Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Membeli Sepatu Itu Nggak Selalu Mudah, Sering Rumitnya

Muhammad Ikhdat Sakti Arief oleh Muhammad Ikhdat Sakti Arief
23 November 2019
A A
Membeli Sepatu Itu Nggak Selalu Mudah, Sering Rumitnya
Share on FacebookShare on Twitter

Tidak perlu kata-kata yang rumit untuk mendefinisikan sepatu. Kita semua tahu alas kaki yang satu ini. Bagi sebagian orang, fungsi sepatu terkadang bukan hanya sekadar alas kaki. Misalnya saja, untuk menunjang penampilan. Makanya sekarang banyak sekali model sepatu. Tren sepatu dari tahun ke tahun juga selalu berubah.

Waktu masih duduk di bangku sekolah dasar, sepatu yang keren itu adalah sepatu yang bisa menyala-nyala ketika digunakan. Atau misalnya yang kalau kita membeli sepatu, akan dapat hadiah mainan (yo-yo misalnya). Saya ingat betul, dulu saya punya sepatu yang ada aksesoris kompas di bagian tali sepatu, seperti bola yang diisi air. Saya bahkan tidak tahu apa gunanya punya “sepatu kompas” yang hanya dipakai ke sekolah. Kalaupun saya tersesat, saya pun tidak tahu cara menggunakan kompas untuk menunjukkan arah. Tapi waktu itu, saya merasa sepatu saya adalah yang paling keren se-sekolahan. Sekarang saya sadar, saya sepertinya siswa dengan sepatu paling norak se-sekolahan.

Sepatu yang saya punya tidak pernah bertahan sampai setahun. Enam bulan sudah paling lama. Soalnya waktu sekolah dulu, saya tidak pernah punya lebih dari satu pasang sepatu. Sepatu yang sepasang itulah yang saya pakai ke mana-mana. Ya ke sekolah, ke kondangan, bahkan sampai main bola. Makanya sepatu saya cepat sekali berubah jadi siluman buaya. Kalau sudah rusak baru beli lagi.

Membeli sepatu itu susah-susah gampang. Harganya harus pas dengan isi kantong. Selain harganya yang pas, modelnya juga jadi pertimbangan. Modelnya di sini maksudnya adalah bentuknya, penampakannya enak dilihat. Bukan soal merek. Kalau soal merek sebenarnya tidak terlalu penting untuk saya. Yang penting nyaman dan kelihatan bagus. KW juga tidak masalah.

Untuk menemukan sepatu yang bagus dengan harga pas itu tidak mudah. Kadang kita harus mengecek semua penjual sepatu di pasar, satu persatu. Semua itu untuk kebutuhan riset. Kita harus membandingkan mana yang paling pas.

Soal ukuran juga kadang bikin dilema. Saya kadang bingung mau mengambil ukuran sepatu ukuran berapa. Soalnya saya takut kekecilan, atau malah kebesaran. Kalau saya ambil yang pas ke kaki, saya takutnya kaki saya tambah besar dan sepatu yang saya beli itu tidak muat lagi. Ketakutan yang aneh sebenarnya. Padahal ukuran kaki saya tidak akan membesar dalam sekejap dan tiba-tiba sepatu saya tidak muat lagi. Belum tentu juga sepatu yang saya beli akan tahan lama.

Karena punya pemikiran seperti itu, saya pernah membeli sepatu futsal yang ukurannya agak longgar di kaki. Menggunakan sepatu futsal longgar saat main bola memang sangat konyol. Ukuran kaki saya juga tidak bertambah. Sampai akhirnya sepatu tersebut dipinjam oleh kawan saya. Dan tidak kembali. Saya pun sudah merelakannya.

Saya tidak suka beli barang second-hand. Bukan karena gengsi, tapi saya meragukan kualitasnya. Apalagi kalau barang-barang elektronik. Takutnya belum lama dipakai, malah sudah harus diganti lagi.

Baca Juga:

Andai dapat rezeki nomplok Rp100 miliar, saya akan bangun sekolah yang kesejahteraan gurunya terjamin

Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer

Begitu pun dengan sepatu. Tapi suatu kali saya mencoba mencari sepatu bekas yang masih lumayan bagus. Pergilah saya ke pasar bersama beberapa teman yang juga mau mencari sepatu bekas. Jujur saja, saya tidak tahu mencari sepatu yang bagus. Makanya saya bertanya kepada teman.

Ketika sedang berkeliling pasar, saya menemukan satu sepatu yang kalau saya lihat bentuknya masih bagus, mereknya Anta. Saya bahkan belum pernah mendengar merek itu sebelumnya. Ketika saya mencek dan tes memakainya, teman saya memberikan kode untuk tidak membeli sepatu tersebut. Tapi karena sudah membolak-balik dan tes pakai, saya jadi tidak enak kalau tidak membelinya tanpa alasan.

Makanya saya coba tawar. Saya lupa berapa harganya waktu itu, tapi saya ingat berapa saya menawarnya, 100 ribu. Saya berpikir tawaran saya waktu itu terlalu murah, makanya penjualnya akan menolak. Tapi apa daya, penjualnya malah meng-iyakan. Nasi sudah jadi bubur. Terbelilah sepatu bermerek Anta tersebut.

Sudah terlanjur dibeli, sayang kalau tidak dipakai. Saat teman-teman saya melihat saya memakainya, sepatu saya malah di-bully. Di-bully bukan dalam artian yang buruk, saya juga tidak sakit hati. Sepatu itu ditertawai bukan karena bentuknya, tapi karena mereknya.

“Sepatu merek Arab”. Begitu kata teman-teman saya. Yang tentu saja hanya bercanda. Saya bukannya anti Arab, tapi taik juga kalau diejek terus. Sampai sekarang, saya tidak pernah lagi memakai sepatu tersebut. Entah di mana sepatu tersebut. Menyesal juga saya tawar 100 ribu, seharusnya saya tawar 15 ribu waktu itu.

BACA JUGA Kondangan Fighter yang Galau Antara Flat Shoes dan High Heels: Dasar Nggak Penting! atau tulisan Muhammad Ikhdat Sakti Arief lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 November 2019 oleh

Tags: futsalSekolahsepatu
Muhammad Ikhdat Sakti Arief

Muhammad Ikhdat Sakti Arief

Nama saya Ikhdat, seorang pengangguran (semoga cepat dapat kerja) pecinta senja, penikmat kopi (biar dibilang anak indie) yang suka nulis.

ArtikelTerkait

Keluh Kesah Alumni Program Akselerasi 2 tahun di SMA, Kini Ngenes di Perkuliahan

Keluh Kesah Alumni Program Akselerasi 2 tahun di SMA, Kini Ngenes di Perkuliahan

18 Desember 2025
4 Peraturan Aneh di Sekolah dan Panduan Memahaminya terminal mojok

4 Peraturan Sekolah yang Terdengar Ngadi-ngadi dan Panduan Memahaminya

24 Agustus 2021
5 Alasan Mengapa Siswa Ogah Berak di Toilet Sekolah, Kamu Pasti Pernah Mengalaminya

5 Alasan Mengapa Siswa Ogah Berak di Toilet Sekolah, Kamu Pasti Pernah Mengalaminya

21 Agustus 2024
AeroStreet Black Classic, Sepatu Lokal Harga 100 Ribuan yang Awet Mojok.co

AeroStreet Black Classic, Sepatu Lokal Harga 100 Ribuan yang Awet

11 Desember 2025
Sepatu Putih Memang Keren, tapi Tidak Berlaku Buat yang Nggak Sabaran

Sepatu Putih Memang Keren, tapi Tidak Berlaku Buat yang Nggak Sabaran

4 Juni 2022
Toyota Sienta, Mobil yang Nggak Cocok untuk Antar Anak ke Sekolah

Toyota Sienta, Mobil yang Nggak Cocok untuk Antar Anak ke Sekolah

23 April 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan modal Rp100 miliar lebih baik "disulap" jadi bisnis laundry daripada usaha yang ikuti tren Mojok.co

Alasan modal Rp100 miliar lebih baik “disulap” jadi bisnis laundry daripada usaha yang ikuti tren

2 Agustus 2026
Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

1 Agustus 2026
Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama Mojok.co

Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama

6 Agustus 2026
Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung Mojok.co

Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung

3 Agustus 2026
Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

5 Agustus 2026
Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

31 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.