Menjadi Mantan yang Profesional

Mantan bagi saya sendiri sudah sebagai mantan. Setelah menjalani hubungan sekian lama lantas berakhir begitu saja tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Artikel

Avatar

Sekira pertengahan juni 2018 saya mendapat sebuah chat dari salah seorang mantan saya, sebut saja Namanya mawar. Hehehe. Isi chatnya bahwa dia akan menikah pada awal Juli atau sekira 3 minggu setelah chat itu. Dia juga memberi kabar bahwasanya orang tuanya sangat berharap saya bisa ke acara pernikahannya tersebut.

Singkat cerita, saya berangkat pada hari bahkan sebelum acara nikahan dengna naik kereta api Wijaya Kusuma tujuan Yogyakarta-Purwokerto atau sebaliknya. Saya tiba di rumah dia hari itu juga bahkan sempat menjadi saksi acara seserahan. Tidur di rumah tetangganya yang memang disediakan untuk tamu nikahan yang ingin menginap.

Acara nikahan pada esok harinya. Seperti biasa, ijab kabul, doa, resepsi. Saya menyaksikan hampir semua hal terkait pernikahan gadis itu. Bahkan tidak ada sedikitpun yang terlewat. Menarik ingatan ke belakang, saya juga yang memberi saran kepada sang mantan cara menentukan sikap dan memberi pilihan kepada calon suaminya yang kebetulan masih menjadi pacarnya. Maka lengkaplah sudah semua yang saya bisa berikan kepada mawar, mantan saya.

Bagaimana tanggapan teman saya terkait apa yang saya lakukan kepada mantan? Respon yang bejibun. Ada yang negatif, lebih-lebih yang positif. Banyak dari mereka menganggap apa yang saya lakukan adalah gentle. Bagaimana seharusnya seorang bersikap kepada seorang mantan. Mantan apapun itu. Mantan pacar, gebetan, calon gebetan, suami, istri, dan mantan-mantan yang lainnya. Toh mereka, jika manusia juga mereka adalah manusia biasa. Layaknya saya dan manusia lainnya.

Banyak sekali beredar video-video di media sosial yang memperlihatkan mantan pacar yang menghadiri pernikahan si doi. Ada yang menangis karena begitu berharapnya mereka bisa bersanding dengan sang mantan. Ada yang bersikap biasa saja karen menganggap emang hal itu lumrah. Bahkan ada juga yang tertawa lantas mengingat dan bernostalgia tentang apa saja suka duka yang telah mereka lalui Bersama sang mantan. Saya memilih berada pada pilihan nomer tiga. Menertawakan apa yang terjadi terutama setelah mengingat begitu banyak hal dalam kurun waktu sekian lama telah kami lalui Bersama. Suka duka, tangis tawa dan momen lainnya yang kadang bikin senyum-senyum sendiri.

Baca Juga:  Cinta Barcelona yang Akhirnya Tidak Bertepuk Sebelah Tangan

Mantan bagi saya sendiri ya sudah sebagai mantan. Setelah menjalani hubungan sekian lamanya lantas berakhir begitu saja tanpa sesuai dengan apa yang saya harapkan ya sudah, mau bagaimana lagi. Toh pada dasarnya kita sudah berjuang bersama. Berusaha menyatukan visi dan pemikiran, lantas berakhir tidak sesuai dengan harapan ya itulah namanya takdir. Paling tidak, pada level tertentu usaha saya sudah anggap ada tahap maksimal. Menemui keluarga sang mantan. Berdialog dan berinteraksi layaknya saat itu juga saya sudah menjadi bagian dari keluarga mereka.

Dewasa ini banyak dari keluarga, teman, sahabat, atau siapapun juga yang begitu besar harapan untuk berdua di pelaminan dengan mantan pacar mereka lantas pupus karena suatu hal. Kecewa berat lalu melakukan hal aneh saat berada di acara nikahan mantan. Kalo kata saya, buat apa? Cari perhatian? Kecewa? Tidak seharusnya begitu. Ini itu sesederhana kita tes ujian masuk perguruan tinggi negeri, sudah belajar maksimal, menginginkan PTN yang kenamaan, lantas tidak lolos seleksi. Lalu pada akhirnya kita kecewa berat, stress sampai mau atau bahkan bunuh diri? No!! Tidak begitu kengkawan.

Tidak masuk PTN kenamaan yang kita harapkan setelah serangkain usaha yang sudah kita lakukan tidak membuat kita berkurang suatu apapun kan? Kita masih bisa mencoba PTN atau PTS lainnya. Kita masih punya peluang untuk itu. Dan satu hal yang kita miliki sebagai nilai tambah sekarang, Pengalaman.

Hal yang sama harusnya kita amini dalam dunia perpacaran. Tujuan kita semua, pada akhirnya bersanding di pelaminan sebagai sepasang manten. Usaha terbaik telah kita lakukan agar tujuan tersebut tercapai. Lantas jika tidak sesuai harapan apakah semua berakhir? Tidak. Kita masih memiliki peluang dengan orang-orang baik lain di sekeliling kita. Kita masih bisa mencoba mendekati gebetan yang justru dekat saat kita masih berpacaran dengan sang mantan. Dan satu hal yang pasti, kita masih bisa dan bahkan harus menjadi seorang mantan yang professional.

Baca Juga:  Sulitnya Menjadi Ibu Muda Waras di Era Kemajuan Teknologi

Memang untuk bisa benar-benar terbebas dari sang mantan dan menganggap dia sebagai seorang biasa yang tidak memiliki hubungan special dengan kita membutuhkan sedikit waktu. Bagi saya justru disitulah seninya berpacaran. Mencoba berpaling dari si dia yang telah menemani selama sekian lama lantas harus rela melihat dia bersanding dengan yang lain itu sakit! SAKIT BANGET! Tapi itu karena dari awal kita sudah merasa memiliki sang mantan secara utuh padahal kan belum sampai ijab kabul? Hehehe

Pada akhirnya, kepada jiwa-jiwa yang ditinggal pas lagi sayang-sayangnya dan masih bisa menjadi mantan yang profesional, saya angkat topi untuk kalian semua. Dan untuk dia yang sudah bahagia dengan pacar baru atau bahkan suami/istri, ingat, bahwa pernah ada seorang yang begitu berharap ada di posisi pasangan kalian namun harus berakhir  tidak sesuai harapan. #eh

---
510 kali dilihat

8

Komentar

Comments are closed.