Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Menanggapi Tulisan Hai Para Pemakan Bubur Diaduk, Bertobatlah: Maaf, Tapi Makan Bubur Diaduk Adalah Jalan Yang Sebenar-benarnya

Gilang Oktaviana Putra oleh Gilang Oktaviana Putra
22 Juli 2019
A A
bubur diaduk

bubur diaduk

Share on FacebookShare on Twitter

Hallo mba Maria, sudahkah mbak makan bubur hari ini? Sebelumnya perkenalkan, saya cowok yang kalau makan bubur harus diaduk. Lewat tulisan ini saya mau menanggapi artikel mbak yang membahas tentang cara makan bubur diaduk vs nggak diaduk. Saya merasa harus menanggapi tulisan mbak karena makan bubur diaduk adalah jalan yang sebenar-benarnya.

Pertama-tama, saya ucapkan selamat karena telah berhasil hidup berdampingan dengan suami mbak sampai sekarang. Karena kalau berdasarkan cerita mba, suaminya adalah bagian dari penganut aliran makan bubur dengan cara diaduk. Bisa saya bayangkan, bagaimana perjuangan mba menerima suami mba yang berbeda aliran dalam hal makan bubur. Selamat juga karena telah berhasil melewati drama-drama tentang bubur selama ini, mba.

Sebelum masuk ke pembahasan tentang cara makan bubur, ada baiknya saya membahas sejarah asal-usul bubur yang saya dapat dari kolom pencarian google urutan pertama di page one. Konon katanya, bubur sudah ada sejak tahun 238 sebelum masehi di jaman kaisar kuning atau Kaisar Xuanyuan Huangdi. Pada waktu itu bubur dibuat agar manusia mampu bertahan dari kemarau panjang dan kurangnya bahan makanan. Lalu ada cerita tentang dokter Chun Yuyi yang memberikan bubur pada Kaisar Qi saat beliau sakit. Selain itu, tekstur bubur yang lembut juga membuat bubur jadi makanan khusus buat bayi yang belum bisa makan nasi.

Dari sini sudah jelas kalau bubur hakikatnya adalah makanan yang harus langsung ditelan. Mengaduk bubur sebelum makan adalah sebuah inovasi agar kami bisa menikmati enaknya bubur tanpa harus keluar dari jalan yang benar. Kami mengaduo bubur dengan tujuan bisa merasakan semua rasa yang ada dalam satu suapan. Bukan masalah bagaimana rasa dari tiap suapan, tapi tentang bagaimana bubur tetap menjadi bubur, gitu loh mbak. Maka bisa dikatakan makan bubur diaduk dulu adalah jalan yang sebenar-benarnya.

Saya setuju dengan suami mba, makan bubur diaduk memang bikin rasanya jadi nyampur. Dalam semangkuk bubur ayam, ada kacang goreng, suwiran ayam, kecap, cakue dan sedikit kuah gurih ditambah kecap buat pemanis. Setelah diaduk, dalam satu suap kami bisa merasakan semua unsur itu menyatu dan dinikmati langsung. Daripada merasakan satu-satu rasanya, bukankah lebih nikmat kalau langsung disatukan semuanya? Gurihnya ada, manisnya pun terasa. Mungkin penjelasan saya ini bisa sedikit membuat mba mengerti kenapa makan bubur harus diaduk dulu.

Oh ya mba, karena mba begitu mempermasalahkan tentang fitrah krupuk yang kriuk-kriuk. Perlu mba ketahui, krupuk versi “basah” nggak kalah nikmat dengan versi “kering.” Apalagi kalau krupuknya belum basah sempurna, masih ada sedikit kriuknya tapi bisa langsung ditelan. Rasa khas krupuk juga lebih menyatu karena tekstur krupuk yang berbeda dengan bubur. Singkatnya krupuk masih terasa di lidah. Mungkin bisa mba coba makan bubur sambil krupuknya dicampur. Caranya masukan krupuk ke dalam bubur, aduk sampai krupuk basah seluruhnya lalu makan saat itu juga. Dengan begitu nggak menyalahi fitrah krupuk karena masih ada kriuknya, cuma gak sempurna aja.

Kalau membayangkan bagaimana pemakan bubur diaduk waktu makan bubur, kok rasanya jadi ribet ya. Bubur itu masuk ke dalam kategori makanan yang dimakan dengan cepat. Misalnya waktu pagi kalau terlambat berangkat kerja/sekolah tapi perut lapar, bubur adalah solusinya. Kalau tiap makan bubur harus pelan-pelan begitu, nanti repot jadinya.

Terakhir, ini mungkin nggak bisa digeneralisir, karena cuma alasan pribadi saja. Sejak kecil saya memang sudah biasa makan apapun harus diaduk dulu, apalagi kalau makanannya basah seperti sop atau bubur. Tujuannya ya biar semuanya menyatu dan bisa dinikmati dalam satu kali suap. Jadi sudah menjadi kewajiban bagi saya buat mengaduk bubur sebelum makan.

Baca Juga:

3 Ide Pacaran Unik yang Hanya Ada di Bantul, Dijamin Nggak akan Terlupa

Jangan Jatuh Cinta dengan Orang Kabupaten Semarang, Kamu Nggak Akan Kuat!

Yah pada akhirnya memang mamang bubur nggak peduli mau pembeli makan bubur diaduk dulu atau nggak. Yang penting buburnya habis terjual. Sebagai penutup tulisan ini, saya pribadi meminta mba Maria untuk membuat tips bagaimana bertahan dengan pasangan yang berbeda aliran dalam dunia per-bubur-an ini. Karena pacar saya juga sama seperti mba yang penganut aliran bubur gak diaduk. Sampai sekarang, saya belum pernah makan bubur bareng pacar karena khawatir kena semprot dia waktu makan hehehe

Sorry malah curhat, sekian dari saya. Kalau ada kata-kata yang salah mohon dimaafkan, karena tulisan ini dibuat dengan tujuan hanya agar mba dan kawan-kawan pemakan bubur nggak diaduk bisa tau alasan kenapa makan bubur diaduk dulu lebih nikmat buat kami.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: bubur diadukhubunganmenanggapiPacaranperang tulisanversus
Gilang Oktaviana Putra

Gilang Oktaviana Putra

Penjaga toko buku daring di ige, suka ngoceh di twitter, dan pengin jadi kucing.

ArtikelTerkait

Payung Teduh Masih Tetap Teduh Didengar Meski Ditinggal Mas Is terminal mojok.co

Emang Bener Hujan di Malam Minggu Terjadi Karena Doanya Para Jomblo?

7 Maret 2020
soal finansial

Sudahkah Terbuka Soal Finansial dengan Pacar?

15 Oktober 2019
perempuan ngegombal

Perempuan Juga Boleh dong Ngegombal

17 Maret 2020
golongan darah

Cocoklogi: Adakah Relevansi Golongan Darah dengan Perilaku Tertentu Manusia?

12 Agustus 2019
beda prinsip

Beda Prinsip Juga Masalah Berat Selain Beda Agama

14 Agustus 2019
mantan menikah dengan sahabat

Rasanya Punya Mantan yang Menikah dengan Sahabat Sendiri

12 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

12 Januari 2026
Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo Mojok.co

Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo

14 Januari 2026
6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan Mojok.co

6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan 

12 Januari 2026
3 Keunggulan Kereta Api Eksekutif yang Tidak Akan Dipahami Kaum Mendang-Mending yang Naik Kereta Ekonomi

3 Keunggulan Kereta Api Eksekutif yang Tidak Akan Dipahami Kaum Mendang-Mending yang Naik Kereta Ekonomi

17 Januari 2026
Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

16 Januari 2026
Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

15 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.