Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Menciderai Akal Dengan Merasa Paling

Fanani Ipan oleh Fanani Ipan
8 Juni 2019
A A
merasa paling

merasa paling

Share on FacebookShare on Twitter

“Terjadi pengeroyokan oleh oknum supporter yang menewaskan seorang pemuda berusia 23 tahun bernama Haringga Sirla, korban tewas usai menyaksikan pertandingan Persija dengan Pesib, di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Minggu (23/9/2018)”

Seperti ini lah jika kita tidak bisa mamaknai perbedaan sebagai sesuatu yang wajar, menganggap yang berbeda musuh atau tidak setara dengan kita, sehingga muncul lah klaim yang paling dan yang tidak sebanding.

Pernah suatu kali saya berkunjung ke tempat teman, ia adalah aktivis kampus, anak filsafat, di kamarnya banyak poster tokoh hebat, dari Karl Marx sampai Mahatma Ghandi, di rak bukunya pun tidak kalah menarik, banyak buku – buku kiri, dari buku Bumi Manusia nya Pramoedya sampai Madilog Tan Malaka. Saya yang kala itu membawa buku Boy Candra ditertawakannya, “apa enaknya baca buku kaya gitu? Coba kau baca buku Catatan Pinggir nya Goenawan Mohammad, bukunya bagus, tidak menye – menye seperti itu”. Aku mengernyitkan dahi sambil tersenyum sedikit. Aneh sekali, mengapa ada orang yang kerap kali mengkerdilkan selera baca seseorang, padahal membaca karya Karl Marx tidaklah harus menjadi komunis, membaca karya Boy Candra  tidak serta memaksa kita menjadi melankolis. Lebih baik membaca tiap buku dari pelbagai genre, agar tidak merasa paling komunis atau paling melankolis.

Parahnya, problema seperti ini tidak hanya terjangkit pada dunia literasi, dalam suatu perkumpulan pun kita seringkali menemui orang yang sesat pikir. Misalnya dalam urusan merokok, orang yang tidak merokok akan dengan bangga membusungkan dada, mengklaim yang tidak merokok jauh lebih sehat dan lebih baik, yang merokok juga sama, merasa paling bisa membauri lingkungan, dengan cara berbagi korek dan kepulan asap.

Perdebatan tidak berhenti sampai disitu, bagi yang tidak merokok ramai mengolok-olok yang merokok, dengan dalih kesehatan sekitar, yang merokok juga tidak kalah lantang membela diri, dengan alasan mendukung petani cengkeh dan menunjukkan kontribusi pajak rokok pada negara.

Bagi yang tidak merokok cobalah untuk menghargai para perokok dengan cara tidak menuding para perokok sebagai yang paling bertanggung jawab atas menurunnya kesehatan, dan memberi mereka ruang kebebasan untuk memanjakan diri dengan kepulan asap yang bisa jadi adalah hadiah dari apa yang telah mereka lalui seharian. Juga yang merokok seharusnya bisa  memaklumi bahwa tidak semua orang menyukai rokok, terlepas dari kesehatan banyak juga mereka yang tidak menyukai rokok sebab rasa yang tidak enak atau bau yang kurang sedap, hargai non perokok dengan mencoba merokok tanpa menggangu mereka yang tidak menyukainya.

Ada lagi yang mengaku anak pecinta alam, hobinya naik turun gunung sampai jelajahi hutan, mencintai alam tapi kerap meremehkan yang suka ke mall, mengagungkan alam tapi merendahkan manusia yang tak sehobi dalam memanjakan mata. Mereka yang suka ke mall pun sama, merasa paling elit dibandingkan mereka yang hanya naik turun gunung, membanggakan style yang branded, dan nongkrong di restoran atau café berekelas menjadikannya jumawa dibanding mereka yang suka camping di hutan belantara.

Bagi anak pecinta alam, mereka memilih gunung atau hutan sebagai pelarian dari pelik rutinitasnya, bagi mereka keheningan adalah ketenangan, padahal saat ini gunung semakin ramai, baik sebab banyaknya orang serakah yang mengeruk keuntungan disana ataupun anak – anak muda yang coba merayakan hegemoninya. Lain lagi dengan mereka yang kerap menjajakan kaki di lantai – lantai mall, kepuasan batin mereka berada pada kerumunan orang di café atau studio bioskop yang terkesan mewah, padahal untuk naik gunung pun sama, di perlukan peralatan dan atribut yang sesuai keadaan, dimana setiap tahun pasar terus menanjak.

Baca Juga:

Iklan Indomilk Gemas 2022: Iklan Cerdas yang Tampar Masyarakat Indonesia

Iklan Kritik Sosial Terbaik Jatuh kepada Sampoerna A Mild

Juga dalam urusan musik, seringkali orang – orang yang menyukai kpop dicap sebagai yang paling rendah perihal selera musik, juga yang paling rentan menjadi korban bullying oleh mereka yang merasa selera musiknya lebih jantan. Menaruh gender pada jenis musik justru semakin memperparah sekat perbedaan, anehnya seksisme dalam urusan musik seakan mendarah daging sehingga dianggap lumrah, pasalnya laki laki yang mempunyai selera musik yang tidak jantan semisal menyukai kpop akan ditertawakan bahkan menjadi bahan olok – olok disuatu perkumpulan, hal ini jelas berbeda jika perempuan menyukai jenis musik keras serupa hardcore yang malah akan dipuji elegan. Memang tidak semuanya seperti itu, karena bisa saja laki – laki yang menyukai kpop dinilai lebih cute, sedangkan perempuan yang cenderung menyukai musik keras kerap dilabeli nakal.

Pada hal sepele semisal selera makan juga tidak terhindari diskriminasi serupa, bahkan sering karena menjadi rutinitas sehari – hari. Laki – laki akan dicap tidak gentle hanya lantaran tidak menyukai makanan pedas, pun dengan perempuan akan dicap menyalahi kodrat jika lebih suka minum kopi daripada jus buah atau milkshake. Padahal laki – laki yang tidak menyukai pedas bukan berarti tidak berani, boleh jadi karena tidak mau kesehatannya terganggu karena tidak cukup kuat lambungnya, atau karena tidak mau kenikmatan menikmati suatu makanan terganggu oleh rasa yang tidak disukai. Juga dengan perempuan yang lebih menyukai rasa asam dan pahit kopi itu bukan berarti tidak punya sifat feminis, lagipula kenapa juga kita sering mendikte kenyamanan orang lain agar serupa?

Tidak bisa dipungkiri, kadangkala kita juga sering menjadi pelaku atas diskriminasi perbedaan seperti ini, seakan perbedaan adalah barang yang menyebabkan alergi, sehingga yang terjadi adalah merasa diri lebih superior dibanding yang tidak sefrekuensi, seharusnya kita bisa menghargai orang lain tanpa memaksa orang lain menghargai kita.

Begitu banalnya pola pikir kita memahami hobi dan kesenangan orang yang berbeda, merasa paling baik, merasa lebih di atas orang lain. Setiap kita terlahir beda bukan tanpa sebab, perbedaan seharusnya mengajarkan kita agar lebih mengenal dan memahami, bukan mengenal lalu saling menertawai. Apa jadinya jika seisi dunia mempunyai manusia yang seragam? Sangat membosankan bukan?

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2022 oleh

Tags: Kritik SosialMenciderai AkalPaling
Fanani Ipan

Fanani Ipan

ArtikelTerkait

couple goals

Tren Couple Goals: Hubungan dan Kemesraan yang Selalu Dipamerkan

13 Agustus 2019
nasionalis

Seberapa Nasionalis Kamu?

15 Agustus 2019
kawan menjadi lawan

Kawan yang Kini Merasa Menjadi Lawan, Kembalilah Seperti Dulu

26 Mei 2019
Paling Oke

Betapa Menjengkelkannya Orang yang Merasa Paling Oke

17 Juni 2019
merantau

Kampung PNS dan Pudarnya Pesona Merantau

21 Agustus 2019
Antek Pengguna Toilet yang Menjengkelkan dan Perlu Dibina toilet umum etika buang air terminal mojok.co

Kisah Resah di Toilet Sekolah

14 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026
UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup
  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 
  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa
  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.