Menebak Karakter Orang dari Cara Menyeberang di Jalan Raya – Terminal Mojok

Menebak Karakter Orang dari Cara Menyeberang di Jalan Raya

Artikel

Beberapa orang dewasa punya kemampuan menyeberang yang lebih payah ketimbang anak-anak. Kita tahu kan, saat usia anak-anak, kita diberitahu di setiap pelajaran cara menyeberang yang baik. Pertama, lihat kanan, kiri. Lalu menyeberang dengan hati-hati. Kalau memang lagi menyeberang di jalan raya yang dua arah. Sebaiknya berhentinya tepat di garis tengah, jangan terlalu maju dan jangan terlalu mundur.

Pelajaran yang sederhana di masa kecil sering diabaikan oleh orang-orang dewasa. Bahkan sampai tergolong dilupakan. Masa bodoh dengan hal-hal yang remeh itu memang sudah menjadi budaya bagi warga negeri ini. Mereka menganggap hal-hal kecil yang remeh-temeh ini tidak akan berdampak serius pada dirinya. Padahal jika mau sedikit memperhatikan, justru hal-hal kecil akan menjatuhkan dirinya ke lembah yang begitu dalam.

Saya malah ngomong apa di atas. Tapi memang benar, menjumpai orang-orang yang ingin menyeberang kadang bikin hati dag dig dug. Bagaimana tidak, kadang orang menyeberang itu layaknya pendekar yang mempunyai sembilan, nyelonong begitu saja tanpa memperhatikan kanan dan kirinya terlebih dulu. Kampretnya lagi, kalau ketabrak yang disalahin yang nabrak, padahal yang nyelonong begitu saja orang itu.

Buat kalian, sudah berapa kali menemui orang-orang yang menjengkelkan ketika menyeberang jalan? Banyak pasti, terutama orang-orang yang merasa jago. Saya enggak habis pikir dengan mereka, kalau ajang jago jangan waktu menyeberang lah. Sono pergi ke arena tinju atau tanding bebas.

Baca Juga:  Menjadikan Hot Wheels Sebagai Investasi? Pikir-Pikir Lagi deh

Berdasarkan fenomena menjengkelkan tersebut, saya mencoba menebak karakter orang dari cara mereka menyeberang di jalan raya. Berikut hasilnya.

Menunggu jalan benar-benar sepi

Ada orang yang masih diam mengamati jalanan ketika mereka mau menyeberang. Padahal jika dipikir-pikir ada peluang untuk orang itu menyeberang, ya walaupun masih ada motor satu dua, tetapi orang itu memilih untuk menunggu agar jalan benar-benar sepi dan mereka baru menyeberang.

Jangan kalian ejek orang-orang semacam ini. kalian perlu menaruh rasa hormat kepada mereka. karena pada dasarnya mereka memiliki karakter sabar dan kuat. Tidak diragukan lagi, kalau soal menunggu, merekalah paling jago. Apalagi menunggu jodoh yang enggak datang-datang.

Hehe, maaf.

Ada kemungkinan karakter lain lagi untuk orang-orang semacam itu? Ada, orangnya enggak pernah bosan. Karena seperti yang kita ketahui, menunggu itu membosankan bahkan bisa juga hingga ke jejang menyakitkan yaitu ketika menunggu tanpa kepastian, kayak kalian-kalian yang jomblo tuh.

Hehe, maaf.

Mengacungkan telunjuk ke langit

Serius, ada orang yang menyeberang dengan cara mengacungkan telunjuk ke langit. Seolah sedang memberitahu pengendara-pengendara agar selalu ingat sama Sang Pencipta. Ya semacam ucapan hati-hati di jalan dalam bentuk isyarat. Atau kalau tidak, mengajak pengendara agar berdzikir ketika berada di perjalanan.

Orang-orang semacam ini memiliki karakter yang begitu mulia. Kok bisa? Bisa saja, karena mereka selalu ingin mengajak orang lain agar selalu ingat kepada tuhan yang maha kuasa di setiap langkah kehidupannya. Orang-orang semacam ini perlu dilestarikan agar pendakwah di muka bumi ini dimusnah plus mereka juga mengamalkan hadis, “sampaikanlah walau satu ayat.” Masyallah, mulai sekali orang-orang golongan ini.

Baca Juga:  Stereotip Orang-Orang tentang Masyarakat Asli Lombok

Tapi mungkin aja orang-orang ini fans berat Kaka. Kaka kalau selebrasi kan angkat tangan menunjuk langit.

Menghentikan mobil yang melaju dengan tangan

Orang-orang ini biasanya berkarakter grusa-grusu, emosian, dan vulgar. Mereka tidak mau menunggu terlalu lama. Enggak sabaran dalam menjalani sebuah proses. Andaikan ini tipe cowok, mereka tidak mau menunggu terlalu atau berharap terlalu lama pada cewek. Jika sudah mendapatkan tanda-tanda kalau cewek ia sesegera mungkin pergi dan mencari yang baru.

Orang-orang semacam ini sering merasa sok jagoan. Menghentikan mobil dengan tangan dan matanya melotot itu menandakan kalau memang dia sok jagoan. Apalagi pakai membungsungkan dada segala. Arep gelut, Buos?

Cara menyeberang ini sebenarnya berbahaya. Kita nggak tahu juga kalau ternyata ada orang yang nyalip kendaraan yang sedang kita hentikan. Bagaimana pun, kita yang salah. Kalau kita harus menghentikan kendaraan buat nyeberang, artinya kita lagi nggak di jalur penyeberangan.

Jadi inget lagunya BMTH yang judulnya “Jaywalking”. Ehe, maaf.

BACA JUGA Bagaimana Polisi Seharusnya Menangani Aksi Demonstrasi dan tulisan Muhammad Khairul Anam lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.