Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Menyemarakkan Takbiran Keliling, Tetapi Enggan Menggemakan Takbir di Masjid Kampung Sendiri

Akhyat Sulkhan oleh Akhyat Sulkhan
6 Juni 2019
A A
Pengguna Knalpot Brong Adalah Manusia yang Diberkati Seribu Doa terminal mojok.co

Pengguna Knalpot Brong Adalah Manusia yang Diberkati Seribu Doa terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Setiap tahun, anak-anak muda di kampung senantiasa menyemarakkan Idulfitri dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat perayaan secara komunal. Hal itu sebenarnya baik. Namun sayangnya, banyak dari mereka yang justru kerap melupakan rumah Allah. Menyemarakkan lebaran dengan acara takbiran keliling ke desa-desa tetangga, tetapi enggan mengumandangkan takbir di masjid kampung sendiri.

Fenomena tersebut sebenarnya telah saya rasakan sejak lama. Tapi saya kerap memilih cuek. Sejak zaman cebong dan kampret belum ada, pemuda adalah jenis yang sering mendapat pemakluman bila lebih memilih acara kongkow-kongkow atau nonton televisi ketimbang berada di masjid. Kalaupun ada yang suka ke masjid, khususnya untuk takbiran, jumlahnya pun tidak lebih dari seluruh jemari tangan kita.

Namun sudah dua tahun ini, saya melihat jumlah pemuda yang takbiran pada malam Idulfitri di masjid makin menurun. Sementara peminat takbir keliling masih saja bejibun. Seluruh kalangan, kecuali manula tentu saja, semuanya ikut menyemarakkan selebrasi komunal itu. Masalahnya ya itu, kok takbir kelilingnya ramai tapi orang-orang yang takbiran di masjid malah menurun.

Anak-anak kecil tak ada lagi yang kuat takbiran sampai jam 10 malam. Para remaja SMP-SMA juga. Padahal, saat saya SD dulu, banyak teman seumuran saya yang bahkan bisa menghabiskan waktu hampir semalaman untuk takbiran. Ya sih membandingkan antargenerasi emang bukan sesuatu yang bijak. Tapi menurut saya kadangkala itu perlu. Khususnya, dalam rangka mengimplementasikan hal-hal positif dari masa lalu.

Saya sih khusnudzon, mungkin sebagian besar pemuda merasa lelah setelah merancang dan mengikuti acara takbir keliling. Walaupun yang betul-betul takbiran sebetulnya cuma beberapa orang. Sementara kebanyakan cenderung ikut meramaikan pawainya saja.

Bukan berarti saya tidak menghargai acara tersebut. Terus terang, melihat teman-teman pemuda di kampung bersemangat menyambut Idulfitri itu menyenangkan. Soalnya, semangat guyub yang nyaris pudar karena jarak dan kerjaan bisa kembali menguat.

Bayangkan, sebelum takbir berkumandang menandai jam-jam masuknya Idulfitri. Para pemuda telah lebih dulu menyediakan puluhan kembang api. Dua mobil pick-up dengan hiasan pita dan spanduk bertuliskan nama desa bahkan telah siap di depan masjid. Tidak lupa dengan Sound system, mikrofon, dan toya, untuk menggemakan asma Allah.

Pukul 20:00 tepat, acara takbir keliling pun dimulai. Mobil-mobil pick-up memimpin di depan. Di belakangnya, orang-orang mengikuti dengan mengendarai sepeda motor dalam dua banjar barisan. Seperti akan tawuran.

Baca Juga:

Dilema Pemuda Sragen: Bertahan Nggak Berkembang, Ditinggal Dikira Nggak Sayang Kampung Halaman 

5 Barang yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Hampers Lebaran

Sepanjang perjalanan, mas-mas panitia yang berada di dalam mobil, tak henti-hentinya menyerukan takbir. Suara mereka, meski terdengar parau, namun membahana ke pelosok-pelosok kampung tetangga. Sepulangnya dari takbir keliling, acara pun ditutup lewat nyala kembang api yang membumbung ke atas lalu berpendar menjadi letupan-letupan kecil dan kemudian lenyap.

Setelah itu tidak ada lagi yang tersisa, selain orang-orang yang pulang ke rumah sembari mengulum perasaan masing-masing. Dan pada kondisi tersebut, saya melihat para pemuda—generasi penerus kampung saya—berhamburan entah ke mana. Usai takbir keliling, mereka pergi.

Hanya ada tiga orang pemuda yang tersisa di masjid. Menggemakan takbir. Selebihnya adalah orang-orang tua dan mereka hanya sekadar duduk bercengkerama menanti pagi. Sementara itu, mushola-musala di sekitar kampung saya juga nasibnya serupa. Ditinggal kaum mudanya.

Idulfitri memang sebuah selebrasi. Saya sepakat. Oleh sebab itu, cara terbaik merayakannya adalah dengan membuat acara yang menyenangkan, hangat, mendatangkan kebaikan, sekaligus memberi kesan pada banyak orang. Takbir keliling boleh jadi merupakan salah satunya. Namun, yang jadi masalah adalah, sudahkah kita benar-benar mengumandangkan “takbir itu” sembari meresapi dalam-dalam sosok-Nya yang Maha Agung?

Barangkali kita memang menggemakan takbir ke pelosok-pelosok kampung. Akan tetapi apakah kita benar-benar mengakui dan menghayati kebesaran-Nya manakala menggemakan “Allahu Akbar, Allahu Akbar,” dari mulut kita? Atau jangan-jangan kita bertakbir keliling sebatas terbawa suasana euforia tahunan? Atau malah cuma untuk menunjukkan eksistensi kampung kita ke kampung lain supaya dianggap berbudaya?

Lagi pula, dengan antusiasme takbir keliling itu, seharusnya hati kita juga terketuk untuk merayakan malam lebaran di rumah Allah. Bukankah nama-Nya yang kita gemakan berkali-kali itu? Ibarat merayakan nama seseorang, tapi tak mengunjungi rumah si pemilik nama. ‘Kan aneh? Kenapa kita menganggapnya hebat, tapi bahkan tak mau mengenalnya?

Sepanjang malam Idulfitri saya terus merenungi pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2022 oleh

Tags: IdulfitriKritik SosialPemudaTakbir KelilingTakbiran
Akhyat Sulkhan

Akhyat Sulkhan

ArtikelTerkait

ojek pangkalan

Masih Ada Larangan Ojol Membawa Penumpang ke Pemukiman Oleh Ojek Pangkalan: Rezeki Nggak Akan Tertukar, Bang.

12 September 2019
akh deddy

Akh Deddy Corbuzier Masuk Islam, Emang Ukh Lucinta Luna Nggak Boleh Bersyukur Juga?

24 Juni 2019
bermaafan di idulfitri

Ajaibnya Kaum Muslim di Hari Raya Idulfitri

7 Juni 2019
passion

Senandika Tak Berujung: Passion itu Makanan Kaleng Macam Apa, sih?

10 Juni 2019
knalpot brong

Bertaubatlah Kalian yang Pakai Knalpot Brong

15 Agustus 2019
Nikahan mantan

Yakin Mau Nangis di Nikahan Mantan?

4 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ayam Geprek Sejajar dengan Gudeg Jogja Menjadi Kuliner Khas (Wikimedia Commons)

Mengapresiasi Ayam Geprek Sebagai Kuliner Khas Sejajar dengan Gudeg Jogja

26 Januari 2026
Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

30 Januari 2026
5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026
Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang Mojok.co

Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang

27 Januari 2026
Jalan Klari Karawang, Jalan Maut yang Sulit Dihindari karena Jadi Penopang Industri

Jalan Klari Karawang, Jalan Maut yang Sulit Dihindari karena Jadi Penopang Industri

27 Januari 2026
6 Tips Makan Soto Ayam Jalan Bank H. Loso Purwokerto Agar Makin Nikmat Mojok.co

6 Tips Makan Soto Ayam Jalan Bank H. Loso Purwokerto agar Makin Nikmat

26 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.