. Ya penulis lah. Sebagaimana disiplin ilmu saya sebelumnya, yaitu Sastra Indonesia. Ya setidaknya saya harus jadi sastrawan. Sebagaimana mahasiswa Kedokteran yang ingin jadi dokter, mahasiswa akuntansi ingin jadi akuntan, atau mahasiswa seni yang ingin jadi seniman.

Saya tidak mempermasalahkan jika ada yang bilang kalau masa depan mahasiswa sastra itu suram atau tidak jelas. Saya sudah berdamai dengan hal itu. Saya juga sudah berdamai dengan stereotip orang-orang mengenai mahasiswa Sastra Indonesia yang dekil, jarang mandi bahkan bau badan. Saya sudah tidak peduli. Mengingat saya sudah hampir mantap ingin jadi sastrawan, stereotip macam itu sudah saya acuhkan. Tidak peduli.

Hampir semua cara sudah saya lakukan untuk membantu mewujudkan cita-cita saya sebagai sastrawan. Mulai dari mengirim puisi dan cerpen ke koran, mengirim tulisan ke media online meskipun jarang dimuat, sampai bikin buku kumpulan puisi yang untungnya tidak laku. Setidaknya saya sudah ada di jalan yang benar untuk mewujudkan cita-cita saya. Tidak lupa juga, saya selalu menambahkan embel-embel mahasiswa Sastra Indonesia di profil singkat saya supaya terlihat sedikit meyakinkan dan keren tentunya.

Ada juga teman yang minta tolong untuk dibikinkan puisi, lirik lagu bahasa Indonesia, sampai caption di Instagram. Demi masa depan saya, semua saya lakukan. Hitung-hitung meniti karir dari sesuatu yang kecil kalau sesuatu yang besar masih susah dilakukan.

Terhitung sudah hampir tiga tahun saya menekuni jalan ini. Mencoba beberapa usaha untuk mewujudkan cita-cita saya sebagai sastrawan. Saya masih berpikir bahwa jalan yang saya tempuh adalah jalan yang sudah tepat. Bayangan saya sudah indah sekali. Lulusan Sastra Indonesia menjadi sastrawan. Meskipun terasa ada beban ganda yang saya pikul saat ini.

Sampai pada suatu hari, saya baca beberapa biografi tentang sastrawan besar di tanah air dan menemukan bahwa ternyata banyak dari mereka yang tidak dari lulusan Sastra Indonesia. Sastrawan besar seperti WS Rendra, YB Mangunwijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Taufik Ismail, dan Wiji Thukul bukan dari lulusan Sastra Indonesia. Paling hanya Sapardi Djoko Damono yang terkenal dari lulusan Sastra Indonesia. Selain beliau juga jadi guru besar Sastra Indonesia.

Saya juga baca sebuah artikel yang memuat pernyataan Pak Sapardi Djoko Damono yang menyatakan bahwa, “Sebenarnya kita belajar di Fakultas Sastra ini bukan untuk jadi sastrawan. Tidak ada yang bilang bahwa mahasiswa fakultas sastra harus jadi sastrawan. Sebab, sesungguhnya di Fakultas Sastra kita belajar tata bahasa, sejarah, tata buku, perpustakaan, dan filsafat. Di Fakultas Sastra tidak ada mata kuliah yang mendidik mahasiswa untuk menjadi sastrawan. Jika ada yang bilang bahwa mahasiswa Fakultas Sastra mesti jadi sastrawan, itu seratus persen salah. Sastrawan tidak harus lahir dari Fakultas Sastra.”

Dhuarr. Terkejut hati abang. Sudah membangun rencana yang cukup matang, eh dihancurkan juga. Bertahun-tahun saya membangun rencana masa depan saya, tapi gara-gara baca satu artikel, hancur sudah. Saya akhirnya baca-baca lagi beberapa artikel serupa, dan saya menemukan hal yang sama. Memang kita sebagai mahasiswa sastra Indonesia tidak disiapkan untuk jadi sastrawan.

Baca Juga:

4 Catatan untuk Pemkab Bangkalan Madura agar Program Satu Desa Satu Sarjana Tidak Sia-Sia

Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan

Setelah beberapa waktu saya berpikir, saya menemukan sebuah jawaban untuk keresahan saya. Mengenai Fakultas Sastra yang tidak menciptakan sastrawan, itu ada benarnya. Setidaknya saya sadari ketika buka-buka lagi katalog mata kuliah saya, tidak banyak mata kuliah yang bersifat penciptaan, atau kreasi. Yang banyak malah mata kuliah kritik dan apresiasi.

Kalau mengenai beban ganda yang dipikul beberapa mahasiswa Sastra Indonesia, ini mungkin menjadi penyebabnya. Selama ini, saya selalu menambahkan embel-embel mahasiswa Sastra Indonesia di profil singkat ketika saya kirim tulisan. Harapan saya, ada nilai lebih atau atensi yang lebih jika ada tulisan yang masuk dari mahasiswa Sastra Indonesia.

Tapi kenyataannya malah sebaliknya. Embel-embel yang saya tambahkan di profil singkat saya, ternyata meningkatkan standar yang dipasang oleh pihak redaksi. Saya berasumsi, pihak redaksi mempunyai harapan dan standar tinggi ketika ada tulisan yang masuk dari mahasiswa Sastra Indonesia. Selain tulisan saya yang ternyata kurang bagus, embel-embel ini mungkin jadi penyebab jarangnya tulisan saya yang dimuat.

Saya pernah ikut lomba cipta cerpen yang diadakan oleh salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus. Saya mengirimkan satu cerpen saya, setelah sebelumnya saya konsultasikan ke beberapa teman saya dan katanya sudah bagus. Harapan saya sudah pasti menang, paling tidak juara tiga lah. Tapi setelah diumumkan, ternyata cerpen saya tidak masuk tiga besar, alias kalah total. Mungkin saya terlalu ambisius saat itu.

Saya akhirnya ketemu sama salah satu panitia, yang kebetulan teman saya dari SMA. Saya iseng tanya, “Bro, cerpenku kok gak menang, Bro?” dan dengan santainya dia balas, “Untuk standar mahasiswa sastra Indonesia, cerpenmu kurang bagus, Bro.” Waduhh.

Mungkin, ini juga yang menyebabkan minimnya sastrawan dari jurusan Sastra Indonesia. Selain di kampus memang tidak diajarkan untuk jadi sastrawan, ada ekspektasi tinggi dari pihak redaksi beberapa media jika yang mengirim adalah mahasiswa Sastra Indonesia. Kalau tidak punya tulisan yang bagus banget dan mental yang kuat, ya pasti tumbang.

Kalau yang bukan dari mahasiswa Sastra Indonesia ya tidak ada beban apapun. Karena disiplin ilmunya juga beda. Paling ya kalau dapat catatan koreksi, ya tidak sampai yang teknis-teknis banget lah. Bebannya paling hanya di tulisannya, bukan embel-embel yang dipakai. Bisa dibilang lebih nothing to lose lah.

Itu mungkin jadi penyebab minimnya sastrawan dari lulusan Sastra Indonesia. Banyak yang tumbang karena tidak mampu memikul beban ganda seperti ini. Sastrawan-sastrawan sekarang juga jarang yang berasal dari lulusan Sastra Indonesia. Paling juga dari lulusan Ilmu Politik, Sosiologi, Filsafat, bahkan dari lulusan Arsitektur. Sementara lulusan Sastra Indonesia ya jadi apresiator karya-karya mereka saja. Seperti yang diajarkan semasa kuliah.

Meskipun saat ini sudah banyak peluang kerja selain menjadi sastrawan. Jadi copywriter, jadi jurnalis, jadi guru, atau jadi ahli bahasa seperti Ivan Lanin juga bisa. Tapi kebanyakan mahasiswa sastra Indonesia masih menjadikan sastrawan untuk jadi cita-citanya, termasuk saya.

Sekarang, cita-cita jadi sastrawan sedikit saya lepaskan. Bukannya menyerah, hanya saya tidak lagi menggebu-gebu seperti dulu. Saya juga mulai belajar lagi bagaimana cara menulis yang baik dan tepat. Embel-embel mahasiswa Sastra Indonesia yang biasanya saya tempelkan di profil juga akhirnya saya lepaskan. Supaya tidak menambah beban yang sebenarnya sudah berat.

Tapi ya sudahlah. Nggak jadi sastrawan juga nggak masalah. Toh kita juga tidak selamanya akan menjadi apa yang kita cita-citakan. Jadi sebelum lulus tahun depan, saya sudah punya opsi selain sastrawan. Selebtwit mungkin?

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: Kapan Luluslulusan sastraMahasiswaSastra IndonesiaSastrawan
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

Tabiat Dosen Gaib, di Kelas Tidak Pernah Ada, tapi Sogok Mahasiswa dengan Nilai A dosen muda

Menjadi Dosen Muda Tak Seindah Konten di TikTok!

11 September 2024
Jasa Laundry Kiloan Bikin Frustrasi: Saya Kehilangan Baju Bermerek hingga Dapat Pakaian Dalam Orang Lain Mojok.co

Jasa Laundry Kiloan Bikin Frustrasi: Saya Kehilangan Baju Bermerek hingga Dapat Pakaian Dalam Orang Lain

7 Juli 2025
5 Penderitaan Mahasiswa di Kampus Negeri Medioker yang Nggak Diketahui Orang Banyak

5 Penderitaan Mahasiswa di Kampus Negeri Medioker yang Nggak Diketahui Orang Banyak

20 September 2025
Divisi Acara Pantas Dinobatkan sebagai Kasta Tertinggi dalam Kepanitiaan organisasi kampus terminal mojok.co

Mahasiswa yang Protes Minta Nilai Tinggi Melulu, Coba deh Ngaca Dulu

8 Juli 2020
Dear Bapak Ibu Dosen, Jangan Menilai Mahasiswa dari Keaktifan Bertanya setelah Presentasi. Mahasiswa Zaman Sekarang Pintar Membodohi, lho

Dear Bapak Ibu Dosen, Jangan Menilai Mahasiswa dari Keaktifan Bertanya setelah Presentasi. Mahasiswa Zaman Sekarang Pintar Membodohi, lho

22 Oktober 2023
Tanya Soal Ujian ke Kating di Jenjang S-2 Itu Percuma dan Nggak Bakal Mendongkrak IPK

Tanya Soal Ujian ke Kating di Jenjang S-2 Itu Percuma dan Nggak Bakal Mendongkrak IPK

16 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Tiga Tahun Menjadi Fungsionaris Organisasi Mahasiswa, Saya Menyadari bahwa Organisasi Mahasiswa Tak Ada Bedanya dengan Tempat Penitipan Balita

8 Juni 2026
Pustakawan Membela iPusnas yang Layanannya Dikeluhkan Banyak Orang Mojok.co

Pustakawan Membela Layanan iPusnas yang Dikeluhkan Banyak Orang

8 Juni 2026
Bekas Pasar Burung dan Hal-hal Lain yang Jarang Dibicarakan Soal Pasar Ngasem, Tempat Sarapan Paling Kalcer di Jogja Mojok.co

Bekas Pasar Burung dan Hal-hal Lain yang Jarang Dibicarakan Soal Pasar Ngasem, Tempat Sarapan Paling Kalcer di Jogja

7 Juni 2026
5 Rahasia yang Perlu Diketahui sebelum Membuka Warung Madura, Eksklusif dari Juragannya Langsung usaha warung

Warung Madura Terlalu Percaya Diri, padahal Warung Tetangga Bisa Menggulingkannya Kapan Saja

6 Juni 2026
4 Cara Menikmati Wisata Semarang Secara Gratis (Unsplash)

Panduan Wisata Gratis di Semarang: 4 Cara Menikmati Kota Atlas Tanpa Perlu Pusing Mikir Tagihan

8 Juni 2026
10 Hari di Taiwan Bikin Sadar kalau Kualitas Hidup di Indonesia Sudah Tertinggal Jauh Mojok.co

10 Hari di Taiwan Bikin Sadar kalau Kualitas Hidup di Indonesia Sudah Tertinggal Jauh

10 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.