Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mencorat-coret Buku Bacaan Itu Nggak Salah, Justru Wujud Kreatif dan Kritis

Mohammad Maulana Iqbal oleh Mohammad Maulana Iqbal
30 Desember 2020
A A
Mencorat-coret Buku Bacaan Itu Nggak Salah, Justru Wujud Kreatif dan Kritis terminal mojok.co

Mencorat-coret Buku Bacaan Itu Nggak Salah, Justru Wujud Kreatif dan Kritis terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Menjadi pembaca buku tanpa mencorat-coret buku yang dibaca merupakan sebuah kemustahilan bagi saya. Pasalnya, tangan yang dipandu oleh pikiran, nggak mau diam ketika mata sedang bekerja untuk membaca buku. Seolah-olah terdapat bagian tertentu di dalam buku yang menurut saya seharusnya dicorat-coret. Entah itu coretan dalam bentuk menggarisbawahi, memberi keterangan, menandai hal-hal tertentu, atau bahkan menggambarinya.

Jika menurut istilah kerennya, buku yang telah menjadi korban pencoretan oleh pembacanya disebut annotated book. Begitulah kebanyakan buku milik saya yang menjadi korban tindakan corat-coret saya sendiri. Apakah perilaku tersebut merupakan akhlak yang tercela? Apakah perilaku tersebut melanggar kode etik tertentu? Menurut saya tentu saja nggak sama sekali, bahkan itu baik untuk situasi tertentu.

Terdapat beberapa hal yang melatarbelakangi kenapa saya gemar sekali untuk mencorat-coret buku bacaan saya sendiri. Aspek yang paling utama yakni karena saya merupakan orang yang gampang lupa. Meskipun saya telah membaca buku secara serius, tapi beberapa hari kemudian apa yang saya baca pasti akan lenyap begitu saja, layaknya SpongeBob yang terhapus ingatan ketika hendak menjadi pelayan restoran.

Mungkin apa yang saya baca dapat diingat kembali ketika ada situasi tertentu yang memaksanya untuk hadir, seperti ketika diskusi dengan teman. Bahkan terkadang ingat kembali di waktu yang nggak tepat banget, seperti sedang di kamar mandi atau sedang berkendara. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mencorat-coret buku bacaan saya dengan menandai bagian-bagian yang penting. Ketika bagian penting telah ditandai, akan memudahkan saya untuk mengingat gagasan dari buku tersebut ketika membacanya kembali.

Secara tidak langsung melalui corat-coret buku tersebut, maka saya telah merawat ingatan saya mengenai isi buku yang telah dibaca. Tentunya, jika buku tersebut dibaca kembali. Pasalnya, jika nggak dibaca kembali ya percuma.

Bukankah apa yang saya lakukan cukup kreatif? Mencorat-coret memudahkan para pembaca untuk mengetahui gagasan-gagasan penting di dalam sebuah buku, terutama bagi saya yang gampang lupa. Corat-coret buku yang saya lakukan nggak sebatas menandai bagian penting, bahkan lebih daripada itu. Terkadang saya memberi catatan kecil pada bagian tertentu yang menurut saya perlu dilakukan.

Mulai dari catatan berupa penguatan atas isi buku melalui referensi yang saya miliki, bahkan sampai mengkritisi bagian tertentu yang saya kurang sepakat dengannya, tentu saja dengan argumen pribadi, yang saya tuliskan pada buku tersebut. Nggak hanya itu saja, di bagian paling akhir buku biasanya saya beri sedikit review tentang isi buku yang telah saya baca. Terkadang, jika saya kurang sepakat dengan isi buku tersebut, maka saya beri argumen mengenai ketidaksepakatan saya dan alasan-alasan yang melatar belakanginya.

Menurut saya, tindakan corat-coret buku dengan memberi catatan kecil ini merupakan tindakan yang kritis dalam membaca. Pasalnya, buku bacaan itu nggak selalu memuat hal yang dapat dipercayai secara penuh, mungkin saja terdapat beberapa aspek yang mana para pembaca bebas untuk mengkritisinya. Jadi, bukan tindakan yang salah dong, ketika corat-coret buku dilakukan dengan alasan-alasan di atas. Bahkan corat-coret buku menjadi sebuah kegiatan positif untuk pengembangan diri bagi para pembaca itu sendiri.

Baca Juga:

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik

Alasan Gramedia Tidak Perlu Buka Cabang di Bangkalan Madura, Nggak Bakal Laku!

Namun, ada yang perlu diperhatikan sebelumnya. Dikarenakan kegemaran saya yang suka corat-coret buku, saya jarang banget untuk baca buku PDF dan baca buku pinjaman, entah itu pinjam buku dari perpustakaan ataupun dari teman.

Memang sangat mungkin dilakukan untuk mencorat-coret buku PDF, tapi bakalan ribet banget, sebab menggunakan aplikasi tertentu untuk mencoretnya. Keribetan itu nggak banget bagi saya. Kemudian, untuk buku pinjaman memang tentu saja bisa untuk dicorat-coret dan juga nggak ribet, tapi akan ada risiko lanjut atas tindakan corat-coret yang siap menunggu.

Oleh karena itu, lebih enak membaca buku sendiri, yang mana kita memiliki hak sepenuhnya atas buku tersebut. Sebab, melalui buku sendiri, maka kita bebas berkuasa untuk corat-coret sepuasnya tanpa batas.

Di sini saya menekankan bahwa corat-coret buku itu nggak salah, bahkan membangun daya kreatif sekaligus kritis dalam membaca sebuah buku. Namun, corat-coretlah pada buku yang kalian memiliki hak atasnya. Sebab, jika kalian corat-corat pada buku yang kalian nggak memiliki hak atasnya, bersiap-siaplah kalian dijuluki “zalim”, meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.

BACA JUGA Buku ‘Semesta Murakami’ Adalah Kitab Penting untuk Penulis atau tulisan-tulisan lainnya di Terminal Mojok.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 30 Desember 2020 oleh

Tags: Bukucorat-coret
Mohammad Maulana Iqbal

Mohammad Maulana Iqbal

Lulusan Magister Sosiologi yang doyan ngulik isu konflik, identitas dan dinamika sosial. Selain menjadi kapitalis toko fotocopy, sehari-hari juga disibukkan dengan kegiatan membaca, menulis dan riset. Sedang berkeringat melahirkan komunitas riset.

ArtikelTerkait

Tidak Apa-apa Sebab Kita Saling Cinta

Tidak Apa-apa Sebab Kita Saling Cinta: Kejujuran yang Megah dan Mahal

28 November 2021
Saya Tak Menyuruh Anak Saya Membaca Buku, Hanya Membiasakan 7 Hal Berikut terminal mojok

Saya Tak Menyuruh Anak Saya Membaca Buku, Hanya Membiasakan 7 Hal Berikut

29 Agustus 2021
ipusnas aplikasi baca buku gratis legal ebook reader cara pakai mojok

iPusnas Adalah Aplikasi Andalan untuk Membaca E-Book Legal

11 Mei 2020
[injam buku teman buku bajakan etika meminjam buku bacaan terminal mojok.co

Memotret Buku lalu Menguploadnya di Media Sosial itu Sebenarnya Buat Apa, Sih?

14 Agustus 2019
4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik Mojok.co

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik

7 Februari 2026
Cara Saya Berdamai dengan Antrean Peminjam Buku iPusnas yang Tidak Masuk Akal Mojok.co

Cara Saya Berdamai dengan Antrean Peminjam Buku iPusnas yang Tidak Masuk Akal

24 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung” yang Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman Mojok.co

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung”: Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman

12 Mei 2026
Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

18 Mei 2026
Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan Mojok.co

Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan

19 Mei 2026
5 Kelebihan Kos LV yang Jarang Disadari, Nyatanya Nggak Seburuk yang Diceritakan Orang kos campur

Pengalaman Hidup di Kos Campur: Sebenarnya Tidak Seburuk Itu, tapi Sebaiknya Memang Jangan Pernah Coba-coba Tinggal

13 Mei 2026
Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Maaf Saya Berubah Pikiran, Konsep Pengajian Berbayar Memang Lebih Masuk Akal dan Layak untuk Diikuti

16 Mei 2026
Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu Mojok.co

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

17 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.