Hai Para Pemakan Bubur Diaduk, Bertobatlah

“Aku nggak mau lagi makan bubur sama kamu, Mas,” terus pasangan yang baru jadian seminggu itu berantem di tukang bubur ayam. Terus putus.

Artikel

Kali ini saya ingin membahas persoalan yang dapat memecah belah bangsa. Persoalan yang jauh lebih kronis dari persoalan cebong-kampret yang sekarang sudah berevolusi menjadi cebong bersayap Burung Garuda. Pun bebas dari kepentingan sponsor perusahaan seperti kelompok Indomie versus Mie Sedap atau Indomaret versus Alfamart. Persoalan apakah itu? Tentu saja persoalan yang terus diributkan oleh kelompok aliran makan bubur ayam diaduk versus tidak diaduk yaitu cara makan bubur yang benar.

Sebelumnya saya perlu menjelaskan tujuan saya menulis artikel ini bukan untuk merusak sila ke-3 Pancasila: Persatuan Indonesia. Tapi saya menulis dengan tujuan luhur, yaitu, maaf, sekadar mengingatkan.

Terdengar sepele memang, namun hal kecil yang terus-menerus mengganggu itu seperti noise yang dibiarkan. Lama-kelamaan gangguan itu menumpuk dan duar! Meledak.

“Aku nggak mau lagi makan bubur sama kamu, Mas,” terus pasangan yang baru jadian seminggu itu berantem di tukang bubur ayam. Terus putus.

Katanya sih don’t sweat the small stuff, tapi gimana ya? Perbedaan kedua aliran ini rasanya memang terlalu besar sampai sulit dicari titik temunya lagi. Bayangkan saja, saya, penganut aliran makan bubur tidak diaduk sedangkan mantan pacar suami saya penganut makan dengan cara diaduk. Sungguh saya kagum kami bisa melewati semua drama di tukang bubur dan melangkah juga ke pelaminan. Ciyee

Tiap kali kami makan bubur ayam, saya makan dengan rapi, dari tepi biar nggak panas. Suap demi suap. Menyendok bubur putih hangatnya, hm … rasa legitnya pas, terasa gurih dari santan asli yang digunakan mamang penjualnya. Kemudian seruput kuahnya yang sedikit berminyak, kaya ada manis-manisnya. Berlanjut ke suwiran ayam goreng yang terlalu tipis di atasnya. Dan tangan ini pun mengambil taburan kerupuk yang masih kriuk ketika dimakan. Sungguh kenikmatan yang hakiki. Setiap suapan memberikan sensasi yang berbeda. Mangkuk saya pun bersih tak bercela setelah saya selesai makan.

Baca Juga:  Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!

Sementara mangkuk mantan pacar pak suami? Iyuh … Bubur yang sudah susah-susah ditata oleh mamang tukangnya diaduk-aduk sampai bentuknya nggak karuan. Warna aslinya yang putih, taburan bawang goreng yang keemasan, dan daun bawang yang hijau tidak nampak lagi. Semuanya tampak seperti gumpalan besar warna abu-abu. Kerupuk aneka warnanya yang seharusnya jadi topping? Mblenyek semua ikut diaduk dalam bubur. Nggak kriuk lagi dong.

Makan bubur dengan diaduk sebelumnya bisa dipastikan semua suapan rasanya sama. Sesuai dengan kata suami saya, “biar rasanya nyampur”. Makan kaya gitu di mana seninya? Tiap kondimen penyusun menu makanan itu seharusnya dinikmati sendiri-sendiri agar keluar cita rasa aslinya. Tapi sak bahagiamu lah, Mas.

Kata penganut aliran bubur diaduk, kami yang pemakan yang tanpa diaduk itu mementingkan penampilan lahiriah lebih dari inner beauty atau kepribadian. Mentang-mentang bubur kami tetap enak dipandang sampai habis. Lha rumangsamu kalau kamu ngapelin cewek untuk pertama kali, blind date, terus nggak mandi dan dandan, kesempatanmu untuk diterima nggak turun drastis apa? Orang bilang don’t judge a book by it’s cover tapi ngaku aja deh, kamu juga sering kan beli buku karena covernya bagus terus nyesel karena isinya nggak banget? Visual itu penting. Makanya di group band Korea sampai ada posisi “visual”, dialah anggota grup yang paling menarik penampilannya.

Kalau kata saya sih, boleh dianggap mewakili jeritan hati penganut aliran bubur tidak diaduk lainnya, pemakan bubur diaduk itu orangnya tidak bisa menerima kita apa adanya. Terlihat dari mereka yang tidak bisa menerima kerupuk warna-warni itu fitrahnya kriuk ketika digigit, bukan melempem di dalam bubur dan kehilangan warnanya. Kata saya lho yha … Mungkin penganut aliran bubur tidak diaduk lain punya teori yang lebih mak-jleb kalau dikatakan.

Baca Juga:  Apa Pun Ngidamnya, Ojek Online Solusinya

Ah, kita sudahi saja perdebatan ini. Eh, tadi saya yang memulai deng ya? Toh sebenarnya mamang tukang buburnya tidak peduli kita makan buburnya diaduk atau tidak. Yang penting jangan pura-pura lupa lalu tidak membayar setelah makan. Mangkuknya jangan dibawa pulang, mentang-mentang bagus ada gambar ayam jagonya.

---
728 kali dilihat

17

Komentar

Comments are closed.