Mencoba Memahami Twit Ersa Tri Wahyuni tentang Homo Deus: Awalnya Kasih Opsi, Akhirnya Bikin Keki – Terminal Mojok

Mencoba Memahami Twit Ersa Tri Wahyuni tentang Homo Deus: Awalnya Kasih Opsi, Akhirnya Bikin Keki

Artikel

Seto Wicaksono

Sampai dengan saat ini, tidak ada formula pasti untuk menjadi viral pada platform media sosial mana pun. Ada yang sengaja posting sesuatu sampai diniatin banget biar viral, ealah, nggak kunjung viral. Giliran bikin konten atau posting yang biasa-biasa aja, tahu-tahu viral sampai notifikasi membludak.

Barangkali, hal tersebut juga dialami oleh Ibu Ersa Tri Wahyuni, salah satu dosen pembimbing yang terbilang aktif main Twitter dan sudah merasakan bagaimana rumusan formula viral tersebut bekerja.

Selain semesta, rasa-rasanya tidak berlebihan jika saya berpikir bahwa dunia maya juga senang bercanda. Betapa tidak. Setelah cuitan Ibu Ersa pada 2019 lalu tentang “jeritan hati dospem” sempat viral, kali ini, blio mengalami momen serupa. Adalah twit tentang Homo Deus yang menjadi duduk perkaranya.

Twit tersebut sukses mengundang respons khalayak melalui kolom reply dan quote retweet. Ada yang sepakat, ada juga yang misuh-misuh dengan penuh semangat.

Jujur saja, saya sampai baca twit/utas tersebut berkali-kali. Menelusuri sekaligus mencari tahu, apa yang membikin khalayak merasa mangkel, merespons secara serampangan, hingga menjadi trending.

Baca Juga:  Indonesia di Mata Netizen: #EnakanDiIndonesia

Jika dibaca dari awal, sebetulnya Ibu Ersa Tri Wahyuni kesayangan kita semua hanya menjawab twit dari akun menfess @draftanakunpad yang dikirim oleh seorang sender tentang seberapa penting baca buku dan apa saja manfaat yang didapat.

Sebagai pengajar, tentu saja Ibu Ersa menjelaskan sesuai dengan porsinya. Responsnya begini:

“Baca buku itu membuka wawasan, membuka cakrawala jadi nggak dangkal kalau diajak ngomong. Kalau sendernya cowok, ngasih tahu aja nih… cewek itu suka sama cowok yang luas wawasannya kalau diajak ngobrol. Cowok yang wawasannya luas itu sexy.”

Setelah dibaca berulangkali, rasa-rasanya, twit blio akan lebih menyenangkan jika selesai pada kata, “membuka wawasan, membuka cakrawala.” Lebih general aja gitu. Lagipula, realitanya, saat PDKT atau kencan, cara pasangan itu beragam, Bu.

Ada yang lebih suka pergi ke perpustakaan dan baca sekaligus bahas beragam buku bareng-bareng. Ada yang sukanya nonton dan bahas film. Ada juga yang hobinya kulineran dan pergi dari satu tempat makan ke tempat makan lainnya, dan seterusnya, dan seterusnya.

Beberapa hal atau kebiasaan tersebut bebas dilakukan oleh pasangan yang sedang kasmaran, Bu. Toh, setiap pasangan akan berhadapan dengan resonansi atau kesamaannya masing-masing. Kalau memang nggak cocok sejak awal, entah dari obrolan atau kebiasaan, sebagian pasangan sudah paham satu hal: PDKT nggak perlu dilanjutkan.

Baca Juga:  Percaya Mitos Kucing Hitam Adalah Pembawa Sial Itu Sungguh Merepotkan

Okelah, saya tidak bisa memungkiri, betapa gregetnya sesuatu yang ibu sarankan kepada para cowok dan cewek tentang perbanyak baca buku yang bagus dan beragam. Poin ini bisa dikategorikan sebagai imbauan bagi para mahasiswa atau siapa pun, untuk meningkatkan literasi/kebiasaan membaca. Apalagi Indonesia masih ada dalam bayang-bayang menempati peringkat 60 dari 61 negara pada level literasi baca, dari survey yang diselenggarakan oleh UNESCO pada 2019.

Kendati demikian, meskipun beberapa twit-nya soal membaca Homo Deus memancing perasaan mangkel, keki, sekaligus pisuhan khalayak, jika dibaca dengan hati yang lapang dan pemikiran terbuka, sebetulnya blio bermaksud baik. Memberi opsi untuk membuka obrolan bagi kalian yang sedang kasmaran dan/atau dalam proses PDKT dengan cem-ceman, agar pada saat chattingan nggak stuck atau kehabisan bahan diskusi.

Lagipula, siapa yang menyangka bahwa twit tersebut akan viral, lalu mendapat pro dan kontra. Lantas diserbu oleh banyak pengguna Twitter dengan segala opininya.

Masih dalam konteks yang sama, mungkin Ibu Ersa lupa bahwa obrolan bisa terjadi karena adanya komunikasi dua arah. Jika yang satu ngotot diskusi sampai berbusa-busa soal buku atau bahan bacaannya, sedangkan yang lainnya nggak paham atau nggak memiliki ketertarikan yang sama, obrolan akan sia-sia dan terkesan egois aja gitu. Nggak efektif.

Ingin didengar, tapi enggan menelusuri perasaan orang lain. Apakah bakal nyaman dengan membicarakan topik tersebut?

Baca Juga:  Serius Nanya, Emang Boleh Share Screenshot Chat Pribadi ke Medsos?

Mau bagaimana pun, PDKT akan jauh lebih menyenangkan jika satu sama lain klop, Bu. Kalau memang nggak nyambung, ya nggak perlu dipaksakan. Kecuali ada keinginan untuk menyesuaikan atau mengimbangi tanpa paksaan. Tentu saja hal tersebut menjadi lain persoalan.

Btw, dengan segala proses yang dijalani, setiap orang punya caranya masing-masing untuk menjadi daging steak yang tebal dan juicy, Bu. Nggak apa-apa, kok, jadi remahan rengginang. Toh, tetap enak jika dikonsumsi dengan nasi dan campuran lauk lainnya.

BACA JUGA Panduan Cepat untuk Jadi Sosok yang Terkenal di Twitter dan artikel Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
8


Komentar

Comments are closed.