Menyimak “Messiah”, Serial Netflix yang Katanya Mengguncang Iman

Featured

Erwin Setia

“Messiah”, serial Netflix yang tayang pada awal 2020 ini dilarang di Yordania. Konon karena kontennya berbau penodaan agama. Tapi, apa betul begitu?

Saya tidak tahu mengapa serial biasa-biasa saja ini dapat mengguncang iman seseorang. Film ini cuma berkisah tentang seorang lelaki dengan penampilan mirip Yesus yang tiba-tiba muncul di Suriah. Lelaki ini doyan berkhotbah dan sebentar-sebentar ngoceh soal kehendak Tuhan dan takdir.

Ia mulai diagung-agungkan oleh segerombol orang putus asa yang menjadi korban konflik lantaran dianggap berjasa menyingkirkan pasukan ISIL. Namun, tak berapa lama, ia ditangkap pasukan keamanan karena dituduh membuat kegaduhan. Mulai dari situlah petualangan lelaki yang disebut Messiah ini bermula.

Sepanjang sepuluh episode pada musim pertama ini, latar tempat begitu beragam dengan alur cerita yang cukup cepat. Kita akan dibawa ke Suriah, Israel, Yordania, Iran, Amerika Serikat.

Selain Messiah, ada beberapa tokoh sentral lain yang turut berperan besar menggerakkan cerita. Favorit saya adalah Aviram Dahan, petugas Israel yang kekar dan nekat tapi punya masa silam yang kelam. Tokoh penting lain adalah Eva (anggota CIA), Felix (pendeta), dan Jibril (korban konflik Timur-Tengah yang menjadi pengikut Messiah paling bersemangat).

Saya heran mengapa film ini dilarang dengan dalih akan mengguncang iman atau menodai agama. Percayalah, akting Mehdi Dehbi tidak ada spesial-spesialnya sama sekali. Boro-boro bakal mengguncang iman, mengaguminya saja sulit.

Messiah dalam film ini memang diceritakan memiliki beberapa kemampuan ajaib seperti menghidupkan orang mati dan berjalan di atas air. Tapi sikapnya yang kelewat narsis dan fatalis, membuat kemampuan-kemampuan ajaibnya terlihat seperti rangkaian kekonyolan alih-alih mukjizat.

Orang-orang boleh menyebut sang Messiah sebagai dajjal atau apalah, tapi saya lebih sreg menyebutnya sebagai hamba skenario. Aktingnya begitu kaku dan tidak mandiri sebagai individu yang dikesankan sebagai seorang penyelamat. Kita bisa bandingkan dengan peran Anthony Hopkins sebagai Hannibal Lecter dalam The Silence of the Lambs (1991). Dalam film itu, Hannibal Lecter sungguh dapat membuat para penonton bergidik dengan kepiawaian akting seorang Anthony Hopkins. Sementara Mehdi Dehbi dalam Messiah berkali-kali membuat saya membatin, “Apaan sih, nggak jelas banget.”

Baca Juga:  Rekomendasi Film yang Cocok Untuk Kaum Rebahan

Messiah dalam film ini sulit membuat penonton bersimpati. Alih-alih Messiah, saya lebih suka dengan peran Aviram Dahan, Eva, dan Rebecca—anak pendeta Felix. Terutama Aviram, orang yang sanggup membuat Messiah terlihat seperti anak kecil yang tak punya daya, alih-alih seorang “nabi baru”.

Namun, tak bisa ditampik bahwa film ini mengangkat tema yang agak berat. Dengan gambaran apokalipstik di mana kerusakan dan konflik terjadi di mana-mana, Messiah mengemukakan gagasan soal kemungkinan datangnya seorang penyelamat di masa genting itu. Pada masa itu, orang-orang terbelah. Orang-orang yang putus asa dengan gampangnya memercayai Messiah. Orang-orang dengan pikiran kritis macam Eva si petugas CIA mencurigai Messiah sebagai bagian dari sindikat teroris. Sementara orang-orang macam Aviram yang skeptis dan cenderung tak peduli soal tetek bengek agama menganggap semua yang dikatakan dan dilakukan oleh Messiah sebagai bualan.

Sayangnya, ketokohan seorang Messiah yang sekaligus menjadi judul film tidak digarap secara maksimal. Ia adalah tokoh yang serba tanggung, tidak jelas berada di sisi putih atau hitam. Antagonisme dan protagonismenya begitu samar. Kita tidak bisa menyukai atau membencinya secara total. Yang jelas, Messiah dalam film ini begitu menjengkelkan. Setidaknya bagi saya. Ia menjengkelkan karena narsismenya yang berlebihan dan tindak-tanduknya yang melulu menyebut-nyebut nama “Tuhan” dan “takdir”—tapi dalam momen yang sungguh tidak pas.

Jadi, mengherankan kalau film ini disebut-sebut mengguncang iman. Satu-satunya bagian diri saya yang terguncang sepanjang menonton serial ini adalah perut. Kadang-kadang saya mual dengan kelakuan Messiah yang terlalu narsis, kadang pula dengan kepolosan tokoh-tokoh lain.

Meskipun menjengkelkan dan bikin mual, bukan berarti ia bisa buru-buru kita buang ke dalam tong sampah. Anda yang butuh asupan film dengan tema yang unik, Messiah bisa menjadi pilihan. Episode 8 dan episode 10—terakhir—adalah bagian yang paling seru menurut saya.

Baca Juga:  Meningkatnya Pamor Nasi Goreng Tanpa Kecap di Tangan Selebtwit

Musim keduanya akan segera tayang. Saya berharap peran Messiah bisa lebih maksimal sehingga perut saya tidak terguncang lagi.

Sumber Gambar: imdb.com

BACA JUGA The Two Popes” Adalah Film Terbaik 2019 Versi Saya dan tulisan Erwin Setia lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
3


Komentar

Comments are closed.