Membedah Larangan Menikah di Bulan Suro dalam Adat Jawa – Terminal Mojok

Membedah Larangan Menikah di Bulan Suro dalam Adat Jawa

Artikel

Kemarin, teman saya si Ayu, tiba-tiba menelpon sembari sesegukan. Saya langsung kaget, sebab pagi harinya ia sangat gembira. Ternyata, usut punya usut acara lamaran yang akan dilangsungkan pada hari kamis besok harus dibatalkan. Keluarga si calon suaminya ini, baru sadar jika hari kamis bertepatan dengan satu Muharram. Jika dalam kalender Jawa berarti satu Suro.

Bagi masyarakat Jawa yang “njawani”, bulan Suro dipercaya pantang melakukan hajatan. Mulai dari lamaran, pernikahan, sunatan, hingga pindah rumah. Apabila seseorang yang nekat melanggar larangan ini, dipercaya akan mendapatkan musibah atau bala.

Seperti banyaknya tradisi dalam pernikahan adat Jawa, larangan menikah di bulan Suro juga tidak tahu berasal darimana. Tapi karena sudah dipercaya secara turun-temurun, sebagian besar masyarakat takut untuk melanggar. Menurut cerita Mbah buyut saya, ada beberapa bulan yang tidak baik melangsungkan hajatan. Mulai dari bulan Suro, Sapar dan Mulud. Ketiga bulan tersebut dalam hitungan jawa posisi (manjing) tahun berada di timur. Atau yang biasa disebut naga tahun ada di timur. Ini termasuk dalam “pati dina” yakni hari buruk dalam melaksanakan hajatan dan upacara sejenisnya.

Simbah memberi contoh kejadian yang menimpa Lek Sri, tetangga ujung desa kami. Ia pernah menikahkan anaknya pada bulan Suro. Tepat tiga hari setelah pernikahan berlangsung, anak lek Sri mengalami kecelakaan. Biaya rumah sakit yang ditanggung lumayan besar hingga harus menjual sapi miliknya. “Lahwong sudah diperingati semua warga, Sri kae malah ndak percaya, ya memang ndak ada dalilnya tapi kejadian, toh,” Ujar simbah.

Baca Juga:  Mitos Angker Suatu Tempat Itu Ada agar Tempat Itu Tetap Terjaga

Bagi saya, sebab musibah atau ujian yang menimpa seseorang murni datang dari Tuhan. Tapi ya bagaimana, saya hidup di lingkungan yang masih kental dengan hukum adat. Niat baik lek Sri mempercepat pernikahan anaknya, malah jadi gunjingan warga karena melanggar adat dan terkena tulah. Ngeri, bener.

Ada lagi alasan lain yang membuat bulan Suro menjadi keramat dan tidak boleh mengadakan pesta. Bulan Suro dipercaya sebagai tonggak atau bulan permulaan untuk memulai sesuatu. Sehingga ada baiknya digunakan untuk menyucikan jasmani dan rohani seseorang. Misalnya dengan merenungkan kesalahan dan memperbaikinya guna meningkatkan kualitas diri. Bahkan, saking terkenal dengan bulan keramat dan suci setiap satu suro sering terdapat acara penyucian benda-benda pusaka.

Selain itu, kisah-kisah filosofis yang terjadi di bulan Suro pada masa lampau membuat masyarakat percaya jika mengadakan acara adalah bentuk perbuatan kurang sopan pada leluhur. Lebih baik digunakan untuk mengingat kembali kisahnya dan sarana menambah derajat keilmuan. Kisah-kisah tersebut antara lain, Bulan Muharram adalah bulan kedatangan Aji Saka di tanah Jawa dan membebaskan Jawa dari raksasa yang menjajah manusia dari generasi pendahulu Aji Saka. Hal tersebut diprakarsai oleh Sultan Agung, yakni Sultan ketiga Kerajaan Mataram Islam.

Jika dihubungkan dengan perspektif Islam sendiri, bulan Muharram termasuk bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Rasulullah Muhammad SAW juga menyatakan jika bulan Muharram dinyatakan sebagai “bulan para nabi”. Blio memuliakan bulan tersebut, terutama pada tanggal 10 atau satu hari sebelum atau sesudahnya. Di mana Rasulullah mengajurkan untuk berpuasa dan memperbanyak sedekah.

Baca Juga:  Pilihan Rumah Hunian Untuk Pengantin Baru

Nah loh, ironi bukan. Meski tidak ada larangan dalam Islam untuk melangsungkan pernikahan, tradisi tetap perlu dijaga agar ingat asal muasalnya. “Larangan nikah di bulan Suro itu istilahnya buat menghindari sial, cobaan dan perkara-perkara yang bisa menganggu pernikahan. Memang semua berasal dari Gusti Pangeran, tapi manusia kan harus hati-hati. Lagipula masih ada bulan lain yang baik, kenapa harus menikah waktu Suro,” Jelas Simbah panjang lebar, membuat saya cuma manggut-manggut.

Memang benar kata Simbah. Berbeda dengan Suro, pada saat Dzulhijjah atau disebut Besar dalam kalender Jawa menjadi bulan baik untuk menyelenggarakan hajatan. Tidak heran jika akhir-akhir ini, undangan pernikahan membanjiri rumah saya. Belum lagi ditambah dengan unggahan foto pernikahan, setiap hari selalu ada saja teman atau kerabat yang menikah.

Penentuan hari baik pernikahan di adat Jawa ini juga masih berpatokan pada hitungan yang ada di Primbon. Di dalam kitab Primbon terdapat beberapa bulan baik untuk melangsungkan hajatan, diantaranya Besar, Ruwah, Rejeb, dan Jumadil akhir. Bulan-bulan diatas sangat dianjurkan untuk punya gawe.

Jika melaksanakan acara pada bulan Besar artinya akan kaya dan mendapat kebahagiaan. Kemudian, jika pada bulan Ruwah bermaksudkan agar selamat dan selalu hidup damai. Tidak jauh berbeda dengan Ruwah, menggelar acara pada bulan Rejeb juga memiliki tujuan untuk keselamatan dan memperbanyak keturunan. Selanjutnya yang terakhir, bulan Jumadil akhir artinya kaya akan harta benda.

Baca Juga:  Beda Prinsip Juga Masalah Berat Selain Beda Agama

Percaya atau tidak tergantung pada nilai yang masih dianut oleh masyarakat setempat. Tapi setidaknya, bulan Suro menjadi waktu yang paling baik untuk rehat alias jeda menonton postingan uwu soal pernikahan dan tetek bengeknya. Hah, dasar jombloooo!!!

BACA JUGA Penjelasan Sederhana Kenapa Siulan Bisa Dianggap Pelecehan Seksual dan tulisan Alvi Awwaliya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.