Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Menolak Falsafah ‘Ra Srawung Rabimu Suwung’

Lindu Ariansyah oleh Lindu Ariansyah
6 Juli 2021
A A
daftar tamu undangan pernikahan ra srawung rabimu suwung seserahan adik nikah duluan gagal nikah dekorator pernikahan playlist resepsi pernikahan mojok

playlist resepsi pernikahan mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Hidup di desa memang memiliki banyak keistimewaan, khususnya dalam hal bermasyarakat. Saling berbagi panganan atau sayuran hasil panen, jenguk-menjenguk di kala ada yang sakit, sampai tradisi “tarub” ketika ada hajatan tertentu. Semua itu adalah romantisme kehidupan orang desa.

Menjadi orang desa, mau tidak mau, harus menjadi pribadi yang supel, atau paling tidak interaktif. Inilah yang menyebabkan orang desa dikenal akan tenggang rasa, gotong royong dan budaya nyengkuyung-nya yang tinggi. Bahkan sampai muncul aforisme seperti “ra srawung rabimu suwung” yang terang menggambarkan betapa asertifnya kolektivitas dalam dinamika kehidupan masyarakat desa. “Ra srawung rabimu suwung” adalah pepatah Jawa yang berarti “tidak bersosial maka nikahanmu sepi”.

Kata-kata tersebut sering kali saya jumpai, baik ketika jagongan maupun kala menyimak gunjingan di grup WA karang taruna. Dan umumnya, ditujukan kepada pemuda yang jarang bersosial atau yang sebelumnya senang bersosial lantas tiba-tiba menutup diri. Entah karena kesibukan kerja atau hal lainnya.

Semakin sering saya mendengarnya, saya justru heran, alih-alih mengamini. Saya kebingungan dengan maksudnya. Pikiran pun terus mempertanyakannya.

Ra srawung rabimu suwung? Masa sih? Kok jahat banget ya, kedengarannya?

Setelah melewati serangkaian kontemplasi dan refleksi lamunan, pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa pepatah tersebut “kurang sehat” dan sebaiknya tidak usah dilestarikan lagi. Tentu, dengan beberapa alasan penolakan berikut ini.

Pertama, dogmatis

Manusia itu zoon politicon. Makhluk yang hidup berkelompok, bermasyarakat. Makhluk yang membutuhkan orang lain untuk hidup. Oleh karenanya, interaksi sosial adalah keniscayaan bagi manusia.

Alhasil, hidup bermasyarakat menjadi sebuah kenormalan. Maka dari itu, keputusan menarik diri dari lingkungan sosial seperti fenomena “hikikomori” di Jepang dan yang semacamnya merupakan keganjilan dalam pranata sosial.

Baca Juga:

Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir

Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan

Nah, boleh jadi, falsafah “ra srawung rabimu suwung” ini adalah semacam upaya untuk meminimalisir aksi-aksi antisosial semacam itu terjadi. Pepatah ini tampaknya lahir dari fenomena sosial manusia modern yang cenderung individualistis dan mencoba untuk menyeret perilaku apatis tersebut ke dalam spirit kolektivitas.

Sayangnya, pemeo tersebut terkesan dogmatis. Seolah-olah mereka yang menasbihkan diri telah sangat kaffah dalam hal-ihwal srawung adalah para algojo yang berhak menghukum manusia-manusia celingus yang berlumuran dosa. Padahal hujatan “ra srawung rabimu suwung” itu sendiri merupakan tindakan vonis sosial yang kejam. Serta-merta begitu saja tanpa ada konsiliasi terlebih dahulu.

Memang, sekilas cara ini tampak efektif menarik kaum pemuda untuk lebih aktif dalam lingkungan sosial. Ya, siapa sih yang tidak waswas kalau hari pernikahan yang harusnya jadi hari yang seru dan membahagiakan justru sepi dan suwung?

Hanya saja, jika “ra srawung rabimu suwung” menjadi pedoman hidup nom-noman zaman now, itu akan rentan menimbulkan disorientasi karena hanya akan melahirkan sanksi sosial, bukan kearifan. Sekadar dogma, bukan kesadaran sosial.

Kesadaran bahwa “srawung” itu bukan sekadar alat feedback sosial-personal, melainkan sebuah kultur yang harus lestari karena berkelindan dengan terciptanya ketenteraman dalam bermasyarakat.

Semakin sering pepatah tersebut digaungkan, efek terornya semakin bekerja. Signifikansi bersosial bukan lagi fokus kepada upaya menciptakan keharmonisan bersama melainkan aktivitas hipokrit yang didasari kepentingan personal, dalam konteks ini adalah kepentingan mengadakan hajatan pernikahan, yang mana membutuhkan bantuan sinoman dan entitas warga lainnya untuk meladeni tamu undangan dan menyukseskan acara resepsi.

Kedua, disrupsi “nrima ing pandum”

Orang Jawa terkenal akan prinsip hidup “nrima ing pandum”. Menerima segala anugerah hidup yang ada meskipun tidak sesuai dengan keinginan, target dan harapan.

Falsafah nriman ini akan luntur jika “ra srawung rabimu suwung” menjadi prinsip hidup makhluk-makhluk pragmatis zaman sekarang. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, harkat srawung menjadi tidak lagi suci. Ia telah menjelma menjadi alat egosentrisme individu dan itu jelas akan menodai prinsip “nrima ing pandum” yang khas melekat dalam diri wong Jawa.

Logika sederhananya, ada prinsip take and give yang mendasari perilaku srawung seseorang. Bukan lagi karena dorongan afeksi tepa selira hidup bertetangga. Padahal, sebenarnya srawung itu mengajarkan keikhlasan dalam berbagi. Memupuk rasa empati dan kemanusiaan. Melatih kekariban dengan tidak meninggalkan unggah-ungguh dan subasita.

Ketiga, misteri kematian

Nah, ini, ke-ma-ti-an. Bagaimana jika kamu mati sebelum menikah? Apa iya kamu bakal minta kompensasi ke malaikat buat balik ke dunia lagi cuma untuk nikah dulu? Toh, kamu pun tidak bisa menjamin bahwa besok kamu masih hidup, bukan?

Atau kasus lain, misalnya, ketika dewasa nanti, kamu ternyata pindah domisili. Entah ke lain kota atau lain negara. Apakah kamu akan menagih dan mencaci tonggo teparo-mu yang tidak bisa datang ke pernikahanmu kelak? Kan tidak juga.

Jadi, sudahlah, kalau mau srawung, ya, srawung saja. Tidak perlu gembar-gembor “ra srawung rabimu suwung” kepada yang jarang srawung. Boleh jadi, kitalah yang menyebabkan teman kita jadi malas srawung.

Bagi saya, moto “ra srawung rabimu suwung” itu terkesan intimidatif, alih-alih merangkul. Bukannya merekatkan persaudaraan, bisa-bisa malah melahirkan polarisasi sosial.

Seharusnya itu menjadi introspeksi bersama mengenai mengapa seseorang menarik diri dari masyarakat. Apakah karena konflik personal, trauma sosial atau sedang mengalami krisis identitas diri.

Kalau kamu punya teman yang sedang ada dalam fase itu, cobalah untuk menghampirinya. Main ke rumahnya, ajak main PES, ngopi, futsal, gitaran, atau apa pun yang bisa membuatnya kembali senang. Rasanya itu lebih solutif daripada menebar ancaman seperti mencerca dengan kalimat “ra srawung rabimu suwung”.

Argumentasi di atas bukanlah pembelaan atas sikap apatis terhadap lingkungan sosial melainkan semacam evaluasi agar kita tidak hanya saklek terhadap paham atau kalimat populer tertentu namun juga mengerti, memahami dan mampu mempertanggungjawabkannya.

BACA JUGA Mana yang Perlu Diprioritaskan: Menikah Dulu? Atau Mapan Dulu?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2021 oleh

Tags: adatBudayaPernikahanperpecahanpersaudaraanPojok Tubir Terminalsrawung
Lindu Ariansyah

Lindu Ariansyah

Membawa bisingnya Jakarta di dalam darah, namun meninggalkan potongan hati yang retak di sudut Magelang. Seorang pengembara rasa yang kini merangkai kembali maknanya lewat kata-kata.

ArtikelTerkait

7 Langkah yang Bisa Kita Lakukan agar Tetap Bertahan Hidup Setelah Kenaikan PPN terminal mojok

7 Langkah yang Bisa Kita Lakukan agar Tetap Bertahan Hidup Setelah Kenaikan PPN

17 Juni 2021
daftar tamu undangan pernikahan ra srawung rabimu suwung seserahan adik nikah duluan gagal nikah dekorator pernikahan playlist resepsi pernikahan mojok

Jenis-jenis Pertanyaan Menyebalkan yang Sering Ditujukan ke Dekorator Pernikahan

5 Februari 2021
kenapa UMP Jogja rendah titik kemacetan di jogja lockdown rekomendasi cilok di Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR dawuh dalem sabda pandita ratu tugu jogja monarki mojok

Menjawab Pertanyaan Paling Hangat Abad Ini: Kenapa UMP Jogja Rendah?

16 Juli 2021
5 Hal yang Baru Terasa Mahal Setelah Menikah, Bikin Syok  Mojok.co

5 Hal yang Baru Terasa Mahal Setelah Menikah, Bikin Syok 

18 Januari 2026
buku bajakan buku-buku baru buku musik mojok

Memahami Kemuakan Tere Liye lewat Buku Hadiah Giveaway

29 Mei 2021
PGI tes wawasan kebangsaan KPK mojok

Memangnya Ada yang Salah dari PGI Menolak Upaya Pelemahan KPK? Kenapa Diserang?

3 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pasar Wilis Malang, Surga Buku Bekas yang Kini Menunggu Mati (Pixabay)

Merindukan Pasar Wilis Malang, Surga Buku Bekas yang Kini Sepi Menunggu Mati

10 Mei 2026
Sisi Gelap FISIP, Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik Terminal

FISIP Kehilangan “Taring” karena Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik 

7 Mei 2026
5 Kelebihan Kos LV yang Jarang Disadari, Nyatanya Nggak Seburuk yang Diceritakan Orang kos campur

Pengalaman Hidup di Kos Campur: Sebenarnya Tidak Seburuk Itu, tapi Sebaiknya Memang Jangan Pernah Coba-coba Tinggal

13 Mei 2026
4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup Mojok.co

4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup

12 Mei 2026
Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Long Weekend Itu Memang Menyenangkan, kecuali untuk Warga Jogja

7 Mei 2026
4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu Mojok.co

4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu

12 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.