Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Membedah Larangan Menikah di Bulan Suro dalam Adat Jawa

Alvi Awwaliya oleh Alvi Awwaliya
19 Agustus 2020
A A
pernikahan jawa terhalang weton mitos mbangkel ponorogo suro mojok.co

pernikahan jawa terhalang weton mitos mbangkel ponorogo suro mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Kemarin, teman saya si Ayu, tiba-tiba menelpon sembari sesegukan. Saya langsung kaget, sebab pagi harinya ia sangat gembira. Ternyata, usut punya usut acara lamaran yang akan dilangsungkan pada hari kamis besok harus dibatalkan. Keluarga si calon suaminya ini, baru sadar jika hari kamis bertepatan dengan satu Muharram. Jika dalam kalender Jawa berarti satu Suro.

Bagi masyarakat Jawa yang “njawani”, bulan Suro dipercaya pantang melakukan hajatan. Mulai dari lamaran, pernikahan, sunatan, hingga pindah rumah. Apabila seseorang yang nekat melanggar larangan ini, dipercaya akan mendapatkan musibah atau bala.

ADVERTISEMENT

Seperti banyaknya tradisi dalam pernikahan adat Jawa, larangan menikah di bulan Suro juga tidak tahu berasal darimana. Tapi karena sudah dipercaya secara turun-temurun, sebagian besar masyarakat takut untuk melanggar. Menurut cerita Mbah buyut saya, ada beberapa bulan yang tidak baik melangsungkan hajatan. Mulai dari bulan Suro, Sapar dan Mulud. Ketiga bulan tersebut dalam hitungan jawa posisi (manjing) tahun berada di timur. Atau yang biasa disebut naga tahun ada di timur. Ini termasuk dalam “pati dina” yakni hari buruk dalam melaksanakan hajatan dan upacara sejenisnya.

Simbah memberi contoh kejadian yang menimpa Lek Sri, tetangga ujung desa kami. Ia pernah menikahkan anaknya pada bulan Suro. Tepat tiga hari setelah pernikahan berlangsung, anak lek Sri mengalami kecelakaan. Biaya rumah sakit yang ditanggung lumayan besar hingga harus menjual sapi miliknya. “Lahwong sudah diperingati semua warga, Sri kae malah ndak percaya, ya memang ndak ada dalilnya tapi kejadian, toh,” Ujar simbah.

Bagi saya, sebab musibah atau ujian yang menimpa seseorang murni datang dari Tuhan. Tapi ya bagaimana, saya hidup di lingkungan yang masih kental dengan hukum adat. Niat baik lek Sri mempercepat pernikahan anaknya, malah jadi gunjingan warga karena melanggar adat dan terkena tulah. Ngeri, bener.

Ada lagi alasan lain yang membuat bulan Suro menjadi keramat dan tidak boleh mengadakan pesta. Bulan Suro dipercaya sebagai tonggak atau bulan permulaan untuk memulai sesuatu. Sehingga ada baiknya digunakan untuk menyucikan jasmani dan rohani seseorang. Misalnya dengan merenungkan kesalahan dan memperbaikinya guna meningkatkan kualitas diri. Bahkan, saking terkenal dengan bulan keramat dan suci setiap satu suro sering terdapat acara penyucian benda-benda pusaka.

Selain itu, kisah-kisah filosofis yang terjadi di bulan Suro pada masa lampau membuat masyarakat percaya jika mengadakan acara adalah bentuk perbuatan kurang sopan pada leluhur. Lebih baik digunakan untuk mengingat kembali kisahnya dan sarana menambah derajat keilmuan. Kisah-kisah tersebut antara lain, Bulan Muharram adalah bulan kedatangan Aji Saka di tanah Jawa dan membebaskan Jawa dari raksasa yang menjajah manusia dari generasi pendahulu Aji Saka. Hal tersebut diprakarsai oleh Sultan Agung, yakni Sultan ketiga Kerajaan Mataram Islam.

Jika dihubungkan dengan perspektif Islam sendiri, bulan Muharram termasuk bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Rasulullah Muhammad SAW juga menyatakan jika bulan Muharram dinyatakan sebagai “bulan para nabi”. Blio memuliakan bulan tersebut, terutama pada tanggal 10 atau satu hari sebelum atau sesudahnya. Di mana Rasulullah mengajurkan untuk berpuasa dan memperbanyak sedekah.

Baca Juga:

Nasib perempuan usia 20 tahunan di desa, dianggap sudah tua dan dipaksa menikah 

Perasaan Bahagia Saat Sahabat Menikah Berubah Sedih dan Kesepian karena Sadar Kehilangan Teman Main dan Cerita

Nah loh, ironi bukan. Meski tidak ada larangan dalam Islam untuk melangsungkan pernikahan, tradisi tetap perlu dijaga agar ingat asal muasalnya. “Larangan nikah di bulan Suro itu istilahnya buat menghindari sial, cobaan dan perkara-perkara yang bisa menganggu pernikahan. Memang semua berasal dari Gusti Pangeran, tapi manusia kan harus hati-hati. Lagipula masih ada bulan lain yang baik, kenapa harus menikah waktu Suro,” Jelas Simbah panjang lebar, membuat saya cuma manggut-manggut.

Memang benar kata Simbah. Berbeda dengan Suro, pada saat Dzulhijjah atau disebut Besar dalam kalender Jawa menjadi bulan baik untuk menyelenggarakan hajatan. Tidak heran jika akhir-akhir ini, undangan pernikahan membanjiri rumah saya. Belum lagi ditambah dengan unggahan foto pernikahan, setiap hari selalu ada saja teman atau kerabat yang menikah.

Penentuan hari baik pernikahan di adat Jawa ini juga masih berpatokan pada hitungan yang ada di Primbon. Di dalam kitab Primbon terdapat beberapa bulan baik untuk melangsungkan hajatan, diantaranya Besar, Ruwah, Rejeb, dan Jumadil akhir. Bulan-bulan diatas sangat dianjurkan untuk punya gawe.

Jika melaksanakan acara pada bulan Besar artinya akan kaya dan mendapat kebahagiaan. Kemudian, jika pada bulan Ruwah bermaksudkan agar selamat dan selalu hidup damai. Tidak jauh berbeda dengan Ruwah, menggelar acara pada bulan Rejeb juga memiliki tujuan untuk keselamatan dan memperbanyak keturunan. Selanjutnya yang terakhir, bulan Jumadil akhir artinya kaya akan harta benda.

Percaya atau tidak tergantung pada nilai yang masih dianut oleh masyarakat setempat. Tapi setidaknya, bulan Suro menjadi waktu yang paling baik untuk rehat alias jeda menonton postingan uwu soal pernikahan dan tetek bengeknya. Hah, dasar jombloooo!!!

BACA JUGA Penjelasan Sederhana Kenapa Siulan Bisa Dianggap Pelecehan Seksual dan tulisan Alvi Awwaliya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Agustus 2020 oleh

Tags: menikahMitosSuro
Alvi Awwaliya

Alvi Awwaliya

ArtikelTerkait

Klasemen Zodiak Paling Ndakik Berdasarkan Tanggal Lahir Tokoh Anime ramalan zodiak

Fakta Santuy Ramalan Zodiak: Dari yang Katanya Mirip Hingga Hanya Tertarik

2 Oktober 2019
Waktu Buat Nagih-Nagih, Giliran Anaknya Lahir Kabur

Waktu Buat Nagih-Nagih, Giliran Anak Lahir Kabur

5 Desember 2019
8 Mitos Ngawur Seputar Olahraga, Cek Faktanya Terminal Mojok

8 Mitos Ngawur Seputar Olahraga, Cek Faktanya!

4 September 2022
Mitos tentang Belajar Gitar yang Sama Sekali Ra Mashok

5 Mitos tentang Belajar Gitar yang Sama Sekali Ra Mashok

28 Desember 2021
Bergegas Menikah untuk Selesaikan Masalah Halo, Tujuan Menikah Bukan Seperti Itu Terminal mojok

Bergegas Menikah untuk Selesaikan Masalah? Halo, Tujuan Menikah Bukan Seperti Itu

13 Januari 2021
daftar tamu undangan pernikahan ra srawung rabimu suwung seserahan adik nikah duluan gagal nikah dekorator pernikahan playlist resepsi pernikahan mojok

Adik Saya Duluan Nikah dan Saya Nggak Ada Masalah dengan Itu

15 Februari 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

5 kesalahan penjual es dawet yang sulit dimaafkan, bikin rasanya kurang enak Mojok.co

5 kesalahan penjual es dawet yang sulit dimaafkan, bikin rasanya kurang enak

27 Agustus 2026
Cengkareng, tempat kumpul banjir, macet, lawan arah, dan kekacauan

Cengkareng, tempat kumpul banjir, macet, lawan arah, dan kekacauan

22 Agustus 2026
Tegalrejo, kecamatan uderrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita Mojok.co

Tegalrejo, kecamatan underrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita

20 Agustus 2026
iPhone HP bapak-bapak? Bapak-bapak nggak mampu beli iPhone! (Unsplash)

Kok bisa iPhone disebut hp bapak-bapak? Padahal banyak bapak-bapak yang nggak mampu beli iPhone

21 Agustus 2026
Ngeri! Rekening Bank Mandiri bisa diblokir atas permintaan aparat (Unsplash)

Rekening Bank Mandiri hilang sekali klik sukses melahirkan rasa takut karena pemblokiran tanpa proses hukum bisa menimpa siapa saja

24 Agustus 2026
4 menu kuliner lokal yang cocok pakai label Gacoan (Wikimedia Commons)

Selain mie dan bakso, ini 4 menu kuliner lokal yang cocok pakai label Gacoan

24 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.