Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Menghitung Pendapatan Kucing Kampung di Tengah Pandemi Corona

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
16 April 2020
A A
Persahabatan Tom dan Jerry yang Sering Disalahartikan sebagai Pertikaian Abadi Menghitung Pendapatan Kucing Kampung di Tengah Pandemi Corona
Share on FacebookShare on Twitter

Bukan hanya manusia yang sedang kepayahan mengikuti aturan di rumah saja atau keluar agar tetap dapat makan. Juga ada kucing-kucing kampung di luar sana yang sedang limbung mengisi perutnya. Ada kucing kampung yang menempati tiap-tiap kampus, jalanan, selokan hingga sekitaran kompleks yang biasanya nongkrong ngecengin kucing rumahan. Yang disebut terakhir, mereka ini biasanya suka menghuni atap rumah. Sering menimbulkan kegaduhan tiap malam dengan cara lari-lari di eternit atau genteng. Bukan tanpa maksud, ternyata mereka sedang memberikan semacam kode rahasia kepada manusia. Yakni memberi isyarat bahwa mereka kelaparan.

Akibat pandemi, dunia pun menjadi gempar, sedangkan kucing-kucing kampung ini menjadi lapar. Saya pun iseng mewawancarai beberapa kucing liar kompleks guna memberikan data terkini terhadap penghasilan mereka selama pandemi corona. Ada beberapa alasan pokok yang menyebabkan mereka menjadi gundah. Mulai dari dipecat dari pekerjaan hingga hilangnya tukang sayur sebagai tempat mencari sesuap tongkol, berikut daftarnya.

Pertama, beberapa tukang sayur di desa saya lebih memilih menjual secara online. Benar, Mbak Kuat, tukang sayur langganan ibu saya, lebih memilih membuat grup dan memfasilitasi ibu-ibu di kompleks saya untuk memesan melalui grup WhatsApp. Dengan adanya inovasi ini, geng kucing yang sering mangkal di dekat yao-yao (nama tempat jual beli sayuran, nggak tahu kenapa dinamai yao-yao) Mbak Kuat jadi kelimpungan.

Stepen, kucing berumur satu tahun dua belas bulan menuturkan keluh kesahnya, “Mbak Kuat ini tega Mas sama kami (kucing-kucing kampung, red), meong. Kan nafkah kami hanya bisa rebutan ketika Mbak Kuat melempar tongkol yang nggak laku kepada kami. Setelah Mbak Kuat jualan online, kami bisa apa, meong?”

Setali tiga uang dengan apa yang menjadi keresahan Suryati, kucing betina berumur satu tahun yang harus mengurangi kebiasaan foya-foyanya. Ia menuturkan, “Biasanya saya seminggu sekali ke Pasty, meong. Umuk sama teman-teman angora atau persia karena saya lebih makmur. Mending makan tongkol tapi bebas to, Mas, daripada makan kalengan tapi dikurungi gitu.”

Suryati pun mengeluh, rumah tangganya menjadi tidak harmonis karena kekurangan tongkol dari yao-yao Mbak Kuat. “Suami saya di PHK, Mas. Blio ini kerja serabutan, mainan saham. Selama pandemi, dirinya nggak bisa maksimal mendapatkan cuan. Saya apalagi,” tutur Suryati dengan sedihnya.

Ketika ditanya berapa tongkol yang mereka peroleh, Suryati dan Stepen menjawab berbeda. Stepen menjawab per hari yang biasanya 3 potong, kini nggak dapat sama sekali. Jika Suryati, yang biasanya dapat 8, kini menjadi 3 karena nyolong. “Jangan lapor Pak RT, Mas. Kepepet, meong,” katanya membela diri.

Satu ikan tongkol di tempat saya, berada dalam kisaran harga 8 ribu satu pack. Di mana, satu pack berisi dua ikan tongkol. Jadi, Stepen selama pandemi ini memperoleh penghasilan 0 rupiah dari 12 ribu rupiah di hari biasa. Sedangkan Suryati, memperoleh pendapatan 12 ribu rupiah selama pandemi dari hasil maksimal 32 ribu rupiah.

Baca Juga:

Pandemi Berkepanjangan Bikin Penderita Maskne seperti Saya Kewalahan

Wahai Bapak Ibu Dosen, Kenapa Sering Sekali Mengganti Jam Kuliah Online Sih?

Kedua, PHK massal dalam bisnis malak Whiskas kucing rumahan. Karyo, suami Suryati, menuturkan bahwa bisnis ilegal ini sudah ia jalankan selama beberapa tahun. “Awalnya coba-coba ya, Mas, meong,” katanya dengan suara disamarkan. “Kucing rumahan ini biasanya kesepian. Nggak punya temen lah kasarannya, meong. Nah, saya pura-pura baik sama mereka, terus ketika mereka meleng, saya ambil Whiskas-nya, meong,” katanya sambil jilat-jilat kaki.

Karyo juga mengeluhkan, selama pandemi corona banyak kucing rumahan yang dirumahkan. “Ya, mereka ini saya lihat dari kaca sedang asyik Netflix-an, ada juga yang lagi fitness sama majikannya. Yang buat elus dada, Whiskas miliknya ini sudah di-stock sampai munthuk–munthuk sama pemiliknya, Mas, meong,” tuturnya dengan menunjukan kesenjangan yang terjadi selama corona.

Stepen juga ikut dalam bisnis gelap ini. Ia kebetulan adalah penggerak bisnis ilegal di kompleks kami. Bahkan, Stepen tak keberatan membongkar semuanya. “Prosedurnya mudah, Mas. Hanya butuh bergrup saja. Biasanya saya sama Karyo, istrinya Suryati itu lho, Mas, kenal kan? Nah, setelah itu, kami spik-spik manja sama kucing rumahan. Kalau kucing rumahannya cowok, Karyo yang spik. Tapi kalau cewek, saya, Mas. Karena Suryati itu cemburuan, Mas, meong.”

Stepen melanjutkan, “Kami biasanya ambil yang 1,2 kilo, Mas. Harga di pasaran ada di angka 66 ribu rupiah. Kan lumayan bisa beli 16 tongkol,” katanya sambil garuk-garuk leher. Ketika ditanya kenapa nggak makan Whiskas-nya saja, Stepen ngekek, “Makanan kucing elite aneh-aneh, Mas. Kurang suka je saya. Meong, meong, meong (ceritanya ketawa, red). Tongkol masih numero uno, meong.”

Ketiga, relawan berkurang drastis. Banyak tetangga kompleks yang sengaja kasih tulang ayam, duri ikan, atau makanan yang nggak habis sengaja dikasih depan rumahnya untuk menafkahi kucing-kucing kampung ini. Namun, selama pandemi berlangsung, banyak yang menerapkan pola hidup bersih dan membuang sampah makanan sisa langsung ke tong sampah. “Ini memang nggak bisa dijual, Mas, meong. Tapi makanan sisa itu makanan ternikmat karena habis dicicipi manusia terlebih dahulu, meong,” tutur Stepen.

Penghasilan kucing kampung selama pandemi ini memang berkurang drastis. Beberapa negara di dunia sudah mengambil langkah guna mengurus kucing jenis ini. Dan di kompleks saya sendiri, beberapa sudah menyisihkan rupiahnya guna membelikan makanan untuk keberadaan Suryati, Karyo, Stepen, dan kucing-kucing lainnya.

Sebagai penutup, Stepen selaku Ketua Paguyuban Kucing Kampung Banguntapan menuturkan, “Banyak simpang siur berita kucing dapat menularkan virus ini, meong. Kami juga nggak tahu kejelasannya seperti apa, teorinya bagaimana dan antisipasi yang tepat itu gimana, meong. Kami di sini nggak maksud ganggu, kami cuma mau maem, meong. Untuk seluruh kucing kampung di seluruh Indonesia, bahkan dunia, aku mohon bertahanlah sebentar lagi. Nanti kita main, malakin kucing rumahan, dan makan tongkol seperti biasanya lagi.”

BACA JUGA Kenapa Ada Orang yang Gampang Banget Jahatin Kucing? atau tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 16 April 2020 oleh

Tags: kucing kampungpandemi corona
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

pandemi corona covid-19 MOJOK.CO

Viral Video Keluarga Pasien Covid-19 Marah: Strategi Menghilangkan Salah Paham

9 Juli 2020
Bukan Benci, Ada Alasan Kenapa Perlu Mengusir Kucing dari Rumah Kita terminal mojok.co

Dilema Melihara Kucing Liar: Bikin Iba, tapi Suka Ngeselin

25 September 2020
Dilema Tukang Tembak Thermo Gun_ Kemakan Hoaks atau Tidak, Sama-sama Susah MOJOK.CO

Dilema Tukang Tembak Thermo Gun: Kemakan Hoaks atau Tidak, Sama-sama Susah

25 Juli 2020
Mbak Nana, Tagar #WisudaLDR2020 Itu Bukannya Nyemangatin Malah Bikin Sedih Rasanya Patah Hati Melihat Teman Sendiri Sudah Wisuda

Mbak Nana, Tagar #WisudaLDR2020 Itu Bukannya Nyemangatin Malah Bikin Sedih

8 Juni 2020
Kehidupan Saya di Jerman Selama Ada Virus Corona

Kehidupan Saya di Jerman Selama Ada Virus Corona

14 April 2020
Pengalaman Ikut Swab Test Antigen Drive Thru, Nggak Ribet walau Agak Deg-degan terminal mojok.co

Pengalaman Ikut Swab Test Antigen Drive Thru, Nggak Ribet walau Agak Deg-degan

31 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Kertek Wonosobo, Jadi Pusat Ekonomi tapi Bikin Sengsara (Unsplash)

Jalur Tengkorak Kertek Wonosobo Mematikan, tapi Pemerintah, Warga, hingga Ahli Klenik Saja Bingung Cari Solusinya

24 Februari 2026
Tebet Eco Park, Spot Hits Jakarta Selatan yang Sering Bikin Bingung Pengunjung Mojok.co

Tebet Eco Park Adalah Mahakarya yang Tercoreng Bau Sungai yang Tak Kunjung Dibenahi

20 Februari 2026
Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

26 Februari 2026
Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya Mojok.co

Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Jadi Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya

23 Februari 2026
5 Barang Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek-merek yang Sudah Besar Mojok.co

5 Produk Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek yang Sudah Besar

25 Februari 2026
Mari Mengenal Salah Satu ‘Keajaiban’ dalam Hidup: Compounding

Mari Mengenal Salah Satu ‘Keajaiban’ dalam Hidup: Compounding

25 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi
  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”
  • Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya
  • Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun
  • Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga
  • Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.