Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Meski Dianggap Jorok, Menempelkan Upil di Tembok Kamar Adalah Kenikmatan Hakiki

Iqbal AR oleh Iqbal AR
7 Februari 2021
A A
Meski Dianggap Jorok, Menempelkan Upil di Tembok Kamar Adalah Kenikmatan Hakiki terminal mojok.co

Meski Dianggap Jorok, Menempelkan Upil di Tembok Kamar Adalah Kenikmatan Hakiki terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagian besar, bahkan hampir semua orang di dunia ini mungkin sepakat bahwa mengupil adalah salah satu kegiatan yang paling nikmat. Tidak ada yang bisa menandingi sensasi kenikmatan ketika jari telunjuk atau kelingking masuk ke dalam lubang hidung, dan mengeksplorasi kotoran di dalamnya. Kenikmatannya akan semakin paripurna, ketika jari kita selesai mengeksplorasi dan membawa keluar upil (baik yang agak basah, maupun yang kering, sama saja enaknya). Seperti ada kepuasan dan kebahagiaan tersendiri ketika berhasil membawa keluar upil dari dalam hidung.

Setelah berhasil membawa keluar upil dari dalam hidung, langkah selanjutnya adalah membuang upil tersebut. Nah, perkara membuang upil ini juga beda orang beda cara. Ada yang membuangnya secara normal, dibungkus tisu dan dibuang ke tempat sampah. Ada juga yang membuangnya asal dijentikkan saja dari jari. Ada juga yang cara membuangnya dengan ditempel ke berbagai tempat, mau itu bagian bawah meja (biasanya terjadi di lingkungan sekolah), atau di tembok kamar. Khusus untuk yang menempelkannya di tembok kamar, ini adalah satu puncak kenikmatan yang paling besar dari rangkaian kenikmatan mengupil, bagi saya.

Tembok kamar memang sering kali jadi tempat paling mudah untuk dijadikan apa pun. Dipasangi poster bisa, ditempel ini itu bisa, bahkan dijadikan tempat koleksi upil juga bisa. Maklum, posisi mengupil paling enak ya sambil rebahan di kasur, dan daripada ribet ke mana harus membuangnya, ya ditempel saja di tembok kamar. Mau ambil tisu juga malas, apalagi beranjak dari kasur untuk membuang ke tempat sampah. Mungkin itulah tujuan tembok kamar dibuat, selain untuk melindungi kita dan menjadi pembatas antar ruangan, juga bisa menjadi tempat persinggahan upil, baik itu sementara atau selamanya.

Pengalaman saya dalam menempelkan benda ini di tembok kamar mungkin adalah salah satu pengalaman terpanjang dalam hidup. Sejak kecil hingga saat ini, kebiasaan itu masih ada, dan masih saya jaga baik-baik. Di kamar saya, tepatnya di rumah yang sudah saya tinggali kurang lebih lima belas tahun, tembok kamarnya sudah mulai menjadi tempat koleksi upil. Ada banyak bekas-bekasnya yang sudah berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Kalau yang lama-lama, hitungan bulan atau bahkan tahunan, ya mungkin sudah jatuh ke bawah dan ikut tersapu. Tetapi tetap saja ada sedikit bekas yang menandakan bahwa pernah ada upil menempel di sini.

Bukan hanya tembok kamar di rumah saya saja yang jadi sasaran. Pokoknya di mana saya pernah tidur dan menginap, hampir pasti saya akan menempekan upil di temboknya. Itu sudah naluri, spontan saja terjadi. Salah satu sasarannya adalah kamar kos saya di Jogja satu tahun lalu. Selama dua bulan saya tinggal di kamar kos tersebut, entah berapa upil saya yang berhasil menempel di tembok kamarnya. Selama dua bulan itu juga saya enak saja menempelkan upil sana sini. Ketika kosnya sudah selesai dan mau pulang ke rumah, saya agak khawatir kalau nanti ibu kos marah. Tapi ya sudahlah, toh upilnya juga kecil-kecil, berpencar pula, tidak terpusat di satu titik.

Kebiasaan saya dalam hal mengupil dan menempelkan upil di tembok kamar tentu bukan tanpa halangan. Adalah ibu saya yang pertama ngoceh soal kebiasaan saya ini. Dibilang jorok, mengotori tembok, tidak peduli kebersihan, macam-macam lah. Beberapa teman juga mengatakan hal yang sama ketika mengetahui kebiasaan saya ini. Namun, saya juga tidak peduli. Hidung hidung saya, upil ya upil saya, yang saya kotori juga tembok kamar saya. Ya meskipun beberapa kali ada upil saya yang saya tempelkan di wilayah orang lain. Tapi kan tidak terlihat juga, dan paling cuma satu atau dua. Dimaklumi saja, lah.

Melihat upil menempel di tembok kamar ini memang jorok, bagi orang yang belum terbiasa. Namun bagi saya, itu bukan hal yang jorok. Itu salah satu bentuk apresiasi terhadap upil. Kita bisa melihat bentuk upil yang berbeda-beda, dengan tekstur yang berbeda juga. Itu bukan jorok. Kalau jorok itu ya habis mengupil, terus upilnya dimasukkan lagi ke dalam hidung. Kalau habis mengupil ditempelkan ke tembok, ya itu wajar seharusnya. Lagian, orang-orang yang sok bilang bahwa mengupil dan menempelkan upil di dinding kamar itu jorok, memangnya sebersih apa mengupilnya? Paling juga ditempel sana-sini. Bedanya mereka tidak mengaku, dan saya mengaku. Iya, kan?

BACA JUGA Kebiasaan Setelah Mengupil: Bukannya Langsung Dibuang, Malah Dilihat Lebih Dulu dan tulisan Iqbal AR lainnya.

Baca Juga:

Konten tidak tersedia
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 Februari 2021 oleh

Tags: tembok kamarupil
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Kelebihan dan Kekurangan Cicilan Emas yang Harus Kamu Ketahui sebelum Berinvestasi

Dilema Investasi Emas Bikin Maju Mundur: Kalau Beli, Takut Harganya Turun, kalau Nggak Beli, Nanti Makin Naik

30 Maret 2026
Weleri Kendal Baik-baik Saja Tanpa Mie Gacoan, Waralaba Ini Lebih Baik Incar Daerah Lain Mojok.co

Membayangkan Kendal Maju dan Punya Mall Itu Sulit, sebab Mie Gacoan Aja Baru Ada Setahun

31 Maret 2026
5 Alasan Freelance Lebih Menguntungkan untuk Mencari Uang di Tahun 2025

Dear Penipu Lowongan Freelance, yang Kami Butuhkan Itu Bayaran Nyata, Bukan Iming-iming Honor Besar dari Top-Up Biaya Deposit!

2 April 2026
Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

1 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional
  • Turun Stasiun Tugu Jogja Muak sama Orang Minta Donasi: Tidak Jujur Sejak Awal, Jual Kesedihan Endingnya Jebakan
  • Astrea Grand, Motor Honda yang Saking Iritnya, Sampai Memunculkan Mitos Tentangnya
  • Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa
  • Ketika Bapak Semakin Ngotot Membeli Innova Reborn untuk Jadi Mobil Keluarga, Anak-anaknya Khawatir Hidup di Desa Jadi Cibiran Tetangga
  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.