Memiliki Istri Gamer dan Stigma yang Menyertai

Yang sulit baginya mungkin hanya pada saat bermain FIFA atau PES. Itu pun dia tetap mencobanya. Jiwa gamer mungkin memang sudah melekat dalam dirinya.

Featured

Seto Wicaksono

Di era digital seperti saat ini, rasanya jika berdiskusi soal emansipasi tidak akan berhenti dan terbatas pada ruang lingkup pekerjaan. Akan tetapi, juga peran yang dilakoni dalam kehidupan sehari-hari. Ada banyak perubahan dan tentunya menyesuaikan zaman. Tidak hanya terbatas soal profesi, tapi juga hobi yang ditekuni. Bahkan dari hal tersebut, banyak pula yang dapat mengais rezeki sampai membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Saat ini, hobi seseorang tidak terbatas pada gender. Para lelaki sah-sah saja menekuni hobinya di bidang memasak. Dan banyak perempuan yang kini menekuni olahraga ekstrem. Semuanya dilakukan dengan berbagai tujuan, selain memang ingin menyalurkan atau mengasah bakat yang dimiliki, juga untuk kesenangan pribadi.

Namun, pada realitanya, saat ini banyak sekali hobi yang terbilang unik dan tidak biasa. Pada pencarian melalui internet yang saya lakukan, diantaranya ada ternak laba-laba, berburu kuis di media sosial, mengumpulkan beberapa jenis tamagochi, cosplay, hingga uji nyali pun dijadikan hobi.

Dari yang sudah disebutkan, jika berkaca pada kebiasaan banyak orang saat ini, semuanya dapat dijadikan konten; thread di Twitter atau video di YouTube—termasuk juga ketika bermain game—dengan Reza Arap menjadi salah satu pelopor live gaming di Indonesia. Rasanya hal tersebut sudah melekat pada diri Reza Arap, sehingga muncul anggapan jika ada gamer lain melakukan hal yang sama, akan dianggap ikut-ikutan.

Meski tidak berniat sama sekali untuk menyamai prestasi Reza Arap dalam dunia per-YouTube-an (karena cukup sulit), nyatanya istri saya adalah seseorang yang betul-betul menyukai dunia game. Dia bercerita, sudah terbiasa bermain game dari SD karena pengaruh dari dua kakaknya yang memang aktif memainkan game playstation. Kemudian, ia sempat aktif juga bermain X-Box, dan kini tetap aktif bermain game menggunakan handphone-nya.

Baca Juga:  Lagu Dangdut: Satu Lagu Sejuta Penyanyi

Dua game yang paling disukan istri saya adalah Assassin’s Creed dan Call of Duty. Hobinya bermain game berbanding terbalik dengan saya yang lebih menyukai mengoleksi action figur atau mainan sejenis robot. Atas hobinya tersebut, dia selalu meluangkan waktu untuk bermain game. Entah ketika anak sudah tidur atau di waktu senggang.

Sebagai pasangan, saya sih tidak mempermasalahkan. Apalagi hal tersebut dia lakukan karena merasa senang. Ditambah, saat memainkan permainan apa pun dia terbilang mahir. Yang sulit baginya mungkin hanya pada saat bermain FIFA atau PES. Itu pun dia tetap mencobanya. Jiwa gamer mungkin memang sudah melekat dalam dirinya.

Namun, hobinya tersebut tidak dipahami oleh semua orang. Selalu saja ada yang menyangkutpautkan antara gender dan hobi yang ditekuni. Belum lagi soal pernyataan, “Kok lihat hape dan nge-game terus, anaknya nggak diurus?” Memang, sering kali kita lebih senang mengurus juga mengomentari apa yang dilakukan orang lain dibanding berkaca pada diri sendiri. Padahal, saya sebagai pasangannya pun tidak pernah mempermasalahkan, kok.

Memiliki hobi bermain game atau berprofesi sebagai gamer pro di era 4.0 ini terbilang menjanjikan, kok. Kompetisi e-sport game berjenis MOBA, RPG, dan lain sebagainya kini banyak diselenggarakan oleh banyak pihak—level nasional maupun internasional. Jadi, stigma bahwa hobi bermain game tidak akan menghasilkan apa pun sudah tidak relevan dengan situasi terkini.

Lagipula bicara perihal hobi jelas erat kaitannya dengan selera, kesenangan, bisa jadi juga untuk pelepas stres. Jadi, untuk apa memberi penilaian atau mengatur hobi yang orang lain tekuni?

Meskipun begitu, intensitas bermain game harus tetap dibatasi. Sejatinya, bermain game itu seharusnya menyenangkan dan menjadi hiburan tersendiri bagi banyak orang. Jika memang sedang kesal karena kalah terus, berhenti sejenak bisa menjadi pilihan. Kecuali penasaran dan merasa tertantang, sih. Sebab, tak sedikit juga yang menjadikan game sebagai pelepas penat.

Baca Juga:  Hanya karena Nama Terkesan Feminin, Saya Sering Disangka Perempuan

Pada akhirnya, saya akan tetap mendukung hobi yang dilakukan oleh pasangan. Meski saya selalu dibandingkan dengan pasangan sendiri. Sebagai wanita dia sangat mahir bermain banyak game. Sedangkan saya malah kurang berminat sama sekali. Terakhir nge-game pun kayaknya waktu punya PS-1. Hingga kini, sama sekali tidak mengikuti update tentang game sekalipun pada handphone. Ya, namanya juga hobi dan minat, nggak selamanya bisa dipaksakan, toh?

BACA JUGA Risiko Bukan Gamer: Merasa Asing Saat Teman yang Lain Bermain PUBG dan Mobile Legend atau tulisan Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
4


Komentar

Comments are closed.